Cari Blog Ini

Rabu, 07 April 2010

Menyikapi Kejatuhan Pemimpin Rohani

Menyikapi Kejatuhan Pemimpin Rohani


Berita tentang Benny Hinn yang digugat cerai oleh istrinya, Suzanne Hinn menjadi berita yang menghebohkan dan mendapat komentar yang beragam. Ada yang mengecam, prihatin, sedih, marah, ada yang memberi dukungan untuk tetap kuat, maju terus dan mendukung dalam doa untuk dapat menyelesaikan masalah rumah tangganya.


Bermacam tanggapan yang muncul menunjukkan sosok Benny Hinn adalah seorang hamba Tuhan yang memberi pengaruh besar bagi kekristenan, khususnya di kalangan karismatik. Hidup dan pelayanannya menjadi sorotan dunia karena begitu fenomenal dan mengundang kontroversi.

Keretakan rumah tangga Benny Hinn menimbulkan berbagai pertanyaan dan praduga. Publik bertanya-tanya, apa yang telah terjadi sesungguhnya? Mengapa orang yang begitu diurapi tidak bisa mempertahankan keharmonisan rumah tangganya? Namun sejauh ini, belum ada pernyataan apa-apa lagi dari pihak Benny Hinn Ministries.

Jika melihat ke belakang, sebenarnya ada tercatat beberapa nama hamba Tuhan lain yang dipakai Tuhan dengan luar biasa dan mengalami masalah serupa dengan Benny Hinn. Di sini bisa disebut nama besar Kathryn Kuhlman, seorang yang dikagumi oleh Benny Hinn, lalu ada Randy dan Paula White, Dr. Charles Stanley, juga Ray McCauley dari Rhema Bible Church di Johannesburg, Afrika Selatan.

Mereka adalah orang-orang yang dipakai Tuhan di berbagai tempat, sebagai gembala puluhan ribu jemaat dan juga dikenal karena pelayanannya melalui media yang menjangkau jutaan orang. Selain mereka, ada juga hamba Tuhan yang pernah mengalami masalah karena jatuh dalam dosa seksual seperti Ted Haggard dan Roberts Liardon.

Pertanyaan besar yang kembali melayang-layang di atas kepala kita, mengapa para pemimpin jemaat yang dipakai Tuhan, dikagumi dan menjadi berkat bagi banyak orang harus mengalami kejatuhan itu?

Norm Mintle, terapis keluarga dan pernikahan yang melakukan pengamatan kepada para hamba Tuhan yang terlibat dalam pelayanan media mengatakan kepada CBN news, "Karena kehidupan mereka dilihat oleh orang banyak, maka kekuatan mereka menutup rapat segala kelemahan yang sebenarnya mereka miliki. Akibatnya, ketika terjadi kesalahan, kesalahan itu tertutupi dengan begitu rupa sehingga tanpa disadari kesalahan itu berubah menjadi dosa yang besar. Pola seperti ini banyak terjadi di dunia pelayanan, di kalangan pemimpin maupun artis rohani Kristen lainnya. Namun sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi di kalangan orang Kristen, tapi juga di seantero dunia dalam area yang berbeda."

Pengamatan dan pendapat Norm begitu tepat. Setiap orang memiliki kelemahan dan tidak seorangpun yang kebal akan pencobaan, termasuk para hamba Tuhan kaliber dunia sekalipun. Ketika para hamba Tuhan terkenal ini melakukan kesalahan, akibatnya akan fatal sekali, baik bagi para pengikutnya dan hamba Tuhan itu sendiri. Seluruh dunia melihat hal tersebut dan menjadikannya sebagai suatu kesempatan untuk menghujat.

Benny Hinn yang sejak dalam pelayanannya sudah menuai kritik dan kecaman, maka sekarang melalui peristiwa ini, semakin membuat para pengkritiknya 'di atas angin' karena ini menjadi suatu pembuktian atas ketidaksetujuan mereka akan ajaran Hinn. Hal ini tercermin dari komentar-komentar miring dalam berita tentang gugatan cerai istri Benny Hinn. Sesungguhnya ini bukanlah sikap yang bijak, karena hal tersebut menunjukkan tiadanya kasih yang tulus bagi sesama yang sedang tersandung jatuh.

Pada dasarnya kita semua tidak ada yang layak di hadapan Tuhan. Jika seseorang mengatakan orang lain sesat, berhati-hatilah karena itu berarti menganggap dirinya lebih layak. Apakah diri kita lebih baik dari dia di mata Tuhan? Untuk itu, diperlukan sikap hati yang tulus dalam menyikapi kejadian-kejadian semacam ini. Dalam Alkitab begitu banyak contoh hamba-hambaNya yang juga terjatuh dalam dosa, namun Tuhan tetap berkenan memakai mereka meskipun tetap ada konsekwensi di dalamnya.

Jadi, marilah kita menanggapi kasus ini dengan lebih dewasa, memetik pelajaran darinya untuk tidak mengidolakan hamba Tuhan tertentu, apalagi hingga melebihi posisi Tuhan. Hamba Tuhan adalah manusia biasa yang penuh kelemahan, sehingga mereka bisa saja terjatuh. Karena itu mereka perlu ditopang dalam doa agar senantiasa dikuatkan dan tetaplah berjaga-jaga agar kita sendiri tidak terjatuh. Jaga hati dan perkataan kita untuk tidak berkata jahat tentang orang lain khususnya para pemimpin rohani. Seburuk apapun dia di mata kita, tak seorangpun dibenarkan menghujat ciptaanNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar