Cari Blog Ini

Senin, 23 April 2012

Ajaran Dasar Alkitab


1.1 KEBERADAAN ALLAH

“Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari dia. (Ibr. 11:6). Tujuan dari pelajaran ini adalah untuk membantu bagi yang ingin mendekat kepada Allah, dengan terlebih dahulu harus mempercayai bahwa Allah ada. Oleh karena itu kita tidak akan membahas tentang fakta-fakta yang mendukung keberadaan Allah. Memeriksa struktur tubuh yang rumit (Mzm. 139:14), pertumbuhan suatu bunga yang dapat kita lihat dengan jelas sekali, kita dapat melihat langit yang luas dan tak berujung pada malam yang cerah, hal-hal ini dan hal-hal lain di dalam kehidupan yang dirancang dengan begitu cermat, tentu akan mengherankan bagi golongan atheis. Untuk percaya bahwa Allah tidak ada, dibutuhkan suatu keyakinan yang teguh daripada mempercayai bahwa Allah ada. Tanpa Allah, tidak akan ada perintah, tujuan, atau penjelasan tentang akhir dari alam semesta ini. Dan yang terjadi adalah seperti yang dicerminkan di dalam kehidupan seorang atheis. Menyikapi masalah ini tidaklah mengejutkan jika banyak orang mengakui dengan sungguh tentang keberadaan Allah. Bahkan di dalam lingkungan sosial, dimana materialisme telah menjadi ”Allah” bagi banyak orang. Tetapi, ada perbedaan yang luas antara percaya bahwa ada kekuasaan tertinggi dengan percaya bahwa Allah akan memberikan upah bagi yang mencarinya. Ibr. 11:6 menjelaskan; kita harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepda orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Banyak keterangan di dalam Alkitab yang menceritakan sejarah Allah orang Israel; berulang kali dijelaskan bahwa kepercayaan mereka akan keberadaan Allah tidak sesuai dengan kepercayaan mereka akan janji-janji Allah. Mereka telah diperingati oleh Musa, pemimpin mereka ”Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. Berpeganglah pada ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Alahmu, kepadamu untuk selamanya.” (Ul. 4:39,40) Demikian juga yang terjadi pada saat ini, kita mengakui keberadaan Allah tapi, bukan berarti kita menerima Allah. Jika kita sungguh-sungguh setuju bahwa kita mempunyai pencipta, kita harus ”berpegang pada ketetapan dan perintahNya”. Inilah tujuan pelajaran ini, untuk menjelaskan apa saja perintah Allah adn bagaimana untuk melaksanakannya. Seiring dengan penyelidikan kita di dalam tulisan kudus tentang bagaimana cara  melaksanakannya, maka iman kita akan semakin kuat sehubungan dengan keberadaan Allah.
”Iman timbul karena mendengarkan firman Allah” (Rm. 10:17)
Yesaya 43:9-12 menjelaskan tentang nubuat-nubuat Allah mengenai masa depan yang akan membuat kita mengakui bahwa ”Akulah Dia” (Yes. 43:13). Nama Allah adalah ”Aku adalah Aku” (Kel. 3:14). Ketika Rasul Paulus datang ke Berea, sekarang terletak di sebelah utara Yunani. Seperti biasanya dia memberitakan Injil (kabar baik) Allah; tetapi orang-orang disana tidak menerimanya begitu saja apa yang telah Paulus ajarkan. Mereka menerima firman (dari Allah, bukan Paulus) dengan rendah hati dan menyelidiki tulisan-tulisan kudus setiap hari, untuk mengetahui apakah benar demikian, banyak dari antara mereka yang menjadi percaya (Kis. 17:11,12). Mereka percaya karena pikiran mereka yang terbuka, dengan rutin (setiap hari) dan menurut urutannya (hal-hal yang diajarkan) diselidiki di dalam tulisan-tulisan kudus. Allah tidak memberikan iman yang benar secara tiba-tiba kepada seseorang, seperti suatu pencangkokan hati secara rohani. Hal demikian tidak selaras dengan firman Allah. Jadi, bagaimana dengan orang-orang yang mengikuti jalan perang salib Billy Graham atau kebangkitan Pantekosta yang berkumpul kembali sebagai ”orang-orang yang percaya?” Seberapa seringkah mereka menyelidiki Alkitab? Mengapa banyak yang mengundurkan diri dari gerakan penginjilan? Kurangnya pemahaman terhadap Alkitab mengakibatkan seseorang berpindah-pindah dari suatu ajaran ke ajaran yang lain.
Pelajaran ini menyediakan suatu pola yang sistematis dalam mempelajari Alkitab. Hubungan antara mendengarkan injil yang benar dengan mempunyai iman yang benar sering dijelaskan di dalam ajaran injil:
§  ”Banyak orang-orang di Korintus yang mendengarkan, menjadi percaya dan dibaptis” (Kis. 18:8)
§  Bangsa-bangsa ”mendengarkan injil dan menjadi percaya” (Kis. 15:7)
§  ”Demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya” (I Kor. 15:11)
§  Inilah arti perumpamaan itu ”Benih” itu ialah firman Allah (Luk. 8:11); sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sawi saja (Luk. 17:6), menjelaskan bahwa iman tumbuh karena ”firman iman” (Rm. 10:8), ”iman dan ajaran yang sehat” (1 Tim. 4:6), hati yang menerima Allah dan firmanNya (Gal. 2:2, Ibr. 4:4)
§  Rasul Yohanes dalam catatannya tentang Tuan kita, menjelaskan ”Dia berkata yang benar (kebenaran) supaya kamu percaya” (Yoh. 19:35). FirmanMu adalah Kebenaran (Yoh. 17:17) supaya kita percaya.
1.2 KEPRIBADIAN ALLAH
Sangat mengagumkan, suatu tema yang agung dari Alkitab adalah Allah dinyatakan benar-benar ada, suatu pribadi yang nyata, dengan bentuk fisik yang nyata. Telah menjadi ajaran pokok Kristen bahwa Yesus adlah Anak Allah. Jika Allah bukan suatu pribadi fisik yang nyata, mustahil Dia mempunyai anak yang menjadi gambaran dari diriNya (Ibr. 1:3). Selanjutnya, akan menjadi sulit untuk membentuk suatu kepribadian yang berhubungan dengan Allah. Jika “Allah” hanyalah suatu konsep di dalam pikiran, suatu roh yang berada di suatu tempat di ruang angkasa. Tragis sekali, kebanyakan agama mengajarkan Allah bukanlah suatu yang nyata secara fisik, konsep Allah yang tidak nyata.
Allah tentu saja lebih besar dari kita, sangat tidak dimengerti kepercayaan banyak orang yang menolak keras janji yang sungguh benar bahwa kita pada akhirnya akan melihat Allah. Kurangnya iman membuat orang Israel tidak dapat melihat Allah. (Yoh. 5:37), dengan jelas menunjukkan bahwa Dia mempunyai bentuk fisik yang nyata. Iman tumbuh dari pengetahuan tentang  Allah dan percaya kepada firmanNya.
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8)
“Hamba-hambaNya akan beribadah kepadaNya, dan mereka akan melihat wajahNya, dan namaNya akan tertulis di dahi mereka (Why. 22:3,4)
Suatu janji yang indah, jika kita sungguh mempercayainya, akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita;
“Berusahalah hidup dengan damai semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibr. 12:14)
Kita tidak boleh bersumpah karena, “Dan barang siapa bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah, dan juga demi Dia yang bersemayam di dalamnya” (Mat. 23:22), ini omong kosong jika Allah bukan suatu yang mempunyai bentuk fisik.
“kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. (I Yoh. 3:2,3)
Dalam kehidupan ini, pengetahuan kita tentang Bapa Surgawi sangatlah tidak lengkap, tapi pada akhirnya kita akan bertemu dengan Dia. Apa yang kita lihat secara fisik sama dengan apa yang kita pahami secara rohani tentang Dia. Dalam keadaan menderita Ayub bangga dengan hubungannya yang dekat dengan Allah, karena pada akhirnya dia paham akan pengetahuan tentang Allah.
“Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikanNya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu” (Ayb. 19:26,27)
Dan Rasul Paulus menjerit di tengah kehidupan yang penuh penderitaan dan kekacauan ini:
“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka” (I Kor. 13:12)
Fakta-fakta yang mendukung dari Perjanjian Lama
Janji-janji di dalam perjanjian baru adalah berdaasrkan perjanjian lama yang juga menjelaskan tentang suatu pribadi, Allah yang nyata. Tidak bisa dipaksakan bahwa adalah suatu ajaran pokok untuk menghargai keilahian Allah jika kita mempunyai suatu pengertian yang baru tentang apa yang menjadi suatu dasar kepercayaan berdasarkan Alkitab. Perjanjian lama dengan konsisten menjelaskan tentang Allah sebagai suatu pribadi; hubungan antar pribadi dengan Allah sebagaimana dijelaskan di dalam perjanjian lama dan perjanjian baru adalah suatu hubungan yang unik, yang diharapkan oleh semua orang kristen. Berikut ini adalah argumen-argumen yang kuat bahwa Allah itu suatu pribadi yang nyata:
§  ”Allah berfirman, marilah kita menjadikan manusia sesuai dengan gambar dan rupa kita” (Kej. 1:26) demikianlah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, seperti yang dimanifestasikan juga kepada Malaikat. Yakobus 3:9 berbicara tentang ”...manusia yang diciptakan menurut rupa Allah”. Ayat-ayt ini tidak dapat diartikan secara rohani, karena secara alami pikiran kita jauh berbeda dengan Allah dan bertentangan dengan kemulianNya; ”rancanganKu bukan rancanganmu, jalanKu bukan jalanMu” (Yes. 55:8,9). Oleh karena itu gambar dan rupa menurut Allah pastilah diartikan secara fisik. Ketika para malaikat menampakkan diri mereka di permukaan bumi, mereka dijelaskan menyerupai seorang manusia (dengan tidak diduga Abraham melayani mereka, karena dia mengira mereka adalah manusia biasa). Penciptaan kita menurut rupa Allah dapat disimpulkan sebagai suatu penciptaan yang berdasarkan dari suatu bentuk/rupa. Jadi, Allah , yang serupa dengan kita bukanlah suatu roh yang tidak dapat kita bayangkan bentuknya.
§  Para malaikatpun merupakan gambaran dari Allah. Demikian Allah berfirman kepada Musa, ”berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa Tuhan” (Bil. 12:8). Musa mendapat perintah dari seorang malaikat yang mewakili nama Allah (Kel. 23:20,21). Jika rupa malaikat disamakan dengan Allah, berarti Allah mempunyai bentuk yang sama dengan Malaikat (walaupun tubuhnya lebih dari sekedar darah dan daging, tapi serupa dengan bentuk luar tubuh manusia). ”Allah berbicara kepada Musa berhadap-hadapan, seperti berbicara dengan seorang ashabat” ( Kel. 33:11; Ul. 34:10). Allah memanifestasikan rupaNya secara fisik pada malaikat-malaikatnya.
§  ”Dia mengenal kita” (Mzm. 103:14), Dia ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah pribadi yang nyata, Bapa dari segalanya. Ini akan menjelaskan dari berbagai referensi ayat-ayat yang menyatakan tangan Allah, lengan, mata, dll. Jika kita menolak Allah sebgai suatu pribadi yang nyata, maka referensi ayat-ayat ini menyesatkan dan tidak berguna untuk diajarkan.
§  Keterangan-keterangan yang menjelaskan tentang adanya takhta Allah dengan jelas mengindikasikan bahwa ”Allah” mempunyai tempat kediaman: ”Allah ada di surga” (Pkh. 5:1), ”Ia memandang dari ketinggianNya yang kudus, Tuhan memandang dari sorga ke bumi” (Mzm. 102:19,20); ”Maka engkau kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediamanMu yang tetap” (I Raj. 8:39). Lebih spesifik lagi kita baca bahwa Allah mempunyai takhta (II Taw. 9:8, Mzm. 11:4, Yes. 6:1, 66:1) sangat sulit untuk mengartikan sesuatu yang tidak terdefinisikan berada entah dimana di dalam surga. Allah berfirman, akan ”turun ke bawah” sewaktu Dia akan memanifestasikan diriNya, ”turun ke bawah” diartikan sebagai tempat Allah berasal, yaitu surga. Sulit sekali untuk memahami manifestasi Allah tanpa mengetahui rupaNya.
§  Yesaya 45 menjelaskan beanyak hal tentang keterlibatan Allah dengan umatNya; ”Akulah Allah, dan tidak ada yang lain...,Akulah Allah yang melakukan semua ini..., Akulah Allah yang telah menciptakanNya. Celakalah orang yang berbantah dengan pembentuknya..., Aku, tanganKulah yang membentangkan langit..., Berpalinglah kepadaKu dan biarkanlah dirimu diselamatkan hai ujung-ujung bumi”. Kalimat terakhir, menunjukkan keberadaan Allah sebagai suatu pribadi. Dia menginginkan seluruh manusia untuk berpaling kepadaNya, mengetahui keberadaanNya secara fisik dengan mata iman.
§  Telah dinyatakan kepada kita bahwa Allah adalah Allah maha pengampun yang berbicara kepada manusia. Pengampunan hanya bisa dilakukan oleh suatu pribadi, dan dilakukan secara rohaniah. Daud adalah orang yang berkenan di hati Allah (I Sam. 13:14), menjelaskan bahwa Allah mempunyai hati, yang bisa dipahami dengan terbatas oleh manusia, walaupun manusia secara alami tidak mempunyai hati seperti yang dimiliki Allah. Firman yang berbunyi, ”Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya (Kej. 6:6) menunjukkan bahwa Allah mempunyai perasaan, sesuatu yang nyata, daripada suatu roh yang yang berada di udara. Hal ini membantu kita untuk mengetahui bagaimana kita dapat menyenangkan dan tidak menyenangkan Dia, seperti yang dilakukan seorang anak kecil kepada ayahnya.
Jika Allah bukanlah suatu pribadi
Jika Allah tidak nyata, sebagai suatu pribadi, maka konsep kerohanian akan sulit untuk dijelaskan. Jika Allah sungguh mulia tapi tidak berbentuk, maka sulit bagi kita untuk mengerti manifestasinya dalam kehidupan manusia. Kekeliruan susunan kristen dan yudaism dalam memahami bahwa Allah masuk ke dalam hidup kita melalui roh kudus, yang pada suatu waktu akan membuat kita memiliki kerohanian seperti Allah. Sebaliknya, sekali kita percaya bahwa ada suatu pribadi yang nyata yang disebut Allah, maka kita dapat menirunya dengan cara melaksanakan firmanNya sebagai gambaran dari sifat-sifatNya dalam kehidupan kita.
Adalah menjadi tujuan Allah untuk menyatakan diriNya kepada banyak orang demi kemulianNya. NamaNya, Yahweh Elohim, mempunyai arti (Dia akan menjadi perkasa, mungkin diterjemahkan seperti itu). Jika keberadaan Allah  tidak nyata, maka upah dari kebenaran adalah kehidupan sebagai suatu roh seperti Allah. Tapi dijelaskan bahwa mereka yang mendapat upah dari kebenaran yaitu hidup di dalam kerajaan Allah, merka mempunyai keberadaan secara fisik, meskipun tidak lagi mempunyai kelemahan-kelemahan manusia seperti sebelumnya. Ayub menunggu ”hari itu” dimana tubuhnya akan dibangkitkan (Ayb. 19:25-27); Abraham juga termasuk diantara mereka yang tidur di dalam debu tanah yang akan dibangkitkan untuk hidup sampai selamanya. (Dan. 12:2) sehingga dia dapat menerima janji warisan tanah kanaan, secara fisik lokasinya berada di bumi (Kej. 17:8). Orang-orang yang saleh akan bersorak-sorai dengan girang...biarlah mereka bersorak-sorai diatas tempat tidur mereka...dan melakukan pembalasan terhadap bangsa-bangsa (Mzm. 132:16, 149:7). Orang yahudi dan bangsa-bangsa yang lain, gagal dalam memahami kalimat ini. Seperti yang dilakukan juga oleh orang-orang yang bukan yahudi yang mendapat bagian dari perjanjian Abraham, telah mengajarkan suatu jiwa yang tidak berkematian sebagai bagian dari kehidupan manusia. Suatu pemikiran yang sama sekali tidak didukung oleh Alkitab. Allah abadi, mulia, dan dia bertujuan untuk menarik semua orang masuk ke dalam kerajaanNya di masa depan yang akan didirikan di bumi.
Orang-orang yang benar akan mewarisi kodrat ilahi (II Ptr. 1:4), jika Allah bukan suatu pribadi, ini berarti kita akan hidup sebagai roh yang tidak berbentuk, tapi ini bukan ajaran dari Alkitab. Kita akan diberikan tubuh seperti yang dimiliki Yesus (Flp. 3:2,1) dan kita tahu bahwa kita akan memiliki tubuh secara fisik di dalam kerajaan Allah yang mana memiliki tangan, mata, dan telinga (Zak. 13:6, Yes. 11:3). Oleh karena itu, doktrin kepribadian Allah sesuai dengan Injil Kerajaan.
Seharusnya sudah jelas bahwa suatu konsep pelayanan, agama, atau hubungan pribadi dengan Allah, tidak akan mungkin terjadi jika tidak mengakui keberadaan Allah sebagai suatu pribadi yang nyata. Karena kita adalah gambaranNya secara fisik, walaupun tidak sempurna kita harus melaksanakan apa yang telah diajarkan firmanNya yang merupakan gambaranNya secara rohani supaya kita betul-betul mencerminkan gambar dan rupa Allah di dalam Kerajaan Allah. Banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Allah yang penuh kasih menghukum kita seperti yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya (Ul. 8:5). Dalam konteks penderitaan Kristus, dijelaskan bahwa ”adalah kehendak Tuhan untuk meremukkannya” (Yes. 53:10), meskipun dia berteriak kepada Allah; Ia mendengar suaraku...teriakku minta tolong kepadaNya sampai ke telingaNya (Mzm. 18:7). Allah berjanji kepada Daud bahwa keturunannya akan menjadi anakNya melalui suatu kelahiran yang menakjubkan. Jika Allah bukanlah suatu pribadi, maka Dia tidak akan memperanakkan seorang anak. Pengertian yang benar tentang Allah adalah kunci untuk memahami hal-hal penting lainnya dari doktrin Alkitab. Tapi, karena dusta demi dusta, maka jadilah konsep Allah yang bertentangan dengan tulisan-tulisan kudus. Jika anda merasa topik ini sudah jelas, maka pertanyaan berikutnya adalah ”Apakah anda sungguh mengenal Allah?” Sekarang kita akan lebih jauh lagi menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apa yang diajarkan Alkitab tentang Allah.
1.3 NAMA DAN KARAKTER ALLAH
Jika ada Allah, sangatlah beralasan kalau dia menyatakan diriNya kepada kita. Kita percaya bahwa Alkitab adalah wahyuNya kepada manusia, dan di dalamnya terdapat penjelasan tentang karakter dari Allah. Jika kita menerapkan firman Allah dalm hidup kita, maka suatu ciptaan baru yang menggambarkan karakteristik dari Allah akan lahir (Yak. 1:18; II Kor. 5:17). Inilah sebabnya mengapa firman Allah disebut sebagai “BenihNya” (I Ptr. 1:23). Oleh karena itu semakin banyak firman Allah yang kita terapkan, maka kita akan semakin layak untuk menjadi anakNya (Rm. 8:29) yang mana adalah gambar yang sempurna dari Allah (Kol. 1:15). Disinilah gunanya mempelajari Alkitab, banyak studi kasus yang menerangkan tentang cara Allah sewaktu berurusan dengan manusia. Dia selalu menjelaskan karakteristikNya yang sama. Dalam bahasa Ibrani nama seseorang kadangkala mencerminkan karakteristik orang tersebut, contoh;
Yesus = Penyelamat
karena dia yang menyelamatkan umatnya dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21)
Abraham = Bapa kumpulan besar
”bapa segala bangsa” (Kej. 17:5)
Hawa = Kehidupan
”karena dia adalah ibu dari semua yang hidup” (Kej. 3:20)
Simeon = Mendengar
”karena Allah telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikanNya pula anak ini kepadaku” (Kej. 29:33)
Yeremia 48:17, mengenal orang-orang moab ada hubungannya dengan mengetahui arti dari kata moab. Mazmur seringkali menghubungkan Allah dengan namaNya, firmanNya dan tindakanNya (Mzm. 103:1; 105:1; 106:1,2,12,13)
Berdasarkan keterangan itulah nama dan gelar Allah dapat memberikan informasi yang cukup tentang Dia. Karena begitu banyak aspek tentang karakteristik Allah dan tujuanNya, maka Allah mempunyai lebih dari satu nama. Untuk pembahasan tentang nama Allah lebih detail, sebaiknya dilakukan setelah pembaptisan. Menerapkan karakter Allah seperti yang dinyatakan dalam namaNya adalah yang harus kita lakukan terus menerus selama kita hidup. Berikut adalah pengenalan lebih lanjut tentang hal ini.
Ketilka Musa ingin mengenal lebih jauh tentang Allah demi menguatkan imannya selama masa yang mengguncangkan jiwanya di dalam hidupnya. Seseorang malaikat datang ”menyatakan nama Allah; Tuhan, Tuhan Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya, yang meneguhkan kasih setiaNya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman” (Kel. 34:5-7).
Ini adalah bukti yang jelas bahwa nama Allah menggambarkan karakteristiknya dan juga sebagai bukti bahwa Dia adalah pribadi yang nyata, adalah tidak masuk akal bahwa suatu roh dapat memiliki karakteristik seperti ini tapi tidak nyata, karena karakter inidapat juga diterapkan pada diri manusia walaupun tidak sempurna seperti Allah. Allah telah memilih nama yang khusus baginya supaya dapat dikenal umatNya, yang mana nama itu merupakan ringkasan dari tujuanNya.
Bangsa Israel diperbudak di mesir, dan harus diperingati bahwa mereka adalah bagian dari tujuan Allah. Musa diperintahkan untuk memberitahu nama Allah kepada mereka, sehingga dapat membantu memotivasi mereka untuk meninggalkan mesir dan memulai perjalanan mereka menuju tanah perjanjian (I Kor. 10:1). Kita harus mengetahui prinsip dasar Alkitab supaya mengerti sehubungan dengan arti nama Allah sebelum kita dibaptis dan memulai perjalanan menuju kerajaan Allah.
Allah telah memberitahu bangsa Israel bahwa namaNya adala Yahweh, artinya ”Aku adalah Aku”, atau lebih tepat lagi ”Aku akan menjadi apa yang Aku inginkan” (Kel. 3:13-15). Nama ini kemudian dipersingkat menjadi; ”Allah lebih jauh berfirman kepada Musa, beginilah kau katakan kepada orang Israel, Tuhan (Yahweh), Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Yakub..., itulah namaKu untuk selamanya dan sebutanKu untuk turun temurun (Kel. 3:15)
Jadi, nama Allah adalah Tuhan Allah.
Perjanjian lama ditulis dalam bahasa Ibrani, pada waktu diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, terjemahannya kurang akurat, sehingga kata ”Allah” tidak dapat diterjemahkan sebagaimana mestinya. Salah satunya adalah kata Ibrani ”Elohim” yang diterjemahkan sebagai ”Allah”, yang berarti ”yang perkasa”. Nama Allah yang dia ingin kita untuk mengingatnya adalah;
YAHWEH ELOHIM
artinya,
DIA AKAN DINYATAKAN DI DALAM SUATU KELOMPOK YANG PERKASA
Oleh karena itu Allah bertujuan untuk menyatakan karakterNya dan sifat-sifatNya kepada sejumlah besar manusia. Dengan ketaatan pada firmanNya, kita dapat menerapkan beberapa dari karakteristik Allah sekarang ini, sehingga Allah dapat menyatakan diriNya di dalam kita, walaupun kita tidak sempurna. Nama Allah juga merupakan suatu nubuat mengenai masa yang akan datang dimana bumi akan dipenuhi engan orang-orang yang seperti Dia baik secara karakter maupun secara fisik. (II Ptr. 1:4) Jika kita ingin turut serta dalam rencana Allah ini dan menjadi seperti Dia yang abadi, maka kita harus bersatu di dalam namaNya. Yaitu dengan cara dibaptis dalam nama Yahweh Elohim (Mat.28:19), hal ini juga akan menjadikan kita sebagai keturunan Abraham (Gal. 3:27-29) yang akan mewarisi bumi (Kej. 17:8, Rm. 4:13) Suatu kelompok dari yang perkasa (ELOHIM) sebagaimana telah dinubuatkan di dalam Nama Allah akan digenapi, Lebih detail lagi akan dibahas pada pelajaran 3.4.
1.4 Malaikat
Dalam pelajaran ini kita akan membehas tentang malaikat, yang didefinisikan sebagai;
Mempunyai bentuk secara fisik, pribadi yang nyata
Mewakili nama Allah
Sebagai perantara Allah untuk melaksanakan tujuanNya
Serupa dengan karakter Allah dan tujuanNya sehingga merupakan manifestasi dari Allah
Pada pelajaran sebelumnya dijelaskan tentang kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “Allah” adalah “Elohim”, yang mempunyai arti “Yang Perkasa”. “Yang perkasa” inilah yang mewakili nama Allah, dan juga disebut sebagai “Allah”. Karena persekutuan mereka yang erat dengan Dia. Mereka inilah yang disebut Malaikat.
Catatan mengenai penciptaan dunia di Kejadian 1, mengatakan bahwa Allah menyebutkan beberapa perintah sehubungan dengan penciptaan, “dan jadilah demikian”. Malaikatlah yang mengatakannya.
“Pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firmanNya dengan mendengarkan suara firmanNya” (Mzm. 103:20)
Oleh karena itu sangat beralasan untuk menyimpulkan bahwa ketika kita membaca kata “Allah” dalam penciptaan dunia, mengacu kepada malaikat. Ayub 38:4-7 menjelaskan hal yang sama. Jadi, kita dpat menyimpulkan kisah tentang penciptaan dunia sebagaimana dicatat dalam Kejadian 1, sebagai berikut;
Hari 1   “Allah berfirman, jadilah terang; dan jadilah demikian (ayat 3)
Hari 2   “ Allah berfirman, jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air…dan jadilah demikian (ayat 6,7)
Hari 3   “Allah berfirman, hendaklah segala air yang dibawah langit berkumpul pada satu tempat sehingga kelihatan yang kering, dan jadilah demikian (ayat 9)
Hari 4   “Allah berfirman, jadilah benda-benda penerang pada cakrawala…, dan jadilah demikian (ayat 14,15)
Hari 5   “Allah berfirman, hendaklah di dalam air berkeriapan makhluk yang hidup dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala. Maka Allah menciptakannya…, dan jadilah demikian (ayat 20, 21)
Hari 6   “Allah berfirman, hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup…, dan jadilah demikian (ayat 24)
Manusia diciptakan pada hari keenam, “Allah berfirman, baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita” (Kej. 1:26). Kami mengomentari ayat ini pada pelajaran 1.2 Untuk kedepan, sebagai catatan bahwa kata “Allah” di ayat ini bukan hanya tertuju pada Allah saja. “Baiklah kita menjadikan manusia” menunjukkan bahwa kata “Allah” tertuju pada lebih dari satu pribadi. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “Allah” disini adalah “Elohim”, yang artinya “Yang perkasa”, yang tertuju kepada Malaikat. Adalah fakta bahwa malaikat menciptakan kita berdasarkan rupa mereka, hal ini mengartikan bahwa kita mempunyai bentuk tubuh yang sama dengan mereka. Mereka adalah pribadi yang nyata yang hidup di alam yang sama dengan Allah.
Pengertian kata “alam” mengacu pada apa yang secara fundamentalis telah dipahami sebagai suatu tempat yang didiami berdasarkan struktur tubuh secara fisik. Alkitab menjelaskan bahwa ada 2 alam, dan tidak mungkin untuk berada di dalam 2 alam secara bersamaan.
Alam Allah (alam keilahian)
Tidak berdosa (sempurna) (Rm. 9:14; 6:23, Mzm. 90:2, Mat. 5:48, Yak. 1:13)
Tidak bisa mati, abadi (I Tim. 6:16)
Sangat kuat (Yes. 40:28)
Inilah alam Allah dan malaikat, yang mana juga diberikan kepada Yesus setelah kebangkitannya (Kis. 13:34, Why. 1:8, Ibr. 1:3) Inilah alam yang dijanjikan kepada kita (Luk. 20:35,36, II Ptr. 1:4, Yes. 40:28,31)
Alam Manusia
Dicobai supaya jatuh kedalam dosa (Yak. 1:13-15) oleh hati yang secara alamiah memang rusak (Yer. 17:9, Mrk. 7:21-23)
Mati, tidak abadi (Rm. 5:12,17, I Kor. 15:22)
Kekuatannya terbatas baik secara fisik (Yes. 40:30) dan mental (Yer. 10:23)
Inilah alam dimana semua orang baik maupun jahat berada. Akhir dari alam ini adalah kematian. (Rm. 6:23) Alam dimana Yesus berada selama ia hidup (Ibr. 2:14-18, Rm. 8:3, Yoh. 2:25, Mrk. 10:18)
Penampakkan Malaikat
Malaikat berada di alam yang sama dengan Allah, mereka tdak berdosa dan abadi, karena dosa mengakibatkan kematian (Rm. 6:23). Mereka mempunyai suatu tubuh secara fisik. Karena itulah pada waktu mereka menampakkan diri di bumi mereka terlihat seperti seorang manusia.
§  Malaikat menghampiri Abraham untuk memberitahukan firman Allah kepadanya; mereka dikatakan sebagai 3 orang manusia, yang diperlakukan Abraham layaknya seperti manusia biasa, karena penampilan mereka. “Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini” (Kej. 18:4)
§  Dua dari tiga malaikat itu pergi ke Sodom, sekali lagi, mereka dianggap sebagai manusia biasa oleh Lot dan penduduk Sodom. “Kedua malaikat itu tiba di Sodom”, Lot mengundang mereka untuk bermalam di rumahnya. Tapi karena Lot sangat mendesak mereka, singgahlah mereka dan masuk kedalam rumahnya, “dimanakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini?” Lot memohon, “jangan kamu apa-apakan orang-orang ini”. “Kedua orang itu (malaikat) memegang tangan mereka”dan menyelamatkan Lot; “lalu kedua orang itu berkata kepada Lot, “Sebab itulah Tuhan mengutus kami untuk memusnahkannya”(Sodom) (Kej. 19:1,5,8,10,12,13).
§  Perjanjian Baru juga mencatat tentang peristiwa ini dan membenarkan bahwa malaikat-malaikat itu menampakkan diri dalam bentuk manusia; “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat” (Ibr. 13:2)
§  Yakub bergulat dengan seseorang sepanjang malam (Kej. 32:24), orang itu adalah Malaikat (Hos. 12:4,5)
§  Dua orang yang pakaiannya berkilau-kilauan hadir pada saat Kebangkitan Yesus (Luk. 24:4) dan Kenaikan Yesus (Kis. 1:10). Mereka adalah Malaikat.
§  Menurut ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat (Why. 21:17)
Malaikat Tidak Berdosa
Malaikat berada di alam yang sama dengan Allah, mereka tidak dapat mati. Karena dosa mengakibatkan kematian, maka mereka pastilah tidak berdosa. Kata Yunani dan Ibrani yang diterjemahkan sebagai “Malaikat” mempunyai arti “Utusan”, Malaikat adalah utusan atau pelayan dari Allah, taat kepada Allah. Oleh karena itu mereka tidak berdosa. Kata Yunani “Aggelos” yang diterjemahkan sebagai “Malaikat”, juga diterjemahkan sebagai “Utusan” sehubungan dengan manusia – Yohanes pembaptis (Mat. 11:10) dan utusannya (Luk. 7:24) utusan dari Yesus (Luk. 9:52) dan orang-orang yang memata-matai Yerikho (Yak. 2:25). Adalah suatu yang dapat terjadi, jika Malaikat dalam bentuknya sebagai manusia, dapat berbuat dosa.
Ayat-ayat berikut ini menunjukkan bahwa Malaikat (tidak semua) adalah secara alamiah memang taat kepada Allah, dan oleh karena itu tidak berdosa:
“Tuhan sudah menegakkan takhtaNya di surga dan KerajaanNya berkuasa atas segala sesuatu. (Tidak ada pemberontakan terhadap Allah di surga) Pujilah Tuhan, hai malaikat-malaikatNya, hai pahlawa-pahlawan yang perkasa, yang melaksanakan firmanNya, dengan mendengarkan suara firmanNya. Pujilah Tuhan, hai segala tentaraNya, hai pejabat-pejabaNya yang melakukan kehendakNya”. (Mzm. 103:19-21).
“Pujilah Dia, hai segala malaikatNya...hai segala tentaraNya (Mzm. 148:2)
“Malaikat...bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka (yang percaya) yang harus memperoleh keselamatan?” (Ibr. 1:13,14)
Pengulangan kata “semua/segala”, menunjukkan bahwa Malaikat-malaikat tidak terbagi menjadi dua pihak, yang satu baik dan yang satu berdosa. Suatu hal yang penting untuk mengetahui dengan benar alam para Malaikat, karena sebagai upah kebenaran adalah hidup di alam mereka; “Tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu...tidak kawin...sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat” (Luk. 20:35,36). Inilah yang menjadi dasar pemahaman. Malaikat-malaikat tidak dapat mati; “Kematian...bukan malaikat-malaikat” (Ibr. 2:15,16)
Jika Malaikat dapat berbuat dosa, maka mereka yang layak untuk mendapat bagian pada kedatangan Kristus masih tetap mungkin untuk berbuat dosa. Dan tentu saja kematian adalah upahnya (Rm. 6:23), oleh karena itu mereka tidak akan menerima kehidupan abadi; jika kita masih mungkin untuk berbuat dosa, maka masih memungkinkan juga kita akan menuju pada kematian. Karena itu jika malaikat dapat berbuat dosa, maka janji Allah akan kehidupan abadi menjadi tidak berarti. Referensi tentang Malaikat (Luk. 20:35,36) menunjukkan bahwatidak ada kategori malaikat yang berdosa dan malaikat yang baik, hanya ada satu kategori Malaikat. Jika Malaikat dapat berbuat dosa, dengan mengingat bahwa Malaikat adalah perantara yang Dia gunakan untuk melaksanakan tujuanNya, maka Allah telah mengutus kepada kita sesuatu yang tidak mampu untuk bertindak sebagaimana mestinya dalam kehidupan kita dan dalam berurusan dengan dunia. (Mzm. 103:19-21). Malaikat diciptakan dari roh oleh Allah untuk melayaniNya (Mzm. 104:4). Mustahil jika mereka tidak patuh kepadaNya. Orang Kristen harus berdoa demi Kerajaan Allah yang akan didirikan di bumi, karena itulah kehendakNya, seperti yang Dia lakukan di surga (Mat. 6:10) Jika Malaikat-malaikat Allah harus berperang dengan Malaikat-malaikat yang berdosa di surga, maka kehendakNya tidak bisa dilaksanakan disana. Oleh karena itu keadaan yang sama juga berlaku atas Kerajaan Allah di masa yang akan datang. Untuk menjalani kehidupan abadi di dunia yang terus menerus terjadi peperangan antara dosa dan ketaatan, adalah suatu prospek yang tidak bagus. Tapi, tentu saja bukan itu yang terjadi.
Malaikat dan Orang-orang Percaya
Adalah suatu alasan yang baik untuk mempercayai bahwa setiap orang yang percaya yang benar memiliki Malaikat Pelindung, mungkin berbeda-beda satu dengan yang lain, yang memebantu di dalam kehidupan mereka.;
”Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka” (Mzm. 34:7)
”...anak-anak kecil ini yang percaya kepadaku (murid yang lemah Zak. 13:7, Mat. 26:31)...ada Malaikat mereka di surga yang selalu memenadang wajah Bapaku yang di surga.” (Mat, 18:6,10)
Orang Kristen yang mula-mula percaya bahwa Petrus memiliki Malaikat pelindung (Kis. 12:14,15)
Pada waktu orang-orang Israel menyeberangi Laut Merah, mereka dipimpin oleh seorang malaikat yang menjaga mereka dari padang gurun hingga tanah perjanjian.- menyeberangi laut merah melambangkan baptisan air kita (I Kor. 10:1)
Maka, bukanlah suatu yang tidak beralasan, jika pada saat ini kita juga dibimbing oleh  seorang Malaikat, yang membimbing kita dari kehidupan liar seperti di padang gurun menuju tanah perjanjian yaitu Kerajaan Allah.
Jika Malaikat dapat menjadi jahat sebagai akibat dari berbuat dosa, maka janji akan bimbingan seorang malaikat yang menjadi teladan bagi kehidupan kita akan menjadi suatu kutuk daripada berkat.
Kita telah mengetahui bahwa malaikat ada...
Yang hidup di alam Allah dan dapat menampakan dirinya
Yang tidak berdosa
Yang selalu melaksanakan perintah-perintah Allah
Yang menjadi perantara dari Roh Allah untuk berbicara dan bertindak (Mzm. 104:4)
Tapi...?
Banyak Gereja Kristen yang mempunuyaiide bahwa malaikat dapat berbuat dosa dan malaikat yang berdosa itu bertanggung jawab atas dosa dan masalah-masalah di bumi. Kita akan membahas konsep uang salah ini dengan jelas pada pelajaran 6. Nerikut ini adalah kesimpilan yang dapat kita buat;
§  Mungkin saja ada penciptaan seperti kita sebelumnya, seperti yang diacatat di Kejadian 1. Mungkin juga malaikatlah yang ingin mendapat pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu (Kej. 3:5) juga berada di situasi yang sama dengan kita pada saat ini, yang mana pada waktu itu berbuat dosa bukanlah suatu pelanggaran hukum; ini hanya spekulasi berdasarkan keinginan manusia. Allah memberitahukan kepada kita apa yang harus kita ketahui tentang keadaan yang sebenarnya, dimana tidak ada malaikat yang berdosa, seluruh malaikat taat kepada Allah.
§  Tidak ada yang berdosa di surga, karena ”Mata Allah terlalu suci untuk melihat kejahatan” (Hab. 1:13) juga dijelaskan di Mazmur 5:4,5; ”Orang jahat takkan menumpang padaMu, pembual tidak akan tahan di depan mataMu”.- di takhta surgawi Allah. Ide tentang adanya pemberontakkan melawan Allah di surga oleh malaikat yang berdosa, sangat bertentangan dengan apa yang telah dijelaskan oleh ayat ini.
§  Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai ”Malaikat”, yang berarti ”utusan”, bisa tertuju kepada manusia, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Seorang manusia yang menjadi utusan Allah tentu saja dapat berbuat dosa.
§  Adanya sesuatu yang jahat dan berdosa yang bertanggung jawab atas semua aspek-aspek negatif dalam kehidupan adalah salah satu dari hal-hal yang mendasar yang diyakini dalam penyembahan berhala. Begitu juga dengan perayaan hari natal oleh orang-orang kristen pada saat ini, perayaan tersebut adalah suatu ide yang berasal dari konsep penyembahan berhala.
§  Hanya ada sedikit ayat-ayat Alkitab yang mendukung ide keberadaan malaikat yang berdosa. Hal-hal ini dibahas dalam buku ”In Search of Satan” yang juga diterbitkan oleh penerbit buku ini. Hanya dengan mendasarkan kepada beberapa ayat, tidaklah cukup untuk mengkontradiksikan apa yang telah Alkitab ajarkan, sebagaimana telah dibahas dalam pelajaran ini.
2.1 Definisi Roh Allah
Seperti halnya Allah itu nyata, suatu pribadi yang memiliki perasaan dan emosi, maka adalah suatu yang diharapkan bahwa ia akan menggunakan beberapa cara untuk mengungkapkan keinginannya dan perasaannya kepada kita, anak-anaknya, kemudian kita menerapkannya di dalam kehidupan kita selaras dengan karakternya. Semua ini dilakukan Allah melalui RohNya. Jika kita ingin mengenal Allah dan mempunyai hubungan yang aktif dengan Dia, maka kita perlu untuk mengetahui apakah “Roh Allah” itu? Bagaimana ia bekerja?
Bukan sesuatu yang mudah untuk menjelaskan dengan tepat arti kata “Roh” (“Spirit” dalam bahasa Inggris). Jika anda pergi ke suatu pesta pernikahan, misalnya anda mungkin berkomentar,”There was a really spirit there!” Anda bermaksud untuk mengatakan bahwa susana disana baik, segala sesuatu yang menyangkut pernikahan berjalan dengan baik. Setiap orang berpakaian dengan pantas, makanannya enak, orang-orang berbicara satu sama lain dengan baik, pengantinnya cantik, dll. Semua hal ini menjadi “Spirit” (sesuatu yang membuat) pernikahan berjalan dengan baik.
Demikian halnya Roh Allah, menjelaskan dengan ringkas segala sesuatu tentang Dia. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “roh” di dalam Perjanjian Lama, mempunyai arti “nafas” atau “tenaga”; maka Roh Allah adalah “nafasnya”, bagian yang pokok dari Allah, yang mencerminkan pikirannya. Kami akan memberikan contoh bagaimana kata “roh” digunakan dalam menggambarkan pikiran seseorang atau wataknya, dalam pelajaran 4.3. Kata roh tidak hanya mengacu kepada tenaga Allah saja, hal ini dengan jelas diterangkan dalam Roma 15:19; “kuasa roh”.
Adalah suatu ajaran umum Alkitab bahwa apa yang manusia pikirkan, diekspresikan dalam tindakanny. (Ams. 23:7, Mat. 12:34), kelakuam kita menggambarkan apa yang ada di pikiran kita. Kita memikirkan sesuatu, kemudian melakukannya. Roh atau pikiran kita akan merefleksikan apa yang telah menjadi fakta, misalnya kita lapar dan menginginkan makanan, kita melihat pisang di dapur; keinginan ”roh” kita diterjemahkan ke dalam tindakan, kita mengambil pisang itu lalu mengupasnya dan memakannya. Contoh yang sederhana ini menunjukan mengapa kata Ibrani untuk ”roh” mempunyai dua arti, yaitu nafas atau pikiran dan tenaga. Roh kita, adalah inti kehidupan kita. Dalam skala yang lebih besar, Roh Allah mempunyai pengertian yang sama; yaitu suatu kuasa yang menunjukan tenagaNya, watakNya dan tujuanNya. Pikiran Allah adalah apa yang akan dilaksanakannya;”Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah yang terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana” (Yes. 14:24)
Kekuatan Allah
Banyak ayat yang dengan jelas mengidentifikasikan bahwa Roh Allah adalah tenagaNya. Dalam hal penciptaan alam semesta; ”Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Dan Allah berfirman, jadilah terang: lalu terang itu jadi.” (Kej. 1:2,3) 
Roh Allah adalah sumber dari segala sesuatu yang telah diciptakan, ”Oleh nafasNya langit menjadi cerah, tanganNya menembus ular yang tangkas” (Ayub 26:13). ”Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaraNya.” (Mzm. 33:6). Oleh karena itu Roh Allah dijelaskan sebagai:
NafasNya
FirmanNya
TanganNya
Karena tenagaNya Ia menyebabkan segala sesuatu ada. Demikian juga orang-orang percaya yang lahir kembali adalah atas kehendakNya (Yoh. 3:3-5). KehendakNya dilaksanakan oleh Roh. Berbicara tentang seluruh penciptaan, kita membaca, ”Apabila Engkau mengirimkan RohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi” (Mzm. 104:30). Roh/Tenaga inilah yang menjadi penopang bagi segala sesuatu, sebagaimana hal-hal tersebut diciptakan. Mudah sekali untuk membayangkan bagaimana jadinya kehidupan yang tragis ini dan yang penuh dengan sandungan, tanpa campur tangan Roh Allah. Ayub, yang menjadi letih atas apa yang dia alami, telah diperingatkan oleh seorang nabi:”Jikalau Ia menarik kembali RohNya, dan mengembalikan NafasNya kepadaNya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu” (Ayub 34:14,15). Ketika berusaha keluar dari keadaan yang tertekan, Daud memohon kepada Allahuntuk terus mendukungnya melalui Roh untuk melindunginya (Mzm. 51:12).
Di dalam pelajaran 4.3 kita akan membahas tentang roh yang telah diberikan kepada kita dan seluruh ciptaan, adalah roh yang menopang kehidupan kita. Kita mempunyai ”nafas dari roh kehidupan” di dalam diri kita (Kej. 7:22) yang diberikan Allah pada waktu manusia diciptakan (Mzm. 104:30; Kej. 2:7). Hal ini membuat Dia menjadi ”Allah dari roh segala makhluk” (Bil. 27:16, Ibr. 12:9). Karena Allah sebagai sumber kehidupan yang menopang segala makhluk, maka RohNya berada dimana saja. Daud mengetahui bahwa melalui RohNya/TenagaNya, Dia mampu mengetahui setiap sudut dari pikirannya dan apa yang dipikirkannya. Maka pengertian dari bahwa Dia selalu berada dimana saja, walaupun Dia berada di surga, adalah RohNya yang melakukan hal itu.
Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh...Kemana aku dapat pergi menjauhi RohMu, kemana aku dapat lari dari hadapanMu? Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga disana...tangan kananMu memegang aku. (Mzm. 139:2,7,9,10)
Pengertian yang tepat dari hal ini adalah bahwa Allah menyatakan diriNya kepada kitasebagai suatu tenaga aktif yang sangat kuat. Banyak orang yang imannya bertumbuh bersama pengertian yang tidak jelas tentang Allah. Bagi mereka Allah hanyalah suatu konsep di dalam pikiran, seperti kotak hitam pesawat yang berada di dalam otak. Pengertian tentang Allah yang benar dan kehadiranNya yang nyata disekitar kita melalui RohNya, dapat mengubah total kehidupan kita. Kita dikelilingi oleh roh, yang terus menerus memberikan kesaksian dari setiap tindakannya tentang Allah kepada kita. Daud mendapatkan semangat dari semua ini, yang tentu saja sangat membingungkannya: ”Terlalau ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalau tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.” (Mzm. 139:6). Tanggung jawab harus disertai dengan pengetahuan yang cukup; kita harus mengakui bahwa setiap apa yang kita pikirkan dan lakukan, diketahui oleh Allah. Selagi kita mengoreksi diri kita apakah kita layak dihadapanNya, khususnya sebelum pembaptisan, kita perlu memikirkan hal ini: menerapkan firman Allah yang mulia yang disampaikanNya kepada Yeremia: ”Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? Demikianlah firman Tuhan. Tidaklah Aku memenuhi langit dan bumi? Demikianlah firman Tuhan” (Yer. 23:24).
Kita telah melihat bahwa konsep tentang Roh Allah sangat luas untuk dipahami; tentang pikiran dan watakNya, dan juga tenaga yang Dia gunakan untuk melaksanakan apa yang ada di dalam pikiranNya. ”Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Ams. 23:7); begitu juga dengan Allah di dalam pikiranNya. Dalam pengertian ini, yang dimaksud adalah RohNya (Yoh. 4:24). Meskipun begitu, hal ini tidak mengartikan bahwa Allah bukan suatu pribadi (lihat pertentangan 1). Untuk membantu anda memahami pengertian tentang Roh Allah yang luas, kadang-kadang kami akan menyebutnya ”Roh KudusNya.”
Kata ”Roh Kudus” banyak sekali ditemukan di dalam Perjanjian Baru, di dalam terjemahan Versi Autorisasi (AV), kata ”Roh Kudus” sering kali digunakan, tapi seharusnya kata itu diterjemahkan sebagai ”suatu roh kudus”, dalam Alkitab terjemahan modern terjemahannya lebih jelas. Sepadan dengan yang tercatat di dalam Perjanjian Lama,”Roh dari Allah”, atau ”Roh dari Tuhan”. Dengan jelas diterangkan dalam Kisah para Rasul 2 bahwa Aku akan mencurahkan RohKu (Allah) (Kis. 2:17). Juga di Lukas 4:1 menceritakan Yesus ”yang penuh dengan roh kudus”, kembali dari sungai yordan; kemudian dalam pasal yang sama Yesus mengatakan ”Roh Tuhan ada padaku” yang menjadi penggenapan dari Yesaya 61. Dalam kedua contoh ini (masih banyak lagi yang lain) arti kata Roh Kudus sama dengan yang ada di Perjanjian Lama ”Roh dari Allah”.
Perlu diketahui, Roh Kudus diparalelkan dengan tenaga Allah dalam beberapa ayat berikut;
”Roh Kudus (roh) akan turun atasmu (Maria), dan kuasa Allah yang maha tinggi akan menaungi engkau” (Luk. 1:35)
”oleh kekuatan roh kudus...oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa roh.” (Rm. 15:13,19)
”Sebab Injil yang kami beritakan...dengan kekuatan oleh roh kudus.” (I Tes. 1:5)
Murid-murid dijanjikan akan menerima Roh Kudus seperti mereka ”diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Kis. 10:38)
Paulus menopang pengajarannya hal yang tak dapat disangkal, yaitu kuasa/tenaga Allah; ”baik perkataanku maupun pemberitaanku...dengan keyakinan akan kekuatan roh.” (I Kor. 2:4).
2.2 Inspirasi
Kami telah menjelaskan Roh Allah adalah tenagaNya, pikiran dan watak yang Dia tunjukkan melalui tindakan-tindakan dimana rohNya yang bekerja. Dalam pembahasan sebelumnya kami menyebutkan bagaimana roh Allah nampak pada pekerjaan penciptaan:”Oleh nafasNya langit-langit menjadi cerah” (Ayub 26:13)-Roh Allah melayang-melayang di atas permukaan air (Kej. 1:2). Bahkan juga kita membaca “Oleh firman Tuhan” langit telah dijadikan (Mzm. 33:6), seperti yang ditunjukkan melalui kisah di Kejadian, yang mencatat bahwa “Allah berfirman” mengenai hal-hal yang akan diciptakan dan terjadilah demikian. Oleh karena itu Roh Allah sangat mencerminkan firmanNya. Seperti kata-kata yang kita ucapkan mencerminkan kepribadian kita dengan akurat. Yesus dengan bijaksana menggambarkan: “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati (pikiran)”. Jadi, jika kita ingin mengontrol kata-kata kita, pertama-tama kita harus memulainya dari pikiran kita. Firman Allah adalah penggambaran dari rohNyaa atau pemikiranNya. Adalah suatu berkat bahwa di dalam Alkitab kita memiliki kata-kata Allah yang tertulis, sehingga kita boleh mengerti tentang roh atau pemikiran Allah. Allah melakukan keajaiban ini dengan kata-kata tertulis yang dilakukan oleh rohNya melalui suatu proses INSPIRASI. Istilah ini berasal dari kata ”spirit” (dalam bahasa Inggris).
IN-SPIRIT-ATION
”Spirit” berarti ”nafas” atau bernafas, ”Inspirasi” berarti ”melalui pernafasan”, Ini mengartikan bahwa kata-kata yang ditulis oleh para penulis yang berada dibawah ”inspirasi” Allah, adalah kata-kata dari Roh Kudus. Paulus menganjurkan Timotius agar pengenalannya terhadap Kitab Suci yang sudah dari sejak lahir tidak membuatnya melupakan fakta bahwa itu adalah firman dari Roh Allah, yang memberikan kepada kita banyak hal yang perlu kita ketahui supaya kita mempunyai pengetahuan yang benar tentang Allah:
”Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal kitab suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi (secara menyeluruh) untuk setiap perbuatan baik.”
Jika tulisan-tulisan kudus yang terilham merupakan suatu pengetahuan secara keseluruhan, maka kita tidak lagi membutuhkan suatu ”cahaya suci” untuk menunjukkan kepada kita kebenaran tentang Allah. Banyak sekali orang-orang yang menceritakan tentang pengalaman pribadi mereka dan apa yang mereka rasakan sebagai sumber mereka akan pengetahuan tentang Allah. Jika kita menerima dengan iman bahwa firman Allah yang terilham sudah cukup untuk melengkapi peralatan seorang kristen dalam kehidupan, maka tidak diperlukan lagi suatu mukjizat di dalam kehidupan kita. Jika tidak demikian, maka firman Allah belum cukup untuk melengkapi kita. Seperti yang dijanjikan Paulus bahwa hal itu akan terjadi. Untuk mempelajari Alkitab dan mempercayainya sebagai firman Allah, dibutuhkan suatu iman. Ketertarikan bangsa Israel terhadap firman Allah sangat beralasan, seperti yang dialami banyak ”orang kristen” pada saat ini. Kita semua harus berhati-hati dalam merefleksikan Ibrani 4:2;
”Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengam mereka yang mendengarnya.”
Daripada berusaha untuk menumbuhkan iman kepada kuasa roh Allah/ firmanNya sebagaimana yang telah dinyatakan, malah mengambil jalan pintas secara rohani dengan alasan bahwa kuasa dari Roh Allah akan datang kepada kita secara tiba-tiba, yang akan membuat kita diterima dihadapan Allah, dan menganggap hal itu lebih baik daripada mengalami penderitaan terus menerus karena taat kepada firman Allah yang dengan demikian akan membuat Roh Allah bekerja di dalam hati kita.
Ketidaksediaan mereka dalam menerima kekuatan spiritual yang sangat besar melalui firman Allah yang telah menuntun banyak ”orang kristen” bertanya apakah semua tulisan kudus betul-betul inspirasi dari Allah. Mereka menganggap bahwa menyelidiki Alkitab lebih jauh adalah opini pribadi dari orang tua yang bijaksana. Petrus menjelaskannya dengan efektif dalam menanggapi hal yang tidak jelas ini;
”Dengan demikian kami diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam kitab suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Ptr. 1:19:21)
Kita harus mempercayai ”kata-kata diatas” bahwa Alkitab terilham. Berdasarkan inilah kami membuat Pengakuan Iman Christadelphian.
Para Penulis Alkitab
Kepercayaan yang mendalam mengenai segenap inspirasi dari tulisan-tulisan kudus adalah suatu hal yang penting. Menarik sekali, para penulis Alkitab dibimbing oleh roh yang menginspirasikan mereka sehingga mereka menulis bukan berdasarkan kata-kata mereka sendiri. FirmanMu adalah kebenaran (Yoh. 17:17). Untuk menyatakan kesalahan dan untuk memperbaiki kelakuan (2 Tim. 3:16,17), tidak mengejutkan jika banyak orang tidak mengetahui hal ini, karena kebenaran menyakitkan. Nabi Yeremia ditentang karena memberitakan firman Allah, dan dia dipaksa untuk tidak mencatatnya atau mempublikasikannya. Oleh karena penulisan firman Allah didasari atas kehendak Allah bukan manusia, maka ia ”terus dibimbing oleh Roh Kudus” sehingga ia tidak mempunyai pilihan dalam menghadapi keadaan ”Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku...Tetapi apabila aku berpikir, ”Aku tidak mau mengingat Dia, dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya. Maka dalam hatiku ada sesuatu seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup (Yer. 20:7,9)
Demikian juga halnya dengan Bileam , yang dipaksa untuk mengutuk Israel, Roh Allah membuat dia mengucapkan berkat daripada sebaliknya (Bil. 24:1-13 Ul. 23:5).
Suatu jumlah yang mengejutkan dari orang-orang yang diperintahkan Allah untuk menyatakan firmanNya, yang melaksanakan tugas itu dengan berat hati, jumlahnya sangat mengesankan;
Musa (Kel. 4:10)
Yehezkiel (Yeh. 3:14)
Yunus (Yun. 1:2,3)
Paulus (Kis. 18:9)
Timotius (1 Tim. 4:6-14)
Bileam (Bil. 22-24)
Hal ini mengkonfirmasikan apa yang telah kita pahami di 2 Petrus 1:19-21 bahwa firman Allah bukanlah pendapat pribadi dari manusia, tapi adalah hasil dari penulisan orang-orang yang berada di bawah inspirasi, yang diperintahkan untuk mencatat apa yang telah dinyatakan kepada mereka. Nabi Amos mengatakan:”Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” (Amos 3:8). Pada waktu Musa kehilangan rasa percaya dirinya, Allah mendukungnya:”Segala perintah ini, yang telah difirmankan Tuhan kepada Musa...” (Bil. 15:22,23); firman ini diucapkan oleh Musa (ayat 17).
Pembuktian lain mengenai hal-hal ini adalah bahwa para penulis Alkitab tidak betul-betul mengerti mengenai hal-hal yang telah mereka catat. Karena mereka sendiri menyelidikinya untuk mendapatkan penafsiran yang benar. ”Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberikan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka.” sebagaimana yang telah mereka catat (I Ptr. 1:9-12)
Firman yang telah mereka catat bukanlah atas kehendak mereka sendiri, buktinya mereka sendiri juga menyelidikinya. Ayat-ayat berikut menjelaskan beberapa contoh; Daniel (Dan. 12:8-10) Zakharia (Zak. 4:4-13) dan Petrus (Kis. 10:17)
Jika orang-orang ini hanya diinspirasikan untuk menulis beberapa bagian saja, maka kita tidak akan mengetahui dengan benar tentang firman atau roh Allah. Jika hal-hal yang mereka tulis adalah benar-benar firman dari Allah, maka mereka telah dibimbing sepenuhnya oleh Roh Allah dalam masa penulisan. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, maka hasilnya adalah bukan firman Allah yang murni. Untuk menerima Alkitab sebagai firman Allah sepenuhnya, kita harus lebih memotivasi diri untuk membaca dan menaatinya. ”janji-janjiMu sangat teruji, dan hambaMu mencintainya” (Mzm. 119:140).
Dengan demikian kitab-kitab yang terdapat di dalam Alkitab adalah karya Allah melalui Roh KudusNya, yang melebihi karya manusia. Untuk meyakinkan hal ini, perhatikan bagaimana Perjanjian Lama dijadikan referensi untuk menulis Perjanjian Baru:
-         Matius 2:5 karena demikianlah ”ada tertulis dalam kitab nabi” -Allah telah menulisnya melalui mereka
-         ”yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud...” (Kis, 1:16 menerangkan bagaimana Petrus mengutip ayat dari Mazmur, bandingkan dengan Ibrani 3:7)
-         ”yang disampaikan Roh Kudus melalui perantaraan Yesaya” (Kis. 28:25 Paulus mengutip dari Yesaya) Lukas 3:4 mengatakan ”Kitab nubuat-nubuat Yesaya” daripada hanya sekedar ”Kitab Yesaya.”
Oleh karena itu, bagi orang kristen yang mula-mula, mengetahui bahwa Roh Kuduslah yang menginspirasikan firman tersebut adalah lebih penting daripada mengetahui siapa yang menulisnya.
Dalam pelajaran ini akan kami lampirkan daftar ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Roh Allah telah dinyatakan kepada kita melalui firman Allah yang tertulis:
-         Dengan terus terang Yesus mengatakan,”Perkataan-perkataan yang kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63); Dia berbicara dibawah inspirasi dari Allah (Yoh. 17:8; 14:10)
-         Kita dijelaskan tentang lahir kembali melalui air dan roh (Yph. 3:3-5) dan firman Allah (I Ptr. 1:2,3)
-         Firman yang disampaikan Tuhan semesta alam melalui rohNya dengan perantaraan para nabi...” (Zak. 7:12)
-         ”...Aku hendak mencurahkan isi hatiKu kepadamu dan memberitahukan perkataanKu kepadamu” (Ams. 1:23) Memberikan pengertian yang benar tentang firman Allah kepada kita melalui rohNya. Percuma saja kita membaca Alkitab kalau tidak bisa mengambil pelajaran dari dalamnya dan akan membuat roh/pikiran Allah tidak dinyatakan kepada kita.
-         Ada banyak ayat yang menjelaskan hubungan antara firman Allah dan rohNya: ”...RohKu yang menghinggapi engkau dan firmanKu yang kutaruh dalam mulutmu...”(Yes. 59:21); ”Oleh karena firmanMu dan menurut hatiMu (roh)” (2 Sam. 7:21); ”RohKu akan Kubiarkan diam di dalam batinmu...” (Yeh. 36:27); ”...Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka...” (Yer. 31:33)
Kuasa Firman Allah
Roh Allah tidak hanya mengacu kepada pikiran/watakNya, tapi juga kepada tenaga yang Dia gunakan untuk mengekspresikan apa yang Dia pikirkan. Adalah suatu yang diharapkan bahwa firman dari rohNya bukan hanya menyatakan apa yang Dia pikirkan, tapi juga menyatakan suatu kekuatan yang terdapat dalam firman tersebut. 
Pengertian yang benar tentang kekuatan itu akan membuat kita jadi berhasrat untuk menggunakannya. Perasaan rendah diri untuk melakukan hal tersebut dapat diatasi dengan pengetahuan kita, ketaatan kepada firman Allah akan memberikan kekuatan untuk mengatasi masalah sekecil apapun dalam hidup ini sambil menentikan penyelamatan. Karena berpengalaman dalam hal ini, Paulus menulis;
”Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan...” (Rm. 1:16)
Lukas 1:37 berbicara mengenai hal yang sama:”Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”
Oleh karena itu, mempelajari Alkitab dan menerapkannya di dalam hidup kita adalah suatu proses yang dinamis. Proses ini bukanlah proses belajar seperti di sekolah theologia, juga bukan proses ”menjadi orang baik” seperti yang diajarkan banyak gereja, yang hanya berdasarkan sedikit ayat menyimpulkan suatu pengajaran tanpa mau berusaha untuk memahami atau menerapkannya. ”Sebab firman Allah hidup dan kuat dan...; ”Ia adalah cahaya kemuliaan Allah...” (Ibr. 4:12; 1:3) ”firman Allah...dan memang sungguh-sungguh demikian sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya” (1 Tes. 2:13). Melalui firman, Allah secara aktif bekerja di dalam pikiran orang-orang percaya yang benar, setiap jam dalam sehari.
Oleh karena itu Injil yang sedang anda pelajari intinya adalah Kuasa Allah yang benar; jadi, jika anda melakukannya maka, Roh Allah akan bekerja dalam kehidupan anda dan merubah anda menjadi anak Allah, yang mencerminkan roh/pikiran Allah dalam beberpa hal di dalam kehidupan ini, dan juga mempersiapkan anda untuk memasuki alam Allah yang akan datang pada saat kedatangan Kristus. (2 Ptr. 1:4) Seperti yang diajarkan Paulus ”dengan keyakinan akan Kekuatan Roh” (1 Kor. 2:4).
Kita dikelilingi oleh orang-orang yang tidak percaya sepenuhnya kepada Alkitab sebagai firman Allah, walaupun mereka mengklaim percaya kepada Kristus. Serupa dengan klaim mereka bahwa mereka menerima Allah tapi tidak dapat menerima Allah sebagai pribadi yang nyata. Dengan menolak segenap tulisan-tulisan kudus yang terilham dan keunggulannya yang mengatasi keyakinan dan perasaan pribadi kita, sama dengan menolak Kuasa Allah. Seperti yang tertulis di 2 Tim. 3:5; ”Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” yaitu kekuatan Injil.
Keyakinan kita diolok-olok oleh dunia (”seperti itukah anda meyakininya?”), begitu juga dengan yang dialami oleh Paulus dan rekan-rekan sekerjanya; ”Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1 Kor. 1:18)
Dengan mempertimbangkan semua ini, dapatkah kita memegang erat Alkitab dengan penghormatan yang besar dan keinginan yang dalam untuk memahaminya dan mematuhinya?
Sikap Umat Allah Terhadap FirmanNya
Dengan daya pengamatan yang tajam sewaktu membaca Alkitab, kita akan mengetahui bahwa penulis Alkitab tidak hanya mengetahui bahwa ia diilhami, tapi ia juga memberitahukan bahwa penulis yang lain juga terilham. Tuan Yesus mahir dalam hal ini, sewaktu ia mengutip Mazmur Daud sebagai permulaan ia mengatakan,”Daud oleh pimpinan Roh...” (Mat. 22:43), hal ini menunjukkan bahwa ia tahu kata-kata Daud terilham. Yesus juga berbicara tentang tulisan-tulisan Musa (Yoh. 5:45-47) yang menunjukkan dia percaya bahwa Musa memang betul-betul menulis Kitab Taurat. Mereka yang disebut ”pengkritik tajam” ajaran kristen mempertentangkan apakah benar Musa yang menuliskan hukum taurat, tapi apa yang mereka pertentangkan telah diklarifikasikan oleh Yesus. Dia menyebut Musa sebagai penulis ”perintah-perintah Allah” (Mrk. 7:8,9). Kelompok yang sama dari para ”penentang yang tidak jujur” mengklaim bahwa kebanyakan kisah di dalam Perjanjian Lama adalah mitos, padahal baik Yesus maupun Paulus tidak pernah mengatakan hal demikian. Sewaktu Yesus berbicara tentang kisah Ratu Syeba sebagai fakta sejarah yang diakui (Mat.12:42) Dia tidak mengatakan,”Dongeng Ratu Syeba...”
Sikap para murid juga sama dengan tuan mereka. Dicontohkan oleh Petrus yang mengatakan bahwa pengalaman pribadinya dalam mendengarkan firman dari Kristus dengan telinganya sendiri membuat dia semakin  ”diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan para nabi” (2 Ptr. 1:19-21). Petrus mempercayai bahwa surat-surat Paulus mempunyai autoritas yang sama dengan Perjanjian Lama.
Ada banyak perumpamaan di dalam Kisah para Rasul, Surat-surat, dan Wahyu yang berkaitan dengan Injil (sebgai contoh, bandingkan Kis. 13:51; Mat. 10:14) yang mengindikasikan bahwa bukan hanya mereka yang diilhami, tapi juga menyatakan bahwa Injil yang dicatat adalah terilham, seperti yang dikatakan oleh para penulis Perjanjian Baru. Di dalam 1 Timotius 5:18 Paulus mengutip ayat-ayat dari Ulangan 25:4 dan Lukas 10:7 sebagai ”tulisan-tulisan kudus.” Paulus berani mengatakan dengan tegas bahwa apa yang dia beritakan berasal dari Kristus, bukan dari dirinya sendiri (Gal.1:11,12; I Kor. 2:13, 11:23, 15:3). Hal ini juga diketahui oleh para murid yang lain; oleh karena itu di dalam Yakobus 4:5 mengutip kata-kata dari Galatia 5:17 sebagai ”tulisan kudus.”
Allah telah berbicara kepada kita melalui Kristus, oleh karena itu sudah tidak diperlukan lagi wahyu yang lain (Ibr. 1:2). Dapat diselidiki bahwa Alkitab juga menyinggung tulisan terilham lainnya yang tidak terdapat di dalam Alkitab (sebagai contoh; the book of Jasher, the writings of Nathan, Elijah, Paul to Corinth, dan John’s third epistle yang mengatakan secara tidak langsung bahwa Yohanes telah menulis suatu surat yang tidak dipelihara, yang ditujukan kepada gereja yang mana Diotrefes menolak untuk mematuhinya). Mengapa tulisan-tulisan ini tidak tersedia bagi kita? Jelas, karena memang tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Oleh karena itu kita dapat yakin bahwa Allah telah menyediakan semua tulisan yang ada sangkut pautnya dengan kita.
Telah diklaim bahwa buku-buku di dalam Perjanjian Baru dapat diterima secara berangsur-angsur sebagai tulisan yang terilham, tapi fakta bahwa para murid mengatakan bahwa setiap tulisan kudus terilham, menyangkal hal tersebut. Suatu roh yang menakjubkan telah diberikan untuk menguji apakah surat-surat dan kata-kata yang diklaim sebagai yang terilham, apa memang benar demikian? (1 Kor. 14:37; 1 Yoh. 4:1; Why. 2:2). Hal ini mengartikan bahwa surat-surat yang terilham memang sudah diterima sebelumnya sebagai catatan yang terilham. Jika ada campur tangan manusia dalam menyeleksi buku-buku yang terdapat dalam Alkitab, maka Alkitab sama sekali tidak memiliki autoritas.
2.3 Karunia oh Kudus
Dalam masa berbeda sewaktu Dia berurusan dengan manusia, Allah telah menggunakan kekuatannya (Roh Kudus) untuk diutus kepada manusia. Dan selalu ada tujuan yang spesifik, sewaktu Roh Kudus diutus. Bukan seperti “cek kosong” yang dapat diisi semaunya untuk mengabulkan apa saja yang diminta oleh manusia. Dan jika tujuannya telah tercapai, maka karunia Roh Kudus akan berakhir. Kita harus ingat bahwa Roh Allah bertindak selaras dengan tujuanNya. Di dalam tujuanNya Dia selalu mengijinkan akan adanya penderitaan di dalam kehidupan manusia dalam jangka pendek dengan tujuan untuk membimbing mereka kepada tujuan jangka panjangNya. (lihat pelajaran 6.1). Jadi, adalah suatu yang diharapkan bahwa Roh KudusNya tidak digunakan untuk mengurangi penderitaan manusia dalam hidup ini, yang adalah bukan suatu hal yang penting. Bantuan memang disediakan, tapi bantuan itu digunakan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu, menyatakan maksud tujuan Allah kepada kita.
Kontras dengan apa yang secara popular dipahami oleh orang-orang Kristen pada saat ini tentang Roh Kudus. Kesan yang diberikan adalah percaya kepada Kristus akan mendatangkan keuntungan secara nyata, misalnya disembuhkan dari sakit, karena Roh Kudus pasti akan menyembuhkannya. Hal inilah yang menyebabkan tejadinya perselisihan yang mengakibatkan perpecahan di banyak negara, contohnya seperti di Uganda, terjadi perpecahan yang disebabkan oleh orang-orang yang mengklaim bahwa mereka memiliki karunia Roh Kudus untuk menyembuhkan, yang berdasarkan sejarah klaim seperti itu telah sering kali terjadi bertepatan dengan masa dimana manusia sangat menginginkan hal itu terjadi. Kejadian seperti ini sangat disangsikan karena, jika seseorang mencari pengalaman yang melebihi apa yang terjadi pada zaman manusia yang bobrok ini, adalah suatu yang mudah untuk mengklaim telah mendapatkan sesuatu yang telah memenuhi syarat.
Banyak “orang Kristen” pada saat ini yang mengklaim bahwa mereka memiliki karunia Roh Kudus. Tetapi ketika ditanya apakah sebenarnya yang menjadi tujuan mereka, jawaban mereka tidak jelas. Selalu ada tujuan yang jelas dan spesifik, jika Allah mengutus RohNya, tujuan yang dapat didefinisikan. Karena itu mereka yang mengaku menerima karunia Roh Kudus, harus mengetahui dengan tepat apa tujuan mereka dalam menggunakan karunia tersebut. Bukan hanya menyebutkan sebagian kecil dari sukses yang mereka capai dalam menggunakan karunia tersebut. Karena karunia tersebut diberikan Allah kepada manusia untuk suatu tujuan spesifik yang berdasarkan kehendakNya, dan yang digunakan hanya sementara waktu. (bandingkan Yesaya 40:13).
-         Dalam permulaan sejarah bangsa Israel, mereka diperintahkan untuk merentangkan tenda (tabernakel), yang didalamnya terdapat altar dan peralatan kudus lainnya dipelihara, instruksi lebih detail diberikan sehubungan dengan cara membuat barang-barang tersebut, yang mana diperlukan dalam beribadah kepada Allah. Untuk membantu menyelesaikannya, Allah membimbing mereka melalui Roh. Mereka “telah dipenuhi dengan Roh keahlian, mereka membuat pakaian Harun…” dst. (Kel. 28:3)
-         Salah satu dari orang-orang ini, Bezaleel, “telah dipenuhi dengan Roh Allah, dengan keahlian, dan pengertian dan pengetahuan dalam segala macam pekerjaan untuk…dikerjakan dari emas,…untuk mengasah batu…dalam segala macam pekerjaan” (Kel. 31:3-5). Di dalam Bilangan 11:14-17 mencatat bahwa sebagian roh/tenaga yang telah diberikan kepada Musa, diberikan juga kepada para tua-tua Israel, dengan tujuan memudahkan mereka dalam mengatasi keluhan-keluhan bangsa Israel, sehingga Musa tidak lagi merasa tertekan. Sebelum kematian Musa, roh yang diberikan kepadanya beralih kepada Yosua, sehingga dia layak untuk memimpin bangsa Israel (Ul. 34:9).
-         Pada saat bangsa Israel memasuki tanah perjanjian hingga mereka dipimpin oleh seorang Raja yang pertama (Saul), mereka dipimpin oleh orang-orang  yang disebut Hakim-hakim. Selama periode ini mereka sering kali ditindas oleh musuh-musuh mereka. Di dalam buku Hakim-hakim dicatat bahwa Roh Allah turun kepada beberapa dari antara Hakim-hakim tersebut, dengan tujuan menyelamatkan bangsa Israel dengan cara yang menakjubkan dari serbuan musuh mereka. Otniel (Hak. 3:10), Gideon (Hak. 6:34), dan Yefta (Hak. 11:29) merupakan contoh tentang hal ini.
-         Hakim yang lain, Samson, diberikan roh dengan tujuan untuk membunuh singa (Hak. 14:5,6), untuk membunuh 30 orang (Hak. 14:19), dan untuk memutuskan tali yang mengikatnya (Hak. 15:14). Karunia “Roh Kudus” seperti itu tidak ditunjukkan Samson terus menerus, tapi selalu ada tujuan yang jelas, setelah itu berakhir.
-         Jika ada suatu firman Allah yang penting untuk disampaikan kepada umatNya, Roh akan menginspirasikan seseorang untuk memberitahukan hal tersebut. Ketika selesai dilaksanakan maka karunia roh tersebut akan berakhir. Dan orang itu kembali ke keadaannya yang semula. Ada banyak contoh tentang hal ini, salah satunya adalah;
“Lalu Roh Allah menguasai Zakharia…dan berkata kepada mereka;”Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah Tuhan,…?” (2 Taw. 24:20)
Untuk contoh lainnya, bisa dilihat di 2 Tawarikh 15:1,2 dan Lukas 4:18,19
Ini menjadi suatu bukti bahwa dalam menerima karunia berupa Roh Kudus, bukan merupakan:
-         Jaminan akan keselamatan
-         Sesuatu yang akan menanggung segala hal dalam kehidupan
-         Mendapatkan sesuatu kekuatan mistik
-         Sesuatu yang menjadikan orang bersukacita
Harus diakui bahwa banyak alasan yang tidak jelas mengenai karunia roh kudus yang ditunjukkan oleh orang-orang yang mengklaim telah menerima “roh kudus”, dan di dalam suatu ruang kebaktian, seorang pendeta membayangkan dengan cara yang memikat bahwa ia “menerima roh kudus” didahului dengan pengakuan “iman kepada Yesus.” Harus ditanyakan dengan jelas, karunia tersebut digunakan untuk apa? Sungguh tidak bisa dipahami, mengapa mereka tidak mengetahui dengan tepat bagaimana karunia yang mereka terima itu digunakan? Samson dikaruniai roh untuk membunuh singa (Hak. 14:5,6); dan pada waktu ia melawan seekor binatang buas, dia tahu betul bagaimana menggunakan roh yang telah diberikan kepadaNya. Tidak ada keragu-raguan pada dirinya. Kejadian nyata ini kontras dengan mereka yang mengklaim telah menerima Roh Kudus. Tapi tidak bisa menunjukkannya melalui tindakan yang spesifik, bahkan mereka tidak tahu karunia seperti apa yang mereka miliki?”
Karena tidak ada alasan lain yang jelas, maka dapat disimpulkan bahwa orang-orang seperti mereka memiliki emosi yang didramatisir sehubungan dengan Kekristenan, dan sebagai akibat dari bentuk pertobatan mereka, yang dijalani menurut pengertian mereka, mereka merasakan sesuatu perasaan yang aneh, yang baru, didalam diri mereka. Untuk membenarkan hal ini mereka mencari dalil dari ayat-ayat Alkitab sehubungan dengan karunia Roh Kudus, dan menyimpulkannya dengan kalimat.”Pasti inilah yang aku alami!” Kemudian pendeta mereka yang ceria menyolek mereka dibawah dagu dan mengatakan,”Orang mati, pujilah Tuhan!” Dan mengutip kisah dari Alkitab sebagai ”bukti” untuk meyakinkan yang lain untuk menerima roh kudus. Kurangnya pengetahuan Alkitab adalah sumber penyebab dari parodi kebohongan ini, dimana orang yang terlibat di dalamnya merasakan suatu ”perubahan” yang dianggapnya benar.
Selagi kita berjuang melawan kelicikan hati kita (Yer. 17:9), kita harus memegang teguh prinsip-prinsip Alkitab. Yang perlu diterapkan selagi kita belajar bagaimana cara Roh Allah bekerja. Kita semua ingin agar kuasa Allah bekerja di dalam kehidupan kita. Tapi, bagaimana dab mengapa Ia melakukannya? Apakah kita benar-benar memiliki karunia roh seperti yang dimiliki orang-orang yang dicatat dalam Alkitab? Jika kita ingin sungguh-sungguh mengenal Allah dan menjalin persahabatan denganNya, kami akan menunjukkan betapa mendesaknya untuk memahami dengan benar pengertian tentang hak-hal ini.
Alasan Karunia Roh Kudus Diberikan Pada Abad Pertama
Untuk mengingat kembali prinsip dasar tentang karunia roh kudus yang telah kita pelajari sebelumnya, sekarang kita akan melihat catatan di Perjanjian Baru mengenai karunia roh yang diberikan kepada gereja yang mula-mula (yaitu komunitas orang-orang percaya yang hidup pada masa setelah Yesus).
Perintah terakhir Kristus kepada murid-muridnya adalah untuk memberitakan Injil sampai keseluruh dunia (Mrk. 16:15,16). Mereka melaksanakannya dengan menjadikan kematian dan kebangkitan Kristus sebagai tema utama dari penginjilan mereka. Tapi ingat, pada waktu itu tidak ada kitab Perjanjian Baru seperti yang kita kenal. Mereka berdiri di tempat-tempat yang ramai dan di sinagoga, membicarakan tentang Yesus orang Nazareth, cerita mereka kedengarannya ajaib; seorang tukang kayu yang sempurna yang berasal dari Israel, yang mati kemudian dibangkitkan dengan tujuan menggenapi nubuat dari Perjanjian Lama. Kemudian menyuruh mereka yang telah mendengarkannya untuk dibaptis dan mengikuti teladan Yesus.
Pada masa itu banyak orang mendirikan kelompok-kelompok pelayanan seperti mereka, yang menggunakan cara lain untuk membenarkan bahwa ajaran Kristen memang berasal dari Allah dan bukan suatu filsafat dari para nelayan yang berasal dari Israel utara.
Pada zaman sekarang, kita dapat membandingkan dari catatan Perjanjian Baru mengenai apa yang Yesus kerjakan dengan hal-hal yang dia ajarkan, untuk membuktikan bahwa apa yang kami sampaikan berasal dari Allah. Tapi pada zaman tersebut, sebelum Alkitab ada, Allah mengijinkan para pemimpin gereja untuk menggunakan kuasa dari Roh KudusNya dengan tujuan untuk mendukung apa yang mereka ajarkan. Inilah alasan spesifik dari menggunakan karunia tersebut di dalam dunia ini. Belum tersedianya kitab Perjanjian Baru menyulitkan kelompok-kelompok dari orang-orang percaya sehubungan dengan pertumbuhan iman mereka. Mereka tidak menemukan solusi yang tepat mengenai masalah-masalah praktis yang mereka hadapi. Hanya ada sedikit petunjuk bagi mereka untuk bertumbuh dalam iman kepada Kristus. Jadi, untuk alasan inilah karunia roh kudus tersedia sebagai petunjuk bagi orang-orang percaya yang mula-mula, melalui pesan-pesan yang terilham, sampai Perjanjian Baru mencatat pesan-pesan ini dan juga mengenai apa yang Yesus ajarkan, untuk kemudian disebarluaskan.
Seperti yang telah terjadi, alasan-alasan berikut menjelaskan bahwa Roh Kudus diberikan berlimpah-limpah;
-         ”Tatkala Ia (Yesus) naik ke tempat tinggi (surga), Ia...memberikan (Roh) pemberian-pemberian kepada manusia...untuk memperlengkapi orang-orang kudus, bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus”, yaitu orang-orang yang percaya (Ef. 4:8,12)
-         Maka Paulus menulis kepada orang-orang yang percaya di Roma, ”Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu (Rm. 1:11)
Tentang penggunaan karunia-karunia roh untuk mendukung pemberitaan Injil, kita membaca;
-         Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh” (I Tes.1:5, bandingkan dengan I Kor. 1:5,6)
-         Paulus dapat mengatakan ”apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa roh” (Rm. 15:18,19)
-         Mengenai pemberitaan Injil, kita membaca, ”Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai pernyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus” (Ibr. 2:4)
-         Keberhasilan pemberitaan Injil di Siprus didukung oleh berbagai mujizat, sehingga ”Melihat apa yang telah terjadiitu, percayalah gubernur itu, ia takjub oleh ajaran Tuhan” (Kis. 13:12)
-         Mujizat-mujizat membuat mereka sungguh menghargai doktrin yang telah diajarkan kepada mereka di Ikonium, juga, ”Tuhan menguatkan berita tentang kasih karuniaNya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat” (Kis. 14:3)
Semua ringkasan ini menceritakan tentang kepatuhan murid-murid dalam melaksanakan perintah penginjilan: ”Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Mrk. 16:20)
Hal-Hal Yang Spesifik Pada Waktu-Waktu Yang Spesifik
Karunia Roh Kudus diberikan dengan tujuan melakukan hal-hal yang spesifik pada waktu-waktu yang spesifik. Hal ini menunjukkan kekeliruan dari klaim bahwa karunia Roh Kudus diberikan untuk selamanya dalam kehidupan seseorang. Para murid termasuk Petrus ”dipenuhi dengan Roh Kudus” pada perayaan Pantekosta setelah kenaikan Yesus (Kis. 2:4). Karena itu, mereka diizinkan untuk berbicara dalam berbagai bahasa asing, dengan tujuan sebagai awal dari pemberitaan Injil Kristen, melalui cara yang spektakular. Ketika kalangan yang berwenang memeriksa mereka, ”Petrus dipenuhi dengan Roh Kudus” yang membuat dia sanggup untuk memberikan jawaban yang meyakinkan kepada mereka (Kis. 4:8). Setelah bebas dari penjara, dengan karunia Roh, mereka diberikan kekuatan untuk menginjil, ”dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu memberitakan firman Allah dengan berani” (Kis. 4:31)
Pembaca yang cermat pasti akan menemukan bahwa  tidak tertulis, ”mereka semua penuh dengan Roh Kudus sebelumnya” untuk melakukan hal-hal itu. Mereka dipenuhi Roh untuk melakukan hal-hal tertentu, dan akan dipenuhi kembali untuk melakukan tugas selanjutnya sehubungan dengan rencana Allah. Demikian juga Paulus, ”dipenuhi dengan Roh Kudus” dengan tujuan untuk menghukum seseorang yang jahat menjadi buta (Kis. 9:17; 13:9).
Berbicara tentang karunia yang menakjubkan, Paulus menulis bahwa orang-orang yang percaya yang mula-mula menunjukkan karunia tersebut ”menurut ukuran pemberian Kristus” (Ef. 4:7). Kata Yunani untuk ”ukuran” berarti ”suatu bagian atau tingkat yang terbatas” (Strong’s Concordance-Kamus Bahasa Yunani). Hanya Yesus yang memiliki karunia tanpa ukuran, yaitu kebebasan untuk menggunakannya sesuai dengan kehendaknya (Yoh. 3:34). Sekarang kita akan mendefinisikan karunia-karunia Roh tersebut sebagaiman yang sering ditunjukkan pada abad pertama.
Karunia-Karunia Roh Di Abad Pertama
Nubuat
Kata Yunani untuk ”Nabi” mempunyai arti seseorang yang terus memberitahukan firman Allah, yaitu orang yang diilhami untuk mengatakan firman Allah, termasuk memberitahukan kejadian pada masa yang akan datang (lihat 2 Petrus 1:19-21). Maka ”Nabi-nabi”, orang-orang yang dikaruniai nubuat datang ”dari Yerusalem menuju Antiokia, seseorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius. Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara” (Kis. 11:27-29).
Ini adalah salah satu contoh nubuat yang spesifik, dan betul-betul digenapi dalam beberapa tahun kemudian, kontras dengan mereka yang dengan pengetahuannya yang sedikit tentang Alkitab, mengklaim bahwa mereka telah mendapatkan karunia nubuat: yang sesungguhnya karunia tersebut diberikan kepada Gereja yang mula-mula, kepada orang-orang diantara mereka, dalam menghadapi penderitaan yang mengorbankan waktu dan kekayaan mereka, sebagaimana telah dinubuatkan sebelumnya. Beberapa contoh dari mereka yang mengklaim telah menerima karunia Roh pada saat ini, dapat kita lihat pada gereja-gereja yang dinamakan Gereja yang ”dipenuhi Roh.”
Penyembuhan
Para murid memberitakan kabar baik (Injil) tentang kedatangan Kerajaan Allah yang akan didirikan di bumi. Untuk membenarkan apa yang mereka beritakan, mereka melakukan mujizat-mujizat sebagai pendahuluan dari apa yang mereka beritakan. Mereka melakukan mujizat-mujizat sebagai pendahuluan tentang apa yang akan terjadi pada masa itu, dimana ”mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan...” (Yes. 35:5,6). Untuk mengetahui lebih jelas tentang keadaan di Kerajaan Allah, lihat pelajaran 5. Pada waktu Kerajaan Allah didirikan di bumi, janji-janji ini tidak akan digenapi dengan setengah-setengah, bahkan tidak ada keragu-raguan, apakah Kerajaan itu jadi didirikan disini atau tidak. Oleh karena itu dengan cara yang menakjubkan Allah mengonfirmasikan mengenai KerajaanNya bahwa, banyak janji itu pasti, dalam bentuk yang nyata, yang tidak dapat disangkal. Untuk alasan ini, banyak sekali penyembuhan yang menakjubkan yang dilakukan oleh orang-orang percaya yang mula-mula di hadapan umum.
Suatu contoh klasik dapat kita temui sewaktu Petrus menyembuhkan seorang pengemis yang lumpuh, yang setiap paginya berbaring di depan pintu gerbang bait. Kisah para Rasul 3:2 menyebutkan bahwa mereka membaringkannya disan setiap hari – suatu pemandangan yang biasa dilihat oleh orang-orang – setelah disembuhkan oleh Petrus dengan menggunakan karunia Roh, ”Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian kemari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat...Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di gerbang indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya. Karena orang itu tetap mengikuti Petrus...seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo (Kis. 3:7-11).
Kemudian dengan segera Petrus menuju ke tempat terbuka dan menceritakan tentang kebangkitan Kristus; karena mereka tidak dibantah sehubungan dengan fakta mengenai penyembuhan yang mereka lakukan kepada pengemis itu, maka kita dapat yakin bahwa mereka menerima kata-kata Petrus berasal dari Allah. Gerbang bait suci ”pada waktu sembahyang” (Kis. 3:1) selalu dilewati banyak orang, seperti di pusat perbelanjaan pada sabtu pagi. Alah memilih tempat seperti ini untuk menegaskan kembali firmanNya melalui suatu mujizat yang nyata. Demikian juga halnya di Kisah para Rasul 5:12, kita membaca ”dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat diantara orang banyak.” Inilah klaim yang digunakan oleh ”Pantekosta” dalam penyembuhan, dan memutarbalikkan hal-hal ini dengan melakukannya di gereja-gereja daripada dilakukan di jalan-jalan dan dihadapan para ”orang-orang percaya”, mereka bersatu di dalam roh untuk mengharapkan suatu ”mujizat” dan tidak mengeraskan hati khalayak ramai dulu sebelumnya, seperti yang dilakukan para murid.
Telah dikatakan bahwa yang menulis ini berpengalaman sekali dalam mendiskusikan hal-hal tersebut bersama orang-orang yang mengklaim mendapatkan roh, dan juga menyaksikan sendiri berbagai klaim yang mendapatkan karunia roh. ”Kesaksian pribadi” saya dalam melihat ”penyembuhan” yang tidak meyakinkan dan sebagian dari penyembuhan yang terbaik, tidak perlu dijelaskan lebih terperinci; seorang anggota yang jujur dari gereja-gereja ini akan mengakui bahwa banyak hal seperti ini masih berlangsung. Dalam banyak kesempatan, saya telah menuliskanhal tersebut di dalam ”maksud baik teman-teman Pantekosta”, demikian salah satu kutipannya, ”Saya bersedia untuk percaya bahwa anda memiliki kuasa yang besar ini. Tapi, Allah selalu menunjukkan dengan jelas siapa yang memiliki kuasaNya dan siapa yang tidak; jadi, bukan tidak beralasan saya ingin anda menunjukkan faktanya – setelah itu mungkin saya akan cenderung untuk menerima doktrin anda, yang pada saat ini tidak bisa saya pahami berdasarkan tulisan kudus.” Setelah itu pertunjukkan roh dan kuasa itu tidak pernah ditunjukkan kepada saya.
Kontras dengan sikap saya, orang-orang Yahudi Ortodoks pada abad pertama menutup mata terhadap kemungkinan bahwa orang-orang Kristen memperoleh karunia Roh yang menakjubkan dari Allah. Walaupun sebelumnya mereka telah mengakuinya, ”orang itu membuat banyak mujizat” (Yoh. 11:47) dan ”bahwa mereka telah mengadakan suatu mujizat yang menyolok dan kita tidak dapat menyangkalnya” (Kis. 4:16). Demikian juga mereka yang telah mendengar sendiri para murid berbicara dalam bahasa mereka sendiri (Kis. 2:6). Peristiwa demikian tidak terjadi pada saat ini, dan bukan seperti ”bahasa roh” (blabbering) Pantekosta. Fakta bahwa orang-orang cenderung semakin mengasihi di dalam Pantekosta modern, menjadi alasan bahwa mereka benar-benar menunjukkan mujizat, tentunya hal ini menjadi poin penting di dalam debat ini. Jika hanya dengan satu mujizat saja dapat menjadi berita utama di seluruh Yerusalem, tidak beralasan  untuk menyarankan bahwa jika terjadi mujizat yang nyata di Trafalgar Square London atau Taman Nyaharuru nairobi kemudian akan dikenal ke seluruh dunia bahwa Allah telah mengaruniakan RohNya yang menakjubkan pada saat ini. Sebaliknya, gerakan Pantekosta mengharapkan agar dunia dapat mencapai beberapa hal sebagai alasan dari iman mereka;
-         Disembuhkan (pada akhirnya) dari bisul/borok di perut; proses penyembuhan yang dianggap benar, dilakukan sebelum berdoa.
-         Anggota tubuh yang cacat disembuhkan.
-         Penglihatan atau pendengaran menjadi lebih jelas, meskipun sering kembali ke keadaan semula.
-         Depresi dihilangkan.
Dari contoh-contoh diatas, harus ditambahkan suatu fakta bahwa ambulans membawa pasien rumah sakit ke TO Osborn Healing Crusades di Nairobi, Kenya. Supirnya menghadapi dilema dimana ia harus memutuskan apakah harus diantar ke tujuan atau kembali ke rumah sakit. Perlu diingat, seperti biasanya penderitaan tidak mendapatkan pengobatan.
Poster-poster dipasang di tempat umum untuk mengundang supaya hadir pada kebaktian dengan tema yang menantang ”Datanglah, nantikan suatu mujizat!” Poster itu dibuat sedemikian rupa untuk mempengaruhi orang secara psikologis. Tidak dicatat dalam Perjanjian Baru mengenai cara demikian dilakukan sebelum mujizat ditunjukkan. Adalah suatu fakta bahwa beberapa dari antara mereka yang disembuhkan pada abad pertama, tidak mempunyai iman, bahkan ada yang tidak mengenal Yesus (Yoh. 5:13, 9:36)
Sesuatu yang mirip dengan pemboman jiwa ditunjukkan melalui penyesatan pikiran dari doa yang diulang-ulang dan irama musik yang mengiringi. Tidak dapat diragukan lagi bahwa cara tersebut dapat mengosongkan pikiran. Penulis buku ini bersedia untuk diundang kembali mengahadiri acara-acara seperti itu di berbagai tempat, yang dalam setiap waktunya mengalami sakit kepala akibat dari perjuangan untuk mempertahankan hal-hal yang rasional, selaras dengan yang tercatat di Alkitab dalam menghadapi cobaan untuk menyerah dari irama drum dan tepukan tangan. Semua itu dijalankan sebagai pembukaan dari mujizat Pantekosta dan cukup untuk membuktikan bahwa penyembuhan itu adalah hasil dari emosi dan keadaan secara pikologis, daripada operasi yang tepat sasaran yang dilakukan oleh Roh Allah. Kontras dengan Petrus yang  menggunakan karuniaa mujizatnya untuk menyembuhkan orang-orang yang berbaring di pinggir jalan (Kis. 5:15); Paulus menggunakan karunianya yang menakjubkan senagai kesaksian pribadi kepada seorang pejabat pemerintah yang tidak percaya (Kis. 13:12,13) dan juga kepada para pemuja berhala yang banyak berada di kota Listra (Kis. 14:8-13). Diperlukan suatu tujuan untuk mengaruniakan Roh, dan hal-hal ini dilakukan dilakukan di tempat-tempat umum. Dengan cara apapun hal ini tidak boleh dianggap remeh melalui berbagai penjelasan untuk mengakui bahwa disini ada kuasa Allah yang telah ditunjukkannya oleh pelayan-pelayanNya.
Yang hasilnya mirip dengan salah satu akibat dari mujizat penyembuhan Kristus; ”yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk. 2:12).
Bahasa Roh
Para murid, yang sebagian dari antara mereka adalah nelayan, menerima perintah besar untuk pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil (Mrk. 16:15,16). Mungkin reaksi mereka yang pertama kali adalah, ”tapi aku tidak dapat berbicara dalam bahasa yang lain!” situasi ini sama dengan, ”Saya tidak begitu baik dalam pelajaran bahasa asing di sekolah”, bahkan merekapun tidak pernah sekolah. (Kis. 4:13). Bahkan bagi para Rasul yang terpelajar (misalnya Paulus), masalah bahasa adalah suatu rintangan yang berat. Setelah dikristenkan mereka membutuhkan kepercayaan satu sama lain demi kemajuan rohani (pada waktu itu belum ada Perjanjian Baru) yang mengartikan bahwa tidak mengerti bahasa satu sama lain adalah masalah yang cukup besar.
Untuk mengatasi masalah ini maka karunia untuk berbicara dalam bahasa asing diberikan supaya mereka mengerti, diperkenankan. Jelas sekali hal ini bertentangan dengan mereka yang memamerkan ”bahasa roh” dan orang-orang Kristen yang dilahirkan kembali, yang menganggap ungkapan kegembiraan mereka yang tidak dimengerti sebagai ”bahasa roh.” Kekacauan ini dapat dijernihkan dengan menunjukkan bahwa definisi Alkitab tentang ”bahasa roh” adalah ”bahasa asing.”
Pada hari Pentakosta Yahudi, setelah Yesus diangkat ke surga, para murid ”dipenuhi dengan Roh Kudus”, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain...berkerumunlah orang banyak (sekali lagi, karunia tersebut ditunjukkan di hadapan umum) dan menghujat, karena mereka mendengar para murid berbicara dalam bahasa mereka. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, bukankah mereka yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri (dari kata Yunani yang sama juga diterjemahkan sebagai ”bahasa-bahasa”) yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: Partia, dan Media,...kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri...Mereka semuanya tercengang-cengang” (Kis. 2:4-12). Tidak mungkin mereka tercengang-cengang dan heran, jika yang mereka dengar itu hanylah ucapan-ucapan kosong seperti yang dilakukan oleh mereka yang mengklaim memiliki karunia tersebut pada saat ini: yang hanya akan mendapatkan sindiran atau tidak diacuhkan sama sekali, daripada membuat orang jadi tercengang-cengang, dan mengerti dengan pasti kata-kata yang mereka ucapkan, seperti yang dijelaskan di Kisah para Rasul 2.
Terpisah dari hubungan yang jelas antara ”bahasa roh” dan ”bahasa-bahasa” di Kis. 2:4-11, di bagian lain dalam Perjanjian Baru, ”bahasa roh” dengan jelas sekali digunakan untuk mengartikan ”bahasa asing”; kata-kata seperti ”bangsa-bangsa, suku-suku, dan bahasa-bahasa”, digunakan lima kali di Wahyu untuk menerangkan semua orang yang berada di planet bumi (Wahyu 7:9, 10:11, 11:9, 13:7, 17:15). Kata Yunani untuk bahasa roh sama dengan yang digunakan di Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (yang disebut Septuaginta), yang mengartikan bahasa asing (lihat Kejadian 10:5, Ulangan 28:49, Daniel 1:4).
Di I Korintus 14 terdapat daftar perintah-perintah sehubungan dengan penggunaan karunia bahasa roh; ayat 21 mengutip Yesaya 28:11, sehubungan bagaimana karunia tersebut digunakan untuk bersaksi melawan orang-orang Yahudi; ”Sungguh, oleh orang-orang yang berlogat ganjil dan oleh orang-orang yang berbahasa asing akan berbicara kepada bangsa ini.” Yesaya 28:11 terutama mengacu kepada penyerang-penyerang Israel yang berbicara kepada orang-orang Yahudi dalam berbagai bahasa yang tidak mereka ketahui. Hubungan antara”bahasa asing” dan ”berbicara” mengindikasikan bahwa bahasa roh mengartikan bahasa-bahasa asing. Di I Korintus 14 ada banyak indikasi tentang bahasa roh yang mengacu kepada bahasa-bahasa asing. Pada pasal ini Paulus diilhamkan untuk mengritik penyalahgunaan karunia berbahasa dan bernubuat. Sekarang kami akan mengomentari dengan singkat hal-hal tersebut, ayat 37 adalah ayat kucinya;
”jika seseorang menganggap dirinya nabi atu orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan padamu adalah perintah Tuhan.”
Jika seseorang mengklaim mendapatkan karunia rohani, dia harus menerima terlebih dahulu perintah-perintah yang diilhamkan Allah tentang bagaimana menggunakan karunia tersebut. Ayat 11-17;
”Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku.
Demikian pula dengan kamu; kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia roh, tetapi lebih daripada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat.
Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.
Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.
Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku; tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.
Sebab jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ”amin” atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?
Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.”
Berbicara dalam suatu bahasa yang tidak dimengerti oleh mereka yang hadir pada waktu kebaktian adalah tiada artinya. Dengan mengenyampingkan bagaimana dapat mengatakan ”amin” dengan benar, mereka berbicara dengan kata-kata kosong dalam sebuah doa membual yang tenang dan yang tidak dapat dimengerti. Ingat, ”Amin” berarti terjadilah demikian, yaitu ”Saya benar-benar menyetujui apa yang diucapkan dalam doa ini.” Berbicara dalam suatu bahasa yang tidak dimengerti oleh saudara-saudara anda, tidak akan membangun mereka, seperti yang dikatakan oleh Paulus.
Ayat 18;
”Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua.”
Karena dia menempuh perjalanan yang cukup panjang dalam memberitakan Injil, maka Paulus membutuhkan karunia untuk berbicara dalam berbagai macam bahasa lebih banyak.
Ayat 19;
”Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”
Ayat 22;
”Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman; tetapi untuk orang yang tidak beriman, sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.”
Oleh karena itu penggunaan bahasa roh sebagian besar digunakan untuk menyebarluaskan Injil. Saat ini, mereka yang paling banyak mengklaim memiliki ”bahasa roh”, hanya menunjukkannya di dalam kelompok mereka sendiri. Ada beberapa contoh yang telah terjadi tentang kekurangan orang-orang yang secara menakjubkan mampu berbicara dalam berbagai bahasa asing dalam menyebarkan Injil. Pada permulaan tahun 1990an pintu kesempatan terbuka untuk menyebarluaskan Injil Kristus di Eropa Timur, Gereja-gereja ”Evanglis” (disebut begitu) harus mendistribusikan literatur mereka hanya ke dalam bahasa inggris karena masalah bahasa! Tentu saja karunia untuk berbahasa harus digunakan jika hal itu dimiliki? Dan suatu massa dalam jumlah besar dari evanglis Reinhardt Seiber dengan luar biasa mengklaim memiliki roh, tapi tetap saja menggunakan penerjemah sewaktu berbicara kepada kumpulan orang banyak di Kampala, Uganda.
Ayat 23;
”Jadi, kalau seluruh jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?”
Persis seperti yang telah terjadi. Orang-orang muslim maupun para penyembah berhala mengolok-olok kelakuan aneh dari mereka yang mengklaim memilik karunia bahasa roh di Afrika Barat. Bahkan para petinggi Kristen tidak habis pikir mengenai kebaktian Pantekosta, yang anggota-anggotanya lebih pantas disebut orang-orang gila.
Ayat 27;
”jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.”
Hanya dua atau tiga orang yang diperlukan untuk berbicara dalam bahasa roh dalam kebaktian. Tidak mungkin ada lebih dari tiga bahasa berbeda yang diucapkan kepada para jemaat. Karena konsentrasi akan buyar jika kalimat dari pembicara harus diterjemahkan lebih dari dua kali. Jika karunia bahasa roh dimiliki pada waktu kebaktian di Central London, yang dihadiri oleh orang-orang Inggris, termasuk yang hadir beberapa turis dari Perancis dan Jerman; maka para pembicaranya akan memulainya dengan mengatakan;
Pendeta; Good evening (Inggris)
Penerjemah 1; Bon soir (Perancis)
Penerjemah 2; Guten abend (Jerman)
Seharusnya mereka berbicara “sesuai urutan”, setelah yang lain selesai bicara. Jika mereka berbicara secara serempak, hasilnya adalah kekacauan, karena emosi fundamentalis yang ditunjukkan sewaktu “berbicara dalam bahasa roh.” Fenomena ini dapat terjadi jika mulut orang-orang berbicara serempak. Saya telah meneliti hal tersebut, pada waktu seseorang mulai berbicara dengan segera penerjemah akan menerjemahkannya.
Karunia bahasa roh sering kali digunakan dalam hal-hal yang berhubungan dengan nubuat, oleh karena itu firman Allah yang terilham disampaikan (melalui karunia nubuat) dalam berbagai bahasa asing oleh utusannya (melalui karunia bahasa roh). Contoh tentang hal ini dapat dilihat di Kisah para Rasul 19:6. Bagaimanapun juga jika suatu kebaktian di London yang dihadiri oleh orang-orang Inggris dan beberapa pengunjung dari Perancis. Pembicara dalam bahasa Perancis “tidak dapat membangun” orang-orang Inggris yang hadir. Oleh karena itu karunia untuk menerjemahkan bahasa harus ada, supaya setiap orang dapat mengerti apa yang telah disampaikan, contohnya kami menerjemahkan bahasa perancis ke dalam bahasa inggris. Demikian juga halnya jika ada seseorang yang dikaruniai berbicara dalam bahasa perancis, tapi tidak mengetahui artinya sama sekali, ketika ditanya oleh seseorang yang berbahasa perancis dia tidak mengerti. Untuk membantu hal ini maka karunia untuk menerjemahkan harus ada.
Tanpa kehadiran seorang yang dikaruniai untunk menerjemahkan disaat dibutuhkan, maka karunia bahasa roh tidak dapat digunakan: “…dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat” (I Kor.14:27,28). Tapi, fakta yang terjadi adalah; mereka yang mengklaim memiliki “bahasa roh” berbicara dalam “bahasa-bahasa” yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain, dan tanpa penerjemah sama sekali. Hal ini tentu saja bertentangan dengan perintah-perintah tersebut.
Ayat 32,33;
“Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”
Oleh karena itu, memiliki karunia-karunia roh kudus tidak berhubungan dengan pengalaman seseorang dimana ia memasuki alam bawah sadar. Rohlah yang mengendalikan si pengguna, bukan pengguna yang memaksa untuk menggunakan Roh sesuai dengan yang ia rencanakan. Klaim yang salah sering kali terjadi bahwa setan atau ”roh-roh jahat” dimiliki oleh mereka ”yang tidak diselamatkan” (lihat pelajaran 6.3) tetapi roh kudus dimiliki oleh mereka yang beriman. Di dalam I Korintus 14:32 Kuasa roh mengacu kepada akhir yang spesifik dari penggunanya. Bukan seperti pertunjukkan kekuatan yang baik melawan kekuatan yang jahat, seperti yang dipikirkan manusia. Disamping itu, kita telah ditunjukkan bahwa kuasa-kuasa Roh Kudus datang kepada para murid pada waktu yang tepat untuk melakukan hal yang spesifik, bukannya datang kepada mereka untuk seterusnya.
Permohonan untuk menerima karunia-karunia dan menggunakannya dalam jalan yang sesuai dengan kasih dan perdamaian Allah dan menghindari kekacauan (ayat 33) sepertinya tidak digubris oleh orang-orang tuli di Gereja-gereja Pantekosta saat ini.
Ayat 34;
”Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.”
Hal ini berbicara dalam konteks penggunaan karunia-karunia roh. Tidak dapat disangkal lagi, wanita tidak boleh menggunakan karunia tersebut selama kebaktian berlangsung. Fenomena dari berbicara dengan ”kata-kata kosong” yang merupakan hasil dari rangsangan emosi yang terjadi pada seseorang kemudian diikuti oeh yang lainnya, telah mengabaikan sama sekali hal ini. Wanita-wanita, anak-anak, semua yang  hadir dalam kebaktian dengan hati yang rela, dapat terpengaruh oleh rangsangan seperti ini, dan akan menjadi suatu ungkapan kegembiraan yang disebut sebagai ”bahasa roh.”
Keunggulan wanita di dalam ”berbahasa roh” dan ”bernubuat” seperti yang terjadi di gereja-gereja modernpada saat ini, tidak bisa dikatakan telah mengahapus perintah dari ayat ini. Yang menggelikan, pendapat menyedihkan bahwa Paulus adalah pembenci wanita dibatalkan melalui beberapa ayat: „jika seseorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan” (I Kor. 14:37) bukan kata-kata Paulus sendiri.
Oleh karena itu setiap orang yang percaya kepada Alkitab terilham, harus menerima perintah-perintah di I Korintus 14 dengan baik. Mencemooh mereka dengan terang-terangan hanya akan mengindikasikan kurangnya kepercayaan terhadap segenap tulisan kudus yang terilham, atau mendeklarasikan sendiri bahwa yang satu itu bukan karunia rohani, orang lain yang kekurangan karunia-karunia akan menolak perintah-perintah di I Korintus 14 sebagai perintah Allah kepada kita. Argumen ini sangat logis dan efektif. Dari hal-hal yang telah dijelaskan, bagaimana anda dapat tetap menjadi anggota gereja seperti itu, atau tetap bersahabat dengan mereka?
Sebagai catatan kaki pada bagian ini, Sekte-sekte yang mengklaim dapat berbicara dengan bahasa roh harus dibuktikan secara ilmiah untuk mengetahui perbandingan anatra depresi tingkat tinggi mereka dengan orang-orang lain dari latar belakang yang berbeda. Keith Meador, profesor dari jurusan Ilmu penyakit jiwa, Universitas Vanderbilt, USA, menganalisa hubungan antara depresi dengan latar belakang agama. Dia menemukan bahwa ”tingkat rata-rata dari depresi yang serius...dialami orang-orang Kristen Pantekosta adalah 5,4% banyaknya dibandingkan dengan kelompok-kelompok lain yang besarnya 1,7%.” Hasil dari penelitiannya terdapat dalam jurnal ”Hospital and Community Psychiatry” Desember, 1992.
Sebuah artikel menarik yang juga menyinggung hal yang sama, terdapat di International Herald Tribune, Februaru, 1993, dengan judul ”Pentecostals top charts when it comes to the blues”, mengapa hal ini yang dibahas? Tentu saja karena berhubungan dengan fakta bahwa ”pengalaman” rohani yang diklaim oleh Pantekosta (dan yang lainnya), tidak lebih dari tipuan psikologis kontroversial yang menyakitkan.
2.4 Karunia-karunia Roh Akan Berakhir
Karunia-karunia Roh Allah yang menakjubkan akan digunakan lagi orang-orang yang percaya dengan tujuan untuk merubah dunia yang sekarang menjadi Kerajaan Allah, setelah kedatangan Kristus. Oleh karena itu, karunia-karunia tersebut dinamakan “karunia-karunia dunia zaman yang akan datang” (Ibr. 6:4,5); dan Yoel 2:26-29 menjelaskan tentang pencurahan Roh besar-besaran setelah Israel bertobat. Ini adalah fakta yang jelas bahwa karunia-karunia tersebut akan diberikan kepada orang-orang yang percaya pada waktu kedatangan Kristus, dan cukup untuk membuktikan bahwa karunia-karunia tersebut tidak diberikan saat ini. Orang-orang Kristen harus memperhatikan hal ini dengan terus menyelidiki tulisan kudus dan memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi, karena kedatangan Yesus sudah dekat. (lihat lampiran 3).
Nubuat Alkitab dengan jelas memberitahukan bahwa antara abad pertama sampai kepada kedatangan Kristus yang kedua, karunia-karunia roh akan diberikan kemudian diakhiri; “…nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.” (I Kor. 13:8-10). Karunia-karunia hanya bersifat sementara.
Kepemilikan karunia-karunia roh pada abad pertama akan diakhiri “jika yang sempurna tiba.” Hal ini terjadi bukan pada waktu kedatangan Kristus yang kedua, karena pada waktu itu kaurnia-karunia roh akan diberikan lagi. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “sempurna”, yang artinya cukup jelas; “yang lengkap atau komplit”; bukan diartikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan dosa.
Hal yang lengkap ini akan menggantikan pengetahuan yang hanya sebagian, yang dimiliki oleh orang-orang Kristen yang mula-mula sebagai hasil dari karunia nubuat. Ingat, nubuat adalah karunia yang diberikan untuk memberitahukan firman Allah terus menerus; kumpulan dari catatan itulah yang membentuk Alkitab.
Pada abad pertama, seperti yang kita ketahui, rata-rata orang-orang yang percaya hanya mengetahui sedikit dari Perjanjian Baru. Mereka mungkin hanya mendengar beberapa dari firman nubuat melalui penatua-penatua di gereja mereka tentang berbagai pokok persoalan yang praktis, mereka mungkin mengetahui garis besar dari kehidupan Yesus dan mengenal dengan baik satu atau dua dari surat-surat yang telah dituis oleh Paulus. Pada waktu catatan-catatan dari firman nubuat itu sudah lengkap dan diedarkan, maka karunia nubuat tidak diperlukan lagi. Catatan yang lengkap itulah yang menggantikan pelayanan dari karunia-karunia rohani, yang disebut Perjanjian Baru.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (II Tim. 3:16-17).
Yang membuat kita sempurna atau lengkap adalah “segala tulisan” jadi, ketika “segala tulisan” yang diilhamkan dicatat, “yang sempurna” telah tiba, dan karunia-karunia yang menakjubkan akan berakhir.
Efesus 4:8-14 merupakan kunci penyelesaian dari potongan-potongan ayat ini;
“Tatkala Ia (Yesus) naik ke tempat tinggi (surga), Ia…memberikan (roh) pemberian-pemberian kepada manusia…bagi pembangunan tubuh Kristus; sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman (yaitu iman yang benar) dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh…sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran…”
Karunia-karunia pada abad pertama diberikan hingga kesempurnaan atau kedewasaan penuh dicapai, dan II Timotius 3:16,17 mengatakan “manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” dengan menerima petunjuk dari “segala tulisan.” Kolose 1:28 juga mengajarkan bahwa “kesempurnaan” datang sebagai respon dari firman Allah. Ketika segala tulisan telah dimiliki maka tidak ada alasan lagi menjadi bingung karena doktrin-doktrin yang diajarkan oleh berbagai gereja. Hanya ada satu Alkitab dan “firmanNya adalah kebenaran” (Yoh. 17:17), dengan mempelajari halaman-halaman dari Alkitab, kita akan mencapai “kesatuan iman”, yaitu iman yang dijelaskan di Efesus 4:13. Oleh karena itu, orang-orang kristen yang benar harus berusaha untuk memiliki iman tersebut, dan dalam beberapa hal mereka diperlengkapi (sempurna), yaitu seperti yang telah dicatat “kesempurnaan yang akan tiba”, yaitu firman Allah yang lengkap.
Dalam pada itu, perhatikan bagaimana Efesus 4:14 menyamakan pelayanan yang menggunakan karunia-karunia yang menakjubkan dengan masa kanak-kanak secara rohani, dan dalam konteks nubuat, karunia-karunia menakjubkan tersebut akan diakhiri. I Korintus 13:11 mengatakan hal yang sama. Karena itu mempermasalahkan kepemilikan karunia-karunia roh bukanlah tanda ketidakdewasaan secara rohani. Untuk mengerti firman-firman ini, setiap pembaca haruslah memberikan penghargaan yang dalam kepada firman Allah yang tercatat, maka sempurnalah sukacita kita karena wahyu yang utama dari Allah tentang pernyataan diriNya kepada kita sudah lengkap, sebagai penghargaan akan hal itu kita harus mematuhinya.
Klaim Atas Kepemilikan Roh Pada Saat Ini
Akhirnya, inilah beberapa poin yang dibuat berdasarkan klaim yang berulang kali terjadi oleh mereka yang mengira bahwa mereka sekarang memiliki karunia roh;
-         Sewaktu ”berbicara dalam bahasa roh”, kata-kata yang sama disebutkan berulang kali, misalnya ”lala, lala, lala, shama, shama. Yesus, Yesus...” Kalimat seperti ini tidak terdapat dalam berbagai bahasa yang ada; ketika seseorang mendengar orang lain berbicara dalam bahasa asing, biasanyadapat dikenali dari apa yang mereka bicarakan berdasarkan kata-kata yang mereka gunakan, walaupun kita tidak mengerti arti dari kata-kata itu. Bahkan dalam bahasa modern pun tidak ditemukan kata-kata seperti itu. Garis bawahi fakta ini bahwa hal tersebut tidak membangun sama sekali, sehubungan dengan tujuan karunia-karunia pada abad pertama.
-         Beberapa gereja Pantekosta mengklaim bahwa berbicara dalam bahasa roh merupakan tanda ”diselamatkan” dan tanda yang menyertai agama yang benar. Klaim seperti ini sangat sulit untuk dipahami berdasarkan pengertian dari gereja yang mula-mula sebagai satu tubuh, dimana mereka memiliki karunia yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Tidak setiap orang merupakan tangan atau kaki, demikian juga setiap orang tidak memiliki karunia yang sama, yaitu bahasa roh. I Kor. 12:17, 27-30, menjelaskan tentang hal ini;
”Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, dimanakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, dimanakah penciuman?... Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedu sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?”
Hal yang sama telah dijelaskan pada awal bab ini;
”Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segal anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” (I Kor. 12:8-12).
Hal ini tidak dapat diacuhkan begitu saja.
Masalah yang lain sehubungan dengan argumen Pantekosta adalah bahwa Filipus mengkristenkan banyak orang di Samaria, yaitu mereka yang dibaptis dengan air setelah mengerti tentang Injil, tapi mereka tidak menerima karunia-karunia roh; karena hal ini Petrus dan Yohanes datang kepada mereka: ”Setibanya disitu kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus...Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya...” (Kis. 8:4-18). Mungkin sekali terjadi bahwa karunia-karunia roh diberikan hanya dengan menumpangkan tangan, dimana hal seperti ini tidak sering dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim hal tersebut pada saat ini.
Beberapa gereja Pantekosta yang lain mengatakan kalau berbicara dalam bahasa roh bukanlah suatu bukti akan diselamatkan. Hal ini menjadi fakta bahwa ada banyak perbedaan mengenai doktrin dasar diantara mereka yang mengklaim memiliki karuni-karunia rohani. Demikian juga halnya dengan kristen ”karismatik” yang percaya bahwa Kerajaan Allah akan didirikan di bumi , tapi beberapa dari antara mereka mengatakan Kerajaan Allah akan didirikan di surga. Katolik ”karismatik” mengklaim bahwa Roh Kudus mengatakan kepada mereka untuk memuja Maria dan Paus, tapi Pantekosta ”karismatik” mengatakan bahwa Roh Kudus yang mereka miliki memerintahkan untuk mencela Paus sebagai anti-kristus, dan untuk mengutuk doktrin dari Katolik. Padahal Yesus pernah menyatakan dengan pasti bahwa mereka yang memiliki Penghibur, yaitu ”Roh Kudus”, akan dibimbing ” ke dalam seluruh kebenaran...dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepadaku...Tetapi Penghibur...akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah kukatakan kepadamu” (Yoh. 16:13,23; 14:26).
Seharusnya diantara mereka yang memiliki Penghibur tidak ada perselisihan mengenai doktrin dasar. Tapi fakta yang terjadi mengindikasikan bahwa mereka tidak benar-benar menerima karunia tersebut. Ketidaksanggupan mereka dalam memberikan alasan berdasarkan Alkitab mengenai apa yang mereka yakini menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak dibimbing oleh Penghibur kedalam selruh kebenaran dan pengetahuan.
-         Hal terpenting yang mereka lampirkan untuk mendukung berkata-kata dalam bahasa roh, sama sekali tidak selaras dengan catatan Alktab. Daftar karunia-karunia roh di Efesus 4:11 bahkan tidak menyebutkan tentang hal itu. Hal tersebut hanya terdapat di bagian akhir dari daftar yang serupa yang terdapat di I Korintus 12:28-30. Sebenarnya, hanya terdapat tiga peristiwa yang dicatat dalam Perjanjian Baru tentang bagaimana karunia tersebut digunakan (Kis. 2:4; 10:46; 19:6).
Karismatik modern mengklaim dapat berbahasa roh dan melakukan berbagai mujizat. Orang-orang Kristen harus mempertimbangkan kembali mengenai informasi penting yang kami hadirkan dalam pelajaran ini tentang Roh Allah. Hal penting yang dapat disimpulkan adalah apapun yang diklaim oleh orang-orang seperti mereka, hal itu bukanlah bukti bahwa mereka memiliki karunia-karunia rohani. Siapapun yang menyatakan bahwa mereka memiliki karunia-karunia rohani, mempunyai pekerjaan rumah untuk menjawab argumen-argumen Alkitab yang telah kami sampaikan.
Bagaimanapun juga, adalah beralasan untuk mengharapkan jawaban bagaimana penyembuhan dan ”bahasa roh” (dalam pengertian ”kata-kata kosong”) dapat terjadi.
Berdasarkan suatu penelitian, diketahui bahwa manusia hanya menggunakan sedikit sekali dari kemampuan berpikirnya, yaitu hanya 1%. Juga diketahui bahwa pikiran dapat mengendalikan tubuh; yang dapat meyakinkan tubuh bahwa api tidak dapat membakarnya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Hindu dengan berjalan diatas api tanpa terbakar. Sewaktu melakukan rangsangan terhadap otak, mungkin saja kita dapat menggunakan kemampuan otak kita dengan prosentasi yang lebih besar dari yang biasanya kita gunakan. Dan akibatnya, tubuh kita akan menunjukkan kekuatan yang tidak sewajarnya. Demikian juga dalam suatu pertempuran, seorang prajurit mungkin tidak menyadari kalau tangannya telah hilang sampai beberapa jam setelah hal itu terjadi.
Di dalam suatu situasi dimana keyakinan keagamaan begitu kuat, dengan diiringi musik tertentu, dan dibawah pimpinan seorang pemimpin yang karismatik, mungkin saja terjadi hal-hal diluar batas yang normal, seperti yang dirasakan oleh para penyembah voodoo sewaktu mengucapkan ”kata-kata kosong”, dan juga kesaksian orang-orang Muslim bahwa mereka mendapatkan mujizat. Hal-hal seperti ini mirip dengan yang diklaim oleh orang-orang kristen modern. Padahal inti dari pemberian karunia-karunia rohani pada abad pertama adalah untuk menunjukkan dengan jelas supremasi dari kekristenan yang benar diatas semua agama-agama yang lain. Fakta yang ditunjukkan tentang ”mujizat” okeh kekristenan pada saat ini mirip dengan yang ditunjukkan oleh agama-agama lain, yang menunjukkan bahwa karunia Roh Kudus tidak diberikan pada saat ini.
Beberapa informasi yang cukup penting tentang hal ini terdapat pada buku karangan William Campbell, yaitu ”Pentecostalism” (The Churches of Christ, 1967). Dia menunjukkan kesamaan agama-agama penyembahan berhala dalam hal ”bahasa roh.” Demikian juga di Kawaii, imam dari dewa Oro berbicara dengan suara-suara yang tidak jelas, yang diterjemahkan oleh imam-imam yang lain. Persis dengan yang terjadi dalam kebaktian Pantekosta.
Kejayaan Islam atas Kristen tidak akan terus berlangsung seperti yang terjadi di sebagian besar Afrika, jika kekristenan yang populer pada saat ini menunjukkan mujizat yang benar dengan kuasa yang sama seperti pada waktu abad pertama. Dan mereka yang benar-benar memiliki ”Penghibur” yang merupakan karunia-karunia Roh Kudus akan melakukan ”pekerjaan-pekerjaan besar” lebih dari yang dilakukan oleh Yesus (Yoh. 14:12,16). Alasan bahwa orang-orang kristen dapat melakukan berbagai mujizat jika mempunyai iman yang teguh, menemui masalah besar sekarang, meskipun mereka memiliki karunia-karunia yang menakjubkan dari Penghibur, atau tidak. Dan jika mereka mengklaim juga melakukan ”pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” (Yoh. 14:12) mungkin anda tidak melakukannya.
2.5 Alkitab Adalah Sumber Satu-satunya
Dari apa yang telah kita pelajari sejauh ini, bahwa Roh Allah mengacu kepada pikiran dan tujuanNya, dan juga kepada kuasa yang dia gunakan untuk melaksanakannya. Kami telah menegaskan bahwa roh tersebut dinyatakan dengan jelas di dalam halaman-halaman Firman Allah. Berbagai masalah yang dihadapi kekristenan pada jaman sekarang adalah betul-betul tidak mengetahui tentang hal ini. Karena sangat sulit untuk mempercayai kuasa besar seperti itu masih tetap berada di dalam sebuah buku, yang di dalam bagian-bagiannya sangat sulit untuk dipahami. Yang menarik untuk diketahui adalah bahwa ada yang mengklaim wahyu Allah kepada manusia juga diberikan dalam bentuk yang lain selain melalui Alkitab. Karena kelicikan hati kita (Yer. 17:9) membuat kebenaran Firman Tuhan (Yoh. 17:17) sangat sulit untuk dicerna, banyak yang telah menyerah terhadap tantangan ini, dengan mengklaim bahwa wahyu juga diberikan dalam bentuk lain yang lebih menarik sesuai selera. Berikut ini ada beberapa contoh mengenai hal tersebut;
Agama
Bentuk lain dari Wahyu yang diklaim
Manfaat/daya tarik yang diperoleh
Saksi-saksi Yehuwa
Publikasi “Menara Pengawal” yang diterbitkan, dianggap terilham.
Tidak perlu berusaha mencari tahu pemahaman yang benar tentang Alkitab; jawaban untuk semua hal sudah ada.
Roma Katolik
Keputusan Paus dan opini-opini dari para Uskup, diklaim sebagai cerminan dari pikiran Allah.
Tidak perlu membaca Alkitab secara pribadi, pada masa lalu Katolik pernah menghujat bahkan melarang hal ini. Mengandalkan beberpa orang daripada berusaha sendiri untuk menyelidikinya.
Mormon (Gereja Yesus Kristus dari orang-orang suci jaman akhir)
Buku Mormon.
Menyingkirkan semu doktrin Alkitab yang sulit diterima. Buku Mormon menawarkan keselamatan universal. Padahal Alkitab mengatakan bahwa ada orang-orang yang hidup dan mati tanpa pengharapan karena tidak memiliki pengetahuan tentang Injil.
Kristen Karismatik
Suatu ”cahaya terang” yang diklaim sebagai Roh Kudus.
Mereka percaya apapun yang mereka rasakan dan pikirkan adalah benar karena dibimbing oleh Roh Kudus melalui cara-cara yang sama sekali tidak berhubungan dengan Alkitab.
Semua ini adalah hal-hal yang pokok dalam menerima Alkitab sebagai firman Allah, dan menyelidiki halaman-halamannya untuk mendapatkan pemahaman yang benar. Pertanyaannya adalah, ”Hanya ada satu Alkitab, tapi mengapa ada banyak gereja?” Secara garis besar dapat dijawab dengan memperhatikan bagaimana setiap gereja pada tingkat tertentu mengklaim ada bentuk yang lain dari wahyu Roh Allah, yaitu kehendakNya, doktrin dan pendapat, sebagai tambahan pada Alkitab.
Jika anda ingin menemukan gereja yang benar, iman yang benar, dan baptisan yang benar (Ef. 4:4-6), panggilan tersebut harus dinyatakan dengan keras dan jelas kepada anda, ”Pelajari kembali Alkitab!”
3.1 Janji-janji Allah: Pendahuluan
Tujuan dari pelajaran kita kali ini adalah untuk mencapai pengertian yang luas tentang siapakah Allah? Dan bagaimana Ia bekerja? Sehingga kita dapat mengoreksi sejumlah pengertian yang salah tentang hal-hal tersebut. Sekarang kita akan melihat lebih jelas lagi tentang hal-hal yang “dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (Yak. 1:12; 2:5) yaitu dengan melaksanakan perintah-perintahNya (Yoh. 14:15).
Janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama terdiri dari apa yang diharapkan oleh orang-orang Kristen sejati. Ketika Paulus diadili dia berkata tentang upah di masa depan, yang oleh karenanya dia rela mengorbankan segala hal: “Dan sekarang aku harus menghadap pengadilan oleh sebab aku mengharapkan kegenapan janji, yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita…Dan karena pengharapan itulah…aku dituduh” (Kis.26:6,7). Dia menghabiskan waktu dalam hidupnya untuk memberitakan “kabar kesukaan (injil), yaitu janji yang diberikan kepada nenek moyang Israel, yang telah digenapi Allah…dengan membangkitkan Yesus” (Kis. 13:32,33). Paulus menjelaskan bahwa keyakinan terhadap janji-janji tersebut akan memberikan harapan untuk dibangkitkan dari kematian (Kis. 26:6-8 bandingkan 23:8), yaitu pengetahuan tentang kedatangan Yesus yang kedua kali sebagai Hakim Agung dan kedatangan Kerajaan Allah (Kis. 24:25; 28:20,31).
Semua hal ini membenamkan mitos yang menganggap Perjanjian Lama hanyalah sebuah sejarah Israel yang bertele-tele yang sama sekali tidak pernah berbicara tentang kehidupan abadi. 2000 tahun yang lalu, Allah tidak tiba-tiba membuat keputusan untuk menawarkan kehidupan abadi kepada kita melalui Yesus. Dia sudah merencanakan hal ini sejak permulaan:
“Dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, dan yang pada waktu dikehendakiNya telah menyatakan firmanNya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, juru selamat kita (Titus 1:2,3).
“hidup yang kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami” (I Yoh. 1:2).
Dengan memperhatikan bahwa janji Allah untuk memberikan kehidupan abadi kepada umatNya sudah sejak permulaan, maka hal ini tidak mengartikan bahwa Dia tetap diam tentang hal itu selama 4000 tahun Dia berurusan dengan manusia, seperti yang tercatat di Perjanjian Lama. Buktinya, di dalam Perjanjian Lama penuh dengan nubuat-nubuat dan janji-janji yang memberikan penjelasan terperinci tentang harapan tersebut, yang telah disiapkan Allah untuk umatNya. Oleh karena inilah maka pengertian tentang janji-janji Allah kepada nenek moyang orang-orang Yahudi sangat penting sehubungan dengan keselamatan kita. Karena itu Paulus mengingatkan orang-orang yang percaya di Efesus, bahwa sebelum mereka mengetahui tentang hal-hal ini, “bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Ef. 2:12). Meskipun mereka yakin bahwadari penyembahan berhala yang mereka lakukan sebelumnya, telah memberikan mereka suatu harapan dan pengetahuan tentang Allah. Tetapi dengan tidak mengetahui tentang janji-janji Allah di Perjanjian Lama adalah suatu masalah besar, seperti “tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Ingatlah bagaimana Paulus menjelaskan tentang harapan orang-orang Kristen sebagaimana dia “mengharapkan kegenapan dari janji-janji yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita (orang-orang Yahudi)” (Kis. 26:2).
Sangat menyedihkan, hanya ada beberapa Gereja yang meletakkan dasarnya pada Perjanjian lama. “Kristen” diangggap agama yang muncul hanya dari Perjanjian Baru, walaupun mereka menggunakan Perjanjian Lama sebagai referensi. Padahal dengan jelas sekali Yesus meletakkan dasar-dasar pengajarannya dari Perjanjian Lama:
“Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa (yaitu 5 Kitab Taurat yang dia tulis) dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (luk. 16:31).
Memang benar, dengan percaya pada kebangkitan Yesus, hal itu sudah cukup (bandingkan Luk. 16:30), tapi Yesus mengatakan, bahwa tanpa pengertian yang dalam tentang Perjanjian Lama, hal tersebut tidak akan mungkin terjadi.
Jatuhnya iman para murid setelah penyaliban dikatakan oleh Yesus sebagai kekurangan mereka dalam memperhatikan dengan baik Perjanjian Lama;
“Lalu ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaannya? Lalu ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang dia di dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab-kitab nabi.” (Luk. 24:25-27).
Catat, bagaimana dia menekankan bahwa seluruh Perjanjian Lama berbicara tentang dia. Bukan karena para murid tidak pernah membaca atau mendengar firman-firman dari Perjanjian lama, tapi karena mereka tidak dapat memahaminya. Oleh karena itu mereka tidak percaya dengan sungguh-sungguh. Jadi, penting sekali untuk memahami firman Allah daripada hanya sekedar membacanya, untuk membangun iman yang teguh. Orang-orang Yahudi sangat fanatik sekali dalam membaca Perjanjian lama (Kis. 15:21), tetapi mereka tidak dapat memahami referensi-referensi yang menunjuk kepada Yesus dan Injilnya, sehingga mereka tidak sungguh-sungguh mempercayainya. Karena itu yesus mengatakan kepada mereka;
”sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaku, sebab ia telah menulis tentang aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang kukatakan?” (Yoh. 5:46,47).
Walaupun mereka membaca Alkitab, tetapi mereka tidak memperhatikan inti dari firman-firman tersebut yang berbicara tentang Yesus, sekalipun mereka percaya tentang keselamatan. Yesus berkata kepada mereka:
”Kamu menyelidiki Kitab Suci (harus dengan cara yang benar-Kis. 17:11), sebab kamu menyangka (dengan begitu yakin) bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal,...walaupun kitab-kitab suci itu memberikan kesaksian tentang aku” (Yoh. 5:39).
Begitu juga yang telah terjadi pada banyak orang, yang secara garis besar mengetahui tentang peristiwa-peristiwa dan ajaran-ajaran di Perjanjian Lama, tapi mereka hal tersebut hanya sekedar pengetahuan umum untuk diketahui. Karena itu Kabar Baik tentang Kristus dan Injil Kerajaan Allah tetap menjauh dari mereka. Alasan inilah yang membuat pelajaran ini bertujuan untuk membuat anda tidak berada dalam posisi seperti itu, dengan menunjukkan arti yang sebenarnya dari berbagai janji yang terdapat di dalam Perjanjian Lama;
Di Taman Eden
Kepada Nuh
Kepada Abraham
Kepada Daud
Informasi mengenai hal-hal ini dapat ditemukan di lima kitab pertama Alkitab (Kejadian-Ulangan) yang ditulis oleh Musa dan pada kitab nabi-nabi Perjanjian lama. Semua dasar-dasar dari Injil Kristus terdapat disini. Paulus menjelaskan bahwa Injil yang dia beritakan adalah ”tidak lain daripada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, yaitu Mesias harus menderita sengsara dan bahwa ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain” (Kis. 26:22,23). Dan pada hari-hari terakhirnya, Paulus juga memberikan kesaksian yang sama: ”Ia (Paulus) menerangkan dan memberi kesaksian kepada mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore.” (Kis. 28:23).
Paulus mengharapkan bahwa tingkat tertinggi dalam kehidupan orang-orang Kristen haruslah menjadi motivasi bagi kita; sebagaimana hal tersebut menjadi cahaya kemuliaan yang merupakan akhir dari perjalanannya. Maka hal tersebut haruslah menjadi tujuan bagi orang-orang Kristen yang serius. Dengan dibakar oleh semangat untuk mencapai hal ini, marilah kita ”Menyelidiki Kitab Suci.”
3.2 Janji di Taman Eden
Kisah yang menyedihkan tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa, terdapat di Kejadian pasal 3. Ular tersebut dikutuk karena telah menyalahartikan Firman Allah dan menggoda Hawa untuk mempercayainya. Pria dan wanita tersebut dihukum karena ketidaktaatan mereka. Kemudian dari kegelapan ini muncullah sinar harapan, sewaktu Allah berkata kepada ular itu;
“Aku akan mengadakan permusuhan (kebencian, pertentangan) antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya, keturunannya (keturunan perempuan itu) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:15).
Ayat ini sangat mengedepankan agar kita perlu berhati-hati dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut. “Keturunan” mengartikan benih atau anak, tapi dapat juga menunjuk kepada suatu kelompok yang ada hubungannya dengan “keturunan” tersebut. Nanti kita akan melihat bahwa “keturunan” Abraham adalah Yesus (Gal.3:16), jika kita berada “di dalam” Yesus, melalui pembaptisan yang akan membuat kita diperhitungkan sebagai keturunan tersebut (Gal. 3:27-29). Kata “keturunan” juga dapat menunjuk kepada proses kelahiran (I Ptr. 1:23). Oleh karena itu suatu keturunan pastilah memiliki karakteristik dari ayahnya.
Karena itu keturunan dari ular tersebut menunjuk kepada keluarga yang serupa dengan ular itu;
Mengubah Firman Allah
Berdusta
Menuntun orang-orang ke dalam dosa
Pada pelajaran 6 kita akan melihat bahwa tidak ada suatu pribadi yang menyebabkan hal-hal ini terjadi, tetapi hal-hal tersebut memang ada di dalam diri kita;
“Manusia lama kita” (Rm. 6:6)
“Manusia duniawi” (I Kor. 2:14)
“Manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan” (Ef. 4:22)
“Manusia lama serta kelakuannya” (Kol. 3:9)
”Manusia” berdosa ini, yang ada di dalam diri kita, adalah ”setan” menurut pengertian Alkitab, yang adalah keturunan dari ular tersebut.
Keturunan dari perempuan itu secara spesifik ditujukan kepada seseorang ”engkau (keturunan ular itu) akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:15). Orang ini akan membinasakan keturunan itu untuk selamanya, yaitu dosa. ”Keturunannya akan meremukkan kepalamu.” Memukul ular pada bagian kepala dapat membuatnya mati, karena otaknya terdapat di kepala. Orang yang pantas disebut sebagai keturunan perempuan itu adalah Yesus;
Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (II Tim. 1:10)
”Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa”, (Rm. 8:13), yaitu setan menurut pengertian Alkitab, keturunan dari ular itu.
Yesus, ”telah menyatakan dirinya, supaya ia menghapus segala dosa” (I Yoh. 3:5)
”Dan engkau akan menamakan dia Yesus (yang berarti ”juru selamat”), karena dialah yang akan menyelamatkan umatnya dari dosa mereka” (Mat. 1:21)
Yesus secara daging ”lahir dari seorang perempuan” (Gal. 4:4) yaitu anak dari Maria, meskipun dalam arti secara rohani Allah adalah Bapanya. Dalam pengertian inilah dia disebut sebagai keturunan dari perempuan itu, karena hanya dialah yang ditunjuk oleh Allah. Keturunan perempuan itu hanya sementara saja terluka oleh karena dosa, yaitu keturunan ular itu. ”Engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3:15). Dalam keadaan yang sebenarnya, gigitan ular pada tumit biasanya hanyalah luka yang sementara dibandingkan dengan memukul ular pada bagian kepalanya. Di dalam Alkitab banyak terdapat kata-kata seperti ”luka yang mematikan pada bagian kepala” (yang artinya, betul-betul menghentikan atau mengakhiri sesuatu) yang kemungkinan didasari dari nubuat tentang Yesus melukai ular itu pada bagian kepalanya.
Penghukuman atas dosa, yaitu keturunan ular itu, dilakukan melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Catat, kutipan ayat-ayat diatas yang berbicara tentang kemenangan Yesus atas dosa, ditulis dalam bentuk lampau (dalam terjemahan bahasa Inggrisnya). Oleh karena itu luka sementara di tumit yang diderita oleh Yesus menunjuk pada kematiannya selama tiga hari. Kebangkitannya membuktikan bahwa ini hanyalah luka sementara, dibandingkan dengan pukulan mematikan yang dia berikan kepada dosa. Yang menarik adalah, berdasarkan catatan sejarah Non-Alkitab, diketahui bahwa orang-orang yang disalib dipaku pada bagian tumitnya. Karena itu yesus ”diremukkan” pada bagian tumitnya sewaktu disalib. Yesaya 53:4,5 menjelaskan tentang Yesus yang ”diremukkan” oleh Allah dalam penderitaannya di kayu salib. Hal ini dengan jelas menyinggung nubuat di Kejadian 3:15, bahwa Yesus akan diremukkan oleh keturunan ular itu. Bagaimanapun juga, pada akhirnya Allah sendiri yang melakukannya melalui kuasa kegelapan yang dihadapi oleh Yesus, dialah yang meremukkan Yesus (Yes. 53:10) dengan mengendalikan kuasa kegelapan untuk meremukkan anakNya sendiri. Demikian juga yang Allah lakukan sehubungan dengan penderitaan-penderitaan yang dialami umatNya.
Konflik yang terjadi pada saat ini
Mungkin anda bertanya: ”Jika Yesus telah membinasakan dosa dan kematian (keturunan ular itu), mengapa hal-hal tersebut masih berlangsung hingga saat ini?” Jawabannya adalah, karena pada waktu Yesus disalib, ia menghancurkan kuasa dosa yang terdapat pada dirinya; nubuat di Kejadian 3:15 khususnya menjelaskan konflik antara Yesus dan dosa. Karena itu dia mengundang kita untuk turut ambil bagian dalam kemenangannya, sehingga kita pada akhirnya juga dapat menaklukkan dosa dan kematian. Mereka yang tidak diundang untuk turut ambil bagian dalam kemenangannya, atau menolak tawaran tersebut, tetap berada di dalam dosa dan kematian. Walaupun dosa dan kematian juga dialami oleh orang-orang yang percaya sebagai keturunan dari perempuan itu melalui pembaptisan di dalam Kristus, mereka akan diampuni atas dosa-dosa mereka dan pada akhirnya diselamatkan dari kematian yang adalah upah dari dosa. Jadi, tujuan Yesus ”mematahkan kuasa maut” di kayu salib (II Tim. 1:10), tidak akan dilaksanakan hingga maksud tujuan Allah di bumi digenapi pada akhir pemerintahan seribu tahun, dimana pada waktu itu tidak ada lagi kematian atau ketika maut tidak berkuasa lagi di bumi: ”Karena ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja (pada bagian pertama dari Kerajaan Allah) sampai Allah meletakkan semua musuhnya dibawah kakinya. Musuh yang terakhir dibinasakan adalah maut” (I Kor. 15:25,26).
Jika kita benar-benar keturunan dari perempuan itu, maka kehidupan kita haruslah mencerminkan firman di Kejadian 3:15. Akan ada suatu konflik yang terus menerus terjadi di dalam diri kita antara yang benar dan yang salah. Rasul Paulus menjelaskannya sebagai sesuatu yang mirip dengan konflik psikologis, ia ingin menjauhkan batinnya dari dosa, yang terus berkecamuk di dalam dirinya (Rm. 7:14-25).
 Setelah pembaptisan di dalam Kristus, konflik dengan dosa yang secara alami terjadi pada diri kita akan berkurang. Tetapi masih dapat tetap ada dalam diri kita, karena kuasa dari dosa asngatlah kuat, dalam pengertian inilah keadaan yang kita alami sangat sulit. Tapi, dalam pengertian yang lain, dengan melihat posisi kita bersama Kristus, yang telah berperang dan menang atas konflik tersebut, hal ini bukanlah keadaan yang sulit. Catat, bagaimana orang-orang yang percaya disebut sebagai perempuan di dalam Efesus 5:23-22, seperti halnya kita adalah keturunan dari perempuan itu, maka kita juga adalah perempuan itu.
Karena keturunan dari perempuan itu diwakili oleh Yesus dan mereka yang berusaha untuk memiliki karakternya, maka dengan cara yang sama, keturunan dari ular itu adalah dosa (”setan” dalam pengertian Alkitab) dan mereka yang dengan bebas menunjukkan karakter-karakter dari dosa dan ular itu. Orang-orang seperti itu akan mengabaikan atau menyalahartikan Firman Allah, yang pada akhirnya akan membimbing mereka kedalam dosa dan jauh dari Allah seperti yang dialami oleh Adam dan Hawa. Dengan memperhatikan bahwa orang-orang Yahudilah yang dengan jelas menjadi penyebab dari kematian Yesus (yaitu dengan meremukkan keturunan perempuan itu pada tumitnya), maka merekalah contoh yang tepat dari keturunan ular itu. Hal ini dibenarkan oleh Yohanes pembaptis dan Yesus;
”Tetapi waktu ia (Yohanes) melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki (kelompok Yahudi yang menghujat Yesus) datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ”Hai kamu keturunan (berdasarkan sifatnya, atau diciptakan oleh) ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?” (Mat.3:7).
”Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka (orang Farisi) lalu berkata...Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat?” (Mat. 12:25,34).
Dunia ini, bahkan agama-agama dunia, mempunyai karakteristik yang sama dari ular itu. Hanya mereka yang dibaptis di dalam Kristus yang dapat digolongkan sebagai keturunan dari perempuan itu, dan yang tidak dibaptis adalah keturunan dari ular itu. Cara Yesus memperlakukan orang-orang yang adalah keturunan dari ular itu, haruslah menjadi teladan bagi kita;
Dia mengajar mereka dengan penuh kasih dan tulus, bahkan
Dia tidak membiarkan mereka meninggikan dirinya, dan
Dia menunjukkan kepada mereka sifat pengasih dari Allah melalui perbuatannya.
Bahkan untuk semua ini, mereka membencinya. Usahanya untuk taat kepada Allah membuat mereka cemburu. Bahkan keluarganya sendiri (Yoh. 7:5; Mrk. 3:21) dan teman-teman dekatnya (Yoh. 6:66) menjauhkannya. Paulus juga mengalami hal yang serupa ketika dia meratapi mereka yang dulu pernah bersamanya dalam suka dan duka;
”Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” (Gal. 4:14-16).
Kebenaran memang tidak pernah populer, mempelajarinya dan melaksanakannya sama seperti halnya kita membuat masalah bagi diri kita sendiri. Bahkan penganiayaan;
”Tetapi seperti dahulu, dia yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh (melalui pengetahuan yang benar tentang Firman Allah, I Ptr. 1:23), demikian juga sekarang ini” (Gal. 4:29)
Jika kita benar-benar bersatu di dalam Kristus, kita akan mengalami juga beberapa dari penderitaan yang dialaminya. Dengan demikian kita turut ambil bagian dalam upah yang mulia yang Dia berikan. Sekali lagi Paulus memberikan contoh yang tepat tentang hal ini;
”Karena itu aku sabar menanggung semuanya...Benarlah perkataan ini: ”Jika kita mati dengan dia (Kristus), kitapun akan hidup dengan dia, jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah...” (II Tim. 2:10-12).
”Jikalau mereka telah menganiaya aku (Yesus), mereka juga akan menganiaya kamu...semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena namaku” (Yoh. 15:20,21).
Karena kita dibaptis dalam nama Yesus (Kis. 2:38; 8:16).
Dengan dihadapkan pada ayat-ayat seperti ini, wajar jika kita mengatakan ”Kalau jadinya
Seperti ini, karena bersatu dengan Yesus, keturunan perempuan itu, sebaiknya saya tidak ikut-ikutan!” Tentu saja, kita tidak akan mengharapkan mengalami hal-hal yang tidak dapat kita tanggulangi. Tetapi, dibutuhkan pengorbanan diri untuk menyatukan kita sepenuhnya dengan Kristus. Persatuan kita dengan dia akan membuahkan upah yang mulia, ”Penderitaan yang sekarang dialami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Bahkan sekarang ini, pengorbanan Yesus memungkinkan doa-doa kita untuk memohon bantuan dalam mengatasi masalah dapat sampai kepada Allah. Tambahkan hal ini sebagai jaminan yang mulia dari Alkitab, yang sering digarisbawahi oleh Kristidelfian;
”Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (I Kor. 10:13).
”Semuanya itu kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh. 16:33).
”Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm. 8:31).
3.3 Janji kepada Nuh
Seiring dengan majunya peradaban manusia setelah zaman Adam dan Hawa, manusia menjadi bertambah jahat. Hal tersebut mencapai puncaknya ketika peradaban secara moril sangat menyedihkan yang menyebabkan Allah memutuskan untuk membinasakan semuanya dengan pengecualian Nuh dan keluarganya (Kej. 6:5-8). Dia diperintahkan untuk membuat bahtera, dimana dia dan segala jenis binatang, hidup selama waktu pembinasaan dunia melalui air bah. Dengan berlalunya waktu, terpisah dari pernyataan yang jelas di dalam tulisan kudus, berdasarkan bukti-bukti ilmiah kita dapat mempercayai bahwa air bah benar-benar pernah terjadi. Catat, bumi tidak dihancurkan, tetapi hanya orang-orang jahat yang merusak bumi yang dibinasakan; “binasalah segala yang hidup yang bergerak di bumi” (Kej. 7:21). Yesus (Mat. 24:37) dan Petrus (II Ptr. 3:6-12) menunjukkan bahwa penghakiman yang terjadi pada zaman Nuh serupa dengan apa yang terjadi pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Karena itu keadaan orang-orang jahat yang menyedihkan yang hidup pada zaman Nuh, sama dengan orang-orang jahat yang hidup pada saat ini, yang akan dihukum pada waktu kedatangan Kristus.
Karena semakin meningkatnya jumlah orang-orang yang berdosa dan kegiatan-kegiatan yang merusak planet ini, maka timbullah suatu keyakinan diantara orang-orang Kristen, bahwa bumi akan dihancurkan. Gagasan ini menunjukkan kurangnya pengetahuan tentang dasar-dasar Alkitab, yaitu tentang tujuan Allah terhadap planet ini untuk mendirikan KerajaanNya pada saat kedatangan Yesus. Jika manusia diizinkan untuk merusak planet ini, maka janji Allah tidak bisa dipegang. Bukti bahwa Kerajaan Allah akan didirikan di bumi dapat dilihat di pelajaran 4.7 dan 5. Berikut ini adalah  bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa bumi dan matahari tidak akan dihancurkan;
“bumi yang didasarkannya untuk selama-lamanya” (Mzm. 78:69).
“bumi tetap ada” (Pkh. 1:4).
“matahari dan bulan…bintang…langit…Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar” (Mzm. 148:3-6)
“seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, seperti air laut yang menutupi dasarnya” (Yes. 11:9; Bil. 14:21). Sulit terjadi , jika Allah menghendaki bumi ini hancur, maka janji ini tidak akan digenapi.
“Dialah Allah yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami” (Yes. 45:18). Jika Allah menciptakan bumi hanya untuk dihancurkan, maka sia-sialah pekerjaannya.
Kembali pada kisah di Kejadian, Allah telah menjanjikan semua hal ini kepada Nuh. Ketika dia mulai menjalani kehidupannya dari awal lagi di dalam dunia baru yang diciptakan melalui air bah, Allah membuat perjanjian (suatu perjanjian yang bertahap), bahwa air bah tidak terjadi lagi.:
“sesungguhnya Aku mengadakan perjanjianKu dengan kamu…Maka Kuadakan perjanjianKu dengan kamu (catat, bagaimana kata “Aku” ditegaskan, Allah yang mulia bersedia membuat perjanjian dengan manusia yang berdosa!”), bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi” (Kej. 9:9-11).
Pelangi adalah tanda dari perjanjian ini:
“Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjianKu yang telah ada antara Aku dan kamu...perjanjianKu yang kekal antara Allah dan segala makhluk yan hidup, segala makhluk yang ada di bumi...Inilah (pelangi) tanda perjanjian yang Kuadakan” (Kej. 9:14-17).
Karena hal itu adalah perjanjian yang abadi antara Allah dengan manusia dan binatang-binatang di bumi, maka bumi haruslah tetap dihuni oleh mereka selamanya. Inilah bukti bahwa Kerajaan Allah akan didirikan di bumi, bukan di surga.
Karena itu janji kepada Nuh merupakan dasar dari Injil Kebenaran; hal itu menunjukkan bahwa perhatian Allah terfokus pada planet ini, dengan membuat suatu perjanjian yang abadi. Dalam kemurkaanNya Dia masih mengingat pengampunan (Hab. 3:2), dengan kasihNya yang seperti itu, Ia bahkan masih memperhatikan binatang ciptaanNya (I Kor. 9:9 bandingkan Yun. 4:11).
3.4 Janji Kepada Abraham
Injil yang diajarkan oleh Yesus dan murid-muridnya tidak berbeda dengan Injil yang diterima oleh Abraham. Allah, melalui tulisan kudus, “memberitakan Injil kepada Abraham” (Gal. 3:8). Begitu pentingnya janji-janji ini sehingga Petrus memulai dan mengakhiri pernyataannya di hadapan umum dengan menggunakan ayat-ayat tersebut sebagai referensi (Kis. 3:13,25). Jika kita dapat memahami apa yang diajarkan kepada Abraham, maka kita akan memiliki gambaran yang sangat mendasar dari Injil Kristus. Ada juga petunjuk lain yang menjelaskan bahwa Injil bukanlah sesuatu yang baru diberitakan pada jaman Yesus;
-         “Dan kami sekarang memberitakan Kabar kesukaan (Injil) kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, telah digenapi Allah kepada kita” (Kis. 13:32,33)
-         “Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan Nya sebelumnya dengan perantaraan (misalnya Abraham-Kej.20:7) dalam kitab-kitab suci “(Rm. 1:1,2)
-         “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati” (I Ptr. 4:6), yaitu kepada orang-orang percaya yang hidup, dan telah mati sebelum abad pertama.
-         “Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka” (Ibr. 4:2), yaitu kepada bangsa Israel sewaktu mereka berada di padang gurun.
Janji-janji kepada Abraham memiliki dua tema dasar;
Hal-hal mengenai keturunan Abraham (keturunan yang istimewa), dan
Hal-hal mengenai tanah yang dijanjikan kepada Abraham
Janji-janji ini telah dikomentari dalam Perjanjian Baru, dan dengan kebijaksanaan yang kita miliki, marilah kita perhatikan bagaimana Alkitab menjelaskan hal tersebut. Kita akan menggabungkan pengajaran dari Perjanjian Lama dan Baru untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai perjanjian yang dibuat kepada Abraham.
Abraham berasal dari Ur, suatu kota yang makmur, yang sekarang ini adalah Irak. Ilmu purbakala modern menunjukkan bahwa tingkat peradaban yang tinggi telah dicapai pada jaman Abraham. Ada sistem perbankan, fasilitas umum dan prasarananya. Abraham tinggal di kota ini, dialah yang akan kita ketahui selanjutnya, disebut sebagai Bapa segala bangsa. Kemudian suatu panggilan yang luar biasa datang dari Allah kepadanya untuk meninggalkan kehidupan duniawi tersebut, dan memulai perjalanan menuju tanah perjanjian. Lokasinya sama sekali tidak dijelaskan. Banyak orang mengetahui bahwa perjalanan itu menempuh jarak 1.500 mil. Tanah itu adalah Kanaan, Israel modern.
Adakalanya Allah menampakkan diri kepada Abraham, dan mengulangi janjiNya dengan lebih terperinci. Janji-janji tersebut adalah dasar dari Injil Kristus. Karenanya, sebagaimana Abraham mendapat panggilan dari Allah, begitu juga yang dialami oleh orang-orang Kristen yang benar pada saat ini. Yaitu untuk meninggalkan hal-hal yang bersifat sementara dalam hidup ini, dan hidup dalam iman, sehubungan dengan janji-janji Allah, hidup dalam firmanNya. Kita dapat membayangkan bagaimana Abraham mempertimbangkan janji-janji tersebut selama perjalanannya. “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat (dari Ur) ke negeri (Kanaan) yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibr. 11:8). Sebagaimana Janji-janji Allah diberikan pada waktu pertama kali diberikan, demikian juga yang kita alami. Walaupun kita tidak tahu dengan pasti, seperti apakah Kerajaan Allah itu, tapi dengan iman kepada firman Allah, akan membuat kita berhasrat untuk mematuhinya.
Abraham bukanlah seorang pengembara yang berkeliling-keliling karena tidak ada hal yang lebih baik untuk dikerjakan, lalu memilih untuk menerima penggenapan janji-janji ini. Secara umu, latar belakangnya tidak berbeda jauh dengan kita. Hal yang rumit ialah, keputusan-keputusan yang menyebabkan hal-hal yang menyedihkan yang harus ia hadapi, serupa dengan yang mungkin harus kita hadapi pada saat ini sebagai konsekuensi dari menerima dan melaksanakan apapun sehubungan dengan janji-janji Allah; dicemooh oleh rekan bisnis, diejek oleh orang-orang di sekitar kita, dll. Hal-hal seperti ini mungkin dialami oleh Abraham. Hal yang memotivasinya dalam menghadapi semua ini pasti sangat luar biasa. Dan satu-satunya hal yang tersedia sebagai motivasi dalam menempuh perjalanannya yang panjang dan memakan waktu bertahun-tahun adalah, hanya sekedar kata-kata dari janji tersebut. Dia harus mengingat dan merenungkannya setiap hari untuk mengetahui maksud yang sebenarnya dari janji yang telah diberikan kepadanya.
Dengan memperlihatkan iman yang sama, dan melakukannya. Kita akan mendapat kehormatan seperti yang diterima Abraham; disebut sebagai yang dikasihi Allah (Yes. 41:8), memperoleh pengetahuan dari Allah (Kej. 18:17), dan pasti akan mendapatkan kehidupan abadi dalam Kerajaan Allah. Sekali lagi kami menegaskan bahwa Injil Kristus didasari oleh janji-janji kepada Abraham. Supaya kita dapat percaya dengan sungguh-sungguh pada ajaran Kristen, kita harus mengetahui dengan pasti tentang janji-janji kepada Abraham. Tanpa melaklukan hal demikian, maka iman yang kita miliki bukanlah iman. Karena itu, kita harus membaca berulang kali dialog antara Allah dan Abraham dengan cermat.
Tanah
“Pergilah dari negerimu...ke negeri yang akan kutunjukkan kepada mu” (Kej. 12:1)
Abraham “berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari tanah Negeb sampai dekat Betel (Israel bagian tengah) dan berfirmanlah Allah kepada Abraham: ”Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kau lihat itu akan kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya...jalanilah negeri itu...sebab kepadamulah akan kuberikan negeri itu” (Kej. 13:3,14-17).
“Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abraham serta berfirman; “Kepada keturunanmulah kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat” (Kej. 15:18)
“Kepadamu dan kepada keturunanmu akan kuberikan negeri ini yang kau diami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya” (Kej. 17:8)
“Janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia” (Rm. 4:13)
Perhatikan bagaimana wahyu kepada Abraham diberikan secara bertahap;
“Aku ingin kamu pergi ke suatu negeri”
“Kamu telah tiba di negeri tersebut. Kamu dan anak-anakmu akan hidup selamanya.” Perhatikan bagaimana janji tentang kehidupan abadi dicatat tanpa ada penegasan, sang penulis menulisnya tanpa keragu-raguan.
Lokasi dari negeri itu dijelaskan lebih spesifik lagi
Abraham tidak berharap untuk menerima penggenapan janji tersebut selagi ia hidup. Walaupun dia hidup disana sampai mati, tapi dia menjadi orang asing di negeri itu. Pengertian dari hal ini adalah bahwa dia akan mati dan kemudian dibangkitkan untuk menerima penggenapan dari janji tersebut.
Paulus, dibawah ilham, dengan jelas melihat bahwa janji-janji kepada Abraham adalah warisannya kepada seluruh bumi.
Tulisan kudus menjelaskan hal itu untuk mengingatkan kita bahwa Abraham tidak menerima penggenapan dari janji-janji tersebut selama hidupnya.
”Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing, dan disitu ia tinggal di kemah” (Ibr. 11:9)
Dia hidup sebagai orang asing di tanah itu, mungkin dengan sembunyi-sembunyi karena situasi yang tidak aman dan tidak memungkinkan untuk hidup sebagai pendatang di negeri itu. Hampir saja ia tidak dapat tinggal bersama dengan keturunannya di tanahnya sendiri. Bersama dengan keturunannya, Ishak dan Yakub (kepada mereka janji itu juga diberikan), ia mati dalam iman ”sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini” (Ibr. 11:13). Catat empat tahap berikut ini;
-         Mengetahui janji-janji itu – seperti yang kita lakukan melalui pelajaran ini.
-         Percaya kepada janji-janji itu – jika Abraham meyakini janji itu dengan melalui sebuah proses, bagaimana dengan kita?
-         Menerima janji-janji itu – melalui pembaptisan di dalam Kristus (Gal. 3:27-29).
-         Melalui jalan hidup kita, menyatakan pada dunia bahwa dunia ini bukanlah rumah kita yang sesungguhnya, dan kita berharap agar jaman yang akan datang segera tiba.
Abraham menjadi pahlawan besar dan teladan bagi kita, jika kita menghargai hal-hal ini. Sebagai penegasan yang terakhir dari penggenapan janji-janji tersebut, yang akan terjadi pada masa yang akan datang bagi orang tua yang letih itu ketika istrinya meninggal; dia diharuskan membeli sebagian dari tanah perjanjian untuk menguburnya (Kis. 7:16), Allah ”tidak memberikan milik pusaka kepadanya, bahkan setapak tanahpun tidak, tetapi Ia berjanji akan memberikan tanah itu kepadanya menjadi kepunyaannya dan kepunyaan keturunannya, walaupun pada waktu itu ia tidak mempunyai anak” (Kis. 7:5). Keturunan Abraham pada saat ini merasakan hal yang sama, tidak sepantasnya mereka membeli atau menyewa tanah yang merupakan hak milik mereka, yaitu bumi ini. Yang telah dijanjikan kepada mereka, demi kepentingan mereka. Warisan abadi!
Walaupun begitu, Allah tetap akan menepati janjiNya. Akan datang suatu hari dimana Abraham dan mereka yang telah dijanjikan akan perjanjian itu, menerima upahnya. Ibrani 11:13,39,40 menjelaskan tentang hal ini;
”Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.”
Oleh karena itu, orang-orang yang percaya akan diberikan upah pada waktu yang sama, yaitu pada waktu penghakiman di hari terakhir (II Tim. 4:1,8; Mat. 25:31-34; I Ptr. 5:4). Abraham dan orang-orang lain yang menerima janji-janji tersebut, harus dibangkitkan sebelum penghakiman, karena mereka harus hidup dengan tujuan untuk dihakimi. Jika pada saat mereka hidup, mereka tidak menerima janji-janji tersebut maka mereka pasti akan menerimanya setelah kebangkitan mereka, pada penghakiman sewaktu Kristus kembali ke bumi. Tidak ada pilihan lain selain menerima alasan bahwa mereka, yang mengalami hal yang sama dengan Abraham, yang sekarang ini berada di dalam kubur, sedang menunggu kedatangan Kristus. Bukan seperti mosaik pada jendela kaca berwarna yang terdapat di Gereja-gereja Eropa, yang melukiskan Abraham sedang berada di surga pada saat ini, sebagai upahnya karena hidup dalam iman. Beribu-ribu orang selama ratusan tahun melihat lukisan itu, dan dengan yakin sekali menerima gagasan tersebut. Apakah anda memiliki keberanian berdasarkan Alkitab untuk melangkah lebih jauh?
Keturunan
Seperti yang telah dijelaskan di pelajaran 3.2. Penggenapan janji tentang keturunan tersebut sangat tepat ditujukan kepada Yesus, dan yang kedua kepada mereka yang berada ”di dalam Kristus”, yang juga diperhitungkan sebagai keturunan Abraham;
”Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau...dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:2,3)
”Sebab seluruh negeri yang kau lihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga” (Kej. 13:15,16)
”Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya...Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu...Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini” (Kej. 15:5,18)
”Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kau diami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya, dan Aku akan menjadi Allah mereka” (Kej. 17:8)
”Maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firmanKu” (Kej. 22:17,18)
Pemahaman Abraham mengenai ”keturunan” semakin diperjelas;
Pertama dia hanya diberitahu bahwa suatu waktu ia akan memiliki keturunan dalam jumlah yang luar biasa, dan melalui ”keturunannya” seluruh bumi akan diberkati.
Kemudian dia diberitahu bahwa dia akan memiliki keturunan yang akan mengikutsertakan banyak orang. Orang-orang inilah yang akan menghabiskan kehidupan abadi mereka bersama dia di tanah yang telah dia tempati, yaitu Kanaan.
Dia diberitahu bahwa keturunannya akan menjadi banyak seperti bintang-bintang di langit. Mungkin hal ini diartikan oleh Abraham sebagai kerturunan dalam arti rohani, (bintang-bintang di langit) dan sebanyak (debu tanah di bumi)
Janji-janji tersebut harus digarisbawahi dan ditambahkan sebagai jaminan bahwa orang-orang yang akan menjadi bagian dari keturunan itu dapat memilki hubungan pribadi dengan Allah, seperti Abraham.
Keturunan itu akan menang melawan musuh-musuhnya.
Catat, keturunan itu akan membawa ”berkat” bagi banyak orang di bumi. Di dalam Alkitab, pemberkatan seringkali dihubungkan dengan pengampunan dosa. Dari segala berkat, inilah berkat yang terbesar dari Allah yang maha pengasih, yang paling didambakan. Karena inilah maka tetulis hal-hal seperti berikut ini, ”Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya” (Mzm. 32:1); ”cawan pengucapan syukur” (I Kor. 10:16), yang mengartikan darah Kristus, yang melaluinya pengampunan diberikan. Satu-satunya keturunan Abraham yang membawa pengampunan bagi dosa-dosa dunia adalah Yesus. Perjanjian Baru, sewaktu mengomentari tentang janji-janji kepada Abraham, mendukung hal ini;
”Tidak dikatakan ”kepada keturunan-keturunannya” (dalam bentuk jamak) seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: ”dan kepada keturunanmu” (dalam bentuk tunggal), yaitu Yesus Kristus” (Gal. 3:16)
”...perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham:”Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan hambanya (keturunan perempuan itu) dan mengutusnya kepada kamu, supaya ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu” (Kis. 3:25,26)
Catat bagaimana cara Petrus mengutip dan menafsirkan Kejadian 22:18
Keturunan              =                 Yesus
Berkat                    =                 Pengampunan dosa
Janji bahwa Yesus, keturunan itu, akan mengalahkan musuh-musuhnya, semakin jelas dipahami jika hal ini direferensikan dengan kemenangannya atas dosa, musuh terbesar dari umat Allah dan juga Yesus.
Bergabung dengan keturunan itu
Sekarang jelaslah sudah, bahwa elemen-elemen dasar dari Injil Kristen telah dipahami oleh Abraham. Tapi, janji-janji yang penting ini hanyalah diberikan kepada Abraham dan keturunannya, Yesus. Bagaimana dengan yang lain? Bahkan orang-orang yang berasal dari garis keturunan Abraham tidak otomatis menjadi bagian dari keturunannya (Yoh. 8:39; Rm. 9:7). Bagaimanapun juga, kita harus menjalin hubungan yang akrab dengan Yesus, sehingga janji-janji kepada keturunan tersebut juga dibagi bersama kita, yaitu dengan cara dibaptis di dalam nama Yesus (Rm. 6:3-5). Kita sering membaca tentang pembaptisan di dalam namanya (Kis. 2:38; 8:16; 10:48; 19:5). Galatia 3:27-29 menjelaskan tentang hal ini;
”Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani (bangsa lain), tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus (melalui pembaptisan). Dan jika kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah”
Janji untuk hidup abadi di bumi dengan menerima ”berkat” pengampunan melalui Yesus. Dengan dibaptis di dalam Kristus, keturunan itu, maka kita dapat berbagi janji-janji yang dibuat untuknya. Karena itu Roma 8:17 menyebut kita ”ahli waris bersama Kristus.”
Ingat, berkat tersebut diberikan kepada orang-orang disegala penjuru bumi, melalui keturunan itu. Dan kleturunan itu akan menjadi suatu kelompok yang terdiri dari orang-orang yang berasal dari segala penjuru bumi, seperti pasir di tepi laut dan seperti bintang-bintang di langit. Selanjutnya mereka berhak untuk menerima berkat yang pertama sehingga mereka dapat menjadi bagian dari keturunan tersebut. Dan keturunan (dalam bentuk tunggal) itu, ”kepadanya akan sujud menyembah semua orang” (banyak orang Mzm. 22:30)
Kita dapat meringkaskan dua bagian dari janji-janji yang diberikan kepada Abraham;
Tanah
Abraham dan keturunannya, Yesus, dan mereka yang berada di dalamnya, akan menerima warisan Tanah Kanaan, yang kemudian akan diperluas ke segala penjuru bumi. Dan mereka akan tinggal disana selamanya. Pada saat ini mereka belum menerima janji itu, tetapi mereka pasti akan menerimanya pada saat terakhir ketika Yesus datang kembali.
Keturunan
Hal ini terutama menunjuk kepada Yesus. Melalui dia, dosa-dosa (musuh) dari umat manusia akan dikalahkan, sehingga berkat pengampunan akan tersedia bagi semua orang.
Dengan dibaptis di dalam nama Yesus, kita akan menjadi bagian dari keturunan Abraham.
Kedua hal yang berurutan ini terdapat pada ajaran Perjanjian Baru, dan, tidak mengejutkan, jika seringkali dicatat bahwa orang-orang yang telah mendengarkan ajaran tersebut, lalu dibaptis. Ini adalah satu-satunya jalan agar kita dapat menerima janji-janji tersebut. Sekarang kita dapat mengerti, mengapa sebagai manusia lama yang dihadapkan pada kematian, Paulus dapat menjelaskan bahwa harapannya adalah ”Pengharapan Israel” (Kis. 28:20). Harapan orang Kristen sejati adalah harapan orang-orang Yahudi yang mula-mula. Kristus mengomentari hal ini dengan berkata, ”keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yoh. 4:22), dan hal ini juga menegaskan betapa pentingnya untuk menjadi orang Yahudi secara rohani, sehingga kita, melalui Kristus, dapat menerima janji-janji keselamatan yang diberikan kepada nenek moyang bangsa Yahudi.
Seperti yang kita ketahui, bahwa orang kristen yang mula-mula diajarkan:
”Hal-hal yang menyangkut tentang Kerajaan Allah, dan
Nama Yesus Kristus” (Kis. 8:12)
Kedua hal ini dijelaskan kepada Abraham dengan tema yang agak sedikit berbeda;
Janji tentang Tanah Perjanjian, dan
Janji tentang Keturunannya
Catat, ”hal-hal tersebut” (dalam bentuk jamak) tentang Kerajaan dan Yesus, diringkaskan di dalam ”pemberitaan tentang Kristus” (Kis. 8:5 bandingkan ayat 12). Banyak orang sering mengartikan hal ini dengan; ”Yesus mengasihi engkau! Hanya dengan mengakui bahwa Dia mati untuk engkau, maka engkau akan diselamatkan!”  Padahal, kata ”Kristus” dengan jelas sekali mengartikan ringkasan dari sejumlah pengajaran tentang hal-hal yang berkenaan dengan Dia dan Kerajaan yang akan datang. Kabar baik tentang Kerajaan yang diberitakan kepada Abraham mempunyai peran penting dalam Pemberitaan Injil yang mula-mula.
Sewaktu berada di Korintus, Paulus selama tiga bulan menerangkan dan meyakinkan hal-hal yang berkenaan dengan Kerajaan Allah (Kis. 19:8); kemudian di Efesus dia berkeliling ”memberitakan Kerajaan Allah” (Kis. 20:5), begitu juga dalam pernyataan terakhirnya di Roma, ”Ia menerangkan dan memberi kesaksian kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan Hukum Musa dan Kitab para Nabi Ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus” (Kis. 28:23,31). Ada banyak sekali yang harus dijelaskan untuk menunjukkan dasar dari Injil tentang Kerajaan dan Yesus, daripada hanya sekedar mengatakan ”Percaya kepada Yesus.” Bahkan wahyu Allah kepada Abraham tidak sesingkat itu, tetapi dijelaskan dengan terperinci. Dan hal-hal yang dijanjikan kepadanya adalah dasar dari Injil Kristen yang benar.
Kami telah menjelaskan bahwa pembaptisan di dalam Yesus akan membuat kita menjadi bagian dari keturunan tersebut, dan juga memungkinkan kita untuk mewarisi janji-janji tersebut. (Gal. 3:27-29), tapi, hanya dengan pembaptisan belumlah cukup agar kita memperoleh janji-janji keselamatan itu. Kita harus tetap berada di dalam keturunan itu, yaitu Yesus, jika kita ingin menerima janji-janji yang diberikan kepada keturunan itu. Oleh karena itu pembaptisan hanyalah permulaan seperti start awal dalam lomba lari. Jangan lupa, dengan menjadi keturunan Abraham, tidak mengartikan otomatis kita diterima Allah. Seperti halnya bangsa Israel yang berasal dari garis keturunan Abraham, walaupun begitu, tidak mengartikan bahwa mereka dapat diselamatkan tanpa melalui pembaptisan dan hidup di dalam Kristus, dan mengikuti teladan Abraham (Rm. 9:7,8; 4:13,14). Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, ”Aku tahu bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku...Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentunya kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham” (Yoh. 8:37,39), yaitu hidup dengan iman kepada Allah dan Kristus, keturunan yang dijanjikan (Yoh. 6:29).
Keturunan itu harus mempunyai karakteristik seperti leluhurnya. Karena itu jika kita ingin menjadi keturunan Abraham, maka kita tidak hanya memberi diri untuk dibaptis, tapi juga memiliki iman yang teguh akan janji-janji Allah seperti Abraham, oleh karena itu dia disebut ”Bapa semua orang yang percaya...juga mengikuti jejak iman Abraham, Bapa leluhur kita (Rm. 4:11,12). ”Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham” (Gal. 3:7).
Iman harus ditunjukkan melalui perbuatan, jika tidak, maka dalam pandangan Allah hal tersebut bukanlah iman (Yak. 2:17). Seperti yang telah kita pelajari, maka kita harus menunjukkan iman kita akan janji-janji ini, pertama dengan dibaptis, sehingga kita dapat menerapkannya (Gal. 3:27-29). Jadi, apakah anda benar-benar percaya pada janji-janji Allah? Pertanyaan ini harus terus kita tanyakan kepada diri kita sendiri selama kita hidup.
Perjanjian Lama dan Baru
Sekarang telah kami tunjukkan bahwa janji-janji kepada Abraham diringkaskan dalam Injil Kristus. Hal-hal penting lainnya dijanjikan Allah kepada orang Yahudi di dalam konteks hukum Musa. Jika orang-orang Yahudi taat kepada hukum tersebut, maka secra fisik mereka akan diberkati (Ul. 28). Tidak ada hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan abadi dalam janji-janji, atau ”perjanjian”ini. Jadi, kita telah melihat bahwa ada dua perjanjian yang telah dibuat;
Kepada Abraham dan keturunannya, menjanjikan pengampunan dan kehidupan abadi dalam Kerajaan Allah pada saat Kristus datang kembali. Janji ini juga diberikan di Taman Eden dan kepada Daud.
Kepada orang-orang Yahudi pada jaman Musa, menjanjikan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup, jika mereka patuh kepada hukum yang Allah berikan melalui Musa.
Allah menjanjikan pengampunan dan kehidupan abadoi di kerajaan, kepada Abraham. Tapi hal ini hanya dapat terwujud melalui pengorbanan Yesus. Karena inilah maka kematian Kristus di kayu salib disebut sebagai penegasan atas janji-janji yang diberikan kepada Abraham (Gal. 3:17; Rm. 15:18; Dan. 9:27; II Kor. 1:20), dan darahnya disebut sebagai ”darah perjanjian baru” (Mat. 26:28). Untuk mengingat akan hal ini, Yesus memerintahkan kepada kita agar tetap ”mengambil cawan yang berisi anggur, yang merupakan simbolis dari darahnya, untuk mengingatkan kita akan hal-hal ini” (lihat I Kor. 11:25); ”Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahku” (Luk. 22:20). Tidak ada gunanya ”memecah-mecahkan roti” untuk mengingat Yesus dan pekerjaannya, jika tidak memiliki pemahaman tentang hal ini.
Pengorbanan Yesus membuat janji akan pengampunan dan kehidupan abadi di dalam Kerajaan Allah dapat terwujud. Dengan demikian Ia membenarkan perjanjian yang diberikan kepada Abraham. Dia aadalah ”jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat” (Ibr. 7:22). Ibrani 10:9 berbicara tentang hal yang Yesus lakukan, ”yang pertama (perjanjian) ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua.” Hal ini menunjukkan bahwa Yesus menegaskan janji-janji yang telah diberikan kepada Abraham, dan menggenapinya melalui perjanjian yang lain, yaitu perjanjian yang diberikan kepada Musa. Ayat-ayat ini sebelumnya telah mengutip tentang Yesus, yang menegaskan adanya perjanjian baru melalui kematiannya, yang secara tidak langsung menyatakan bahwa ada perjanjian lama yang dijanjikan sebelumnya (Ibr. 8:13).
Walaupun perjanjian sehubungan dengan Kristus dibuat lebih awal, tapi hal tersebut tidak sepenuhnya dilaksanakan hingga kematiannya. Oleh karena itu disebut perjanjian ”baru.” Tujuan dari perjanjian ”lama” yang diberikan kepada Musa adalah sebagai gambaran ke depan tentang pekerjaan Yesus, dan untuk menerangkan pentingnya iman sehubungan dengan janji-janji mengenai Kristus (Gal. 3:19,21). Sebaliknya, iman di dalam Kristus meneguhkan kebenaran dari hukum yang diberikan kepada Musa (Rm. 3:31). Paulus menjelaskannya dengan cara yang menarik; ”hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman” (Gal. 3:24). Untuk tujuan inilah hukum yang diberikan melalui Musa dipelihara dan masih bermanfaat untuk kita pelajari.
Hal-hal ini tidak mudah untuk dipahami pada waktu pertama kali dibaca. Untuk itu kami meringkaskannya sebagai berikut;
Janji-janji sehubungan dengan Kristus yang diberikan kepada Abraham                        –                  Perjanjian Baru
Janji-janji kepada Israel bersama dengan hukum yang diberikan kepada Musa               –                  Perjanjian Lama
Kematian Kristus     -       Perjanjian Lama berakhir (Kol. 2:14-17), Perjanjian Baru dimulai
Karena alasan inilah, maka hal-hal seperti menghormati hari sabat, dll. Yang adalah bagian dari Perjanjian Lama, tidak diperlukan lagi pada saat ini (lihat pelajaran 9.5). Perjanjian Baru diberikan kepada Israel jasmani ketika mereka bertobat dan menerima Kristus (Yer. 31:31,32; Rm. 9:26,27; Yeh. 16:62, 37:26), walaupun demikian, tentu saja, setiap orang Yahudi baik secara jasmani maupun rohani yang sudah bertobat dan dibaptis dalam nama Yesus, dapat segera memasuki Perjanjian Baru (dimana tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dengan bangsa-bangsa lain, Gal. 3:27-29).
Penghargaan yang tulus akan hal-hal ini, membuat kita menyadari kepastian dari janji-janji Allah. Para penginjil Kristen yang mula-mula dituduh secara tidak adil, karena tidak mengajarkan hal-hal yang baik. Paulus menjawabnya dengan mengatakan, bahwa karena penegasan Allah akan janji-janjinya melalui peristiwa kematian Kristus, maka harapan yang mereka bicarakan bukanlah sesuatu yang datang dan pergi begitu saja, tetapi betul-betul suatu penawaran yang pasti; ”Demi Allah yang setia, janji (pengajaran) kami kepada kamu bukanlah serentak ”ya” dan ”tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada ”ya”. Sebab Kristus adalah ”ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan ”Amin” untuk memuliakan Allah” (II Kor. 1:17-20).
Tentunya hak ini meluluhlantakkan sikap dari orang-orang yang mengatakan, ”Oh, begitu ya... mudah-mudahan saja, dari semua ini ada hal yang benar...?
3.5 Janji Kepada Daud
Seperti halnya Abraham dan orang-orang yang menerima janji-janji Allah, perjalanan hidup Daud tidaklah mudah. Ia tumbuh sebagai anak yang paling bungsu di dalam keluarga yang besar di Israel, sekitar tahun 1000 SM. Ia menjadi penggembala domba dan tukang suruh dari saudara-saudaranya yang berlagak seperti majikan (I Sam.15-17). Dalam kurun waktu itu, ia mempelajari tingkat teratas dari iman kepada Allah, yang hanya dimiliki oleh sedikit sekali orang sejak permulaan dunia.
Hari itu akhirnya tiba, ketika Israel menghadapi tantangan terakhir dari tetangga mereka yang agresif, Filistin. Mereka ditantang untuk menunjuk salah seorang dari mereka utuk melawan raksasa Goliat, jawara Filistin. Pemenangnya akan berkuasa atas yang kalah. Dengan bantuan Allah, Daud mengalahkan Goliat dengan menggunakan ketapel. Atas kemenangannya itu ia disanjung melebihi raja mereka (Saul). “kegairahan gigih (kecemburuan) seperti dunia orang mati” (Kid. 8:6), firman ini terbukti benar melalui tindakan Saul yang menindas Daud selama 20 tahun beikutnya, memburunya seperti seekor tikus di sekitar padang gurun dibagian selatan Israel.
Akhirnya Daud menjadi Raja, dan menunjukkan penghargaannya akan kasih Allah yang telah melindunginya selama ia hidup di padang gurun dengan memutuskan untuk mendirikan Bait Allah. Jawaban Allah atas hal ini adalah dengan menunjuk anak Daud, Salomo, yang akan mendirikan bait tersebut. Dan sebaliknya, Allah ingin membangun suatu rumah bagi Daud (II Sam. 7:4-13). Kemudian hal tersebut dijelaskan dengan terperinci, sebagian besar dijanjikan kepada Abraham, tetapi dengan detail yang lebih jelas;
“Apabila umurmu sudah genap an engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi AnakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setiaKu tidak akan hilang daripadanya, seperti yang kuhilangkan kepada Saul, yang telah kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamany.” (II Sam. 7:12-16).
Pada pelajaran kita yang terdahulu, kita berharap bahwa “keturunan” itu adalah Yesus. Penjelasannya sebagai Anak Allah (II Sam. 7:14) membenarkan hal ini, begitu juga dengan referensi-referensi yang lain di dalam Alkitab;
-         “Aku adalah…keturunan Daud” (Why. 22:16)
-         “(Yesus) menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud” (Rm. 1:3)
-         “Dan dari keturunannyalah (Daud), sesuai dengan yang telah dijanjikanNya, Allah telah membangkitkan juru selamat bagi orang Israel, yaitu Yesus” (Kis. 13:23)
-         Malaikat berkata kepada Maria sehubungan dengan anaknya, Yesus,”Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, bapa leluhurnya…dan kerajaannya tidak akan berkesudahan” (Luk. 1:32,33). Hal ini menggenapi janji tentang keturunan Daud di II Samuel 7:13,  kepada Yesus.
Dengan mengidentifikasikan keturunan itu sebagai Yesus, maka sejumlah perincian akan menjadi lebih jelas;
Keturunan
“Maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu…Aku akan menjadi bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. “Seorang anak kandungmu akan kududukkan di atas takhtamu” (II Sam. 7:12,14,; Mzm. 132:10,11). Yesus, keturunan itu, menurut daging adalah keturunan Daud, tetapi Allah adalah bapanya. Hal ini ditunjukkan melalui kelahirannya dari seorang perawan seperti yang dijelaskan dalam Perjanjian Baru. Ibu yesus adalah Maria, keturunan Daud (Luk. 1:32). Tapi, dia tidak memiliki ayah jasmani. Allah melakukan mujizat di dalam rahim Maria melalui Roh Kudus, dengan tujuan agar ia mengandung Yesus. Tentang hal ini, malaikat itu mengatakan, ”Roh kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang maha tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah” (Luk. 1:35). Hanya dengan melalui ”kelahiran dari seorang perawan” janji kepada Daud dapat digenapi sepenuhnya.
2.  Rumah
    
“Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu” (II Sam. 7:13), hal ini menunjukkan bahwa Yesus akan membangun suatu bait bagi Allah, baik dalam arti harfiah maupun rohani . “Rumah” Allah adalah tempat dimana Ia bersedia untuk menempatinya, Yesaya 66:1,2 mengatakan pada kita bahwa Dia akan datang untuk tinggal di dalam hati orang-orang yang taat kepada firmanNya. Karena itu Yesus membangun suatu bait rohani bagi Allah untuk ditempati, yang terbuat dari orang-orang Kristen sebagai bahan bangunannya (I Ptr. 2:5), akhirnya dapat dipahami.
3.  Takhta
    
“Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya (Kristus) untuk selama-lamanya” (II Sam. 7:13,16 bandingkan Yes. 9:6,7). Karena itu, Kerajaan Kristus didasari oleh Kerajaan Israel milik Daud. Hal ini mengartikan bahwa Kerajaan Allah yang akan datang merupakan Kerajaan Israel yang dibangun kembali, untuk lebih jauh tentang hal ini, lihat pelajaran 5.3. Untuk menggenapi janji ini, Kristus harus memimpin di atas ”takhta” Daud, atau tempat untuk menjalankan pemerintahannya. Dalam arti harfiahnya adalah Yerusalem. Hal ini menjadi bukti bahwa Kerajaan Allah akan didirikan di bumi untuk menggenapi janji-janji ini.
4.  Kerajaan
“Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu” (II Sam. 7:16), hal ini memberikan kesan bahwa Daud adalah saksi atas pengokohan Kerajaan Kristus yang abadi. Dan secara tidak langsung menjanjikan bahwa ia akan dibangkitkan pada kedatangan Kristus, sehingga ia dapat melihat dengan matanya sendiri Kerajaan itu didirikan di bumi ini dibawah pimpinan Yesus dari Yerusalem.
Hal-hal yang dijanjikan kepada Daud ini tentunya sangat penting untuk dipahami. Daud dengan gembira mengatakan, ”suatu perjanjian kekal...sebab segala keselamatanku dan segala kesukaanku bukankah Dia yang menumbuhkannya?” (II Sam. 23:5). Hal ini menyangkut keselamatan kita juga, karenanya kita juga dapat bergembira atas hal itu. Demikianlah tujuan dari doktrin-doktrin yang sangat penting ini. Sebaliknya, yang terjadi pada kekristenan pada saat ini adalah suatu tragedi yang memprihatinkan, karena doktrin-doktrin yang diajarkan bertentangan dengan kebenaran.;
-         Jika secara fisik Yesus ”telah hadir sebelumnya”, yaitu keberadaannya sebagai individu sebelum ia dilahirkan, maka janji-janji tentang Yesus yang akan menjadi keturunan Daud hanyalah omong kosong.
-         Jika Kerajaan Allah akan didirikan di surga, maka Yesus tidak akan membangun kembali Kerajaan Israel milik Daud, dan ia tidak akan memerintah diatas ”takhta” Daud. Hal-hal ini betul-betul akan terjadi di bumi, karena itu tempat pembangunannya kembali  haruslah di tempat yang sama.
Digenapi melalui Salomo?
Anak kandung Daud, Salomo, menggenapi beberapa dari perjanjian yang diberikan kepada Daud; Ia membangun Bait bagi Allah (I Raj. 10:5-8), Kerajaannya makmur, bangsa-bangsa dari segala penjuru memberikan persembahan sebagai upeti untuk menghormati Salomo (I Raj. 10) dan bait yang dibangunnya membawa berkat-berkat rohani. Oleh karena itu pemerintahan Salomo merupakan gambaran kedepan dari penggenapan yang jauh lebih besar lagi akan janji-janji kepada Daud, yang akan digenapi di dalam Kerajaan Kristus.
Beberap orang mengklaim bahwa janji-janji kepada Daud telah digenapi seluruhnya oleh Salomo. Hal ini bertentangan dengan;
-         Bukti-bukti yang banyak dari Perjanjian Baru, yang menunjukkan bahwa ”keturunan” itu adalah Kristus.
-         Janji-janji yang diberikan Allah kepada Daud ada hubungannya dengan janji yang diberikan kepada Abraham (I Taw. 17:27=Kej. 22:17,18).
-         Kerajaan dari ”keturunan” itu akan bertakhta untuk selama-lamanya, hal ini tidak terjadi pada Kerajaan Salomo.
-         Daud mengetahui bahwa janji-janji tersebut menyangkut tentang kehidupan abadi, yang tidak ditujukan kepada keluarga dekatnya pada saat itu: ”Bukankah seperti itu keluargaku di hadapan Allah? Sebab Ia menegakkan bagiku suatu perjanjian kekal” (II Sam. 23:5).
-         Keturunan Daud adalah Mesias, Juru Selamat yang menebus dosa (Yes. 9:6,7; 22:22; Yer. 33:5,6,15; Yoh. 7:42). Tetapi Salomo belakangan berbalik menjauhi Allah (I Raj. 11:1-13; Neh. 13:26) dengan mengawini orang-orang yang tidak termasuk dalam kelompok bangsa Israel.
4.1 Alam Manusia
Sebagian besar manusia cenderung untuk menghabiskan waktu luangnya dengan bermeditasi tentang kematian, atau tentang alam mereka sendiri, dimana kematian menjadi penyebab utamanya. Hal ini disebabkan kurangnya pengalaman, yang kemudian menuntun kepada kurangnya wawasan, yang menyebabkan banyak orang tersesat di dalam hidupnya karena mengambil keputusan berdasarkan ketetapan-ketetapan menurut keinginan daging mereka sendiri. Ada suatu penolakan, walaupun selalu ditutup-tutupi, untuk mengemukakan fakta bahwa kehidupan sangat singkat dan semuanya akan segera menuju kepada kematian. “Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” “Sebab kita pasti mati, kita seperti air yang tercurah ke bumi, yang tidak terkumpulkan.” “Seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi (masa muda kita) berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.” (Yoh. 4:14; II Sam. 14:14; Mzm. 90:5,6). Musa, seorang yang bijaksana, memahami hal ini, dan memohon kepada Allah: ”Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm. 90:12). Oleh karena itu, agar kita tangkas dalam menjalani hidup ini, kita harus berusaha memperoleh sejumlah hikmat yang benar sebagai prioritas yang utama.
Pendapat manusia tentang kematian sebagai akhir dari segala sesuatu berbeda-beda.. Beberapa kebudayaan berusaha untuk membuat kematian dan penguburan sebagai bagian dari hidup, untuk mempelajari rasa kehilangan dan akhir dari segala sesuatu. Sebagian besar dari mereka yang mengatasnamakan “Kristen”, telah membawa ke dalam pengajaran, gagasan tentang “jiwa yang abadi” atau suatu elemen dari keabadian yang setelah melalui kematian pergi ke suatu tempat untuk diberi upah atau dihukum. Kematian menjadi masalah yang paling pokok dan tragedi di dalam sejarah hidup manusia. Sangat diharapkan agar manusia cukup terlatih dalam mempelajari pengaruh terhadap mental seseorang akibat dari sejumlah besar teori yang salah, yang timbul sehubungan dengan kematian dan alam manusia. Seperti biasanya, hal-hal ini harus diuji dengan Alkitab, dengan tujuan untuk mendapatkan jawaban yang benar sehubungan dengan topik yang cukup vital ini. Harus selalu diingat bahwa kebohongan pertama yang dicatat Alkitab dilakukan oleh ular di Taman Eden. Bertentangan dengan pernyataan Allah yang sangat jelas, bahwa manusia ”pasti mati” jika ia berbuat dosa (Kej. 2:17), ular itu mengatakan, ”Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3:4). Hal ini merupakan usaha untuk meniadakan suatu akhir dan kematian yang pasti terjadi, dan hal ini juga menjadi karakteristik dari semua agama palsu. Telah dibuktikan, bahwa satu doktrin yang salah selalu diikuti oleh yang lain, yang lain, dan yang lain. Sebaliknya, hanya sebagian kecil kebenaran yang diikuti oleh yang lain, seperti yang ditunjukkan di 1 Korintus 15:13-17. Disini Paulus membandingkan kebenaran yang satu dengan yang lain.
Untuk memahami alam kita yang sebenarnya, kita harus mengingat apa yang Alkitab katakan tentang penciptaan manusia. Dicatat dengan bahasa yang jelas, yang dapat diartikan secara harfiah sehingga kita tidak ragu-ragu untuk mengetahui dengan tepat siapakah kita? (lihat pertentangan 18 sehubungan dengan penerjemahan yang benar dari Kejadian). ”Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah...karena dari situlah (tanah) engkau (adam) diambil: sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kej. 2:7; 3:19). Disini sama sekali tidak ada petunjuk bahwa manusia itu mewarisi keabadian, dan tidak ada bagian dari dirinya yang akan hidup setelah kematian.
Alkitab menegaskan fakta bahwa manusia itu pada intinya terbuat dari debu: ”kamilah tanah liat” (Yes. 64:8); ”manusia pertama berasal dari debu tanah” dan bersifat jasmaniah (I Kor. 15:47); manusia ”dasarnya dalam debu” (Ayub 4:19); ”dan kembalilah manusia kepada debu” (Ayub 34:14,15). Abraham mengakui bahwa dirinya ”debu dan abu” (Kej. 18:27). Segera setelah pembangkangan terhadap perintah Allah terjadi di Taman Eden, Allah ”menghalau manusia itu”; supaya ”jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya” (Kej. 3:24,22). Hal ini tidak perlu dilkakukan jika manusia memiliki unsur-unsur keanadian yang secara alami telah terdapat dalam dirinya.
Keabadian yang bersyarat
Firman yang terus-menerus diulangi dalam Injil adalah, bahwa manusia dapat menemukan jalan untuk memperoleh kehidupan abadi melalui pekerjaan Kristus. Inilah satu-satunya jenis keabadian yang dijelaskan dalam Alkitab. Dari sini, timbullah suatu gagasan tentang penderitaan abadi karena melakukan hal-hal yang salah, yang sama sekali tidak didukung oleh Alkitab. Satu-satunya cara untuk memperoleh keabadian adalah dengan mematuhi perintah-perintah Allah, dan bagi mereka yang taat akan hidup abadi dalam keadaan yang sempurna, sebagai upah bagi orang-orang yang benar. Ayat-ayat berikut ini cukup untuk menjelaskan, bahwa keabadian adalah suatu hal yang bersyarat, dan bukan sesuatu yang kita miliki secara alami;
-         ”Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (II Tim. 1:10; I Yoh. 1:2)
-         ”Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan dagingku dan minum darahku, Ia mempunyai hidup yang kekal dan aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” untuk memberikannya ”kehidupan abadi” (Yoh. 6:53,54). Di dalam Yohanes pasal 6, Kristus menjelaskan bahwa dia adalah ”roti hidup” dan hanya yang percaya kepadanya yang akan memperoleh keabadian (Yoh. 6:47,50,51,57,58)
-         ”Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup itu ada di dalam AnakNya” (I Yoh. 5:11). Tidak ada harapan untuk mendapatkan keabadian bagi mereka yang tidak ”di dalam Kristus.” Hanya melalui Kristus keabadian akan diberikan, karena Dia adalah ”Pemimpin kepada hidup (abadi)” (Kis. 3:15), ”Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadanya” (Ibr. 5:9). Oleh karena itu keabadian bagi manusia berasal dari pekerjaan Kristus.
-         Orang-orang percaya yang benar yang mencari keabadian akan dikaruniai kehidupan abadi yang tidak dimiliki oleh mereka secara alami (Rm. 2:7; 6:23; Yoh. 10:28). Tubuh kita yang berkematian ”harus mengenakan yang tidak dapat binasa” pada saat kedatangan Kristus (I Kor. 15:53), karena itu keabadian adalah sesuatu yang dijanjikan, bukan sesuatu yang sudah dimiliki (I Yoh. 2:25).
-         Hanya Allah satu-satunya yang memiliki keabadian (I Tim. 6:16).
4.2 Jiwa
Melalui penjelasan sebelumnya, seharusnya sudah dapat dipahami bahwa manusia tidak memiliki “jiwa yang abadi” atau unsur-unsur keabadian yang terdapat dalam dirinya secara alami. Sekarang kami akan berusaha untuk menjernihkan masalah seputar kata “jiwa.”
Didalam Alkitab, kata Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan sebagai “jiwa” (“nefes” dan “psykhe”) juga diterjemahkan sebagai:
Tubuh               Nafas
Ciptaan            Hati
Pikiran              Orang
Diri sendiri
Oleh karena itu kata “jiwa” menunjuk kepada orang, tubuh, atau diri sendiri. Isyarat darurat yang terkenal, “Save Our Souls” (SOS), dengan jelas sekali mengartikan “Selamatkan kami dari kematian!” Kata jiwa diartikan sebagai kami, atau segala sesuatu yang menyangkut seorang manusia. Karena itu dapat dimengerti jika banyak terjemahan Alkitab modern (misalnya NIV) yang jarang menggunakan kata “jiwa” untuk menerjemahkan kata itu, tapi kata yang digunakan adalah “manusia” atau “makhluk hidup.” Binatang-binatang yang diciptakan Allah, disebut: “makhluk yang hidup…segala jenis makhuk hidup yang bergerak” (Kej. 1:20,21). Pada ayat ini, kata Ibrani yang dterjemahkan sebagai “makhluk hidup” adalah “nefes”, yang juga diterjemahkan sebagai “jiwa”; sebagai contoh; Kejadian 2:7;”…demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Jadi, manusia disebut sebagai makhluk hidup, sama seperti binatang. Perbedaan antara manusia dan binatang adalah; secara rohani manusia lebih unggul daripada binatang, diciptakan menurut rupa secara fisik dari Allah (Kej. 1:26, lihat pelajaran 1.2), kepada manusia diberitakan Injil, yang melaluinya harapan akan hidup abadi terbuka bagi mereka (II Tim. 1:10). Dalam hal pokok, sehubungan dengan hidup dan mati, tidak ada perbedaan antara manusia dengan binatang;
“Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka (sekali lagi ditegaskan); sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain…dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang…Kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya (manusia dan binatang) menuju satu tempat (kuburan); kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu” (Pkh. 3:19,20). Penulis kitab Pengkhotbah yang terilham berdoa kepada Allah agar membantu manusia menerima fakta yang sulit untuk diterima ini, “bahwa mereka (manusia) hanyalah binatang” (Pkh. 3:18). Oleh karena itu sangat diharapkan agar banyak orang menerima fakta yang sulit diterima ini; tentu saja hal ini memalukan, untuk menyadari bahwa secara alamiah kita hanyalah binatang; menggunakan naluri yang sama untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Terjemahan Alkitab NIV, pada Pengkhotbah 3:18, mengatakan Allah “menguji” manusia dengan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang; yaitu bagi mereka yang dengan rendah hati menjadi umatNya, akan menyadari kebenaran tentang hal ini. Bagi mereka yang tidak, akan gagal dalam melalui “ujian” ini. Filsafat humanisme, yaitu gagasan bahwa keberadaan manusia sangat penting dan, nilainya jauh lebih unggul daripada makhluk lain; telah menyebar ke seluruh dunia selama periode abad-20. Kita harus sedapat mungkin membersihkan pikiran kita dari pengaruh humanisme. Firman yang cukup jelas di Mazmur 39:6 dapat membantu; “setiap manusia hanyalah kesia-siaan!” “Manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya” (Yer. 10:23).
Satu dari hal-hal yang paling mendasar yang kita ketahui adalah bahwa seluruh tubuh manusia, termasuk semua “makhluk hidup” pasti akan mati. Karena itu “jiwa” juga akan mati; hal ini dengan tepat menentang hal-hal yang bersifat abadi. Tidak mengherankan bahwa sekitar 1/3 dari Alktiab menggunakan kata “jiwa” sehubungan dengan kematian dan pembinasaan atas jiwa. Faktanya, kata ”jiwa” yang digunakan pada ayat-ayat berikut ini menunjukkan bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang tidak dapat binasa dan abadi;
-         ”Orang (jiwa) yang berbuat dosa, itu yang harus mati” (Yer. 18:4)
-         Allah dapat membinasakan jiwa (Mat. 10:28). Referensi lain tentang jiwa yang dapat dibinasakan terdapat di Yeh. 22:27, Ams. 6:32, Im. 23:30
-         Semua  ”jiwa” yang berada di Hazor dibunuh dengan pedang (Yos. 11:11 bandingkan Yos. 10:30-39)
-         ”...matilah segala yang bernyawa (berjiwa)” (Why. 16:3 bandingkan Mzm. 78:50)
-         Dalam Hukum Musa seringkali diperintahkan kepada setiap ”jiwa” yang tidak menaati hukum, haruslah dihukum mati (Ams. 18:7; 22:25; Ayub 7:15)
-         ”orang-orang yang tidak dapat menyambung hidup”(Mzm. 22:29)
-         Kristus ”telah menyerahkan nyawanya (jiwanya) ke dalam maut” sebagai korban penebus salah (Yes. 53:10,12)
Kata ”jiwa” menunjuk kepada manusia atau tubuh daripada mengarah kepada suatu hal yang bersifat abadi di dalam diri kita. Sebagian besar dari ayat-ayat yang didalamnya terdapat kata tersebut, menunjukkan hal ini. Beberapa contoh yang jelas sekali adalah;
-         ”darah orang-orang” (Yer. 2:34)
-         ”Apabila seseorang berbuat dosa, yakni jika ia mendengar seorang mengutuki...tetapi ia tidak mau memberi keterangan...atau bila sesorang kena kepada sesuatu yang najis...atau apabila seseorang (jiwa) bersumpah teledor dengan bibirnya” (Im. 5:1-4)
-         ”hai jiwaku...hai segenap batinku...Pujilah Tuhan, hai jiwaku...Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan” (Mzm. 103:1,2,5).
-         ”siapa yang mau menyelamatkan nyawanya(jiwanya), ia akan kehilangan nyawanya (jiwanya): tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya (jiwanya) karena Aku...ia akan menyelamatkannya” (Mrk. 8:35).Ini adalah buktui yang cukup untuk menyatakan bahwa kata jiwa tidak menunjuk kepada elemen spiritual di dalam diri manusia; pada ayat ini, kata ”jiwa” (Yunani ”psykhe”) mengartikan kehidupan dari seseorang, sebagaimana hal tersebut diterjemahkan.
-         Bilangan 21:4 menunjukkan bahwa suatu kelompok dapat disebut sebagai ”jiwa”, karena itu ”jiwa” tidak menunjuk kepada suatu keabadian yang terdapat di dalam diri kita.
4.3 Roh Manusia
Banyak orang yang bingung mengenai perbedaan antara jiwa dan roh. Hal ini semakin menjengkelkan karena dalam beberapa bahasa dan terjemahan Alkitab, penerjemahan kata dalam bahasa Inggris “soul” dan “spirit” hanya diterjemahkan ke dalam satu kata. Kata “jiwa” secara umum menunjuk kepada semua unsur dalam diri seseorang, dan kadang-kadang juga bisa menunjuk kepada roh. Bagaimanapun juga, pada umumnya terdapat perbedaan antara “jiwa” dan “roh” yang digunakan dalam Alkitab. Karena jiwa dan roh dapat dipisahkan (Ibr. 4:12).
Kata Ibrani dan Yunani untuk “roh” (ruakh” dan “pneuma”) juga diterjemahkan sebagai;
Hidup               Roh
Pikiran              Angin
Nafas
Kita telah mempelajari tentang pengertian dari “roh” pada pelajaran 2.1, Allah menggunakan rohNya untuk menciptakan seluruh alam semesta, dan juga manusia. Oleh karena itu, Roh Allah yang terdapat di dalam manusia adalah daya kehidupan yang berada dalam dirinya. “Tubuh tanparoh adalah mati” (Yak. 2:26). “(Allah) menghembuskan nafas (roh) hidup ke dalam hidungnya (adam); demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2:7). Ayub juga berbicara tentang “Roh Allah” yang “masih di dalam lubang hidungku” (Ayub 27:3 bandingkan Yes. 2:22). Karena itu, roh kehidupan yang terdapat dalam diri kita, diberikan pada waktu kita lahir, dan akan tetap ada selama kita masih hidup. Ketika Roh Allah tidak lagi bekerja, maka segala sesuatu akan berakhir, karena rohlah yang menghidupkan segala sesuatu. Jika Allah “menarik kembali RohNya, dan mengembalikan nafasNya kepadaNya maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu. Jikalau engkau berakal budi, dengarkanlah ini” (Ayub 34:14-16). Pada kalimat terakhir ditunjukkan bahwa manusia akan menemui kesulitan dalam memahami alam mereka yang sebenarnya.
Ketika Allah menarik kembali RohNya pada waktu kita mati, tidak hanya tubuh fisik kita yang mati, tapi seluruhnya juga akan mati. Pengetahuan Daud tentang hal ini telah membimbingnya untuk percaya kepada Allah daripada makhluk-makhluk ciptaan yang lemah seperti manusia. Mazmur 146:3-5 adalah alasan yang kuat untuk menangkis klaim dari humanisme; “Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepaa anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya (roh) melayang, ia kembali ke tanah (karena dibuat dari debu); pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong.”
Pada waktu kematian, “debu (akan) kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya” (Pkh. 12:7). Di awal pelajaran ini kamu telah menjelaskan bahwa Allah hadir dimana saja melalui rohNya. Dalam konteks “Allah adalah roh” (Yoh. 4:24). Pada waktu kita mati, kita “menghirup nafas terakhir”, yaitu dalam arti bahwa Roh Allah yang berada dalam diri kita akan meninggalkan kita. Roh itu akan terhisap ke dalam Roh Allah yang berada di sekeliling kita. Jadi, pada waktu kematian “roh akan kembali kepada Allah.”
Karena Roh Allah yang menopang seluruh ciptaan, maka proses kematian yang terjadi pada manusia juga terjadi pada binatang. Manusia dan binatang mempunyai roh, atau daya kehidupan yang sama di dalam diri mereka. “Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas (roh) yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 3:19). Penulis buku Pengkhotbah mengatakan, bahwa tak terlihat perbedaan tentang kemana roh manusia dan binatang pergi (Pkh. 3:21). Penjelasan tentang manusia dan binatang memiliki roh yang sama dan juga mengalami proses kematian yang sama, muncul untuk menyinggung kembali penjelasan tentang manusia dan binatang, yang keduanya memiliki roh kehidupan dari Allah (Kej. 2:7; 7:15), dibinasakan dengan kematian yang sama melalui air bah: “Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi, burung-burung, ternak dan binatang liar dan segala binatang merayap, yang berkeriapan di bumi serta semua manusia. Matilah segala yang ada nafas (roh) hidup dalam hidungnya…semuanya itu dihapuskan dari atas bumi” (Kej. 7:21-23). Catat, sebagai tambahan, Mazmur 90:5 menyamakan kematian dengan air bah. Catatan pada Kejadian 7 dengan jelas menunjukkan bahwa dalam pengertian umum, manusia termasuk dalam kategori “segala yang hidup, yang bergerak di bumi.” Dikatakan seperti ini karena manusia mempunyai roh kehidupan yang sama seperti makhluk ciptaan yang lain.
4.4 Kematian adalah Ketidaksadaran
Dari apa yang telah kita pelajari sejauh ini tentang jiwa dan roh, seharusnya sudah dimengerti bahwa ketika seseorang mati, ia betul-betul tidak sadarkan diri sepenuhnya. Semua perbuatan mereka yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah, diingat oleh Nya (Mal. 3:16, Why. 20:12, Ibr. 6:10). Alkitab sama sekali tidak mencatat bahwa dalam kematian kita masih sadarkan diri di dalam bentuk yang lain. Sulit sekali untuk membantah pernyataan-pernyataan yang jelas berikut ini sehubungan dengan hal tersebut;
-         “Apabila nyawanya (manusia) melayang, ia kembali ke tanah; pada hari (kejadian) itu juga lenyaplah maksud-maksudnya” (Mzm. 146:4)
-         “orang yang mati tak tahu apa-apa…Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang” (Pkh. 9:5,6). Tidak ada “hikmat dalam dunia orang mati” (Pkh. 9:10). Karena tidak ada pemikiran maka tidak ada kesadaran.
-         Ayub mengatakan bahwa jika dia mati sama halnya dengan dia “tidak pernah ada” (Ayub 10:18,19), Dia memandang kematian sebagai keadaan tidak sadarkan diri, dan sama sekali tidak tahu menahu tentang segala sesuatu, seperti yang terjadi sebelum seseorang dilahirkan.
-         Sebagaimana manusia mati, demikian juga binatang (Pkh. 3:18); baik di dalam tulisan kudus maupun ilmu pengetahuan tidak akan menyatakan hal ini jika manusia secara sadar dapat dengan selamat melalui kematian dan berada di suatu tempat.
-         Allah tahu, “bahwa kita ini debu. Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga…maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi” (Mazmur 103:14-16)
Kematian adalah ketidaksadaran sepenuhnya, bahkan orang-orang yang benar juga mengalaminya. Hal ini dapat diketahui melalui permohonan yang diulang-ulang oleh hamba-hamba Allah agar memperpanjang hidup mereka. Karena mereka tahu jika mereka mati, mereka tidak dapat lagi memuji dan memuliakan Allah, dengan melihat bahwa kematian adalah ketidaksadaran. Hezekiah (Yes. 38:17-19) dan Daud (Mzm. 6:4,5; 30:9; 39:13; 115:17) adalah contoh yang tepat tentang hal ini. Kematian seringkali diartikan seperti keadaan sedang tidur atau beristirahat, bagi orang-orang yang benar maupun orang yang jahat (Ayub 3:11,13,17; Dan. 12:13).
Sekarang kita mempunyai bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa pendapat tentang orang-orang yang benar yang hidup bahagia di surga sebagai upahnya setelah kematian mereka, sama sekali tidak terdapat di dalam Alkitab. Dengan memahami doktrin yang benar tentang kematian dan alam manusia, akan membuat kita memahami arti dari kedamaian yang sesungguhnya. Setelah mengalami berbagai masalah dan penderitaan dalam hidupnya, kuburan adalah satu-satunya tempat dimana manusia akan dilupakan. Bagi mereka yang tidak mengetahui syarat-syarat yang ditetapkan Allah, mereka akan terus dilupakan sampai selama-lamanya. Lembaran hidup lama yang tragis dan tidak diharapkan terjadi, tidak akan muncul kembali; segala harapan yang sia-sia dan segala ketakutan yang berada di dalam pikiran tidak akan menganacam lagi, atau tidak akan diingat lagi.
Sewaktu mempelajari Alkitab kita dapat menemukan suatu sistem kebenaran; tapi sayang sekali ada orang yang salah memahami hal tersebut. Karena kurang memperhatikan Alkitab. Usaha mereka yang menyedihkan ini akhirnya membuat mereka salah memahami arti dari kematian, sehingga terciptalah gagasan “jiwa abadi” sekali gagasan ini diterima, yaitu tentang elemen-elemen keabadian yang terdapat dalam diri manusia, maka hal ini akan menjadi alasan penting untuk mengetahui kemana perginya roh tersebut setelah kematian. Dan terciptalah pemikiran bahwa pada waktu kematian perbedaan nasib antara orang-orang yang benar dan yang jahat. Untuk mendukung hal ini, maka tersiptalah gagasan bahwa ada tempat baigi “jiwa-jiwa abadi yang baik” untuk dituju, yaitu surga; dan tempat bagi “jiwa-jiwa abadi yang jahat”, yaitu neraka. Sejak permulaan kami telah menunjukkan bahwa “jiwa yang abadi” adalah mustahil ajaran dari Alkitab. Mengenai gagasan lain yang salah, yang cukup populer dalam bertukar pikiran, akan kita analisa sekarang;
Pada waktu kematian kita akan ditempatkan di tempat tertentu, dalam bentuk “jiwa yang abadi” sebagai upah atas segala perbuatan kita.
Pada waktu kematian ada pemisahan antara orang-orang yang baik dan yang jahat.
Upah bagi orang-orang yang benar adalah pergi ke surga
Jika setiap orang mempunyai ”jiwa yang abadi”, maka setiap orang dapat pergi menuju ke surga maupun neraka.
”jiwa-jiwa” yang jahat akan pergi ke tempat penghukuman yang disebut neraka.
Tujuan kami menganalisa hal-hal ini adalah bukan suatu hal yang negatif ; karena dengan memperhatikan hal-hal ini lebih detail lagi, kami yakin dapat menjelaskan berbagai elemen kebenaran dari Alkitab yang merupakan bagian-bagian penting dari gambaran yang benar sehubungan dengan alam manusia.
4.5 Kebangkitan
Alkitab menegaskan, bahwa upah bagi orang-orang yang benar akan diberikan pada saat kebangkitan, yaitu pada saat kedatangan Kristus (I Tes. 4:16). Kebangkitan dari kematian untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah dilakukan (lihat pelajaran 4.8) adalah hal yang pertama yang akan dilakukan Kristus, kemudian disusul dengan penghakiman. Jika ”jiwa” telah pergi ke surga pada waktu kematian, maka kebangkitan tidak diperlukan lagi. Paulus mengatakan, bahwa jika tidak ada kebangkitan, maka semua usaha untuk menjadi taat kepada Allah adalah sia-sia (I Kor. 15:32). Tentunya dia tidak akan berpikir seperti ini jika dia percaya bahwa jiwanya akan pergi ke surga pada waktu ia mati, sebagai upah bagi dirinya. Pengertian yang di dapat dari hal ini adalah, ia percaya bahwa kebangkitan daging adalah satu-satunya cara untuk memberikan upah. Kristus membesarkan hati kita sehubungan dengan penantian upah bagi orang-orang yang hidup dengan benar, yang akan diberikan pada saat ”kebangkitan” (Luk. 14:14).
Kembali kepada intinya, bahwa Alkitab tidak mengajarkan keberadaan dalam bentuk apapun yang terpisah dari tubuh, hal ini juga dapat diterapkan kepada Allah, Kristus, para malaikat dan manusia. Pada saat kedatangannya kembali, Kristus ”akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhnya yang mulia” ( Flp. 3:20,21). Sebagaimana bentuk tubuhnya yang nyata pada saat ini, yang digerakkan murni oleh roh, lebih dari sekedar darah, maka kita juga akan mendapat upah yang serupa. Pada waktu penghakiman, kita akan menerima upah sesuai dengan yang dilakukan tubuh kita ( II Kor. 5:10). Bagi mereka yang hidup menuruti keinginan dagingnya, akan ditinggalkan bersama tubuh mereka yang tidak abadi yang kemudian akan kembali menjadi debu, bagi mereka yang sewaktu hidup berusaha untuk mengatasi keinginan dagingnya dengan Roh, ”maka ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (Gal. 6:8) dalam bentuk tubuh yang dipenuhi Roh.
Ada bukti lebih lajut mengenai upah bagi orang-orang benar yang akan diberikan kepada mereka dalam keadaan yang memiliki tubuh yang nyata. Sekali hal ini diterima, maka inti dari kebangkitan akan jelas. Tubuh kita yang sekarang ini dengan jelas menuju kepada kematian; jika kita dapat merasakan kehidupan abadi dan keabadian dalam bentuk tubuh yang nyata, maka dapat dipahami bahwa kematian adalah keadaan tidak sadarkan diri hingga pada saat tubuh kita diciptakan kembali dan kemudian ditempatkan pada alam yang sama dengan Allah.
Seluruh I Korintus 15 berbicara dengan terperinci mengenai kebangkitan, untuk itu harus dibaca dengan hati-hati. I Kor. 15:35-44 menjelaskan, sebagaimana benih ditabur kemudian muncul dari tanah sebagai suatu tubuh yang diberikan oleh Allah, demikian halnya dengan orang mati yang dibangkitkan untuk diupahi dengan suatu tubuh. Seperti halnya Kristus yang bangkit dari kubur dan tubuhnya yang berkematian diubah menjadi tubuh yang tidak dapat binasa, maka begitu jugalah upah yang akan diberikan kepada orang-orang percaya yang benar (Flp. 3:21). Melalui pembaptisan, diri kita disatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus; m; dengan menunjukkan iman kita bahwa kita juga akan mendapat upah seperti yang Dia terima pada waktu kebangkitannya (Rm. 6:3-5). Dengan turut merasakan penderitaannya pada saat ini, maka kita juga akan mendapat upah yang sama dengannnya: ”Kami senantiasa membawa (saat ini) kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (II Kor. 4:10). ”Maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh RohNya” (Rm. 8:11). Oleh karena itu, dengan harapan ini, kita menantikan ”pembebasan tubuh kita” (Rm. 8:23), dengan cara mengabadikan tubuh kita.
Pengharapan akan tubuh yang nyata sebagai upah telah dipahami oleh umat Allah sejak awal. Abraham dijanjikan, bahwa ia secara pribadi akan mewarisi tanah Kanaan selamanya, sebagaimana ia telah menjalani negeri itu menurut panjang dan lebarnya (Kej. 13:17, lihat pelajaran 3.4). Imannya akan janji tersebut membuat ia percaya, bahwa tubuhnya pada suatu saat, di masa yang akan datang, akan dibangkitkan, dan benar-benar akan terjadi.
Ayub dengan jelas menyatakan pengertiannya, walaupun tubuhnya dimakan cacing di dalam kubur, dia akan menerima upahnya dalam bentuk tubuh yang nyata: ”Penebus hidupku...akan bangkit di atas debu: juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat  memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikannya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu” (Ayub 19:25-27). Harapan Yesaya juga mirip: ”mayat-mayat mereka akan bangkit pula” (Yes. 26:19).
Kata-kata serupa juga dapat ditemukan pada catatan tentang kematian Lazarus, sahabat Yesus. Daripada menghibur saudara perempuannya dengan mengatakan bahwa jiwanya telah pergi ke surga, sebaliknya yesus mengatakan bahwa pada hari  kebangkitan saudaranya akan bangkit. Marta, saudara perempuan Lazarus, dengan cepat merespon kata-kata Yesus, dan dari penjelasannya dapat dipahami bahwa orang-orang Kristen yang mula-mula memahami: ”kata Marta kepadanya, ” Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman” (Yoh. 11:23,24). Seperti halnya Ayub, Marta tidak memahami kematian sebagai pintu gerbang menuju kebahagiaan di surga. Tapi sebaliknya, lebih memandang ke depan akan kebangkitan yang akan terjadi ”pada hari terakhir.” Allah berjanji: ”Ia akan kubangkitkan pada akhir zaman...setiap orang yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaku” (Yoh. 6:44,45).
4.6 Penghakiman
Alkitab mengajarkan bahwa penghakiman adalah salah satu dari prinsip-prinsip dasar dari iman yang benar, yang harus dipahami dengan jelas sebelum pembaptisan (Kis. 24:25, Ibr. 6:2). Tulisan Kudus sering kali berbicara tentang “Hari Penghakiman” (misalnya II Ptr. 2:9; 3:7; I Yoh. 4:17, Yud. 6), waktu dimana  mereka yang telah diberikan pengetahuan tentang Allah akan menerima upah mereka. Mereka semua harus “menghadap takhta pengadilan Allah” (Rm. 14:10). Kita “harus menghadap takhta pengadilan Allah” (II Kor. 5:10) untuk menerima upah demi kehidupan kita, dalam bentuk tubuh yang nyata.
Dalam penglihatan Daniel, sehubungan dengan kedatangan Kristus yang kedua, termasuk yang dilihat adalah kursi penghakiman yang terdiri dari takhta-takhta. (Dan. 7:9-14). Perumpamaan dapat membantu menjelaskan penglihatan tersebut. Hal ini sama dengan talenta-talenta yang dipertanggungjawabkan pada saat kedatangan sang Tuan, ketika ia meminta pertanggungjawaban dari hamba-hambanya, sehubungan dengan cara mereka menggunakan harta tersebut sewaktu ditinggal olehnya. (Mat. 25:14-29). Perumpamaan tentang nelayan disamakan dengan panggilan Injil untuk menjala ikan, mengumpulkan segala jenis orang, lalu duduklah mereka (bandingkan dengan kursi penghakiman) dan memisahkan ikan yang baik dari yang tidak baik (Mat. 13:47-49). Tafsiran dari hal ini sangat jelas; “Pada akhir dunia, malaikat-malaikat akan datang untuk memisahkan orang-orang yang jahat dari yang baik.”
Dari apa yang telah kita pelajari sejauh ini, wajar jika kita menyimpulkan bahwa setelah kedatangan Kristus dan kebangkitan, orang-orang yang telah terpanggil kepada Injil akan dikumpulkan di suatu tempat pada waktu yang spesifik, pada waktu mereka akan bertemu dengan Kristus. Sebuah catatan akan diberikan kepada mereka, kemudian Ia akan menentukan apakah mereka layak atau tidak untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Hanya melalui peristiwa inilah, orang-orang yang benar akan menerima upah mereka. Semua ini dijelaskan melalui perumpamaan tentang domba dan kambing: “Apabila Anak Manusia datang dalam kemulianNya, dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya (takhta Dau di Yerusalem Luk. 1:32,33). Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang demi seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat. 25:31-34).
Mewarisi Kerajaan Allah sama dengan menerima janji-janji kepada Abraham sehubungan dengan hal tersebut, ini adalah upah bagi orang-orang yang benar. Dan hanya akan diberikan setelah penghakiman pada saat kedatangan Kristus. Oleh karena itu tidak masuk akal untuk menerima upah yang dijanjikan itu sebelum kedatangan Kristus. Maka kami menyimpulkan bahwa sejak waktu kematian hingga kebangkitan, orang-orang percaya yang telah mati, tidak terus hidup di dalam bentuk yang lain, karena mustahil untuk hidup tanpa memiliki tubuh yang nyata.
Ketika Kristus datang kembali, upah akan diberikan (bukan sebelum kedatangannya), adalah prinsip Alkitab yang sering diulangi;
-         “apabila Gembala Agung  (Yesus) datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” (I Ptr. 5:4 bandingkan 1:13).
-         “Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati…mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya” (II Tim. 4:1,8).
-         Pada waktu Mesias datang, “banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah (bandingkan Kej.3:19), akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk menjalani kehinaan dan kengerian yang kekal” (Dan 12:2)
-         Pada waktu Kristus datang untuk menghakimi, “orang-orang mati…akan hidup…dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh. 5:25-29).
-         “Aku (Yesus) datang segera dan Aku membawa upahKu untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya” (Why. 22:12). Kita tidak pergi ke surga untuk menerima upah tersebut, Tetapi Kristus akan membawanya dari surga untuk kita.
Yesus akan membawa upah yang telah disiapkan bagi kita di surga, tapi akan diberikan kepada kita di bumi, pada waktu kedatangannya yang kedua; yaitu tanah “warisan” yang telah dijanjikan kepada Abraham, “yang tersimpan di surga bagi kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir” sewaktu Kristus datang (I Ptr. 1:4,5)
Dengan memahami hal ini, akan menyanggupi kita untuk menafsirkan dengan benar dari sejumlah ayat yang disalah mengerti di Yohanes 14:2,3: “Aku (Yesus) pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatku, supaya tempat dimana Aku berada, kamupun berada.” Yesus mengatakan bahwa Ia akan datang kembali ke suatu tempat untuk memberikan upah kepada kita (Why. 22:12), dan seperti yang kita pelajari, hal ini terjadi pada saat Dia menghakimi dari takhtaNya. Dia akan memerintah dari takhta Daud di Yerusalem untuk “selamanya” (Luk. 1:32,33). Dia akan hidup abadi di bumi, dimana Kerajaan Allah juga akan didirikan. Oleh karena itu, janjinya akan “membawa kamu ke tempatku” dapat diartikan sebagai pernyataan diterimanya pertanggungjawaban kita di hadapanNya pada waktu penghakiman. Dalam bahasa Yunani, kalimat “membawa kamu ke tempatku” juga terdapat di Matius 1:20, sehubungan dengan Yusuf “mengambil” Maria, sebagai istrinya. Karena itu, kalimat ini tidak mengartikan kegiatan yang dilakukan oleh Yesus secara fisik.
Karena upah hanya akan diberikan pada waktu penghakiman, ketika Kristus datang, maka, baik orang yang benar maupun yang jahat akan menuju ke tempat yang sama, sewaktu mereka mati, yaitu kuburan. Tidak ada perbedaan diantara mereka dalam hal kematian. Ayat-ayat berikut membuktikan hal ini;
-         Yonatan adalah orang yang benar, tapi Saul orang yang jahat, walaupun begitu ”dalam hidup dan matinya (mereka) tidak terpisah” (II Sam. 1:23).
-         Saul, Yonatan, dan Samuel, semuanya menuju ke tempat yang sama pada waktu mereka mati (I Sam. 28:19).
-         Abraham orang yang benar, tetapi ”dikumpulkan kepada kaum leluhurnya” sewaktu ia mati, padahal leluhurnya adalah penyembah berhala (Kej. 25:8, Yos. 24:2).
-         Orang yang bijaksana dan orang yang bodoh mengalami nasib yang sama pada waktu kematian (Pkh. 2:15,16).
Semua hal ini dengan jelas bertolak belakang dengan apa yang diklaim oleh orang-orang ”Kristen.” Ajaran mereka tentang orang benar yang akan pergi ke surga pada waktu mereka mati, membuat kebangkitan dan penghakiman menjadi tak berarti sama sekali. Padahal, seperti yang telah kita pelajari, dua periatiwa ini merupakan peristiwa penting sehubungan dengan rencana keselamatan Allah yang terdapat di dalam Injil. Ada juga yang menyatakan suatu gagasan bahwa jika satu orang benar mati, dan ia pergi ke surga sebagai upahnya, maka pada hari, bulan, tahun berikutnya, hal yang serupa juga dialami oleh orang-orang benar yang lain. Hal ini sangat bertolak belakang dengan Alkitab, yang mengajarkan bahwa semua orang yang benar akan diberi upah secara bersamaan, dan pada waktu yang sama;
-         Pada penghakiman, domba-domba akan dipisahkan dari kambing-kambing satu demi satu. Ketika penghakiman berakhir, Kristus akan mengatakan kepada seluruh domba untuk berkumpul di sebelah kananNya, ”Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat. 25:34). Karena itu seluruh domba akan mewarisi Kerajaan Allah pada waktu yang sama (bandingkan I Kor. 15:52).
-         Pada waktu ”penuaian” ketika Kristus datang untuk menghakimi, mereka yang telah bekerja demi Injil akan ”sama-sama bersukacita” (Yoh. 4:35,36 bandingkan Mat. 13:39).
-         Wahyu 11:18 mendefinisikan ”saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi” sebagai waktu dimana Allah akan ”memberi upah kepada hamba-hambaNya...orang-orang kudus...mereka yang takut akan namaNya”, semuanya akan diberi upah bersama-sama.
-         Di dalam Ibrani 11 terdapat daftar dari sejumlah orang-orang yang benar di Perjanjian Lama. Ayat 13 mengatakan, ”Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu”, yang diberikan kepada Abraham, yaitu tentang Keselamatan melalui Kerajaan Allah (Ibr. 11:8-12). Karena itu sewaktu mereka mati, mereka tidak pergi ke surga seorang demi seorang untuk menerima upah. Alasan untuk hal ini terdapat pada ayat 39, 40; ”Mereka semua tidak menerima apa yang dijanjikan itu sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” Ditundanya waktu untuk memberikan upah kepada mereka disebabkan oleh rencana Allah yang akan ”menyempurnakan” semua orang beriman bersama-sama, dan pada peristiwa yang sama, yaitu pada penghakiman ketika Kristus datang kembali.
4.8 Pertanggunganjawab kepada Allah
Jika manusia telah memiliki “jiwa yang abadi” secara alami, maka ia telah dipaksa untuk memiliki takdir abadi di suatu tempat, baik itu tempat untuk diberi upah atau untuk dihukum. Secara tidak langsung hal ini menyatakan, bahwa setiap orang tidak perlu bertanggung jawab kepada Allah. Kontras sekali dengan apa yang telah kami tunjukkan mengenai ajaran Alkitab tentang alam manusia yang sama dengan alam binatang, yang tidak abadi. Walaupun begitu, beberapa orang telah ditawarkan prospek untuk hidup abadi dalam Kerajaan Allah. Seharusnya sudah jelas, bahwa tidak setiap orang yang pernah hidup akan dibangkitkan; seperti halnya binatang, manusia hidup, lalu mati, dan membusuk di dalam debu. Tetapi, karena adanya penghakiman untujk menghukum dan memberi upah kehidupan abadi, kita harus menambahkan bahwa ada kategori tertentu diantara manusia yang akan dibangkitkan untuk dihakimi dan diupahi.
Seseorang akan dibangkitkan atau tidak, tergantung pada apakah mereka bertanggung jawab pada penghakiman atau tidak. Dasar dari penghakiman kita adalah bagaimana kita menggunakan pengetahuan kita tentang firman Allah. Kristus menjelaskan: “Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yoh. 12:48), bagi mereka yang tidak mengetahui atau memahami firman dari Kristus, dan tidak mempunyai kesempatan untuk menerima atau menolak Dia, tidak akan dicatat dalam penghakiman. “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum taurat akan binasa tanpa hukum taurat; dan semua orang yang berdosa dibawah hukum taurat akan dihakimi oleh hukum taurat” (Rm.2:12). Maka, mereka yang tidak mengetahui persyaratan dari Allah, akan lenyap seperti binatang; dan bagi mereka yang mengetahui kemudian melanggar hukum Allah, akan dihakimi, karena itu, mereka akan dibangkitkan untuk dihadapkan pada penghakiman.
Dalam pandangan Allah “dosa itu tidak diperhitungkan jika tidak ada hukum taurat”; “sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah”; “oleh hukum taurat orang mengenal dosa” (Rm. 5:13; I Yoh. 3:4; Rm. 3:20). Tanpa mengetahui hukum Allah seperti yang telah dinyatakan dalam firmanNya, “dosa tidak diperhitungkan” kepada seseorang. Oleh karena itu mereka tidak akan dihakimi atau dibangkitkan. Mereka yang tidak mengetahui firman Allah akan tetap mati seperti halnya binatang dan tumbuhan, karena mereka berada dalam posisi yang sama. “Manusia, yang…tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan” (Mzm. 49:20), “Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati” (Mzm. 49:14).
Dengan memiliki pengetahuan tentang cara-cara yang digunakan Allah, membuat kita bertanggungjawab kepadaNya atas segala perbuatan kita, dan harus dibangkitkan untuk dihadapkan pada penghakiman. Karena itu, harus dipahami bahwa tidak hanya orang-orang benar atau mereka yang dibaptis yang akan dibangkitkan. Tetapi juga prang-orang yang bertanggungjawab atas pengetahuan mereka tentang Dia. Ini adalah tema tulisan kudus yang sering kali diulangi;
-         Yohanes 15:22 menunjukkan bahwa pengetahuan tentang firman membawa pertanggungjawaban; “sekiranya Aku (Yesus) tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih bagi dosa mereka!” Roma 1:20-21 juga mengatakan hal yang sama, bahwa dengan mengenal Allah akan membuat orang “tidak dapat berdalih.”
-         “Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa…; Ia akan kubangkitkan pada akhir zaman” (Yoh. 6:45,44)
-         Hanya kepada mereka yang betul-betul tidak mengetahui jalan-jalanNya, Allah “pura-pura tidak melihat.” Bagi mereka yang mengetahui jalan-jalanNya, Dia memperhatikan dan menanti jawaban (Kis. 17:30).
-         “Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, daripadanya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk. 12:47,48). Tetapi, seberapa banyak yang akan dituntut Allah?
-         “jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak. 4:17)
-         Pertanggungjawaban yang khusus dari bangsa Israel kepada Allah, terdapat pada catatan dari wahyuNya kepada mereka sehubungan dengan diriNya (Amos 3:2).
-         Maka, berdasarkan doktrin pertanggungjawaban ini, “karena itu, bagi mereka adalah lebih baik jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran daripada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka” (II Ptr. 2:21). Ayat-ayat yang lain, yang berkaitan dengan hal ini adalah; Yoh. 9:41; 3:19, I Tim. 1:13, Hos. 4:14, Ul. 1:39.
Karena itu, memiliki pengetahuan tentang Allah akan membuat kita bertanggungjawab dihadapan kursi penghakiman; dan bagi mereka yang tidak memiliki pengetahuan ini, tidak akan dibangkitkan, karena mereka tidak perlu dihakimi. Dan karena kekurangan pengetahuan mereka akan hal ini, mereka akan “dibinasakan sama seperti binatang” (Mzm. 49:21). Ada contoh yang mengindikasikan bahwa tidak semua orang yang pernah hidup akan dibangkitkan;
-         Orang-orang dari babilon purbakala “tidak akan bangkit” setelah kematian mereka, karena mereka tidak mengenal Allah yang benar (Yer. 51:39, Yes. 43:17).
-         Yesaya membesarkan hatinya sendiri dengan mengatakan; “Ya Tuhan, Allah kami, tuan-tuan lain pernah berkuasa atas kami (filistin dan babilon)…Mereka sudah mati, tidak akan hidup pula, sudah menjadi arwah, tidak akan bangkit pula;…dan meniadakan segala ingatan kepada mereka” (Yes. 26:13,14). Catat, ada tiga kali penegasan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan; “tidak akan hidup…tidak akan bangkit…meniadakan segala ingatan kepada mereka.” Sebaliknya, Israel memiliki prospek untuk dibangkitkan di dalam catatan mengenai mereka tentang Allah yang benar: “orang-orangMu (Israel) yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula” (Yes. 26:19).
-         Berbicara tentang orang-orang Israel milik Allah, kita diberitahu bahwa pada waktu kedatangan Kristus, “Banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal” (Dan. 12:2). Walaupun “banyak”, tapi tidak semua orang-orang Yahudi akan dibangkitkan, sehubungan dengan tanggung jawab mereka kepada Allah, sebagai umat pilihanNya. Mereka yang betul-betul tidak mengenal Allah mereka yang benar “akan jatuh” dan tidak akan bangkit lagi, karena mereka tidak sanggup untuk menemukan “firman Tuhan” (Amos 8:12,14).
Kita telah mempelajari tentang:
1.      Pengetahuan tentang firman Allah akan membawa pertanggungjawaban kepadaNya
2.      Hanya mereka yang dimintai tanggung jawab yang akan dibangkitkan dan dihakimi
3.      Mereka yang tidak mengetahui Allah yang benar akan tetap mati seperti halnya binatang.
Pengertian dari kesimpulan-kesimpulan ini akan membuat harga diri manusia jatuh, hal tersebut adalah murni berasal dari Alkitab, yang kami yakini; ribuan orang yang hidup pada saat ini dan masa lalu, yang tidak mengetahui kebenaran Injil, yang mentalnya terganggu, yang tidak dapat memahami ajaran-ajaran Alkitab, bayi dan kanak-kanak yang telah mati sebelum mencapai usia yang cukup untuk menghargai Injil; mereka semua termasuk dalam kelompok orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah dan tidak bertanggung jawab kepada Allah. Hal ini mengartikan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, tanpa memperhatikan status rohani dari orang tua mereka. Hal ini sungguh bertentangan dengan inti dari humanisme dan segenap perasaan dan keinginan daging kita. Sikap rendah hati yang benar terhadap firman Allah, yang merupakan kebenaran, ditambah dengan pendapat yang tepat mengenai alam kita, akan membimbing kita untuk menerima kebenaran ini. Pemeriksaan yang jujur terhadap fakta-fakta sejarah manusia, bahkan tanpa petunjuk dari tulisan kudus, juga akan menuntun kita pada kesimpulan bahwa tidak ada harapan di masa yang akan datang bagi kelompok orang-orang yang telah disebutkan diatas.
Mengenai hal ini, tidak sepantasnya kita bertanya kepada Allah, karena; “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah?” (Rm. 9:20). Kita boleh mengakui bahwa kita tidak memahami hal ini, tapi jangan pernah menuduh bahwa Allah tidak adil atau jahat. Pendapat bahwa Allah dapat menjadi jahat pada saat tertentu atau salah dalam memutuskan harapan yang menakutkan bagi manusia; sebagai Allah yang maha perkasa, Bapa, dan Sang Pencipta yang memperlakukan ciptaanNya dengan cara yang tidak adil dan tidak beralasan; dapat diklarifikasi dengan membaca catatan mengenai Raja Daud yang kehilangan anaknya. II Samuel 12:15-24 menceritakan tentang bagaimana Daud berdoa dengan sungguh-sungguh agar mungkin anaknya dapat hidup kembali, akhirnya, dengan realistis dia dapat menerima kematian anaknya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu Tuhan mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.” Kemudian Daud menghampiri istrinya, dan mempunyai anak yang lain segera setelah peristiwa itu.
Akhirnya, harus diakui bahwa banyak orang yang telah mengenal prinsip pertanggungjawaban kepada Allah, tidak ingin lagi mempelajari pengetahuan yang lain tentang Dia karena harus mempertanggungjawabkan pengetahuan tersebut kepada Allah pada penghakiman. Tetapi dalam tingkat tertentu, orang-orang seperti mereka, yang bertanggungjawab kepada Allah, dengan berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki tentang firman Allah, menyadari, bahwa Allah turut bekerja dalam kehidupan mereka, dan juga menawarkan persahabatan yang nyata kepada mereka. Harus selalu diingat, bahwa “Allah adalah kasih”, “Ia mengehendaki supaya jangan ada yang binasa” dengan “mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (I Yoh. 4:8; II Ptr. 3:9; Yoh. 3:16). Sesungguhnya, Allah ingin kita berada di dalam KerajaanNya.
Kehormatan dan hak istimewa seperti itu akan mendatangakan pertanggungjawaban. Bahkan hal-hal ini tidak dirancang untuk menjadi beban yang berat bagi kita; J\jika kita sungguh mengasihi Allah, kita akan memahami bahwa keselamatan yang ditawarkan olehNya bukanlah suatu upah yang otomatis diberikan karena telah mengerjakan sesuatu, tetapi adalah kasihNya untuk melakukan apapun yang ia dapat lakukan demi anak-anakNya. Dengan memberikan mereka kebahagiaan yang abadi atas penghargaan mereka terhadap karakterNya yang menakjubkan.
Sebagaimana kita menghargai dan mendengarkan panggilan Allah kepada kita melalui firmanNya, maka kita akan menyadari bahwa selagi kita berjalan diantara kumpulan orang banyak, Allah memperhatikan kita dengan perhatian khusus dan minat yang besar untuk menanti jawaban kita atas kasihNya, daripada menanti kegagalan kita untuk bertindak sehubungan dengan pertanggungjawaban kita kepadaNya. MataNya tidak pernah berpaling dari kita, dan kita tidak tidak dapat melupakan atau membatalkan pengetahuan yang kita miliki tentang Dia, dengan tujuan agar kita dapat menuruti keinginan daging kita, dan tidak perlu bertanggungjawab kepadaNya. Sebaliknya, kita harus bersukacita atas kedekatan kita dengan Dia, dan percaya pada ketulusan kasihNya, yang pernah kita cari untuk mengenal Dia lebih jauh lagi daripada sebelumnya. Kasih kita untuk mengetahui jalan-jalan dan kehendak Allah, membuat kita dapat meniruNya dengan akurat, dan menyingkirkan ketakutan kita yang secara alami atas ke-Maha SucianNya.
5.1 Penegasan Kerajaan
Pada pelajaran yang sebelumnya telah ditunjukkan bahwa, adalah tujuan Allah untuk mengupahi umatNya yang beriman dengan memberikan kehidupan abadi pada saat kedatangan Kristus. Pengulangan janji-janji Allah sehubungan dengan hal ini tidak pernah dinyatakan secara tidak langsung bahwa orang-orang beriman akan pergi ke surga. “Injil Kerajaan Allah” (Mat. 4:23) telah diberitakan kepada Abraham melalui janji-janji Allah sehubungan dengan kehidupan abadi di bumi (Gal. 3:8). Oleh karena itu janji-janji tentang “Kerajaan Allah” akan digenapi setelah kedatangan Kristus. Walaupun pada akhirnya Allah akan menjadi Raja atas seluruh ciptaanNya, saat ini ia telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memerintah dunia dan menentukan nasib mereka sendiri seperti yang mereka inginkan. Karena itu dunia yang sekarang terdir idari “kerajaan manusia” (Dan. 4:17).
Pada saat kedatanganKristus, “Pemerintahan atas dunia (akan) dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapinya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya” (Why. 11:15). Karena seluruh kehendak Allah akan dilaksanakan sepenuhnya di atas bumi, maka Yesus memerintahkan kita untuk berdoa agar “jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga” (Mat. 6:10). Berdasarkan ayat ini, kita dapat mengetahui bahwa “Kerajaan Allah” juga dapat disebut dengan “Kerajaan Surga” (Mat. 13:11 bandingkan Mrk. 4:11). Catat, bukan “Kerajaan di Surga.” Tetapi adalah Kerajaan Surga yang akan didirikan di bumi pada saat kedatangan Kristus. Sebagaiman kehendak Allah yang ditaati sepenuhnya oleh para malaikat di surga (Mzm. 103:19-21), maka begitu juga dengan Kerajaan Allah di masa depan ketika bumi hanya dihuni oleh orang-orang yang benar, yang “sama seperti malaikat” (Luk. 20:36).
Oleh karena itu, dengan memasuki Kerajaan Allah pada saat kedatangan Kristus, adalah akhir dari perjuangan hidup kita sebagai orang Kristen dalam kehidupan ini (Mat. 25:34, Kis. 14:22). Untuk itu penting sekali memahami dengan benar tentang hal tersebut. Pemberitaan Filipus tentang Kristus didefinisikan sebagai pemberitaan “tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus” (Kis. 8:5,12). Ayat demi ayat mengingatkan kita bagaimana “Kerajaan Allah” menjadi tema utama dari pemberitaan Paulus (Kis. 19:8; 20:5; 28:23,31). Oleh karena itu sangat penting untuk memahami dengan baik doktrin Kerajaan Allah, mengingat hal ini adalah inti dari pemberitaan Injil, “bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami sengsara” (Kis. 14:22); Itulah cahaya diakhir perjalanan hidup kita, yang memotivasi kita untuk memberikan korban-korban di dalam hidup kita sebagai orang Kristen yang benar.
Raja Babilon, Nebukadnezar ingin mengetahui tentang masa depan dari dunia ini (lihat Daniel 2). Ia bermimpi melihat patung yang besar, yang terbuat dari logam-logam yang berbeda. Daniel menafsirkan mimpinya, kepala patung yang terbuat dari emas adalah Raja Babilon (Dan. 2:38). Setelah itu akan datang kerajaan besar yang menaklukan daerah-daerah di sekeliling Israel, “tetapi sebagaimana jari-jari kaki itu sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat, demikianlah kerajaan itu akan menjadi keras sebagian dan rapuh sebagian” (Dan. 2:42).
Keseimbangan kekuasaan di dunia ini terbagi-bagi diantara bangsa-bangsa, ada yang kuat dan ada yang lemah. Kemudian Daniel melihat batu kecil yang menghantam kaki dari patung itu. Setelah menghancurkannya, batu itu tumbuh menjadi gunung yang besar, yang memenuhi seluruh bumi (Dan. 2:34,35). Batu itu melambangkan Yesus (Mat. 21:42; Kis. 4:11; Ef. 2:20; I Ptr. 2:4-8), dan “gunung” itu melambangkan Kerajaan Allah yang abadi, yang akan didirikan pada saat kedatangannya yang kedua. Nubuat ini membuktikan bahwa Kerajaan Allah akan didirikan di bumi, dan bukan di surga.
Bahwa Kerajaan itu akan didirikan pada saat kedatangan Kristus, adalah tema pada bagian-bagian lain dari Alkitab. Paulus mengatakan bahwa Yesus menghakimi orang yang hidup dan yang mati “demi pernyataannya dan demi kerajaannya” (2 Tim. 4:1). Mikha 4:11 mengutip ayat di buku Daniel sehubungan dengan Kerajaan Allah, yang disamakan dengan gunung yang besar; “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah Tuhan akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit.” Selanjutnya dijelaskan bahwa kerajaan itu akan didirikan di bumi (Mi. 4:1-4). Karena itu Allah akan menyerahkan takhta Daud kepada Yesus di Yerusalem: “Ia akan menjadi Raja…sampai selama-lamanya dan Kerajaannya tidak akan berkesudahan” (Luk. 1:32,33). Hal ini ditetapkan sebagai poin tersendiri sebelum Yesus mulai memerintah dari takhta Daud; yang akan terjadi pada saat kedatangan Kristus, berdasarkan; “Kerajaannya tidak akan berkesudahan” dikaitkan dengan Daniel 2:44; “Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain.” Wahyu 11:15 juga menggunakan bahasa yang sama sewaktu menjelaskan tentang kedatangan Kristus yang kedua, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapiNya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya.” Sekali lagi ditegaskan, bahwa ada waktu yang spesifik bagi Kerajaan Kristus untuk memulai pemerintahannya di bumi, yaitu pada saat kedatangannya.
5.2 Kerajaan itu belum didirikan pada saat ini
Ada suatu kepercayaan yang diakui secara luas, bahwa Kerajaan Allah telah sepenuhnya didirikan pada saat ini, melalui sekumpulan orang-orang percaya yang benar sebagai suatu ”Gereja.” Sebagaimana tujuan Allah untuk ”menyelamatkan” orang-orang percaya yang benar dan memberikan mereka tempat di Kerajaan, maka tidak dapat dibantah jika pada saat ini kita belum berada di dalam Kerajaan itu, dengan mengingat bahwa Kristus belum datang kembali untuk mendirikannya.
Seharusnya sudah jelas, dari apa yang telah kita pelajari sejauh ini, bahwa ”daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (I Kor. 15:50). Kita adalah ”ahli waris dari Kerajaan yang telah dijanjikanNya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (Yak. 2:5), dengan mengingat bahwa melalui pembaptisan, kita menjadi ahli waris dari janji-janji kepada Abraham, yaitu dasar dari Injil Kerajaan. (Mat. 4:23; Gal. 3:8, 27-29). Oleh karena itu, pada umumnya kita akan menjumpai janji-janji untuk mewarisi Kerajaan pada saat Kristus datang, yaitu pada saat janji-janji kepada Abraham akan digenapi (Mat. 25:34; I Kor. 6:9,10; 15:50; Gal. 5:21; Ef. 5:5). Seringnya digunakan bahasa seperti ini untuk menjelaskan tentang warisan di masa depan, menunjukkan bahwa Kerajaan tersebut bukanlah keberadaan dari sekumpulan orang-orang percaya pada saat ini.
Yesus menjelaskan suatu perumpamaan untuk mengoreksi mereka yang berpikir ”bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Maka Ia berkata; ”Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi Raja disitu dan setelah itu baru kembali.” Untuk sementara waktu ia meninggalkan pelayan-pelayannya dengan tanggung jawab masing-masing. ”ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi Raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya,” kemudian menghakimi mereka (Luk. 19:11-27).
Bangsawan itu melambangkan Kristus yang pergi ke ”negeri yang jauh” di langit untuk menerima Kerajaan, dan kembali pada saat penghakiman, yaitu pada saat kedatangannya yang kedua. Oleh karena itu mustahil bagi ”hamba-hambanya” untuk menerima Kerajaan itu pada saat ini, yaitu pada masa ketidakhadiran tuan mereka.
Berikut ini adalah bukti-bukti sehubungan dengan hal tersebut;
-         ”Kerajaanku bukan dari dunia (zaman) ini” dengan jelas dinyatakan oleh Yesus (Yoh. 18:36). Pada waktu yang sama ia juga mengatakan, ”Aku adalah Raja” (Yoh. 18:37), yang menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristus pada saat ini tidak mengartikan bahwa Kerajaannya telah didirikan. Bahkan orang-orang beriman pada abad pertama dijelaskan sedang MENANTIKAN ”Kerajaan Allah” (Mrk. 15:43).
-         Kristus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa ia tidak akan minum lagi hasil dari pokok anggur ”sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan BapaKu” (Mat. 26:29). Ayat ini dengan jelas menyatakan secara tidak langsung bahwa Kerajaan itu akan didirikan pada masa depan, sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang pada saat itu sehubungan dengan pemberitaan Kristus mengenai ”Injil Kerajaan Allah” (Luk. 8:1). ”Berbahagialah orang yang akan (pada masa depan) dijamu dalam Kerajaan Alah” (Luk. 14:15).
-         Lukas 22:29, 30 melanjutkan tema ini: ”Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu...bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam KerajaanKu.”
-         Yesus menjelaskan tanda-tanda yang akan menyertai kedatangannya, dan menambahkan komentar, ”jika kamu melihat hal-hal itu terjadi ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat” (Luk. 21:31). Omong kosong ayat ini, jika Kerajaan itu sudah ada sebelum kedatangannya yang kedua.
-         ”Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis. 14:22) Tidak mengherankan jika setiap orang percaya yang menderita, dengan sungguh-sungguh berdoa agar Kerajaan itu segera datang (Mat. 6:10)
-         Allah telah ”memanggil kamu ke dalam Kerajaan” (I Tes. 2:12); sebagai jawaban, kita harus mencari jalan untuk masuk ke dalam Kerajaan itu melalui kehidupan rohani kita pada saat ini (Mat. 6:33).
Apakah Kerajaan Allah ada di dalam diri anda?
Walaupun segala hal yang menyangkut tentang Kerajaan ditegaskan, banyak orang-orang “Kristen” Ortodoks memilih untuk mempercayai bahwa Kerajaan itu ada di dalam hati setiap orang yang percaya. Keyakinan ini hanya didasari satu ayat, “Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:21). Konteks ayat ini menunjukkan bahwa Yesus sedang berbicara dengan orang-orang Farisi (ayat 20); oleh karena itu, kata “kamu” menunjuk kepada mereka. Tentu saja mereka bukan orang Kristen, sehingga Kerajaan Allah tidak akan ada di hati mereka.
Orang-orang Yahudi mengadakan pertunjukkan umum yang besar, karena begitu bersemangat dalam mencari Mesias. Pada ayat tersebut, “Kerajaan Allah” lebih menunjuk kepada gelar dari Mesias, dengan mengingat bahwa Dialah yang akan menjadi Raja di dalam Kerajaan itu. Oleh karena itu, ketika Yesus memasuki Yerusalem orang-orang berteriak, “Diberkatilah dia (Mesias) yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana ditempat yang maha tinggi” (Mrk. 11:9,10). Mesias dihubungkan dengan “Kerajaan.” Karena itu Yohanes pembaptis mengajarkan bahwa “Kerajaan Surga sudah dekat, Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya” (Mat. 3:2,3). Dalam pemahaman kami di Lukas 17:20-24, Yesus telah menjawab pertanyaan orang-orang Farisi tentang “kedatangan Kerajaan Allah,” dengan menjelaskan tentang kedatangan “Anak Manusia.”
Tujuan Yesus adalah untuk menyatakan bahwa penantian orang Yahudi atas Mesias, dengan menantikannya sebagai orang yang perkasa, adalah salah. Mereka tidak menyadari bahwa Mesias “Kerajaan Allah,” yaitu Yesus, telah hadir diantara mereka dengan kerendahan hatinya. Karena itu ia memperingatkan mereka; “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah...Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:20,21).
5.3 Kerajaan Allah di Masa Lalu
Kerajaan Allah adalah upah di masa depan bagi orang-orang percaya. Hal itu tentunya menjadi motivasi bagi mereka untuk hidup menurut teladan Kristus, yang meliputi penderitaan jangka pendek atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, diharapkan agar di dalam hari-hari kehidupan mereka, takkan pernah berkurang keinginan untuk menghargai dan memahami keajaiban di masa depan Kerajaan Allah, yang juga merupakan tujuan akhir dari perjuangan rohani dan pernyataan sepenuhnya atas Allah yang mereka kasihi seperti orang tua mereka sendiri.
Tulisan-tulisan kudus penuh dengan penjelasan terperinci mengenai Kerajaan Allah, dan akan menghabiskan waktu seumur hidup hanya untuk menemukan sebagian kecil darinya. Salah satu cara untuk dapat memahami beberapa prinsip Alkitab mengenai Kerajaan di masa depan ini adalah dengan mengakui bahwa Kerajaan Allah pernah berdiri di masa lalu, melalui perwujudan bangsa Israel. Kerajaan ini akan didirikan lagi pada saat kedatangan Kristus. Alkitab memberikan kita banyak informasi tentang bangsa Israel, dengan tujuan agar kita dapat memahami dengan luas bagaimana Kerajaan Allah di masa depan diorganisir.
Allah seringkali disebut sebagai “Raja Israel” (Yes. 44:6 bandingkan Yes. 41:27; 43:15, Mzm. 48:2; 89:18; 149:2); karena bangsa Israel adalah KerajaanNya. Mereka mulai menjadi Kerajaan Allah, pada saat mereka memasuki Perjanjian dengan Allah di gunung Sinai, segera setelah mereka dibebaskan dari Mesir, dengan melalui laut merah. Sebagai jawaban atas kebersediaan mereka untuk menjaga Perjanjian itu, mereka dijadikan “Kerajaan Imam dan Bangsa yang Kudus” (Kel. 19:5,6). Maka, “Pada waktu Israel keluar dari Mesir…maka Yehuda menjadi tempat KudusNya, Israel wilayah kekuasaanNya” atau KerajaanNya (Mzm. 114:1,2). Setelah memasuki Perjanjian ini, Israel mengadakan perjalanan melewati padang gurun Sinai dan menetap di tanah perjanjian Kanaan. Walaupun Allah adalah Raja mereka, tetapi mereka diperintah oleh “hakim-hakim” (Gideon, Samson, dll.). Hakim-hakim ini bukanlah Raja, tetapi pemimpin-pemimpin yang berada dibawah bimbingan Allah, yang memerintah hanya di beberapa daerah di Israel, tidak seluruhnya. Mereka dipilih Allah untuk tujuan tertentu, misalnya untuk menyerahkan Israel ke tangan musuh-musuh mereka, agar mereka bertobat. Ketika bangsa Israel meminta kepada Gideon untuk menjadi Raja mereka, ia menjawab; “Aku tidak akan memerintah kamu…Tuhan yang memerintah kamu.” (Hak. 8:23).
Hakim yang terakhir adalah Samuel. Pada masanya, bangsa Israel meminta diberikan seorang Raja dari kalangan manusia, agar sama seperti bangsa-bangsa disekitar mereka (I Sam. 8:5,6). Sepanjang sejarah, umat Allah yang benar seringkali tergoda untuk merendahkan kedekatan hubungan mereka dengan Allah, dan mengorbankannya hanya karena penampilan, agar kelihatan sama dengan dunia di sekitar mereka. Allah mengeluh kepada Samuel; “Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka” (I Sam. 8:7). Walaupun begitu, Allah tetap memberikan mereka Raja, dimulai dengan Saul yang jahat. Setelah dia Daud, dan raja-raja berikutnya berasal dari garis keturunannya. Raja-raja yang memiliki pemahaman rohani yang baik menyadari bahwa Israel tetap Kerajaan milik Allah, tetapi walaupun begitu mereka tetap menolak kepemimpinanNya. Mereka juga menyadari kepemimpinan mereka atas Israel atas kehendak Allah dan bukan atas kehendak mereka sendiri.
Dengan memahami prinsip ini, dapat membuat kita memahami penjelasan dari Salomo, anak Daud, yang memerintah ”diatas takhtaNya (Allah), sebagai Raja untuk Tuhan, Allahmu!” (II Taw. 9:8; I Taw. 28:5; 29:33). Pemerintahan Salomo penuh dengan kedamaian, yang merupakan gambaran dari Kerajaan Allah di masa depan. Inilah sebabnya mengapa ia disebut Raja yang memerintah Israel dengan mengatasnamakan Allah, seperti Yesus yang juga duduk di takhta Allah sebagai Raja Israel untuk Allah (Mat. 27:37,42; Yoh. 1:49; 12:13).
Perjanjian Lama mencatat banyak dari raja-raja yang baik yang menikmati pemerintahannya, yang serupa dengan Kerajaan Kristus di masa depan. Sebagaimana halnya Salomo membangun Bait Allah di Yerusalem, demikian juga Kristus akan membangun Kerajaan di masa depan (lihat Yeh. 40-48). Dan Seperti Hizkia dan Salomo yang menerima pemberian-pemberian dan upeti dari bangsa-bangsa disekeliling mereka (I Raj. 10:1-4; II Raj. 20:12) dan melihat tanah Israel diberkati dengan kesuburan yang menakjubkan dan kemakmuran (I Raj. 10:5-15, Yes. 37:30), hal yang sam juga akan terjadi pada Kerajaan Kristus, tetapi dengan skala yang lebih besar.
Perkawinan
Walaupun Salomo memulai pemerintahannya dengan baik, karena umurnya yang masih muda, ia membuat kesalahan dalam hal perkawinan, yang membuat imannya semakin melemah seiring ia bertumbuh menjadi dewasa. ”Raja salomo mencintai banyak perempuan asing...perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon, Het, padahal tentang bangsa-bangsa itu Tuhan telah berfirman kepada orang Israel: ”Janganlahkamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah merela.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta...istri-istrinya itu menarik hatinya daripada Tuhan. Sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya...dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, dan ia tidak dengan sepenuh hati, mengikuti Tuhan...Sebab itu Tuhan menunjukkan murkaNya kepada Salomo...Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Salomo...Aku akan menggoyahkan kerajaan itu daripadamu” (I Raj. 11:1-11).
Jatuhnya Salomo ke dalam kemurtadan memakan waktu yang cukup lama. Hubungannya dengan wanita-wanita yang tidak ia ajarkan pengetahuan tentang Allah Israel, membuat ia menjadi simpati kepada allah-allah palsu mereka. Cintanya kepada istri-istrinya membuat ia tidak lagi memandang penyembahan allah-allah ini sebagai perbuatan yang tidak wajar kepada Allah yang benar. Dan seiring waktu berjalan, ia tidak lagi menyembah kepada Allah Israel. ”ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan,” hati nuraninya tidak lagi merasa terganggu terhadap penyembahan allah-allah palsu. Hatinya yang tidak sepenuh hati dalam mengadakan perjanjian dengan Allah sama dengan ”melakukan apa yang jahat di mata Tuhan,” sebagai akibatnya, Allah yang benar memutuskan hubungannya dengan Salomo. Bangsa Israel seringkali diberitahu Allah agar jangan mengambil istri-istri dari bangsa-bangsa yang berada di sekeliling mereka (Kel. 34:12-16; Yos. 23:12,13; Ul. 7:3).
Melalui pembaptisan di dalam Kristus kita menjadi bangsa Israel rohani. Jika kita belum menikah, kita hanya boleh menikahi orang-orang Israel rohani, “di dalam Yesus” (I Kor. 7:39), yaitu orang-orang percaya yang dibaptis ”di dalam Kristus.” Jika kita sudah menikah sebelum dibaptis, kita tidak boleh berpisah dengan pasangan kita; karena hubungan perkawinan kita dikuduskan oleh iman kita (I Kor. 7:12-14). Dengan sadar memilih untuk mengawini mereka yang tidak mengetahui kehendak dari Allah yang benar, dalam jangka panjang akan menuntun kita kepada kemurtadan. Jelas sekali bahwa Salomo telah gagal dalam menghargai kebenaran dari peringatan Allah akan istri-istrinya, “sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu” (I Raj. 11:2; Kel. 34:16). Hanya dengan pengendalian diri pada tingkat yang luar biasa, dan pertobatan yang sungguh-sungguh, dapat membuat kita menerima perintah ini.
Dari permulaan kami telah menujukkan, bahwa Kristen Ortodoks tidak menghargai ajaran orang-orang Yahudi yang merupakan dasar dari pengharapan orang Kristen; mereka tidak mengenal Allah Israel yang benar. Perkawinan campur dengan orang-orang seperti itu pada umumnya akan membuat kita secara berangsur-angsur menolak kebenaran dari doktrin-doktrin yang mulia, yang merupakan dasar dari keselamatan kita. Untuk alasan inilah Ishak dan Yakub menempuh jarak yang sangat jauh untuk menikahi wanita yang memiliki iman yang benar, bahkan Ishak harus menunggu sampai ia berusia 40 tahun untuk mendapatkan wanita yang tepat (Kej. 24:3,4; 28:1). Kesedihan Ezra dan Nehemia saat mendengar ada beberapa dari orang-orang Yahudi yang mengawini orang-orang yang bukan Yahudi menunjukkan betapa pentingnya masalah ini (Ezra 9:12; Neh. 10:29,30).
Kami menyinggung masalah ini pada bagian ini, untuk memberikan gambaran lebih jauh tentang perkawinan; untuk lebih jelas lagi dapat dilihat di pelajaran 11.4
Penghakiman Allah
Sebagai akibat dari kemurtadan Salomo, Kerajaan Israel terbagi menjadi dua; Rehabeam, anak Salomo, memerintah atas suku Yehuda dan Benyamin, dan setengah dari suku Manasye; dan Yerobeam memerintah atas sepuluh suku yang lain. Kerajaan sepuluh suku ini disebut Israel atau Efraim, dan Kerajaan dua suku itu disebut Yehuda. Orang-orang dari semua suku ini sebagian besar mengikuti kejahatan yang dilakukan Salomo, mereka mengaku percaya kepada Allah yang benar, tetapi pada saat yang bersamaan mereka juga menyembah berhala-berhala dari bangsa-bangsa yang ada di sekeliling mereka. Berulang kali dengan perantaraan nabi-nabi, Allah memperingati mereka agar bertobat, tetapi selalu diabaikan. Karena inilah maka Allah menghukum mereka dengan mengeluarkan mereka dari Kerajaan Israe, dan menyerahkan mereka ke dalam tangan musuh-musuh mereka, yaitu Asyur dan Babilon, yang menyerang mereka dan membawa mereka ke dalam penawanan; ”Namun bertahun-tahun lamanya Engkau melanjutkan sabarMu terhadap mereka dengan RohMu (Firman) Engkau memperingatkan mereka, yakni dengan perantaraan para nabiMu, tetapi mereka tidak menghiraukannya, sehingga Engkau menyerahkan mereka ke tangan bangsa-bangsa segala negeri” (Neh. 9:30).
Kerajaan sepuluh suku Israel sama sekali tidak memiliki raja yang baik. Yerobeam, Ahab, Yoahas, dll. Semuanya tercatat dalam buku Raja-raja sebagai penyembah berhala. Raja mereka yang terakhir adalah Hosea, dalam masa pemerintahannya, Israel dikalahkan oleh Asyur dan sepuluh suku Isarel dibawa ke dalam penawanan (II Raj. 17). Sejak itu mereka tidak pernah kembali lagi ke Israel.
Kerajaan dua suku Yehuda memiliki beberapa raja yang baik (Hizkia, Yosia), meskipun sebagian besar dari antara raja-raja mereka jahat. Karena umatNya terus mengulangi perbuatan-perbuatan jahat, Allah menggulingkan Yehuda sebagai KerajaanNya pada masa pemerintahan raja mereka yang terakhir, Zedekia. Mereka dikepung oleh orang-orang Babilon dan dibawa ke Babilon sebgai tawanan (II Raj. 25). Mereka berada di sana selama 70 tahun, setelah itu beberapa dari mereka kembali ke Israel dibawah pimpinan Ezra dan Nehemia. Mereka tidak lagi memiliki raja sejak saat itu, selanjutnya mereka diperintah oleh bangsa-bangsa; Babilon, Yunani, dan Roma. Yesus lahir pada masa pemerintahan Roma. Karena Orang Yahudi menolak Yesus, maka atas kehendak Allah, Roma menyerang Yerusalem pada tahun 70 M, dan mereka tercerai-berai ke segala penjuru dunia. Dalam waktu kurang lebih 100 tahun hingga saat ini, mereka telah mulai kembali ke negeri mereka, yang juga merupakan tanda dari kedatangan Kristus (Tambahan 3).
Yehezkiel 21:25-27 menubuatkan akhir dari Kerajaan Allah ini seperti yang terlihat pada bangsa Israel; ”Dan hai engkau, raja Israel (Zedekia), orang fasik yang durhaka, yang saatmu sudah tiba...beginilah firman Tuhan Allah; Jauhkanlah serbanmu dan buangkanlah mahkotamu; Tiada yang tetap seperti keadaannya sekarang...Puing, puing, puing akan kujadikan dia! Inipun tidak akan tetap. Sampai Ia datang yang berhak atasnya, dan kepadanya akan Kuberikan itu.” Ayat demi ayat dari kitab nabi-nabi meratapi akhir dari Kerajaan Allah (Hos. 10:3; Rat. 5:16; Yer. 14:21; Dan. 8:12-14).
Pengulangan kata ”puing” sebanyak tiga kali pada Yehezkiel 21:25-27, menunjukkan bahwa penyerangan yang dilakukan oleh Nebukadnezar, Raja Babilon, akan dilakukan sebanyak tiga kali. Pelajar yang membaca dengan cermat akan menemukan contoh yang lain pada ayat-ayat ini, tentang bagaimana Kerajaan Allah dan Rajanya dikaitkan, yaitu kejatuhan Kerajaan Allah sama dengan kejatuhan dari Zedekia (lihat pelajaran 5.2). Maka Kerajaan Allah, yaitu bangsa Israel, berakhir; ”Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel” (Hos. 1:4). ”Sampai ia datang yang berhak atasnya, dan kepadanya akan kuberikan itu.” Allah akan ”mengaruniakan kepadanya (Yesus) takhta daud...dan Kerajaannya tidak akan berkesudahan” (Luk. 1:32,33), yang akan didirikan pada saat kedatangan Kristus, dimana janji tentang pembangunan kembali Kerajaan itu akan digenapi.
Pemulihan Israel
Ada suatu tema besar yang disampaikan oleh para nabi-nabi di dalam Perjanjian Lama tentang Pemulihan Kerajaan Allah pada saat kedatangan Kristus. Murid-murid Kristus menanyakan tentang hal ini; ”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan Kerajaan bagi Israel?” atau akankah Yehezkiel 21:27 akan digenapi pada saat ini? Yesus menjawabnya dengan mengatakan bahwa mereka tidak perlu mengetahui dengan pasti waktu kedatangannya yang kedua; sesudah itu malaikat segera mengangkatnya, dan meyakinkan mereka bahwa dengan cara yang sama Ia akan datang kembali” (Kis. 1:6-11).
Oleh karena itu pemulihan Kerajaan Allah/Israel, akan dilakukan pada saat kedatangannya yang kedua. Karena itu Petrus mengajarkan bahwa Allah akan mengutus ”Yesus Kristus...di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabiNya yang kudus di zaman dahulu” (Kis. 3:20,21). Pada saat kedatangannya yang kedua ia akan mendirikan kembali Kerajaan Allah dan memulihkan Kerajaan Israel di masa lalu.
Pemulihan Kerajaan Allah adalah tema yang sebenarnya dari firman ”nabi-nabiNya yang kudus”;
-         ”Maka sautu takhta akan ditegakkan dalam kasih setia dan diatasnya, dalam kemah Daud (pada kedatangan Yesus yang kedua Luk. 1:32,33), akan duduk senantiasa seorang hakim (Yesus) yang menegakkan keadilan dan yang segera melakukan kebenaran” (Yes. 16:5).
-         ”Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud (”takhta” Daud  Luk. 1:32,33) yang telah roboh; Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya” (Amos 9:11) kata-kata terakhir dengan jelas mengartikan pemulihan.
-         ”Anak-anak mereka (Israel) akan menjadi seperti dahulu kala, dan perkumpulan mereka akan tinggal tetap di hadapanKu” (Yer. 30:20)
-         ”dan Ia akan memilih Yerusalem pula” (Za. 2:12), dengan menjadikannya sebagai ibukota dari Kerajaannya (bandingkan Mzm. 48:2; Yes. 2:2-4)
-         ”Aku akan memulihkan keadaan Yehuda dan Israel dan akan membangun mereka seperti dahulu...akan terdengar lagi suara kegirangan dan suara sukacita...Sebab Aku akan memulihkan keadaan negeri ini (Yerusalem) seperti dahulu...akan ada lagi padang rumput bagi gembala-gembala...kambing domba akan lewat lagi...” (Yer. 33:7-13).
Kedatangan Kristus untuk mendirikan Kerajaan ini benar-benar menjadi ”Pengharapan dari Israel” yang juga ada hubungannya dengan pembaptisan kita.
5.4 Kerajaan Allah di Masa Depan
Pada bagian satu dan tiga dari pelajaran ini, telah diberikan informasi yang cukup sehubungan dengan Kerajaan Allah. Kita telah melihat bahwa Abraham dijanjikan melalui keturunannya, seluruh bangsa  di bumi akan diberkati; Roma 4:13 menjelaskan hal ini lebih lanjut dengan mengatakan bahwa seluruh bumi akan diwarisi oleh orang-orang yang berada “di dalam keturunan Abraham,” yaitu Yesus. Nubuat tentang patung besar di Daniel 2 menjelaskan bagaimana Kristus akan datang kembali seperti sebuah batu kecil, kemudian secara berangsur-angsur Kerajaannya akan menyebar ke seluruh dunia (bandingkan Mzm. 72:8). Hal ini mengartikan bahwa Kerajaan Allah tidak hanya berlokasi di Yerusalem atau di tanah Israel, sebagai pusatnya, tetapi seluruh negeri ini akan menjadi jantung dari Kerajaan itu.
Bagi mereka yang menjadi pengikut Kristus akan “menjadi suatu Kerajaan dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai Raja di bumi” (Why. 5:10). Kita akan memerintah atas daerah-daerah dengan ukuran-ukuran dan jumlah yang berbeda; yang satu akan memerintah atas sepuluh kota, dan yang lain atas lima kota (Luk. 19:17). Kristus akan membagi kepemimpinannya atas bumi dengan kita (Why. 2:27; II Tim. 2:12). ”Seorang Raja (Yesus) akan memerintah menurut kebenaran dan pemimpin-pemimpin (orang-orang yang percaya) akan memimpin menurut keadilan” (Yes. 32:1; Mzm. 45:16).
Kristus akan memerintah selamanya di atas takhta Daud yang akan didirikan kembali (Luk. 1:32,33). Ia akan mewarisi singgasana Daud dan kedudukkannya sebagai pemimpin, yang terletak di Yerusalem. Karena dari Yerusalem ia akan memerintah. Karena itu Yerusalem akan menjadi ibukota dari Kerajaan yang akan datang. Di tempat inilah Bait Allah akan dibangun kembali (Yeh. 40-48). Tempat dimana orang-orang dari berbagai penjuru dunia akan menyembah Allah (Mal 1:11). Bait ini akan menjadi pusat peribadatan dunia. Bangsa-bangsa “akan datang tahun demi tahun untuk sujud menyembah kepada Raja, Tuhan semesta alam, dan untuk merayakan hari raya Pondok Daun” (Za. 14:16).
Ziarah tahunan ke Yerusalem ini juga dinubuatkan di Yesaya 2:2,3; “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung (kerajaan Dan. 2:35,44) tempat rumah Tuhan (bait) akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung (Kerajaan Allah dan baitNya akan mengatasi kerajaan-kerajaan manusia)…segala bangsa akan berduyun-duyun kesana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalanNya…sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman Tuhan dari Yerusalem.” Hal ini memberikan gambaran hari-hari pertama dari Kerajaan itu, orang-orang menyebarkan pengetahuan tentang kepemimpinan Kristus kepada yang lain, dan mereka naik ke “gunung” dari Kerajaan Allah, yang secara perlahan akan menyebar ke seluruh dunia. Dari hal ini kita mendapat gambaran mengenai penyembahan kepada Allah yang benar yang akan dilakukan dengan semangat yang luar biasa.
Salah satu dari tragedi terbesar umat manusia pada zaman kita adalah, bahwa kebanyakan orang “melayani” Allah karena alasan politik, sosial, kebudayaan, dan emosional, daripada berdasarkan pemahaman yang benar tentang Dia sebagai Bapa dan Sang Pencipta. Dalam Kerajaan Allah, akan ada semangat yang besar untuk mempelajari jalan-jalan Allah; orang-orang akan termotivasi oleh hal ini, dan mereka akan menempuh perjalanan dari segala penjuru bumi menuju Yerusalem, dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah.
Kebalikan dari kekacauan dan ketidakadilan yang disebabkan oleh sistem perundang-undangan dan pelaksanaan keadilan oleh manusia; maka akan ada satu hukum yang berlaku, yaitu “Hukum dan Firman Tuhan” yang akan dinyatakan oleh Kristus dari Yerusalem. “Segala bangsa” akan berkumpul mengikuti pengajaran ini, yang secara tidak langsung menyatakan keinginan mereka yang sama untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang Allah, yang akan mengurangi perselisihan di antara bangsa-bangsa dan juga diantara individu-individu yang berusaha untuk memperoleh pengetahuan itu dalam hidup ini.
Penjelasan tentang orang-orang yang berduyun-duyun menuju Yerusalem sama dengan gambaran yang dijelaskan di Yes. 60:5, dimana orang-orang Yahudi “bersama” dengan bangsa-bangsa (non-Yahudi) menyembah Allah di Yerusalem. Hal ini ada hubungannya dengan nubuat tentang Kerajaan di Zakharia 8:20-23;
“Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati Tuhan dan mencari Tuhan semesta alam! Kamipun akan pergi! Jadi banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari Tuhan semesta alam di Yerusalem dan melunakkan hati Tuhan...Pada waktu itu sepuluh orang dari berbagai bangsa dan bahasa akan memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Allah menyertai kamu!”
Hal ini memberikan gambaran tentang orang-orang Yahudi yang akan ”menjadi kepala dan bukan menjadi ekor” dari bangsa-bangsa, yang disebabkan oleh pertobatan dan ketaatan mereka (Ul. 28:13); karena itu ajaran dasar Yahudi tentang rencana keselamatan Allah akan dihargai oleh setiap orang. Diabaikannya hal ini oleh orang-orang dari berbagai golongan Kristen, akan segera berakhir. Orang-orang akan bersemangat sekali untuk mendiskusikan hal-hal ini, karena itu mereka mengatakan kepada orang-orang Yahudi, ”telah kami dengar bahwa Allah menyertai kamu.” Percakapan akan berkisar seputar hal-hal rohani daripada membicarakan hal-hal kosong mengenai hantu-hantu dan setan-setan, seperti yang terjadi di dunia saat ini.
Karena memberikan perhatian yang sangat besar terhadap illah-illah ini, tidak mengherankan jika Kristus ”akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang” (Yes. 2:4), yang akan membuat bangsa-bangsa bersedia untuk merubah peralatan mereka menjadi alat-alat pertanian, dan meniadakan latihan-latihan perang. ”Keadilan berkembang dalam zamannya” (Mzm. 72:7). Hal-hal rohani akan menjadi sesuatu yang mulia, dan kehormatan akan diberikan kepada mereka yang mencerminkan karakter Allah; kasih, pengampunan, keadilan, dll. Kontras dengan kemuliaan yang dibanggakan pada saat ini; kesombongan dan ambisi pribadi.
Kesediaan untuk menempa ”pedang-pedang menjadi mata bajak” adalah bagian dari sistem pertanian besar-besaran yang akan meliputi seluruh bumi. Sebagai akibat dari dosa Adam, tanah dikutuk (Kej. 3:17-19), karena itu kita harus berusaha keras untuk memperoleh kebutuhan pangan kita dari tanah. Di dalam Kerajaan ”tanaman gandum berlimpah-limpah di negeri bergelombang di puncak pegunungan; biarlah buahnya mekar bagaikan Libanon” (Mzm. 72:16). ”Pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru” (Amos 9:13), yang akan meningkatkan kesuburan tanah di bumi, dan mengurangi kutukan atas tanah yang diucapkan di taman Eden.
Usaha pertanian besar-besaran seperti itu pastilah melibatkan banyak orang. Nubuat-nubuat tentang Kerajaan memberikan kesan bahwa orang-orang akan kembali kepada kesederhanaan hidup dengan bertani;
”mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan” (Mi. 4:4).
Kesederhanaan ini akan mengakhiri kesewenang-wenangan yang merupakan sifat dari segala cara untuk mempekerjakan buruh demi uang. Menghabiskan waktu untuk bekerja agar orang lain menjadi kaya, akan menjadi bagian dari masa lalu.
”Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. Mereka tidak akan mendirikan sesuatu, supaya orang lain mendiaminya, dan mereka tidak akan menanam sesuatu, supaya orang lain memakan buahnya...orang-orang pilihanku akan menikmati pekerjaan tangan mereka. Mereka tidak akan bersusah-susah dengan percuma...” (Yes. 65:21-23).
Yesaya 35:1-7 memberikan penjelasan mengenai nubuat yang menakjubkan tentang bagaimana tanah yang tidak subur akan dirubah, sebagai hasil dari pancaran kegembiraan dan kebahagiaan yang hampir saja keluar dari tanah, karena kerohanian dari mereka yang bekerja di atasnya. ”Padang gurun...akan bergirang...padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak...tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah gersang menjadi sumber-sumber air.” Bahkan permusuhan diantara binatang-binatang akan dilenyapkan: ”Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput,” dan anak-anak akan bermain dengan ular (Yes. 65:25; 11:6-8).
Sebagaimana kutukan atas segala ciptaan akan berkurang, demikian juga dengan manusia. Karena itu Wahyu 20:2,3 berbicara dalam bahasa simbolis tentang Iblis (dosa dan akibatnya) yang ”dipenjara” atau dikerangkeng selama 1000 tahun. Waktu kehidupan akan diperpanjang, jika ada seseorang yang mati pada usia 100 tahun, masih dianggap terlalu muda (Yes. 65:20). Wanita-wanita tidak akan mengalami kesusahan dalam melahirkan anaknya (Yes. 65:23). ”Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka” (Yes. 35:5,6). Hal ini akan terjadi melalui karunia-karunia roh yang menakjubkan, yang akan diberikan lagi (bandingkan Ibr. 6:5).
Tidak bisa terlalu ditegaskan bahwa Kerajaan Allah seharusnya tidak seperti surga di kepulauan tropis, yang dinikmati oleh orang-orang benar sama seperti orang-orang menikmati sinar matahari di tengah-tengah keindahan alam. Tujuan utama dari Kerajaan Allah adalah untuk memberikan kemuliaan kepada Allah, hingga bumi dipenuhi dengan kemuliaanNya ”seperti air yang menutupi dasar laut” (Hab. 2:14). Hal ini merupakan tujuan akhir dari Allah: ”demi Aku yang hidup dan kemuliaan Tuhan memenuhi seluruh bumi” (Bil. 14:21). Kemuliaan kepada Allah mengartikan bahwa seluruh penduduk bumi akan menghargai, memuji, dan meniru segala sifat kebenaranNya, karena dunia akan dipenuhi dengan kemuliaanNya. Allah akan mengijinkan bumi untuk merefleksikan hal-hal ini juga. Karena itu ”orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri (di dalam Kerajaan), dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah” (Mzm. 37:11), daripada menikmati kehidupan yang sederhana. ”Orang yang lapar dan haus akan kebenaran...akan dipuaskan” di dalam Kerajaan (mat. 5:6).
Janji untuk menerima kehidupan abadi di Kerajaan seringkali digunakan sebagai ”pemikat” untuk membujuk orang-orang agar tertarik kepada Kekristenan. Bagaimanapun juga, hak kita atas janji itu ada hubungannya dengan alasan yang sesungguhnya atas keberadaan kita di Kerajaan untuk memuliakan Allah. Setelah pembaptisan, kita harus tetap memberikan penghargaan atas hal ini.
Bagi penulis buku ini, hidup dengan memiliki hati nurani yang baik dan kebahagiaan yang sempurna bersama Allah hanya selama sepuluh tahun, lebih baik daripada hidup selamanya di dunia ini dengan penuh penderitaan. Pernyataan yang mulia ini akan terus membingungkan karena di luar jangkauan pemikiran manusia.
Jika kita memandang sedikit saja dari tujuan utamanya, hidup di dalam Kerajaan Allah haruslah menjadi motivasi bagi kita untuk memandang rendah segala hal duniawi, termsuk materialisme. Sebaliknya, jika kita berlebihan dalam memandang hal ini, Yesus menyarankan ”carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kamu” (Mat. 6:30-34). Kita tidak dapat membayangkan sepenuhnya, bagaimana penggenapan yang sesungguhnya dari Kerajaan Allah yang akan datang.
Kita harus mencari ”kebenaran (dari Allah)” yaitu dengan berusaha membangun karakter yang pengasih dari Allah, yang mengartikan bahwa kita ingin hidup di dalam Kerajaan Allah, karena kebenaran akan dimuliakan disana. Dan kita melakukannya untuk menjadi sempurna secara moral, daripada hanya untuk diselamatkan dari kematian dan ingin hidup bahagia selamanya.
Seringkali pengharapan dari Injil dijelaskan dengan berbagai cara yang menarik minat secara perorangan. Karena itu motivasi kita untuk berada di dalam Kerajaan Allah semakin hari harus semakin meningkat. Apa yang kami tunjukkan disini adalah hal yang baik: prioritas utama kita dalam mempelajari Injil dan menunjukkan ketaatan kita melalui pembaptisan adalah tujuan untuk taat kepada Allah karena kita mengasihiNya. Penghargaan kita atas tawaran yang diberikan Allah, dan alasan kita yang sesungguhnya untuk hidup di dalam Kerajaan harus bertumbuh dan berkembang setelah pembaptisan.
5.5 Pemerintahan 1000 Tahun
Sehubungan dengan pelajaran kita mengenai kehidupan di dalam Kerajaan, pembaca yang cermat mungkin akan bertanya, “Apakah gambaran tentang kehidupan di dalam Kerajaan Allah ini sama dengan kehidupan sebelumnya?” Orang-orang di dalam Kerajaan tetap akan melahirkan bayi-bayi (Yes. 65:23) bahkan mati (Yes. 65:20). Orang-orangtetap akan berselisih selagi Kristus memerintah (Yes. 2:4), dan tetap harus bekerja untuk bertahan hidup. Walaupun begitu, kali ini keadaannya lebih mudah daripada sebelumnya. Semua halk ini nampak jauh berbeda dari janji-janji bahwa orang-orang benar akan menerima kehidupan abadi, dan akan dirubah ke dalam keadaan yang sama dengan Allah, serupa dengan malaikat, yang tidak kawin atau melahirkan (Luk. 20:35,36). Jawabannya terletak pada fakta bahwa bagian pertama dari Kerajaan Allah akan berlangsung selama 1000 tahun, Kerajaan 1000 tahun  (lihat Wahyu 20:2-7). Selama masa pemerintahan 1000 tahun ini, ada dua kelompok dari manusia yang akan hidup di bumi:
Orang-orang kudus, mereka yang mengikuti Kristus dengan sepenuhnya selama mereka hidup, yang akan dikaruniakan kehidupan abadi pada saat penghakiman. Catat, kata “orang kudus” mempunyai arti “orang yang terpanggil,” yang menunjuk kepada setiap orang percaya yang benar.
Orang-orang biasa, orang-orang yang berkematian, yang tidak mengetahui Injil pada saat kedatangan Kristus, mereka tidak bertanggung jawab di hadapan penghakiman.
Ketika Kristus datang, kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa (kepada penghakiman) dan yang lain akan ditinggalkan (Luk. 17:36); mereka yang “ditinggalkan” adalah kelompok yang kedua.
Karena diubah ke dalam alam yang sama dengan Allah pada waktu penghakiman, maka orang-orang kudus tidak akan mati atau melahirkan anak-anak. Penjelasan tentang orang-orang yang mengalami hal-hal sebaliknya dari ini, pastilah menunjuk kepada kelompok yang kedua, yaitu mereka yang hidup pada saat kedatangan Kristus, tetapi tidak mengetahui persyaratan dari Allah. Upah bagi orang-orang yang benar adalah menjadi raja dan imam yang akan memerintah bumi (Why. 5:10). Karena seorang raja memerintah atas seseorang, maka orang-orang yang tidak mengetahui Injil pada saat kedatangan Kristus yang kedua akan dibiarkan hidup untuk diperintah. Dengan berada “di dalam Kristus” maka kita juga menerima upah yang diberikan kepadanya, yaitu menjadi raja di dunia; “barangsiapa menang…kepadanya akan kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah dengan tongkat besi…sama seperti yang kuterima dari BapaKu” (Why. 2:26,27).
Sekarang perumpamaan Kristus tentang uang mina dapat  ditafsirkan; hamba yang baik akan diupahi lima atau sepuluh kota untuk diperintah di dalam Kerajaan (Luk. 19:12-19). Pengetahuan tentang jalan-jalan Allah tidak akan menyebar secepatnya setelah Kristus dinyatakan sebagai Raja di Yerusalem. Orang-orang akan berjalan menuju Yerusalem untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah (Yes. 2:2,3). Seperti gunung di Daniel 2:35,44 (yang melambangkan Kerajaan Allah) yang berangsur-angsur menyebar ke seluruh bumi. Oleh karena itu adalah tugas bagi orang-orang kudus untuk menyebarkan pengetahuan tentang Allah dan KerajaanNya.
Ketika Israel masih menjadi Kerajaan Allah, tugas para imam adalah mengajarkan pengetahuan tentang Allah (Mal. 2:5-7). Untuk tujuan ini, mereka ditempatkan di berbagai kota di Israel. Pada waktu Kerajaan akan didirikan kembali, orang-orang kudus akan mengambil alih tugas para imam (Why. 5:10).
Jika Kristus datang pada saat ini;
Orang-orang mati yang bertanggungjawab akan dibangkitkan, bersama dengan mereka yang bertanggungjawab yang masih hidup, mereka akan dibawa ke hadapan penghakiman.
Orang-orang jahat yang bertanggungjawab kepada penghakiman akan dihukum mati, dan orang-orang yang benar akan dikaruniai kehidupan abadi. Bangsa-bangsa yang menolak Kristus juga akan dihakimi.
Orang-orang benar akan memerintah atas orang-orang yang hidup kemudian, yang tidak bertanggungjawab kepada Allah. Orang-orang benar akan mengajarkan mereka Injil sebagai ”Raja dan Imam” (Why. 5:10).
Hal ini akan berlangsung selama 1000 tahun. Oleh karena itu orang-orang yang tidak abadi yang dalam masa ini mempelajari pengetahuan tentang Allah akan bertanggungjawab kepada Allah. Orang-orang ini akan hidup lebih lama dan bahagia.
Pada akhir pemerintahan 1000 tahun akan ada pemberontakkan melawan Kristus dan orang-orang kudus, dan Allah akan turun tangan (Why. 20:8,9).
Pada akhir masa 1000 tahun, mereka yang mati pada masa itu akan dibangkitkan dan dihakimi (Why. 20:5,11-15).
Selanjutnya tujuan Alah atas bumi akan digenapi. Bumi akan dipenuhi dengan orang-orang benar yang abadi. Nama Allah ”Yahweh Elohim“ (yang berarti “Ia akan dinyatakan di dalam kelompok yang perkasa“) akan digenapi. Dosa dan kematian tidak akan ada lagi di bumi; janji bahwa keturunan ular itu akan dibinasakan selamanya dengan memukul kepala ular itu, akan sepenuhnya digenapi (Kej. 3:15). Selama pemerintahan 1000 tahun, Kristus akan memerintah ’’sampai Allah meletakkan semua musuhnya dibawah kakinya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut...Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan dirinya dibawah Dia (Allah), yang telah menaklukkan segala sesuatu dibawahnya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua“ (I Kor. 15:25-28).
Inilah ”kesudahannya, yaitu bilaman Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa“ (I Kor. 15:24). Tentang selanjutnya yang akan terjadi ketika Allah ada “di dalam semua“, tidak diberitahukan, yang kita ketahui adalah bahwa kita akan hidup abadi, sama dengan Allah, dan kita akan memuliakan dan menyenangkan Allah. Ini hanyalah dugaan mengenai apa yang terjadi selanjutnya setelah pemerintahan 1000 tahun.
Memahami ’’Injil Kerajaan Allah“ adalah hal yang sangat penting bagi keselamatan setiap pembaca yang membaca kata-kata ini. Kami menyarankan anda untuk membaca kembali pelajaran ini dan melihat ayat-ayat yang dikutip dari Alkitab.
Allah mengijinkan agar kita berada di dalam KerajaanNya. Seluruh tujuannya dirancang sedemikian rupa agar kita turut berperan di dalamnya, daripada hanya sekedar mengakui kemampuannya dalam berkreasi. Pembaptisan menghubungkan kita dengan janji-janji tentang Kerajaan ini. Memang, sulit untuk dipercaya bahwa pembaptisan yang telah diikuti oleh orang-orang yang rendah hati yang taat kepada firman Allah dalam beberapa tahun ini, dapat membawa kita ke dalam kemuliaan yang abadi. Untuk itulah maka iman kita akan kasih Allah yang dalam, harus dinyatakan. Apapun masalah yang kita hadapi, itu bukanlah alasan untuk menolak panggilan Injil.
”Jika Allah ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?“ (Rm. 8:31).
“Penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita“ (Rm. 8:18).
“Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami“ (II Kor. 4:17).
6.1 Allah dan Kejahatan
Banyak agama-agama dan sekte-sekte Kristen mempercayai keberadaan dari makhluk yang mengerikan, yang disebut Iblis atau Setan. Yang menjadi penyebab dari berbagai masalah di dunia ini termasuk masalah-masalah yang kita hadapi dalam kehidupan kita dan yang bertanggungjawab atas dosa yang kita perbuat. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Allah sangat berkuasa, dan seperti yangh kita lihat di pelajaran 1.4, para malaikat tidak berdosa. Berdasarkan hal-hal ini, maka jika kita mempercayai keberadaan makhluk yang mengerikan itu, sama dengan kita mempertanyakan kekuasaan Allah. Begitu pentingnya masalah ini, sehingga kita perlu memahami dengan benar doktrin tentang Iblis atau Setan. Ibrani 2:14 mengatakan bahwa Yesus membinasakan Iblis melalui kematiannya, karena itu, kita tidak dapat memahami pekerjaan Yesus yang sebenarnya kecuali kita memiliki pemahaman yang benar tentang Iblis.
Pada umunya di dunia ini, khususnya mereka yang disebut “orang Kristen” mempercayai gagasan bahwa kebaikan berasal dari Allah dan kejahatan berasal dari Iblis atau Setan. Ini bukanlah suatu gagasan yang baru, dan tidak hanya terdapat di dalam Kekristenan yang murtad. Sebagai contoh; orang-orang Babilon mempercayai keberadaan dua dewa, dewa terang dan kebaikan; dan dewa kegelapan dan kejahatan, mereka berdua terlibat dalam perseteruan. Kores, Raja Persia, mempercayai hal ini. Karena itu Allah berkata kepadanya, “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah…yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan nasib malang; Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini” (Yes. 45:5-7,22). Allah menciptakan nasib mujur atau kebaikan dan juga menciptakan nasib malang atau bencana. Berdasarkan ayat ini, Allah adalah penyebab, pencipta “nasib malang.” Dalam pengertian ini, ada perbedaan antara “nasib malang” atau bencana, dengan dosa, yang adalah kesalahan manusia; yang masuk ke dalam dunia sebagai akibat dari perbuatan manusia, bukan Allah (Rm. 5:12).
Allah berkata kepada Kores dan orang-orang di Babilon, ”Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.” Kata Ibrani “el” yang diterjemahkan menjadi “Allah” mempunyai arti “kuasa” atau “sumber kuasa.” Allah mengatakan bahwa tidak ada sumber kuasa selain dari diriNya. Inilah alasannya mengapa orang-orang percaya yang benar di dalam Allah tidak dapat menerima gagasan tentang hal-hal gaib yang berhubungan dengan Iblis atau roh-roh jahat.
Allah: Penyebab Malapetaka
Alkitab penuh dengan contoh-contoh yang menjelaskan tentang Allah sebagai penyebab dari “malapetaka” atas manusia dan dunia ini. Amos 3:6 mengatakan bahwa jika ada malapetaka di dalam suatu kota, pasti Allah yang melakukannya. Sebagai contoh, jika terjadi gempa bumi di suatu kota. Banyak orang yang menyangka “Iblis” yang menyebabkannya, sehingga malapetaka itu terjadi. Setiap orang percaya yang benar harus memahami, bahwa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kejadian itu adalah Allah, karena itu Mikha 1:12 mengatakan, bahwa “malapetaka turun dari pada Tuhan sampai ke pintu gerbang Yerusalem.” Di dalam buku Ayub dikatakan bahwa Ayub adalah orang yang benar, yang kehilangan banyak hal di dalam kehidupannya. Buku itu memberitahukan bahwa pengalaman “buruk” dalam kehidupan seseorang tidak ada hubungannya dengan ketaatan atau ketidaktaatan seseorang kepada Allah. Ayub menyadari, bahwa Tuhan yang memberi dan, Tuhan yang mengambil” (Ayub 1:21). Ia tidak mengatakan “Allah yang memberi, dan Setan yang mengambil.” Ia berkata kepada istrinya; “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10). Pada akhir buku itu, sahabat-sahabat Ayub “menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan Tuhan kepadanya” (Ayub 42:11 bandingkan 19:21; 8:4). Karena itu, Allah adalah sumber dari “kejahatan”, dalam pengertian bahwa Ia menghendaki berbagai masalah terjadi di dalam kehidupan kita.
“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihinya…Jika kamu harus menanggung ganjaran…tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibr. 12:6-11), ayat ini menunjukkan bahwa masalah-masalah yang diberikan Allah kepada kita, akan membuat kerohanian kita bertumbuh. Akan bertentangan dengan firman Allah jika dikatakan bahwa Iblislah yang membuat kita berdosa dan menjadi orang yang tidak benar, yang pada waktu bersamaan ia juga dianggap sebagai penyebab dari masalah-masalah yang kita alami, yang “menghasilkan buah kebenaran.” Hal ini menentang Gagasan dari Kristen Ortodoks, khususnya pada ayat-ayat yang mereka yakini tentang penyerahan manusia kepada Iblis, “agar rohnya diselamatkan” atau “supaya jera mereka menghujat” (I Kor. 5:5; I Tim. 1:20).
Jika Setan adalah penyebab yang sebenarnya atas dosa-dosa manusia, yang dampak negatifnya juga dirasakan oleh orang lain. Mengapa ayat-ayat ini berbicara tentang “Setan” sebagai kegelapan yang dapat mengasilkan hal yang baik? Jawabannya terletak pada fakta bahwa musuh, “Setan” atau masalah dalam kehidupan, seringkali dapat menghasilkan pertumbuhan rohani yang baik bagi orang-orang percaya yang benar.
Jika kita menerima bahwa kejahatan berasal dari Allah, maka kita dapat berdoa kepada Allah agar melakukan sesuatu terhadap masalah-masalah yang kita hadapi, misalnya memohon kepada Dia supaya menjauhkan hal itu dari kita. Jika Ia tidak mengabulkannya, maka kita harus tahu bahwa masalah-masalah yang kita hadapi adalah demi kebaikan pertumbuhan rohani kita. Jika anda percaya bahwa ada sesuatu yang jahat, yang disebut Iblis atau Setan, yang menyebabkan masalah-masalah yang kita hadapi. Kami tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hal itu. Yang dianggap sebagai nasib buruk adalah, cacat jasmani, penyakit, kematian mendadak atau musibah. Jika Iblis adalah malaikat berdosa yang sangat kuat, jauh lebih kuat daripada kita;maka, ia dapat mengendalikan kita, dan kita tidak punya pilihan lain, selain menderita di tangannya. Tetapi jika kita berada dibawah pengaturan Allah, maka “segala sesuatu (yang terjadi dalam kehidupan) untuk mendatangkan kebaikan” (Rm. 8:28). Oleh karena itu tidak ada kata “mujur” di dalam hidup orang-orang yang percaya.
Sumber dari Dosa
Harus ditekankan, bahwa dosa berasal dari diri kita sendiri. Karena kesalahan kitalah, maka kita berdosa. Tentu saja, lebih mudah untuk mempercayai bahwa bukanlah kesalahan kita sendiri, sehingga kita berdosa. Kita bebas melakukan dosa, dan setelah itu memaafkan diri kita sendiri dengan berpikir bahwa hal itu terjadi karena disebabkan oleh Iblis, dan menyalahkan sepenuhnya kepadanya atas segala dosa-dosa yang kita perbuat. Sangat aneh jika dalam kasus-kasus yang nyata tentang kejahatan yang dilakukan oleh seseorang, orang yang bersalah memohon pengampunan dan mengatakan bahwa pada saat kejadian itu ia berada dibawah kuasa Iblis, sehingga tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan. Pernyataan-pernyataan yang tidak mempunyai bukti yang kuat seperti itu akan dihakimi tanpa ada penghalang sama sekali, dan hukuman akan dijatuhkan ke atas orang itu.
Kita harus ingat bahwa ”upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23); dosa menuntun kita kepada kematian. Jika bukan karena kesalahan kita sendiri sehingga kita berdosa, maka Allah seharusnya menghukum Iblis daripada menghukum kita. Tetapi faktanya adalah bahwa kita akan dihakimi karena dosa-dosa kita, yang menunjukkan bahwa kita bertanggungjawab atas dosa-dosa kita. Menciptakan Gagasan tentang keberadaan Iblis sebagai suatu pribadi, dan prinsip bahwa dosa bukan berasal dari kita; adalah usaha untuk menghindar dari pertanggungjawaban atas dosa-dosa yang kita perbuat. Dan merupakan contoh dari orang-orang yang menolak untuk mengakui ajaran Alkitab tentang keadaan manusia yang sebenarnya, yaitu penuh dengan dosa.
”Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya...Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan...kesombongan, kekebalan. Semua hal-hal ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mrk. 7:15-23).
Gagasan tentang sesuatu makhluk yang berdosa yang dapat masuk ke dalam diri kita, sehingga kita melakukan dosa; bertentangan dengan ajaran Yesus yang sangat jelas pada ayat-ayat diatas. ”Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat.” Inilah sebabnya mengapa pada waktu peristiwa air bah Allah mempertimbangkan manusia dengan hal ini, ”sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat sejak kecilnya” (Kej. 8:21). Yakobus 1:14 memberitahukan bagaimana sehingga kita dapat tergoda; ”Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Kita tergoda oleh karena keinginan kita, hasrat kita yang jahat, bukan oleh suatu pengaruh dari luar diri kita. ”Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu?” ”Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?” (Yak. 4:1). Setiap orang mengalami godaan yang berbeda-beda, yang dibangkitkan oleh hasrat mereka yang jahat, yang sudah menjadi kepribadian manusia. Memang benar pernyataan bahwa musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.
Buku Roma penuh dengan penjelasan tentang dosa, asalnya, dan bagaimana mengatasinya. Penting sekali untuk mengetahui bahwa di dalam buku itu Iblis atau Setan, hampir tidak pernah disebutkan. Dan dalam konteks tentang awal mula dosa, Paulus tidak menyebutkan Iblis atau Setan. Dengan cara yang sama, kata ”Iblis” digunakan di dalam Perjanjian Baru sebagai suatu konsep untuk menjelaskan tentang dosa. Jika ada sesuatu dari luar tubuh kita yang dapat membuat kita berdosa, pastilah akan dijelaskan secara luas hingga di Perjanjian Lama. Tetapi hal-hal tersebut tidak pernah dijelaskan sama sekali. Catatan dari masa pemerintahan Hakim-hakim, atau mengenai perjalanan bangsa Israel di padang gurun, menunjukkan bahwa pada masa itu Israel berdosa atas suatu perjanjian yang besar. Tetapi Allah tidak memperingatkan mereka tentang keberadaan dari sesuatu kekuatan supranatural yang dapat masuk ke dalam tubuh mereka dan membuat mereka berdosa. Sebaliknya, Ia menganjurkan mereka untuk menerapkan firmanNya agar mereka tidak jatuh ke dalam keinginan daging mereka (Ul. 27:9,10; Yos. 22:5).
Paulus meratapi dirinya dengan berkata, ”di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik...aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku” (Rm. 7:18-21). Ia tidak menyalahkan dosa-dosa yang ia lakukan kepada sesuatu yang disebut Iblis. Ia menunjukkan bahwa sifat jahat yang ada di dalam dirinya adalah sumber dari dosa yang sesungguhnya; ”maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” Setiap orang yang bijaksana yang mempunyai pandangan rohani yang baik akan berpendapat sama tentang pengetahuan ini. Perlu dicatat, bahwa Paulus setelah menjadi pengikut Kristus tidak mengalami perubahan apapun atas dirinya yang dapat membuat ia menjadi tidak berdosa atau tidak dapat melakukan dosa lagi. Gerakan ”Evangelis” modern mengklaim hal yang sebaliknya; dengan demikian mereka telah menempatkan Paulus dalam daftar dari orang-orang yang tidak ”diselamatkan” sehubungan dengan pernyataan Paulus di Roma 7:15-21, dimana terdapat ayat-ayat yang merupakan bukti untuk menentang klaim mereka. Begitu juga dengan Daud, yang tidak diragukan lagi sebagai orang yang benar. Ia juga mengakui dosa-dosa yang terdapat di dalam dirinya; ”Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku” (Mzm. 51:5).
Penjelasan di dalam Alkitab tentang sifat manusia yang sebenarnya, sangat jelas sekali. Yaitu, secara umum mereka penuh dengan kejahatan. Jika hal ini dapat diterima, maka tidak perlu menciptakan suatu bayangan dari seseorang yang berada di luar alam manusia yang bertanggung atas dosa-dosa kita. Yeremia 17:19 mengatakan bahwa hati manusia sangat licik, dan karena begitu licik, kita tidak dapat mengetahuinya. Di Matius 7:11 Yesus juga menilai bahwa sifat manusia pada dasarnya adalah jahat. Kata-kata di Pengkhotbah 9:3 tidak dapat disangkal lagi; ”Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan. Efesus 4:18 memberikan alasan mengapa sifat manusia dapat menjauhkan dirinya dengan Allah, yang disebabkan ”karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Karena buta secara rohani dan memiliki hati nurani yang suka membangkang, maka jalan pikiran kita menjadi jauh dari Allah. Sehubungan dengan hal ini Galatia 5:19 berbicara tentang dosa kita sebagai ”Perbuatan daging”; karena tubuh kita sendiri yang menyebabkan kita berbuat dosa. Tidak satupun dari ayat-ayat ini menjelaskan bahwa dosa berasal dari Iblis yang membawanya ke dalam diri kita. Kecenderungan untuk berbuat dosa memang sudah ada di dalam diri kita sejak kita dilahirkan, yang sudah menjadi suatu bagian yang pokok di dalam diri manusia.
6.2 Iblis dan Setan
Adakalanya kata-kata di dalam Alkitab tidak diterjemahkan dan tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya (contoh, “Mammon” dalam bahasa Aramaik di Mat. 6:24). Kata “setan” berasal dari kata Ibrani yang tidak dapat diterjemahkan, yang mempunyai arti “musuh.” Sedangkan kata “iblis” diterjemahkan dari bahasa Yunani “diabolos”, yang mempunyai arti pendusta, musuh, atau pemfitnah. Jika kita percaya bahwa setan dan iblis adalah sesuatu yang berada di luar diri kita, yang bertanggungjawab atas dosa, maka dimanapun kita menemukan kata-kata tersebut di dalam Alkitab, kita akan mengartikan kata tersebut sebagai suatu pribadi yang jahat. Penggunaan kata-kata tersebut di dalam Alkitab menunjukkan bahwa kata-kata tersebut digunakan untuk menjelaskan sifat yang terdapat di dalam diri manusia. Karena itu kata iblis dan setan yang terdapat di dalam Alkitab tidak menunjuk kepada suatu pribadi yang jahat, yang berada di luar diri kita.
Kata “setan” di dalam Alkitab
I Raja-raja 11:14 mencatat, “Tuhan membangkitkan seorang ”lawan” (kata Ibrani yang juga diterjemahkan sebagai “setan”) Salomo, yakni Hadad, orang Edom.” “Allah membangkitkan pula seorang “lawan” (dari kata yang sama)…yakni Rezon…Dialah yang menjadi “lawan” (setan) Israel” (I Raj. 11:23,25). Ayat-ayat ini tidak mengartikan bahwa Allah membangkitkan suatu makhluk supranatural atau seorang malaikat, untuk menjadi setan/musuh bagi Salomo; ia hanya membangkitkan sifat jahat yang terdapat di dalam diri manusia. Matius 16:22,23 memberikan contoh yang lain sehubungan dengan hal ini; ketika Petrus berusaha menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem untuk mati di kayu salib. Yesus berbalik dan mengatakan kepada Petrus, “Enyahlah Iblis…sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Karena itu Petrus disebut sebagai setan. Catatan tersebut dengan jelas mengatakan bahwa Yesus tidak sedang berbicara kepada seorang malaikat atau suatu makhluk yang mengerikan, ketika ia mengucapkan kata-kata itu, tetapi ia sedang berbicara dengan Petrus.
Karena kata “setan” mempunyai arti; musuh, orang baik, bahkan Allah juga dapat disebut “setan.” Pada intinya, kata tersebut sama sekali tidak mengartikan sesuatu yang penuh dengan dosa. Konotasi dari penuh dengan dosa, yaitu kata ”setan”, menjelaskan tentang keadaan kita yang sebenarnya yang penuh dengan dosa, yang merupakan musuh terbesar kita, yaitu setan; dan penggunannya di dalam kalimat menunjuk kepada sesuatu yang berhubungan dengan dosa. Allah juga dapat disebut setan bagi kita, dalam pengertian bahwa Ia yang menyebabkan masalah-masalah di dalam kehidupan kita, atau memberikan jalan yang salah kepada kita sewaktu sedang mengahadapi masalah. Fakta bahwa Allah dapat disebut sebagai setan tidak mengartikan bahwa Ia penuh dengan dosa.
Di dalam buku Samuel dan Tawarikh, terdapat catatan yang berkaitan tentang suatu peristiwa yang sama. Seperti empat buku Injil yang mencatat peristiwa-peristiwa yang sama, dalam bahasa penulisan yang berbeda. II Samuel 24:1 mencatat, “Bangkitlah pula murka Tuhan terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka” agar ia menghitung bangsa Israel. Catatan mengenai peristiwa yang sama juga terdapat di I Tawarikh 21:1; ”Iblis bangkit melawan Israel dan membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” Pada ayat yang pertama dijelaskan bahwa Allah yang menghasut Daud, tetapi pada ayat kedua disebutkan bahwa setanlah yang melakukan hal itu. Kesimpulan dari hal ini adalah, Allah bertindak sebagai “setan” atau musuh bagi Daud. Ia juga melakukan hal yang sama kepada Ayub, dengan membawa sejumlah penderitaan ke dalam kehidupan Ayub. Karena itu Ayub berkata kepada Allah; “Engkau memusuhi aku dengan kekuatan tanganMu” (Ayub 30:21); sama dengan mengatakan, “Engkau bertindak sebagai setan dengan memusuhi aku.”

Kata “iblis” di dalam Alkitab
Begitu juga dengan kata “iblis”, Yesus mengatakan, “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang diantaramu adalah iblis. Yang dimaksudkannya ialah Yudas…” (Yoh. 6:70,71). Yaitu manusia biasa yang berkematian. Ia tidak berbicara tentang suatu pribadi yang memiliki tanduk, yang disebut “makhluk roh.” Kata “iblis” pada ayat ini menunjuk kepada sifat manusia yang jahat. I Timotius 3:11 memberikan contoh yang lain sehubungan dengan hal ini; istri dari penatua gereja haruslah bukan seorang “pemfitnah”, yang berasal dari kata Yunani “diabolos”, yang juga diterjemahkan menjadi “iblis.” Karena itu Paulus memperingatkan Titus agar perempuan-perempuan tua yang melayani bukanlah seorang “pemfitnah” atau “iblis” (Tit. 2:3). Dan ia juga mengatakan hal yang sama kepada Timotius (II Tim. 3:1,3); ”pada hari-hari terakhir...manusia akan...menjadi pemfitnah (iblis).” Hal ini tidak mengartikan bahwa manusia akan berubah bentuk menjadi makhluk super, tetapi mengartikan, bahwa mereka akan bertambah jahat. Dari semua penjelasan ini, sangat jelas sekali bahwa kata “iblis” dan “setan” tidak menunjuk kepada keberadaan dari Malaikat yang berdosa di luar diri kita.

Dosa, Setan, dan Iblis
Kata “setan” dan “iblis” digunakan dalam bentuk kiasan untuk menjelaskan kecenderungan secara alami melakukan dosa yang terdapat di dalam diri manusia. Hal ini telah dibahas di pelajaran 6.1. Inilah musuh atau “setan” yang sebenarnya. Selain disebut sebagai “iblis” atau musuh kita, mereka juga merupakan lambang dari pemfitnah kebenaran. Inilah sifat manusia yang sebenarnya, sangat jahat. Hubungan antara iblis dengan hasrat kita yang jahat adalah, sama-sama merupakan dosa di dalam diri kita. Yang sangat jelas terlihat di dalam beberapa ayat; ”Karena anak-anak itu (kita) adalah anak-anak dari darah dan daging, maka ia (Yesus) juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematiannya ia memusnahkan dia, yaitu iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibr. 2:14). Kata iblis pada ayat ini dijelaskan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kematian, tapi ”upah dosa ialah maut” (Rm. 6:23). Oleh karena itu, dosa dan iblis pastilah berkaitan. Hal yang serupa juga terdapat di Yakobus 1:14, yang mengatakan bahwa hasrat kita yang jahatlah yang menggoda kita, dan menuntun kita untuk melakukan dosa, yang upahnya adalah kematian. Tetapi di Ibrani 2:14 dikatakan bahwa iblis yang menyebabkan kematian. Ayat yang sama juga mengatakan bahwa Yesus menjadi sama dengan manusia untuk membinasakan iblis. Bandingkan dengan Roma 8:3 yang mengatakan bahwa Allah ”mengutus anakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa.” Hal ini menunjukkan bahwa iblis dan kecenderungan untuk melakukan dosa adlah sifat alami yang terdapat di dalam diri manusia, yang bekerja dengan efektif pada waktu yang bersamaan. Sangat penting untuk dipahami, bahwa Yesus juga digoda seperti kita. Tidak memahami dengan benar doktrin tentang iblis, akan membuat kita tidak dapat menghargai dengan sepantasnya atas pekerjaan-pekerjaan yang Yesus lakukan. Karena Yesus menjadi sama dengan manusia, dimana ”iblis” berada di dalamnya, maka kita mempunyai harapan untuk diselamatkan (Ibr. 2:14-18; 4:15). Dengan mengatasi hasratnya yang alami, yaitu iblis, Yesus membinasakan iblis pada kayu salib (Ibr. 2:14). Jika betul iblis adalah suatu pribadi, maka ia tidak akan ada lagi, tetapi faktanya tidak demikian. Ibrani 9:26 mengatakan bahwa manifestasi Kristus adalah untuk ”menghapuskan dosa oleh korbannya.” Ibrani 2:14 membenarkan hal ini dengan menyatakan bahwa melalui kematiannya, Kristus membinasakan iblis yang berada di dalam dirinya. Melalui kematiannya, Yesus bertujuan untuk membinasakan ”tubuh dosa” (Rm. 6:6), yaitu sifat manusia, yang dalam berbagai macam keinginan dagingnya menimbulkan dosa.
”Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari iblis” (I Yoh. 3:8), karena dosa adalah hasil dari menuruti keinginan-keinginan kita yang jahat (Yoh. 1:14,15), yang disebut Alkitab sebagai ”iblis.” ”Untuk inilah anak Allah menyatakan dirinya, yaitu supaya ia membinasakan perbuatan-perbuatan iblis itu” (I Yoh. 3:8). Jika benar bahwa iblis adalah segala hasrat kita yang jahat, maka dengan menuruti hasrat kita yang jahat, berarti kita melakukan dosa. Hal ini dibenarkan I Yohanes 3:5; ”Ia telah menyatakan dirinya supaya ia menghapus segala dosa” dan membenarkan bahwa ”dosa-dosa” kita sama dengan ”pekerjaan-pekerjaan iblis.” Kisah para Rasul 5:3 memberikan bukti yang lain tentang hubungan antara dosa-dosa kita dengan iblis; Petrus berkata kepada Ananias: ”mengapa hatimu dikuasai iblis?” Kemudian di ayat 4 Petrus mengatakan ”Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu di dalam hatimu?” Merencanakan sesuatu yang jahat di dalam hati kita disamakan dengan iblis menguasai hati kita. Jika kita merencanakan sesuatu, misalnya rencana jahat, maka hal itu dimulai dari dalam diri kita. Jika seorang wanita berencana untuk mempunyai seorang anak, hal tersebut tidak terjadi di luar dirinya, tetapi dari dalam dirinya. Yakobus 1:14,15 menggunakan gambaran yang sama untuk menjelaskan bagaimana rancangan kita yang penuh dengan hawa nafsu yang membawa kita ke dalam dosa, dan menuntun kita pada kematian. Mazmur 109:6 mengkaitkan seseorang yang berdosa dengan ”setan”; ”Angkatlah seorang fasik atas dia, dan biarlah seorang pendakwa (setan) berdiri di sebelah kanannya”, yaitu kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri (bandingkan ayat 31).
Personifikasi
Sebagai tanggapan, mungkin anda akan mengatakan; ”Tetapi hal itu berbicara dalam pengertian jika iblis adalah suatu pribadi.” Memang betul, Ibrani 2:14 mengatakan ”yaitu iblis yang berkuasa atas maut. Jika kita membaca beberapa bagian saja dari Alkitab, kita akan mengetahui bahwa bahasa personifikasi sering kali digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak seperti menjelaskan suatu pribadi. Seperti yang terdapat di Amsal 9:1, yang berbicara tentang wanita yang disebut ”hikmat”, yang mendirikan sebuah rumah. Dan Roma 6:23 yang menyamakan kematian dengan alat pembayaran, yaitu sebagai upah dari dosa. Menganai hal ini, telah dibahas sebelumnya di Pertentangan 5. Iblis yang ada di dalam diri kita ”diabolos”, seringkali menjadi gambaran dari hasrat kita yang jahat. Tetapi tidak dapat diartikan secara abstrak. Karena hasrat yang jahat yang terdapat di dalam hati kita, bukanlah suatu bagian yang terpisah dari diri kita. Oleh karena itu kata ”iblis” adalah bahasa personifikasi. Begitu juga dengan dosa, yang sering dipersonifikasikan sebagai tuan (Rm. 5:21; 6:6,17; 7:3). Dengan mengingat bahwa kata ”iblis” juga menunjuk kepada dosa, maka dapat dipahami bahwa kata ”iblis” dipersonifikasikan. Karena dengan cara yang sama Paulus mengatakan bahwa kita mempunyai dua kehidupan, jasmani dan rohani (Rm. 7:15-21); tubuh jasmani; yaitu ”iblis” melawan tubuh rohani. Jelas sekali hal ini tidak dapat diartikan secara harfiah, bahwa ada dua pribadi yang berseteru di dalam tubuh kita. Bagian yang penuh dosa dari diri kita dipersonifikasikan sebagai ”yang jahat”(Mat. 6:13) yaitu iblis. Ungkapan Yunani yang diterjemahkan sebagai ”yang jahat” di dalam I Korintus 5:13 diterjemahkan menjadi ”orang yang melakukan kejahatan”, hal ini menunjukkan bahwa ketika seseorang memberikan jalan kepada dosa, bagian dari dirinya ”yang jahat” atau ia sendiri, menjadi ”iblis” atau orang ”yang jahat.”
Kata ”Iblis” dan ”Setan” dalam Konteks Politik
Kata ”iblis” dan ”setan” juga digunakan untuk menggambarkan kejahatan dari dunia yang penuh dengan dosa, tempat dimana kita hidup. Sosial, politik, agama-agama palsu, dan sistem pemerintahan manusia, dapat disebut dengan satu istilah, yaitu ”iblis.” Dalam Perjanjian Baru, iblis dan setan seringkali menunjuk kepada kuasa dari sistem politik dan sosial dari orang-orang Yahudi atau Roma. Karena itu tertulis bahwa iblis dilemparkan ke dalam penjara (Why. 2:10), yang menunjuk kepada kekuasaan Roma yang telah menindas orang-orang yang percaya. Dalam konteks yang sama, tertulis bahwa gereja di Pergamus terletak di takhta iblis. Hal ini tidak mengartikan bahwa setan yang duduk di takhta itu. Pergamus adalah daerah koloni Roma yang dipimpin oleh seorang Gubernur, dimana terdapat komunitas dari orang-orang yang percaya.

Dosa pribadi dijelaskan sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah (I Yoh. 3:4). Tetapi, kadang-kadang dosa yang ditunjukkan secara bersama-sama melalui kekuatan politik dan sosial yang menentang Allah, juga dipersonifikasikan sebagai Iblis. Dalam pengertian inilah maka Iran dan negara-negara Islam lainnya menyebut Amerika sebagai ”setan besar”, yaitu musuh terbesar mereka yang menimbulkan berbagai masalah dalam bidang politik dan agama. Dengan cara seperti inilah, seringkali kata ”iblis” dan ”setan” digunakan di dalam Alkitab.
Sebagai kesimpulan, mungkin benar jika dikatakan, bahwa pembahasan tentang hal ini lebih penting dari yang lain. Karena penting sekali untuk melandasi pemahaman kita dengan pandangan yang selaras dengan seluruh isi Alkitab, daripada membuat sesuatu doktrin yang hanya didasari atas beberapa ayat, dimana terdapat kata-kata tersebut, yang mendukung kepercayaan yang pada umumnya diakui sehubungan dengan Iblis. Bagian ini dan pelajaran 6.1, perlu dibaca kembali, berdoalah sebelum membacanya. Adalah satu-satunya jalan dalam menyampaikan doktrin ini dengan penguraian yang lebih dalam, tujuannya ialah agar anda dapat memiliki pemahaman berdasarkan semua ayat yang menunjuk kepada iblis dan setan. Kata-kata tersebut dapat digunakan sebagai kata sifat, atau sesuatu yang menunjuk kepada dosa yang terdapat di dalam diri manusia. Beberapa pihak dari sekian banyak golongan yang keliru dalam memahami ayat-ayat ini, mengutipnya untuk mendukung gagasan yang diketahui secara umum, yang akan kita bahas di dalam Pertentangan-pertentangan di dalam pelajaran ini.
6.3 Roh-roh Jahat
Dua bagian sebelumnya dari pelajaran ini menjelaskan mengapa kami tidak mempercayai iblis atau setan sebagai suatu pribadi atau makhluk yang mengerikan. Jika hal ini dapat diterima, maka demikian juga dengan roh-roh jahat, yang dianggap sebagai pelayan-pelayan dari iblis, mereka juga tidak ada. Banyak orang berpikir Allah memberikan kita hal-hal yang baik di dalam hidup kita, dan iblis beserta pelayan-pelayannya memberikan kita hal-hal yang buruk, dan merampas hal-hal yang baik, yang diberikan Allah kepada kita.
Alkitab dengan jelas sekali mengajarkan, bahwa Allah adalah sumber dari segala kuasa (lihat pelajaran 6.1), dan ia bertanggungjawab atas hal-hal yang baik maupun hal-hal yang buruk di dalam hidup kita;
“yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah Tuhan yang membuat semuanya ini” (Yes. 45:7).
“Sebab malapetaka turun daripada Tuhan sampai ke pintu gerbang Yerusalem” (Mi. 1:12).
“Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan Tuhan tidak melakukannya?” (Amos 3:6).
Oleh karena itu, jika kita mendapat masalah, kita harus menerima bahwa hal itu berasal dari Allah, dan tidak menyalahkan iblis atau roh-roh jahat. Seperti Ayub yang kehilangan hal-hal baik yang diberikan Allah kepadanya sebagai berkat; ia tidak mengatakan, “Roh-roh jahatlah yang telah mengambil semua yang diberikan Allah kepadaku.” Perhatikan apa yang dia katakan;
“Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21)

“Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk” (Ayub 2:10).
Jika kita memahami bahwa segala hal berasal dari Allah, maka ketika kita menemui masalah di dalam kehidupan, kita dapat berdoa kepada Allah supaya ia menjauhkannya dari kita. Tapi, jika Ia tidak melakukannya, berarti Ia memberikan masalah itu kepada kita, agar kita dapat membangun karakter yang baik dan demi kebaikan kita di waktu yang akan datang;
“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; karean Tuhan (bukan roh-roh jahat!) menghajar orang yang dikasihinya, dan Ia menyesah orang yang diakuinya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ajaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Dimanakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (Ibr. 12:5-8).
Allah sumber dari segala kuasa
Allah adalah sumber dari segala kuasa;
“Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain, kecuali Aku tidak ada Allah” (kata Ibrani yang diterjemahkan menjadi ”Allah”, mempunyai arti ”kuasa”) (Yes. 45:5)
“Adakah Allah selain daripadaku? Tidak ada gunung batu yang lain, tidak ada kukenal!” (Yes. 44:8)
”Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia” (Ul. 4:35)
Ayat-ayat tersebut muncul berulangkali di dalam Alkitab. Karena Allah adalah sumber dari segala kuasa satu-satunya. Oleh karenanya Ia adalah Allah yang pencemburu, seperti yang seringkali ia ingatkan kepada kita (Kel. 20:5, Ul. 4:24).
Allah menjadi cemburu ketika umatNya mulai percaya kepada allah-allah lain, yang secara tidak langsung dengan mengatakan; ”Engkau adalah Allah yang mulia, maha kuasa, tetapi sebenarnya aku juga mempercayai bahwa ada allah-allah lain selain Engkau, walaupun mereka tidak sekuat Engkau.” Inilah alasannya mengapa kami tidak mempercayai keberadaan dari iblis atau setan sama seperti keberadaan Allah yang benar.Seperti yang tercatat di dalam Perjanjian Lama, Israel melakukan kesalahan ini. Sebagian besar dalam catatan itu menceritakan tentang sikap bangsa Israel yang tidak menyenangkan Allah, dengan mempercayai allah-allah lain seperti Dia. Berdasarkan Alkitab, kita dapat mengetahui bahwa ”roh-roh jahat” yang dipercayai oleh banyak orang pada saat ini, hanyalah allah-allah palsu seperti yang dipercayai oleh bangsa Israel.
Roh-roh jahat adalah berhala
Di dalam I Korintus, Paulus menjelaskan mengapa orang-orang Kristen tidak boleh terlibat dalam penyembahan berhala atau mempercayai hal-hal yang serupa. Pada waktu masa penulisan Alkitab, banyak orang mempercayai bahwa roh-roh jahat adalah allah-allah yang dapat mereka sembah agar menghentikan masalah-masalah di dalam kehidupan mereka. Karena itu mereka membuat patung-patung roh jahat sebagai berhala, dan menyembahnya. Hal ini menjelaskan mengapa Paulus menggunakan kata ”roh-roh jahat” dan ”berhala” secara bergantian di dalam suratnya;
”persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat...Tetapi kalau seorang berkata kepadamu; ”itu persembahan berhala!” janganlah engkau memakannya...” (I Kor. 10:20,28). Jadi, berhala sama dengan roh-roh jahat. Catat, Paulus mengatakan kepada mereka, bahwa mereka mempersembahkan korban ”kepada roh-roh jahat (berhala), bukan kepada Allah.” Karena roh-roh jahat bukan Allah dan hanya ada satu Allah, maka roh-roh jahat sama sekali tidak memiliki kuasa apapun, dan mereka bukan allah-allah. Pengertian yang jelas terdapat di I Korintus 8:4;
”Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ”tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain daripada Allah yang esa.” Berhala atau roh-roh jahat, sama sekali tidak ada. Hanya ada satu Allah yang benar, atau yang berkuasa di dunia. Paulus meneruskan penjelasannya di (ayat 5,6);
”Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ”allah”, baik di surga, maupun di bumi-dan memang benar ada banyak ”allah” dan banyak ”tuhan” yang demikian-namun bagi kita (orang-orang percaya yang benar) hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripadanya berasal segala sesuatu (yang baik dan yang jahat, seperti yang kita lihat pada referensi-referensi sebelumnya).”
Keterangan-keterangan lain mengenai orang-orang di Perjanjian Baru yang mempercayai roh-roh jahat sebagai berhala atau ”allah-allah”, dapat ditemukan di Kisah para Rasul 17:16-18; yang menceritakan tentang penginjilan Paulus di Atena, daerah yang ”penuh dengan patung-patung berhala”, karena begitu banyak berhala-berhala yang disembah. Setelah mendengar penginjilan Paulus, orang-orang itu berkata; ”Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa (roh-roh jahat) asing (baru).” Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitannya.” karena itu mereka mengira bahwa ”Yesus” dan ”kebangkitannya” adalah roh-roh jahat atau berhala yang baru, sebagaimana yang telah dijelaskan kepada mereka. Jika anda membaca bagian akhir dari pasal ini, dijelaskan bahwa Paulus mengajarkan kebenaran kepada mereka, lalu di ayat 22 ia mengatakan; ”kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa.” Kemudian ia menjelaskan bahwa Allah tidak terdapat di dalam berhala-berhala atau roh-roh jahat. Dengan mengingat bahwa Allah adalah satu-satunya sumber dari segala kuasa, maka jika Ia tidak terdapat di dalam roh-roh jahat, berarti roh-roh jahat itu tidak mempunyai kuasa, karena tidak ada sumber kuasa lain di dunia ini. Kesimpulannya, mereka itu tidak ada.
”Roh-roh jahat” di dalam Perjanjian Lama adalah berhala-berhala
Kembali ke Perjanjian Lama, terdapat keterangan-keterangan yang lebih banyak, bahwa ”roh-roh jahat” sama dengan berhala. Ulangan 28:22-28, 59-61, menjelaskan tentang penyakit mental sebagai salah satu dari hukuman-hukuman bagi para penyembah berhala/roh-roh jahat. Hal ini menjelaskan hubungan antara roh-roh jahat dengan penyakit mental di dalam Perjanjian Baru. Perlu dicatat, roh-roh jahat ada hubungannya dengan penyakit, bukan dosa. Tidak catatan bahwa Yesus mengusir roh-roh jahat keluar dari seseorang yang iri hati, pembunuh, dll. Dan juga harus menjadi catatan bahwa Alkitab mencatat orang-orang yang memiliki penyakit/roh-roh jahat, bukan mencatat roh-roh jahat yang menyebabkan penyakit. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta), menggunakan kata ”daimonion” untuk ”berhala” pada Ulangan 32:17 dan Mazmur 106:37; kata ini diterjemahkan menjadi ”roh-roh jahat” di dalam Perjanjian Baru. Mazmur 106:36-39 menceritakan tentang dosa-dosa bangsa Israel dan menyamakan berhala-berhla Kanaan dengan roh-roh jahat;
”Mereka (Israel) beribadah kepada berhala-berhala mereka, yang menjadi perangkap bagi mereka. Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan...Mereka menajiskan diri dengan apa yang mereka lakukan, dan berzinah dalam perbuatan-perbuatan mereka.”
Jelas sekali, bahwa roh-roh jahat hanyalah istilah lain dari berhala-berhala. Penyembahan kepada roh-roh jahat yang mereka lakukan, dikatakan Allah sebagai penyembahan ”kepada apa yang mereka lakukan...dalam perbuatan-perbuatan mereka” karena mereka percaya kepada roh-roh jahat yang adalah hasil dari imajinasi manusia; berhala-berhala yang mereka ciptakan adalah hasil dari ”perbuatan-perbuatan mereka.” Jadi, mereka yang mempercayai roh-roh jahat pada saat ini berarti mempercayai hal-hal yang merupakan hasil imajinasi manusia, buatan manusia, daripada mempercayai apa yang telah diajarkan Allah kepada kita.
Ulangan 32:15-24 menceritakan tentang bagaimana kemarahan Allah ketika mendapati umatNya percaya kepada roh-roh jahat; bangsa Israel ”memandang rendah gunung batu keselamatannya. Mereka membangkitkan cemburuNya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hatiNya dengan dewa kekejian. Mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat uyang bukan Allah, kepada Allah yang tidak mereka kenal...yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar...Ia (Allah) berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajahKu terhadap mereka...sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan. Mereka membangkitkan cemburuKu dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hatiku dengan berhala mereka...Aku akan menimbun malapetaka ke atas mereka.”
Jadi, Allah menjelaskan bahwa roh-roh jahat sama dengan berhala-berhala dan dewa kekejian; hal yang sia-sia untuk dipercayai karena keberadaannya yang sama sekali tidak ada. Percaya kepada roh-roh jahat menunjukkan kurangnya iman kepada Allah. Memang tidak mudah untuk mempercayai bahwa Allah yang menyebabkan hal-hal yang baik dan hal-hal yang jahat terjadi di dalam hidup kita. Lebih mudah untuk berpikir bahwa hal-hal yang jahat tidak berasal dari Allah. Karena, jika kita mengatakan segala sesuatu berasal dari Allah, maka kita juga harus mempercayai bahwa Allah yang akan mengambilnya dari kita, atau hal-hal tersebut akan bermanfaat bagi kita dikemudian hari.
Roh-roh jahat Perjanjian Baru
Mungkin anda bertanya; ”Bagaimana dengan ayat-ayat di dalam Perjanjian Baru yang dengan jelas berbicara tentang roh-roh jahat?”
Satu hal yang harus kita pahami: ayat-ayat di dalam Alkitab tidak saling bertentangan, karena itu adalah firman dari Allah yang Maha kuasa. Jika Alkitab memberitahu kita bahwa Allah yang menyebabkan masalah-masalah di dalam kehidupan kita, dan Ia adalah sumber dari segala kuasa, maka pada bagian lain, Alkitab tidak akan mengatakan bahwa roh-roh jahat, allah-allah yang menentang Allah, sebagai penyebab dari masalah-masalah kita. Sepertinya ada hal yang penting, karena kata ”roh-roh jahat” hanya muncul empat kali di dalam Perjanjian Lama (Alkitab dalam bahasa Inggris) dan selalu menjelaskan tentang penyembahan berhala. Tetapi di dalam catatan Injil, kata itu muncul banyak kali. Kami menyimpulkan hal ini karena pada waktu Injil dicatat, bahasa yang digunakan adalah bahasa pada waktu itu. Ketika menjelaskan berbagai penyakit yang tidak mereka pahami, mereka menganggap roh-roh jahat sebagai penyebabnya. Jika roh-roh jahat benar-benar ada, dan bertanggung jawab atas semua penyakit dan masalah kita, maka pasti ada penjelasan lebih lanjut tentang hal itu di dalam Perjanjian Lama. Tetapi, tidak ada penjelasan mengenai hal itu dalam konteks yang kita bahas.
Roh-roh jahat di dalam Perjanjian Baru
Dengan mengatakan bahwa roh-roh jahat dikeluarkan dari seseorang, sama dengan mengatakan bahwa ia disembuhkan dari penyakit mental atau kegilaan. Yang tidak dipahami pada masa itu. Orang-orang yang hidup pada abad pertama lebih cenderung menyalahkan segala sesuatu yang tidak mereka pahami, kepada sesuatu yang abstrak, yang disebut ”roh-roh jahat.” Pada saat itu penyakit mental sulit untuk dipahami, karena tingkat ilmu kedokteran mereka yang masih rendah. Oleh karenanya, orang-orang yang hidup pada masa itu mengatakan, bahwa orang-orang yang mengidap penyakit mental, ”dikuasai roh-roh jahat.” Pada masa Perjanjian Lama, kata roh jahat atau roh najis, menunjuk kepada keadaan mental seseorang (Hak. 9:23; 1 Sam. 16:14; 18:10). Dalam masa Perjanjian Baru, bahasa ”dikuasai iblis/roh-roh jahat” menunjuk kepada penyakit mental yang diderita seseorang. Hubungan antara roh-roh jahat dan penyakit ditunjukkan dalam ayat berikut ini; ”Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kemasukkan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu...Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya; ”Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat. 8:16,17). Jadi, kelemahan dan penyakit kita sama dengan dirasuki oleh ”roh-roh jahat” dan ”roh-roh setan.”
Banyak orang mengira bahwa Yesus sedang marah, dan mengatakan bahwa ia dirasuki setan/roh-roh jahat, ”Ia kerasukan setan dan gila” (Yoh. 10:20; 7:19,20; 8:52). Pastilah mereka mempercayai bahwa roh-roh jahat yang menyebabkan kegilaan.
Menyembuhkan orang sakit
Ketika mereka sudah disembuhkan, orang-orang yang ”dirasuki oleh roh-roh jahat”, dikatakan telah kembali ke keadaan yang ”waras” – Mrk. 5:15; Luk. 8:35. Yang secara tidak langsung menyatakan bahwa ”dirasuki oleh roh-roh jahat” adalah istilah lain untuk mengatakan keadaan mental seseorang yang terganggu, yaitu tidak waras.
Orang-orang yang ”dirasuki oleh roh-roh jahat” dikatakan telah ”disembuhkan” atau ”diobati” – Mat. 4:24; 12:22; 17:18 – Yang secara tidak langsung menyatakan bahwa dirasuki oleh roh-roh jahat adalah istilah lain untuk menjelaskan suatu penyakit.
Dalam Lukas 10:9, Yesus berkata kepada 70 murid-muridnya untuk pergi dan ”menyembuhkan orang-orang sakit” sebagai tugas yang harus mereka lakukan. Ketika mereka kembali, ayat 17; ”Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi namamu”- sekali lagi, roh-roh jahat dan penyakit dikaitkan. Kadang-kadang para murid mengobati orang-orang sakit dalam nama Yesus, dari kisah ini kita mendapatkan contoh dari hal-hal yang kita bahas. (lihat juga Kis. 3:6; 9:34).
Bahasa pada waktu itu
Jadi, seperti yang telah dijelaskan, Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa yang dipahami pada waktu itu, untuk menjelaskan seseorang yang dirasuki oleh roh-roh jahat; yang sebenarnya adalah penyakit mental. Karena tidak ada yang dapat memahaminya pada saat itu. Kebudayaan pada zaman pemerintahan Roma dan Yunani, memepercayai bahwa roh-roh jahat dapat merasuki seseorang, sehingga menyebabkan penyakit mental. Orang-orang ”Kristen” yang mempercayai keberadaan dari roh-roh jahat, sama dengan mengatakan bahwa kebudayaan dari para penyembah berhala pada saat itu, sangat betul sekali. Alkitab ditulis dalam bahasa yang dapat dipahami pada masa itu, tetapi tidak mengartikan bahwa Alktiab atau Yesus mempercayai keberadaan roh-roh jahat. Sama seperti ungkapan ”makan garam”, yang digunakan untuk menjelaskan seseorang yang berpengalaman, yang sama sekali tidak mengartikan bahwa, seseorang bisa menjadi berpengalaman, karena ia banyak makan garam.
Jika ungkapan ini ditulis pada selembar kertas, kemudian dibaca kembali 2000 tahun kedepan – jika Yesus tidak datang kembali – mungkin orang-orang akan mengira, bahwa dengan makan garam mereka dapat menjadi berpengalaman. Jelas sekali, mereka salah, karena kita menulisnya berdasarkan bahasa yang dimengerti pada zaman kita, seperti yang dilakukan oleh Yesus 2000 tahun yang lalu. Sama halnya dengan perayaan hari natal. Telah terbukti bahwa Yesus Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember, tetapi penulis buku ini masih menyebut hari tersebut adalah hari natal, walaupun saya tidak percaya bahwa kita diharuskan untuk merayakan hari tersebut sebagai hari kelahiran Kristus. Nama-nama hari dalam satu minggu dibuat berdasarkan kebudayaan para penyembah berhala, misalnya ”Sunday” (hari minggu) yang berarti ”hari yang dikhususkan untuk menyembah matahari”; ”Saturday” (hari sabtu) hari dimana planet saturnus harus disembah; ”Monday” (hari senin) hari untuk bulan, dst. Dengan menggunakan nama-nama hari ini, tidak berarti kita mempercayai penyembahan berhala, karena nama-nama hari tersebut dibuat berdasarkan bahasa yang kita gunakan pada saat ini. Seperti kata ”influenza” yang sering digunakan pada saat ini; kata tersebut sebenarnya berasal dari ”influenced by demons” (yang disebabkan oleh roh-roh jahat). Begitu juga dengan Daniel, yang namanya dirubah menjadi ”Beltsazar”, nama ini adalah cerminan dari dewa-dewa berhala. Alkitab mencatatnya di Daniel 9:14. Ketika Daniel dipanggil ”Beltsazar”, tidak ada keterangan yang menjelaskan bahwa nama itu merupakan cerminan dari pemikiran yang salah. Sama halnya dengan menyebut ”Paus” untuk mengidentifikasikan seseorang, walaupun saya tahu yang sebenarnya adalah salah dengan menyebut dia sebagai ”Paus” atau Bapa (Mat. 23:9).
Pada zaman Yehezkiel, ada mitos bahwa tanah Israel bertanggungjawab atas nasib malang yang menimpa mereka yang tinggal diatasnya. Hal ini tidak benar, walaupun Allah memberikan jawaban kepada Israel dengan menggunakan gagasan yang kemudian menjadi populer; ”Beginilah firman Tuhan Allah: Oleh karena orang berkata tentangmu: engkau memakan orang dan engkau memunahkan bangsamu, oleh karena itu engkau (tanah Israel) tidak akan makan orang lagi...demikianlah firman Tuhan Allah” (Yeh. 36:13,14). Ada suatu gagasan yang berasal dari para penyembah berhala, bahwa di dalam laut terdapat makhluk mengerikan yang sangat besar, yang ingin menelan bumi. Walaupun hal ini tidak terbukti benar, tetapi Alkitab sering menggunakan hal ini sebagai gambaran agar yang membacanya dapat memahami hal yang sedang dijelaskan; lihat Ayub 7:12; Amos 9:13; Yeremia 5:22; Mazmur 89:9; Habakuk 3:10; Matius 14:24; Markus 4:30. Mitos orang-orang Asyur menyebutkan bahwa makhluk laut yang suka memberontak ini bernama ”Rahab” dan nama ini juga diberikan kepada makhluk laut yang mengerikan dari bangsa Mesir – Yesaya 51:9.
Dengan mengingat bahwa Alkitab diilhamkan Allah maka, mustahil Alkitab terpengaruh dengan hal-hal yang berkaitan dengan penyembahan berhala pada waktu penulisannya. Pastilah Allah dengan sengaja menyinggung kepercayaan yang diyakini pada masa itu, dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa Ia adalah sumber dari segala kuasa; Ia yang mengendalikan ”makhluk mengerikan” di laut, sehingga Ia berkuasa atasnya. Oleh karena itu, Allah kemudian mengoreksi kepercayaan yang salah dari orang-orang itu, yang mengakui bahwa ada kuasa-kuasa di dalam dunia ini yang tidak berada di bawah pengaturan Allah, sehingga disimpulkan bahwa kuasa-kuasa itu berasal dari iblis. Walaupun begitu, dalam hal ini, Alkitab tidak menentang pemahaman mereka, dan mengutuknya sebagai suatu kebodohan untuk mempercayai keberadaan makhluk raksasa yang bersembunyi di dalam laut, atau laut disebut sebagai makhluk yang mengerikan.
Contoh yang lain terdapat didalam penjelasan tentang halilintar dan awan badai, yang disebut sebagai ”ular yang tangkas” (Ayub 26:13; Yes. 17:1). Hal ini dengan jelas menyinggung kebudayaan para penyembah berhala yang mempercayai bahwa halilintar dan gumpalan awan yang menakutkan adalah ular raksasa. Ayat-ayat ini tidak menyebutkan bahwa gagasan tersebut adalah suatu hal yang bodoh, atau dijelaskan secara ilmiah. Sebaliknya, ayat-ayat tersebut mengatakan bahwa Allah yang mengendalikan semua itu. Sama dengan sikap Kristus sewaktu menanggapi kepercayaan yang secara umum diyakini pada masa itu, yakni tentang roh-roh jahat. Mujizat-mujizat yang ia lakukan dengan jelas menunjukkan bahwa kuasa mutlak dan sempurna, tidak dibatasi oleh tahayul-tahayul tentang ”roh-roh jahat.” Bagi mereka yang percaya, bahwa catatan-catatan dalam Perjanjian Baru tentang ”roh-roh jahat” membuktikan bahwa hal-hal tersebut memang betul-betul ada; maka, mereka juga harus mempercayai bahwa laut adalah makhluk yang mengerikan, dan halilintar adalah ular raksasa. Sebagai dasar, kita harus memahami tentang penggunaan bahasa yang dimengerti pada masa penulisan Alkitab, dan menghormatinya tanpa harus mempercayai kepercayaan-kepercayaan yang mendasarinya. Seperti yang telah kami jelaskan tentang contoh-contoh penggunaan bahasa pada saat ini, begitu juga dengan yang dilakukan Alkitab, dengan tujuan untuk membenarkan beberapa dari dasar-dasar kebenaran yang telah kita bahas dalam pelajaran 6.1 dan 6.2, yaitu; Allah maha kuasa; Ia bertanggungjawab atas masalah-masalah kita; dosa berasal dari kita sendiri. Semua hal-hal ini dapat kita pahami dengan menghargai kebesaran dari kuasa Allah untuk menyelamatkan kita. Mereka yang disebut ”pengkritik tajam” tidak henti-hentinya berusaha menemukan hubungan antara bahasa yang digunakan Alkitab dengan kepercayaan dan konsep dari kebudayaan setempat, dimana Alkitab dicatat. Hal ini tidak dapat dimengerti, karena penggunaan bahasa di dalam Alkitab yang menyinggung kepercayaan-kepercayaan setempat bertujuan untuk mengarahkan kepada Yahweh, satu-satunya Allah yang benar. Tidak seperti yang dipahami oleh orang-orang yang berpikiran picik, yang mengatakan bahwa firman-firman terilham yang didengar langsung dari mulut nabi-nabi, firman itulah yang benar.
Dengan didasari atas pemahaman yang telah dijelaskan, akan mengejutkan jika kita menemukan banyak contoh di dalam Perjanjian Baru tentang penggunaan bahasa pada waktu itu yang sama sekali tidak dikoreksi, berikut ini ada beberapa contoh;

- Orang-orang Farisi menuduh Yesus melakukan mujizat-mujizat dengan kuasa dari allah palsu yang disebut Beelzebul. Yesus mengatakan, ”jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa siapakah pengikut-pengikutmu mengusirnya?” (Mat. 12:27). II Raja-raja 1:2 dengan mengatakan bahwa Beelzebul adalah allah palsu dari bangsa Filistin. Tetapi, Yesus tidak mengatakan, ”lihat, II Raj. 1:2 mengatakan Beelzebul adalah allah palsu, jadi tuduhan kalian tidak benar.” Tetapi dia malah menjawab seakan-akan Beelzebul betul-betul ada. Karena dia ingin pesan yang ingin ia sampaikan dapat dipahami oleh orang-orang yang ia ajar. Yesus menjawab dengan cara yang sama ketika ia mengusir roh-roh jahat, tetapi ia tidak mengatakan, ”sebenarnya mereka tidak ada.” Dia memberitakan Injil dengan menggunakan bahasa yang dipahami pada waktu itu.
- Kisah para Rasul 16:16-18 adalah kata-kata dari Lukas yang berada di bawah ilham; ”kami bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung.” Sebagaimana yang dijelaskan pada catatan kaki dalam Alkitab interlinear (Diaglott version), Phyton (roh tenung) adalah nama allah palsu yang dipercayai pada masa abad pertama, kemungkinan sama dengan dewa Apollo. Jadi, Phyton sebenarnya tidak ada. Dan Lukas tidak mengatakan bahwa perempuan itu ”dirasuki oleh Phyton (roh tenung), yang adalah allah palsu, yang keberadaannya sama sekali tidak ada.” Dengan cara yang sama, Injil mencatat tentang peristiwa Yesus ”mengusir roh-roh jahat.” yang sebenarnya tidak betul-betul ada. Kata-kata tersebut hanyalah bahasa yang digunakan pada masa itu untuk menjelaskan penyakit-penyakit.
- Lukas 5:32 menceritakan tentang Yesus yang sedang berbicara dengan orang-orang Yahudi yang jahat; ”Aku datang bukan untuk memanggil orang benar...” sebenarnya, ia harus mengatakan; ”Aku datang bukan untuk memanggil orang-orang yang merasa dirinya benar.” Tetapi, Yesus mengatakannya menurut jalan pikiran mereka, yang sebenarnya tidak benar demikian. Lukas 19:20-23 menjelaskan tentang perumpamaan uang mina, dimana Yesus menggunakan kata-kata yang tidak benar, ketika menjelaskan jawaban yang diberikan kepada hamba yang ketiga, tetapi ia tidak mengoreksi kata-kata tersebut.
- Alkitab sering kali berbicara tentang matahari ”terbit” dan ”tenggelam”; ini adalah cara manusia untuk menjelaskan peristiwa itu. Tetapi secara ilmiah hal ini tidak benar. Seperti penjelasan tentang penyakit-penyakit, yang dijelaskan dengan menggunakan kata-kata yang tidak benar, yaitu ”roh-roh jahat.” Kisah para Rasul 5:3 menceritakan tentang bagaimana Ananias mendustai roh kudus. Sebenarnya hal ini tidak mungkin terjadi, karena roh kudus tidak dapat dibohongi.
- Banyak contoh-contoh dalam Alkitab tentang penggunaan bahasa yang dipahami pada masa penulisan Alkitab, tetapi tidak lazim bagi kita. Contoh; ”kulit ganti kulit” (Ayub 2:4), yang menyinggung kebiasaan yang dilakukan pada zaman purbakala, yaitu menjual kulit-kulit dengan harga yang sebanding. Pria sundal disebut ”semburit bakti” di Ulangan 23:18. Contoh-contoh yang lain adalah tentang roh-roh jahat.
- Pada zaman Kristus, orang-orang Yahudi mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang benar, Karena mereka adalah keturunan Abraham. Oleh karena itu Yesus menyebut mereka sebagai ”orang benar” (Mat. 9:12,13), dan berkata, ”Aku tahu bahwa kamu adalah keturunan Abraham” (Yoh. 8:37). Tetapi dia tidak menganggap mereka sebagai orang yang benar, seperti yang ia jelaskan dengan jelas, melalui jawaban-jawabannya di Yohanes 8:39-44, ia mengatakan bahwa mereka bukan keturunan Abraham. Jadi, sebagai pembukaan, Yesus mengikuti apa yang dipercayai oleh banyak orang, tanpa dengan segera membantah apa yang mereka yakini, kemudian setelah itu barulah ia menunjukkan hal yang benar. Kami telah menjelaskan, bahwa pendekatan seperti inilah yang digunakan Allah sewaktu menyinggung kepercayaan para penyembah berhala, yang pada umumnya diyakini oleh banyak orang pada masa Perjanjian Lama. Sama dengan cara Kristus dalam menyikapi roh-roh jahat di dalam Perjanjian Baru; Allah menghendaki ia melakukan banyak mujizat agar mereka mengetahui dengan jelas bahwa Allah yang menyebabkan penyakit, bukan kuasa lain, dengan mempertimbangkan bahwa mereka disembuhkan oleh kuasa Allah yang maha besar.
- Paulus mengutip puisi-puisi Yunani yang terkenal dalam sejumlah ayat yang membingungkan, dengan tujuan untuk mengutuk mereka yang mempercayai isi dari puisi-puisi itu (Tit. 1:12; Kis. 17:28). Yang ingin kami kemukakan adalah cara yang digunakan Paulus dalam memberikan jawaban, ketika ia menemukan altar yang dibuat untuk memberikan persembahan kepada ”Allah yang tidak dikenal”, yaitu dewa-dewa berhala yang mungkin benar-benar ada, yang belakangan ditinggalkan oleh orang-orang Atena. Daripada membantah mereka atas kepercayaan yang bodoh ini, Paulus malah mengikuti jalan pikiran mereka, agar mereka dapat mengetahui Allah yang benar, yang tidak mereka kenal (Kis. 17:22,23).
- Efesus 2:2 berbicara tentang ”penguasa kerajaan angkasa.” Hal ini dengan jelas menyinggung konsep mitologi zoroaster, salah satu hal yang dipercayai oleh pembaca surat-surat Paulus. Paulus mengatakan bahwa dulu mereka pernah mentaati ”penguasa kerajaan angkasa.” Masih dalam ayat yang sama, Paulus menjelaskannya sebagai ”roh yang sekarang sedang bekerja diantara orang-orang durhaka.” Karena sebelumnya mereka pernah mempercayai konsep penyembahan berhala tentang roh pangeran angkasa. Kemudian Paulus menjelaskan, bahwa sebenarnya hal tersebut adalah hal-hal yang jahat di dalam hati mereka sendiri. Karena inilah, maka gagasan dari penyembahan berhala disinggung tanpa dibantah sama sekali, ketika Paulus menjelaskan hal-hal yang benar, yang berkaitan dengan dosa.
- Kisah para Rasul 28:3-6 menceritakan tentang seekor ular beracun yang menggigit Paulus di tangannya. Orang-orang di sekeliling Paulus menuduhnya sebagai pembunuh yang ”tidak dibiarkan hidup oleh dewi keadilan.” Mereka tidak memahami apa yang terjadi sebenarnya, tetapi Paulus tidak mengoreksi mereka, ia malah membuat suatu keajaiban, dengan melemparkan ular itu ke dalam api tanpa terluka sedikitpun.
- Mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus menyingkapkan pandangan yang salah dari orang-orang yang melihatnya, misalnya tentang roh-roh jahat. Ia tidak mengoreksi mereka dengan banyak kata. Begitu juga dengan Lukas 5:21, sewaktu orang Yahudi mengatakan dua pernyataan yang salah; Yesus disebut penghujat, dan hanya Allah sendiri yang dapat mengampuni dosa. Tetapi Yesus tidak terang-terangan mengoreksi mereka, ia malah membuat mujizat untuk membuktikan bahwa pernyataan mereka itu salah.
- Dengan jelas kita dapat melihat bahwa Yesus adalah orang yang banyak bertindak daripada banyak berbicara. Jarang sekali ia mencela langsung gagasan-gagasan yang salah, ia juga tidak mencela hukum Musa, yang dianggap oleh banyak orang dapat memberikan keselamatan. Tetapi ia menunjukkannya melalui tindakannya, misalnya dengan menyembuhkan orang sakit pada hari sabat, yang sebenarnya dilarang. Ketika ia dituduh sebagai orang Samaria, ia tidak membantahnya (Yoh. 8:48,49 bandingkan 4:7-9) demi statusnya sebagai orang Yahudi, keturunan Abraham, yang memegang peranan penting dari rencana keselamatan Allah (Yoh. 4:22).
Bahkan ketika orang-orang Yahudi menyatakan kesimpulan yang salah dengan mengatakan bahwa Yesus ”menyamakan dirinya dengan Allah” (Yoh. 5:18), Yesus tidak dengan tegas menyangkalnya; sebaliknya, ia malah mendebatkan tentang mujizat-mujizatnya, yang menunjukkan bahwa ia datang atas nama Allah, yang membuktikan bahwa ia TIDAK sama dengan Allah. Sebagaimana halnya mujizat-mujizat Yesus membuktikan kepercayaan yang salah tentang roh-roh jahat. Begitu juga dengan mujizat Kristus sewaktu ia menyembuhkan orang lumpuh di kolam Betesda. Ia bertujuan untuk menunjukkan kebodohan dari mitos orang-orang Yahudi, yang mempercayai bahwa pada waktu Paskah, seorang malaikat menyentuh air di kolam itu, sehingga dapat menyembuhkan orang-orang sakit. Mitos ini dicatat tanpa disinggung sedikitpun mengenai kebenarannya; dan mujizat yang dilakukan Yesus bertujuan untuk menunjukkan kesalahan dari mitos tersebut (Yoh. 5:4).
- II Petrus 2:4 menceritakan tentang orang-orang yang pergi menuju ke Tartarus (diterjemahkan menjadi ”neraka”). Tartarus adalah mitos tentang suatu tempat bagi orang-orang jahat. Tetapi Paulus tidak mengoreksinya, ia malah menggunakannya sebagai simbol dari pembinasaan dan penghukuman atas dosa. Begitu juga sewaktu Kristus menggunakan kata Gehenna (lihat pelajaran 4.9)
Apakah Roh-roh jahat adalah penyebab dari berbagai penyakit?
Setiap orang yang percaya akan keberadaan dari roh-roh jahat, harus menanyai dirinya sendiri; ”Ketika saya sakit, apakah disebabkan oleh roh-roh jahat?” Jika anda mengira bahwa referensi tentang roh-roh jahat didalam Perjanjian Baru menunjuk kepada allah-allah palsu yang berkeliling dunia untuk melakukan kejahatan; jika anda mengatakan bahwa hal ini benar, bagaimana anda dapat menjelaskan tentang fakta dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh roh-roh jahat, dapat disembuhkan atau dikendalikan dengan obat-obatan? Contoh klasik adalah penyakit malaria, sebagian besar orang di Afrika hingga saat ini mempercayai bahwa malaria disebabkan oleh roh-roh jahat. Seperti yang kita ketahui bersama, malaria dapat disembuhkan dengan air daun kina, atau obat-obatan yang lain. Lalu, apakah anda akan mengatakan, bahwa ketika roh-roh jahat melihat tablet-tablet kuning yang masuk ke dalam tenggorokan anda, mereka menjadi takut dan pergi? Beberapa penyakit yang disembuhkan Yesus, yang disebabkan karena dirasuki roh-roh jahat, telah diidentifikasi sebagai penyakit Tetanus atau Epilepsi, dan keduanya dapat disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan.

Saya mempunyai seorang sahabat yang berasal dari sebuah desa yang terletak di luar kota Kampala, Uganda. Ia mengatakan bahwa orang-orang diharuskan untuk mempercayai bahwa malaria disebabkan oleh roh-roh jahat. Tetapi ketika mereka melihat bagaimana penyakit itu dapat dikendalikan dengan mudahnya melalui obat-obatan, mereka berhenti menyalahkan roh-roh jahat. Seorang dokter dari kota terdekat, datang dan menawarkan kepada mereka obat-obat anti malaria untuk penyembuhan, tetapi mereka menolaknya, dan mengatakan bahwa mereka memerlukan sesuatu untuk melawan roh-roh jahat, bukan malaria. Dokter itu kemudian datang kembali dan mengatakan, ”saya mempunyai obat yang dapat mengusir roh-roh jahat”; lalu orang yang sakit segera mengambil obat itu, dan keadaannya menjadi lebih baik; cara yang sama juga digunakan ketika memberi tablet yang kedua. Dokter itu tidak mempercayai roh-roh jahat, tetapi ia hanya menggunakan bahasa yang dipahami oleh orang-orang itu, sama seperti yang dilakukan oleh ”Dokter yang Agung” yaitu Yesus, 2000 ta
7.1 Nubuat tentang Yesus di Perjanjian Lama
Pada pelajaran 3 dijelaskan bagaimana rencana keselamatan Allah untuk manusia berpusat pada Yesus Kristus. Janji-janji yang Allah berikan kepada Hawa, Abraham, dan Daud, semuanya berbicara tentang Yesus, yang berasal dari garis keturunan mereka. Karena itu, secara keseluruhan Perjanjian Lama merupakan gambaran ke depan tentang Yesus, dan juga menubuatkan tentang dia. Hukum Musa, yang harus ditaati oleh Israel sebelum kedatangan Kristus; adalah gambaran ke depan tentang Yesus: ”Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang” (Gal. 3:24). Karena itu, pada waktu perayaan Paskah, seekor anak domba yang tidak bercela harus dibunuh (Kel. 12:3-6); yang merupakan gambaran dari pengorbanan Yesus, ”Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29; I Kor. 5:7). Kondisi yang tidak bercela, yang diwajibkan bagi seluruh binatang yang akan dikorbankan, merupakan gambaran tentang karakter Yesus yang sempurna (Kel. 12:5 bandingkan I Ptr. 1:19).
Di dalam Mazmur dan kitab nabi-nabi Perjanjian Lama, terdapat nubuat yang berkelanjutan tentang Mesias. Terutama mengenai keterangan-keterangan bagaimana ia akan mati Penolakan Yudaisme atas gagasan tentang kematian Mesias, diebabkan kurangnya pemahaman mereka atas nubuat-nubuat ini, beberapa diantaranya adalah;
Nubuat Perjanjian Lama
Penggenapan oleh Kristus
”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm. 22:1)
Inilah kata-kata yang Yesus ucapkan di kayu salib (Mat. 27:46)
”Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: ”Ia menyerah kepada Tuhan; biarlah Dia yang melepaskannya; biarlah Dia yang meluputlkannya” (Mzm. 22:6-8)
Orang-orang Israel menghina Yesus dan mengolok-oloknya (Luk. 23:35; 8:53); mereka menggelengkan kepala mereka (Mat. 27:39), dan mengatakan hal ini ketika Yesus disalib (Mat. 27:43)
”Lidahku melihat pada langit-langit mulutku…mereka menusuk tangan dan kakiku” (Mzm. 22:16,17)
Ayat ini digenapi ketika Yesus merasa haus (Yoh. 19:28). Penusukan tangan dan kaki adalah cara yang digunakan untuk penyaliban
“Mereka membagi-bagikan pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku” (Mzm. 22:19)
Penggenapan ayat ini terdapat di Matius 27:35
Catat, Mazmur 22:22 dikutip khusus kepada Yesus, di Ibrani 2:12
“Aku telah menjadi orang-orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumahMu menghanguskan aku” (Mzm. 69:9,10)
Ayat ini menjelaskan perasaan Yesus ketika ia diasingkan oleh saudaranya sesama Yahudi dan keluarganya sendiri (Yoh. 7:3-5; Mat. 12:47-49). Ayat ini juga dikutip di Yohanes 2:17
“mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam” (Mzm. 69:22)
Hal ini terjadi ketika Yesus disalib (Mat. 27:34)
Seluruh ayat di Yesaya 53 adalah nubuat tentang kematian dan kebangkitan Kristus; dari setiap ayat, tidak ada yang tidakdigenapi. Berikut ini ada dua ayat dari antaranya;
“dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian ke pembantaian” (Yes. 53:7)
Kristus, anak domba Allah, tetap bungkam selama penderitaannya (Mat. 27:12,14)
”Orang-orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat” (Yes. 53:9)
Yesus disalib bersama penjahat (Mat. 27:38), tetapi dikubur di pekuburan orang-orang kaya (Mat. 27:57-60)
Suatu hal yang menakjubkan, Perjanjian Baru mengingatkan kita tentang ”hukum taurat dan kitab nabi-nabi” di Perjanjian Lama sebagai dasar pemahaman kita akan Kristus (Kis. 26:22; 28:23; Rm.1:2,3; 16:25,26). Yesus sendiri memperingatkan, jika kita tidak memahami dengan benar tentang ”kitab-kitab Musa dan nabi-nabi”, maka kita tidak dapat memahami Yesus (Luk. 16:31; Yoh. 5:46,47).
Hukum Musa memberikan gambaran ke depan tentang Yesus, dan nabi-nabi menubuatkan tentang dia. Hal ini cukup untuk membuktikan bahwa Yesus tidak hadir di bumi secara fisik sebelum kelahirannya. Doktrin palsu tentang ”keberadaan” Yesus secara fisik sebelum ia lahir, akan membuat janji-janji yang diulangi tentang dia, yang akan menjadi keturunan dari Hawa, Abraham, dan Daud, menjadi tidak ada artinya. Jika ia sebelumnya sudah berada di surga pada waktu janji-janji itu diberikan, maka Allah telah salah memberikan janji-janji kepada orang-orang ini sehubungan dengan keturunan mereka yang akan menjadi Mesias. Silsilah Yesus yang dicatat di Matius 1 dan Lukas 3 menunjukkan bahwa asal-usul Yesus berasal dari orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan janji-janji itu.
Janji-janji yang diberikan kepada Daud sehubungan dengan Kristus, menyangkal keberadaan Yesus secara fisik pada waktu janji-janji itu diberikan: ”Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu...Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu” (II Sam. 7:12,14). Perhatikan bentuk kalimatnya, yang menjelaskan hal yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Dengan memperhatikan bahwa Allah akan menjadi Bapa bagi Kristus, adalah suatu hal yang mustahil jika Anak Allah sudah ada sebelumnya, sewaktu janji itu diberikan. Dikatakan bahwa keturunan itu adalah ”anak kandung” Daud, yang menunjukkan bahwa ia secara fisik adalah keturunan Daud. ”Tuhan telah menyatakan sumpah setia kepada Daud...Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu” (Mzm. 132:11).
Salomo menggenapi beberapa dari janji-janji itu, tetapi ia sudah hidup pada waktu janji itu diberikan (II Sam. 5:14), penggenapan secara keseluruhan dari janji-janji itu, yaitu tentang keturunan Daud yang akan menjadi Anak Allah, digenapi oleh Yesus (Luk. 1:31-33), ”Aku akan menumbuhkan Tunas Adil bagi Daud” (Yer. 23:5), yaitu Mesias.
Penggunaan bentuk kalimat yang sama juga digunakan pada nubuat-nubuat yang lain tentang Kristus. ”Seorang nabi akan kubangkitkan bagi mereka (Israel)” (Ul. 18:18) dikutip di Kis. 3:22,23, yang menjelaskan bahwa ”nabi” itu adalah Yesus. ”Seorang perempuan muda (Maria) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan dia Imanuel” (Yes. 7:14). Yang digenapi melalui kelahiran Kristus (Mat. 1:23).
7.2 Lahir dari seorang perawan
Catatan mengenai pembuahan dan kelahiran dari Kristus, tidak mendukung gagasan bahwa ia telah ada sebelumnya. Mereka yang mendukung doktrin “Tri Tunggal” menjelaskan suatu hal yang membingungkan, dimana pada waktu yang sama ada 3 pribadi di surga, dan salah satu dari antara mereka menghilang, lalu muncul di dalam rahim Maria, meninggalkan dua pribadi yang lain di surga. Seperti yang telah kita pelajari dari tulisan kudus, bahwa semua keberadaan – termasuk Allah – mempunyai bentuk yang dapat dilihat. Oleh karena itu, keyakinan tentang “prakeberadaan” Yesus, yang pada suatu waktu turun dari surga dan masuk ke dalam rahim Maria, tidak akan kita bahas. Teologi yang rumit ini dengan jelas sekali telah keluar dari ajaran tulisan kudus. Catatan tentang permulaan Yesus tidak memberikan alasan apapun untuk berpikir bahwa ia secara fisik telah meninggalkan surga dan masuk ke dalam Maria. Kurangnya keterangan tentang hal ini merupakan suatu “mata rantai yang hilang” yang sangat penting dalam ajaran Tri Tunggal.
Malaikat Gabriel menampakkan dirinya kepada Maria dengan membawa berita bahwa;
“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi…Kata Maria kepada malaikat itu; “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (ia masih perawan). Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Luk. 1:31-35).
Dua kali ditegaskan, bahwa Yesus akan menjadi Anak Allah melalui kelahirannya; jelas sekali, Anak Allah tidak ada sebelum ia dilahirkan. Sekali lagi, penggunaan bentuk kalimat untuk menjelaskan kejadian yang akan datang harus diperhatikan, yaitu: ”ia akan menjadi besar.” Jika Yesus sudah ada sebelumnya, dan dengan memperhatikan kata-kata malaikat itu kepada Maria, berarti ia sudah menjadi besar sebelum ia dilahirkan. Yesus adalah ”Tunas” Daud (Why. 22:16). Kata Yunani yang diterjemahkan menjadi tunas, yaitu ’genos’ mengartikan bahwa Yesus adalah ’generasi dari’ Daud.
Pembuahan Yesus
Melalui Roh Kudus (nafas/tenaga Allah) yang menaunginya, Maria dapat mengandung Yesus tanpa harus melakukan hubungan dengan laki-laki. Karena itu Yusuf bukanlah ayah Yesus yang sebenarnya. Harus dipahami, bahwa Roh Kudus bukanlah suatu pribadi (lihat pelajaran 2); Yesus adalah Anak Allah, bukan Anak Roh Kudus. Allah menggunakan Roh Kudusnya untuk bekerja atas Maria, ”sebab itu anak yang kau lahirkan itu akan disebut kudus” yang akan disebut ”Anak Allah” (Luk. 1:35). Penggunaan kata ”sebab itu” menunjukkan bahwa tanpa Roh Kudus yang bekerja pada rahim Maria, Yesus, Anak Allah, tidak akan ada.
Dijelaskan bahwa Yesus ”dikandung” dalam rahim Maria (Luk. 1:31) juga merupakan bukti bahwa ia tidak ada sebelum hal itu terjadi. Jika kita ”mengandung” suatu gagasan, maka hal itu dumulai dari dalam diri kita. Seperti halnya Yesus yang dikandung di dalam rahim Maria, ia berawal dari sana dalam bentuk sebuah janin, seperti halnya manusia. Yoh. 3:16 adalah ayat yang paling dikenal, yang mencatat bahwa Yesus adalah ”AnakNya yang tunggal.” Jutaan orang yang suka mengutip ayat ini, tidak dapat memahami pesan apa yang terkandung di dalamnya. Jika Yesus ”diperanakkan” maka hal itu dimulai ketika ia dikandung dalam rahim Maria. Jika Yesus diperanakkan oleh Allah sebagai Bapanya, maka jelas sekali bahwa Bapanya lebih tua daripada dia – Allah tidak berawal (Mzm. 90:2), dan oleh karena itu Yesus bukanlah Allah itu sendiri (Pelajaran 8 menjelaskan hal ini).
Adalah suatu hal yang penting bahwa Yesus ”diperanakkan” oleh Allah daripada diciptakan seperti Adam. Hal ini menjelaskan kedekatan hubungan Allah dengan Yesus – ”Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus” (II Kor. 5:19). Keberadaan Kristus yang diperanakkan oleh Allah, dan tidak diciptakan dari debu, juga membantu untuk menjelaskan kecerdasan yang ia miliki secara alami untuk mengetahui jalan-jalan Allah, Bapanya.
Yesaya 49:5,6 menjelaskan nubuat tentang Kristus sebagai terang dunia, yang telah ia genapi (Yoh. 8:12), ia dijelaskan sebagai bagian dari rencana Allah, ”yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hambaNya.” Jadi, Kristus ”dibentuk” oleh Allah di dalam rahim Maria, oleh kuasa dari Roh kudusNya. Jelas sekali, rahim maria adalah tempat dimana Yesus berasal.
Kita telah melihat di pelajaran 7.1 bahwa Mazmur 22 menubuatkan apa yang dipikirkan oleh Yesus di kayu salib. Ia berpikir bahwa Alah ”yang mengeluarkan aku dari kandungan...KepadaMu aku diserahkan sejak lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku” (Mzm. 22:9,10). Menjelang kematiannya, Kristus mengingat kembali asal mulanya, yaitu dari dalam rahim Maria, ibunya; yang dibentuk oleh kuasa Allah. Penjelasan tentang Maria sebagai ”ibu” dari Kristus di dalam Injil, melenyapkan pemikiran bahwa sebelum ia dilahirkan oleh Maria, ia sudah ada.
Maria adalah manusia biasa yang memiliki orang tua, layaknya seperti seorang manusia. Hal ini dibuktikan melalui fakta bahwa ia mempunyai saudara sepupu, yang melahirkan Yohanes Pembaptis, seorang manusia biasa (Luk. 1:36). Gagasan Roma Katolik bahwa Maria bukan manusia biasa mengartikan bahwa Kristus tidak dapat menjadi ”anak manusia” dan ”anak Allah”; inilah gelarnya yang seringkali disebutkan di dalam Perjanjian Baru. Karena Allah bekerja melalui Roh Kudusnya atas Maria (Luk. 1:35). Ia disebut ”anak manusia” karena memiliki ibu manusia; dan disebut ”anak Allah” karena Allah adalah Bapanya. Penyusunan peristiwa yang indah ini akan lenyap, jika Maria bukanlah seorang manusia biasa.
”Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak...Masakan manusia bersih, masakan benar yang lahir dari perempuan?...dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?” (Ayub 14:4; 15:14; 25:4). Dengan demikian ayat-ayat ini mengoreksi setiap gagasan tentang pembuahan yang tidak bernoda yang mungkin dapat terjadi pada Maria atau Yesus.
Maria ”dilahirkan sebagai seorang wanita” oleh orangtuanya. Sebagai manusia, pastilah terdapat kenajisan dalam dirinya, yang ia warisi kepada Yesus, ”yang lahir dari seorang perempuan” (Gal. 4:4). Kata ”yang lahir dari” Maria, menerangkan bahwa Yesus tidak akan ada jika ia tidak dilahirkan oleh Maria.
Catatan Injil seringkali menunjukkan sifat-sifat Maria sebagai manusia. Kristus pernah memarahinya sedikitnya tiga kali, karena kurangnya pandangan tentang hal-hal rohani (Luk. 2:49; Yoh. 2:4); Maria tidakdapat memahami semua perkataannya (Luk. 2:50). Tepat seperti yang kami harapkan pada seorang wanita, ya ng adalah manusia biasa, yang anaknya adalah anak Allah, karena itu, Yesus memiliki pandangan rohani yang lebih dari Maria, walaupun Yesus mewarisi sifat-sifat manusia dari Maria. Yusuf melakukan hubungan dengan Maria setelah Kristus lahir (Mat. 1:25), tidak ada alasan untuk berpikir bahwa mereka tidak melakukan hubungan suami istri setelah itu.
Di Matius 12:46,47. disebutkan bahwa Yesus memiliki ”ibu dan saudara-saudara”, hal ini menunjukkan bahwa Maria mempunyai anak-anak yang lain selain Yesus. Yesus adalah ”anaknya yang pertama.” Ajaran Katolik tenatang Maria, yang tetap menjadi seorang perawan, dan kemudian diangkat ke surga, sama sekali tidak didukung oleh Alkitab. Sebagai manusia yang berkematian, Maria terus hidup hingga lanjut usianya, kemudian mati. Terpisah dari masalah ini, kita membaca di Yohanes 3:13, ”Tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga.” Fakta bahwa Kristus mempunyai sifat-sifat manusia (lihat Ibrani 2:14-18; Roma 8:3), mengartikan bahwa ibunya pasti juga memiliki sifat-sifat itu, dengan mengingat bahwa Bapanya tidak memiliki sifat-sifat itu.
7.3 Posisi Kristus dalam rencana Allah
Allah tidak merencanakan sesuatu tanpa dipikir lebih dahulu, dan tidak menambahkan beberapa hal dalam rencananya, selama pelaksanaannya sejak sejarah umat manusia dimulai. Allah mempunyai rencana yang sempurna sejak awal penciptaan (Yoh. 1:1). Oleh karena itu rencananya untuk memperanakkan seorang manusia, sudah Ia rencanakan sejak awal. Seluruh isi Perjanjian Lama menjelaskan rencana keselamatan Allah, melalui Kristus, ddari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Kami telah seringkali menunjukkan, bahwa janji-janji yang dijelaskan di Perjanjian Lama, Hukum Taurat, dan nubuat nabi-nabi, secara berkesinambungan menyatakan rencana keselamatan Allah melalui Kristus. Hal itu terdapat pada catatan pengetahuan tentang Allah, bahwa ia akan memiliki seorang anak, yang melaluinya alam semesta diciptakan (Ibr. 1:1,2). Dan terdapat pada catatan tentang Kristus, bahwa Allah menghendaki sejarah manusia berlangsung hingga berabad-abad (Ibr. 1:2). Karena itu, Wahyu Allah kepada manusia selama bertahun-tahun, penuh dengan referensi-referensi tentang Kristus, seperti yang terdapat di dalam Perjanjian Baru.
Supremasi Kristus dan kebesarannya, dan ajaran dasarnya tentang Allah, sangat sulit untuk dipahami sepenuhnya oleh kita. Karena itu, adalah benar untuk mengatakan bahwa sejak awal Kristus sudah ada di dalam pikiran dan rencana Allah, walaupun dia baru hidup setelah dilahirkan oleh Maria. Ibrani 1:4-7,13,14, menegaskan, bahwa Kristus bukanlah seorang malaikat; ketika ia hidup, ia lebih rendah daripada malaikat-malaikat (Ibr. 2:7), tetapi kemuliannya jauh lebih besar dari mereka, karena dia adalah “AnakNya yang tunggal” (Yoh. 3:16). Sejak permulaan kami telah menunjukkan bahwa bentuk kehidupan yang diajarkan oleh tulisan-tulisan kudus adalah bentuk kehidupan jasmani, karena itu Kristus tidak hidup dalam bentuknya sebagai “roh” sebelum ia dilahirkan. I Petrus 1:20 meringkaskan posisi Kristus, “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu, baru menyatakan dirinya pada zaman akhir.”
Yesus adalah titik pusat dari Injil, “Injil itu telah dijanjilkanNya (Allah) sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabiNya dalam kitab-kitab suci, tentang AnakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitannya dari antara orang mati, bahwa ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita” (Rm. 1:1-4).
Berikut ini adalah ringkasan sejarah Kristus;
Dijanjikan di Perjanjian Lama, yaitu di dalam rencana Allah.
Diciptakan sebagai seorang manusia melalui kelahirannya dari seorang perawan keturunan Daud.
Karakternya yang sempurna (roh kekudusan) ditunjukkan sewaktu ia hidup dalam keadaan yang tidak abadi.
Ia dibangkitkan dan dinyatakan sekali lagi dihadapan umum bahwa ia adalah Anak Allah, oleh murid-muridnya yang dikaruniai roh.
Pengetahuan Allah yang sempurna
Kami akan sangat membantu anda dalam memahami bagaimana Kristus sepenuhnya berada di dalam pikiran Allah sejak permulaan, walaupun ia belum ada. Jika kita bisa memahami hubungan antara hal ini dengan fakta bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi di waktu yang akan datang; maka kita akan mengetahui, bahwa Ia memiliki pengetahuan yang sempurna.
Karena itulah maka Allah dapat berbicara dan berpikir tentang hal-hal yang belum ada, seakan-akan mereka sudah ada. Inilah keseluruhan dari pengetahuannya tentang masa depan. Allah “menjadikan dengan firmanNya apa yang tidak ada menjadi ada” (Rm. 4:17). Karena itu Ia dapat mengatakan, bahwa Ia “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan” (Yes. 46:10). Karena itu Allah dapat berbicara kepada orang mati seakan-seakan mereka masih hidup, dan berbicara kepada orang-orang yang belum ada, seakan-akan mereka sudah ada sebelum dilahirkan.
“Nasihat” atau firman Allah, telah menubuatkan Kristus sejak permulaan. Ia selalu berada di dalam tujuan atau “kehendak” Allah. pastilah pada suatu waktu Kristus akan dilahirkan, untuk menggenapi pernyataan Allah. Oleh karena itu, bukti dari pengetahuan Allah yang sempurna merefleksikan kepastian dari firmanNya. Di dalam Alkitab, ada penggunaan bahasa Ibrani dalam bentuk lampau untuk menjelaskan hal-hal yang akan datang yang dijanjikan Allah. Karena itu Daud berkata, ”Disinilah rumah Tuhan, Allah kita” (I Taw. 22:1). Walaupun hanya Allah yang berhak menjanjikan hal itu, tetapi itulah yang diyakini Daud, yang ia ucapkan dalam bentuk kalimat untuk menyatakan hal yang berlangsung pada saat sekarang, untuk menjelaskan hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Di dalam Tulisan-tulisan kudus banyak contoh tentang pengetahuan Allah yang sempurna. Seperti tentang janji-janji kepada Abraham yang pasti akan digenapi Allah; Ia berkata kepada Abraham, ”Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini...” (Kej. 15:18), yang diucapkan pada waktu Abraham belum mempunyai keturunan. Dalam kurun waktu sebelum (Ishak/ Kristus lahir), Allah menjanjikan kepadanya, ”engkau telah Kutetapkan menjadi Bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:5). Dengan demikian Allah menyebut hal-hal yang belum ada ini, seakan-akan hal-hal itu sudah ada.
Oleh karena itu, Kristus selama pelayanannya berbicara tentang bagaimana Allah ”telah menyerahkan segala sesuatu kepadanya” (Yoh. 3:35) meskipun hal tersebut belum terjadi. ”Segala sesuatu telah Engkau lakukan di bawah kakinya (Kristus)... Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuat telah ditaklukkan kepadanya” (Ibr. 2:8).
Allah berbicara tentang rencana keselamatan Nya melalui Kristus ”seperti yang telah difirmankanNya sejak purbakala oleh nubuat nabi-nabiNya yang kudus” (Luk. 1:70). Karena mereka berkaitan erat dengan rencana Allah, orang-orang ini dibicarakan seakan-akan mereka sudah ada sejak permulaan, walaupun sebenarnya tidak demikian. Sebaliknya, kita dapat menyimpulkan bahwa nabi-nabi sudah ada di dalam rencana Allah sejak permulaan. Contoh yang jelas adalah Yeremia, Allah berkata kepadanya, ”Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi” (Yer. 1:5) . Allah mengetahui segala hal tentang Yeremia, bahkan sebelum ia diciptakan. Dengan cara seperti ini, Allah berbicara tentang raja Persia, Kores, sebelum ia dilahirkan dengan menggunakan bahasa yang menunjukkan seakan-akan ia sudah ada (Yes. 45:1-5). Di dalam Ibrani 7:9,10 terdapat contoh lain tentang penggunaa kalimat yang menjelaskan tentang orang yang belum dilahirkan, seakan-akan ia sudah hidup pada waktu dibicarakan.
Dengan cara yang sama, Yeremia dan nabi-nabi lainnya dikatakan sudah ada sebelum mereka diciptakan, sehubungan dengan posisi mereka dalam rencana Allah. Begitu juga dengan kita, orang-orang percaya yang benar, yang dibicarakan seakan-akan sudah ada pada saat itu; faktanya kita belum hidup pada saat itu, melainkan hanya di dalam pikiran Allah saja. Allah ”yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus...berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (II Tim. 1:9). ”Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan...telah menentukan kita...sesuai dengan kerelaan kehendakNya” (Ef. 1:4,5). Seluruh gagasan tentang keberadaan makhluk hidup telah diketahui oleh Allah sejak permulaan, dan ditandai (ditentukan) untuk diselamatkan, yang menunjukkan bahwa mereka sudah ada di dalam pikiran Allah sejak permulaan (Rm. 8:27; 9:23).
Dengan kejelasan dari semua hal ini, tidak mengherankan jika Kristus sebagai kunci dari rencana Allah, dijelaskan seakan-akan sudah ada sejak permulaan bersama Allah melaksanakan rencananya, yang sebenarnya tidak demikian. Seperti waktu menjelaskan tentang dia, yang adalah ”anak domba Allah yang telah disembelih” (Why. 13:8), tetapi Yesus tidak disembelih secara harfiah, ia adalah ”anak domba Allah” yang dikorbankan di kayu salib, 4000 tahun kemudian setelah penciptaan (Yoh. 1:29; I Kor. 5:7). Dengan cara demikianlah Yesus dipilih sejak permulaan (I Ptr.1:20), begitu juga dengan orang-orang percaya (Ef.1:4, kata Yunani yang sama dengan untuk kata ”dipilih” digunakan di dalam ayat-ayat ini). Kesulitan kita untuk memahami semua hal ini adalah, karena kita tidak dapat membayangkan dengan mudah bagaimana Allah bekerja diluar konsep kita tentang waktu. ”Iman” adalah kesanggupan untuk memandang berbagai hal dari sudut pandang Allah tanpa dibatasi oleh waktu.
7.4 “Pada mulanya adalah Firman” (Yoh.1:1-3)
“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah. Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh.1:1-3)
Jika ayat-ayat ini dipahami sebagaimana mestinya, maka penegasan dan pengembangan dari kesimpulan-kesimpulan pada bagian terakhir dapat dipahami. Bagaimanapun juga ayat-ayat ini banyak disalahartikan oleh orang-orang dengan mengajarkan, bahwa Yesus berada di surga sebelum kelahirannya. Pemahaman yang benar dari ayat-ayat ini bergantung pada bagaimana kita memahami dan mengartikan kata ”Firman” sesuai dengan konteksnya. Kata itu tidak menunjuk kepada seseorang, karena tidak ada yang dapat ”bersama-sama dengan Allah” dan menjadi Allah pada waktu yang bersamaan. Kata Yunani ”logos” yang diterjemahkan menjadi ”firman”, tidak menunjuk kepada ”Yesus”. Kata itu biasanya diterjemahkan menjadi ”firman”, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi;
Laporan Penyebab
Komunikasi Doktrin
Niat Pemberitaan
Alasan Mengatakan
Berita
Kata ”firman” dipakai bersama dengan kata ganti orang ketiga ”ia”, karena ”logos” bersifat maskulin atau kelaki-lakian, Tetapi tidak mengartikan bahwa kata itu menunjuk kepada seseorang, yaitu Yesus. Alkitab dalam bahasa Jerman (Luther version) menggunakan kata ”das wort” (neuter); dan Alkitab dalam bahasa Perancis menggunakan kata ”la parole”; yang bersifat feminin atau kewanitaan. Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa kata ”firman” tidak harus menunjuk kepada seorang laki-laki.
”Pada mulanya”
Kata ”logos” dengan tepat menunjuk kepada suatu pemikiran yang mendalam, yang diekspresikan melalui kata-kata dan cara-cara berkomunikasi lainnya. Pada mulanya Allah memiliki ”firman” ini, yang tujuannya berpusat pada Kristus. Kami telah menjelaskan bagaimana Roh Allah meletakkan pemikiran yang mendalam dari Allah ke dalam pelaksanaan, karena itu terdapat hubungan antara RohNya dan FirmanNya (lihat pelajaran 2.2). Sebagaimana Roh Allah melaksanakan rencanaNya dengan manusia, dengan mengilhami firmanNya yang tertulis sejak permulaan. Karena itulah gagasan tentang Kristus diberitakan melalui pekerjaan dan firmanNya. Kristus adalah ”firman”dari Allah, oleh karena itu Roh Allah menunjukkan rencana Allah tentang Kristus dalam setiap pelaksanaannya. Hal ini menjelaskan mengapa banyak peristiwa di dalam Perjanjian Lama yang memberikan gambaran tentang Kristus. Tetapi, tidak bisa terlalu ditegaskan bahwa Kristus bukanlah ”firman itu”; ”firman itu” adalah rencana keselamatan Allah melalui Yesus. Kata ”firman” sering kali digunakan sehubungan dengan penjelasan mengenai Injil tentang Kristus; misalnya ”firman dari Kristus” (Kol.3:16 bandingkan Mat.13:19; Yoh.5:24; Kis.19:10; I Tes.1:8, dll.). Catat, ”firman” menjelaskan tentang Kristus, dan tidak menunjuk kepada dia secara pribadi. Ketika Kristus lahir, ”firman” ini berubah ke dalam bentuk daging dan darah – ”Firman itu telah menjadi manusia” (Yoh.1:14). Yesuslah yang ”telah menjadi manusia”, bukan firman itu. Ia menjadi ”firman itu” pada waktu dilahirkan oleh Maria, bukan pada waktu sebelum itu.
Rencana tentang Kristus sudah direncanakan Allah sejak permulaan. Tetapi, tentang pribadi yang menjadi Kristus, tidak dinyatakan secara terbuka. Begitu juga sewaktu Injil tentang dia diberitakan pada abad pertama. Karena itu, Allah berfirman kepada kita melalui Kristus (Ibr.1:1,2). Berulangkali ditegaskan bahwa Kristus menyampaikan firman Allah dan membuat mujizat atas perintah Allah dengan tujuan untuk menyatakan Allah kepada kita (Yoh.2:22; 3:34; 7:16; 10:32,38; 14:10,24).
Paulus taat kepada perintah Kristus untuk memberitakan Injil tentang dia kepada ”segala bangsa”: ”pemberitaan tentang Yesus Kristus sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan...kepada segala bangsa” (Rm.16:25,26 bandingkan I Kor.2:7). Kehidupan abadi hanya dapat diperoleh manusia melalui pekerjaan Kristus (Yoh.3:16; 6:53). Walaupun sejak permulaan Allah telah merencanakan untuk menawarkan kehidupan abadi kepada manusia, yang dilakukannya dengan pengorbanan seperti yang juga dilakukan oleh Yesus. Penyingkapan sepenuhnya atas penawaran itu diberikan setelah kelahiran dan kematian Yesus: ”hidup yang kekal sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta, dan yang pada waktu dikehendakinya telah menyatakan firmanNya dalam pemberitaan Injil” (Titus 1:2,3). Kita telah mengetahui bagaimana nabi-nabi Allah dibicarakan seolah-olah mereka sudah ada (Luk.1:70) dalam pengertian bahwa ”firman” yang mereka sampaikan telah ada bersama Allah sejak permulaan.
Perumpamaan-perumpamaan yang dijelaskan oleh Yesus menyingkapkan banyak hal tentang ini, yang juga menggenapi nubuat tentang dirinya; ”Aku mau membuka mulutku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” (Mat.13:35). Dalam pengertian bahwa ”firman itu bersama-sama dengan Allah pada mulanya” dan ”menjadi manusia” melalui kelahiran Kristus.
”Firman itu adalah Allah”
Sekarang kita akan membahas pengertian dari ”firman itu adalah Allah”. Rencana dan pemikiran kita, pada intinya adalah menyatakan diri kita sendiri. Misalnya, ”Saya akan pergi ke London”, adalah firman atau pemberitaan yang mengekspresikan tujuan saya, karena itu adalah tujuan saya. Rencana Allah di dalam Kristus dapat dipahami dengan cara demikian. ”Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Amos 23:7), demikian juga dengan Allah. Karena itu Firman Allah atau pemikiranNya adalah Allah; ”Firman itu adalah Allah.” Berarti, ada suatu hubungan yang erat antara Allah dengan firmanNya, misalnya di Mazmur 29:8, ”Suara Tuhan membuat padang gurun gemetar”, dan di Yeremia 25:7, ”Tetapi kamu tidak mendengarkan Aku, demikianlah firman Tuhan.” Kedua pernyataan seperti ini seringkali muncul di dalam nubuat-nubuat, yang dengan efektif mengartikan bahwa Allah sama dengan mengatakan: ”Kamu tidak mendengarkan firmanKu yang telah disampaikan oleh nabi-nabi.” Daud menyebut firman Allah sebagai pelita dan terang (Mzm.119:105), ia juga mengungkapkan hal yang sama di 2 Samuel 22:29, ”Karena Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku.” Kedua ayat ini menunjukkan kaitan antara Allah dengan firmanNya. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa firman Allah adalah personifikasi dari Ia sendiri, yang ketika disebut seperti menunjuk kepada suatu pribadi, walaupun tidak demikian (lihat Pertentangan 5: Prinsip Personifikasi).
arena Allah adalah kebenaran (Yoh.3:33; 8:26; I Yoh.3:10), maka demikian juga dengan firmanNya (Yoh.17:17). Dengan cara yang sama, Yesus mengidentifikasikan bahwa dirinya dengan firmannya begitu dekat, ia adalah personifikasi dari firmannya: ”Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yoh.12:48). Yesus menyebut firmannya seakan-akan seperti suatu pribadi, yaitu dirinya sendiri. Firmannya dipersonifikasikan, karena berkaitan erat dengan dirinya.
Begitu juga dengan firman Allah, dipersonifikasikan sebagai suatu pribadi, yaitu Ia sendiri, seperti yang terdapat di Yohanes 1:1-3. Sehubungan dengan firman itu, kita diberitahu bahwa ”Segala sesuatu dijadikan oleh Dia” (Yoh.1:3). Allah menciptakan segala sesuatu melalui firmanNya (Kej.1:1). Karena hal ini, maka firman Allah dapat disebut sebagai Allah sendiri. Hal kerohanian yang perlu dicatat dari pembahasan ini adalah, melalui firman Allah yang berada di dalam hati kita, Allah akan menjadi dekat dengan kita.
Hal ini dejelaskan di Kejadian 1, bahwa Allah adalah Sang Pencipta melalui firmanNya, dan bukan melalui Kristus secara pribadi (Yoh.1:1-3), ”Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaranya (bintang-bintang)...Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi” (Mzm.33:6,9). Hingga saat ini semua ciptaan dapat bergerak oleh karena firmanNya: ”Ia menyampaikan perintahNya ke bumi: dengan segera firmanNya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba...Ia menyampaikan firmanNya...maka air mengalir” (Mzm.147:15-18).
Firman Allah adalah daya kreativitasnya, dia menggunakannya untuk memperanakkan Yesus di dalam rahim Maria, melalui firman atau rencana Allah, yang dilaksanakan oleh Roh Kudus (Luk.1:35), yang membuat Kristus dikandung. Dan Maria mengetahui hal ini berdasarkan responnya atas kabar baik yang ia terima tentang pembuahan Kristus: ”jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38).
Kita telah mengetahui bahwa firman/roh Allah merefleksikan tujuanNya, yang telah dinyatakan di dalam Perjanjian Lama. Kebenaran dari hal ini ditunjukkan di dalam Kisah para Rasul 13:27, Yesus dikaitkan dengan firman dari nabi-nabi di Perjanjian Lama: ”mereka menggenapi perkataan nabi-nabi.” Ketika Yesus sudah lahir, semua firman/roh Allah ada di dalam pribadi Yesus Kristus. Dengan dibawah ilham rasul Yohanes bersuka cita atas rencana Allah sehubungan dengan kehidupan abadi, yang ditunjukkan melalui Kristus, yang juga disaksikan oleh murid-muridnya yang lain. Yesus mengetahui bahwa mereka telah memahami firman Allah dan rencana keselamatannya melalui dirinya (I Yoh.1-3). Walaupun kita tidak melihat Kristus, kita juga dapat bersuka cita melalui pemahaman yang benar tentang dia, dan kita juga bisa memahami dengan benar tujuan Allah , dan yakin sepenuhnya dengan upah kehidupan abadi (I Ptr.8:9). Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: ”Apakah saya sungguh-sungguh mengenal Kristus?” Hanya dengan menerima keberadaan seseorang yang disebut Yesus, tidaklah cukup. Harus dilanjuti dengan pelajaran Alkitab yang disertai doa. Mungkin anda dapat memahami ia sebagai penyelamat anda dalam waktu yang singkat, dan menyatukan diri anda dengannya melalui pembaptisan.
Catatan: ”Pada mulanya adalah Firman” kemungkinan mengomentari konsep orang Yahudi, yang menyatakan bahwa hukum Taurat (lima kitab Musa) sudah ada sebelum penciptaan. Yohanes 1:1-3 secara tidak langsung mengatakan bahwa hal terpenting untuk dipahami adalah firman-firman Allah yang menubuatkan Yesus; yaitu tentang rencana Allah sehubungan dengan Yesus sebelum penciptaan (bandingkan Lukas 1:70).
9.1 Kemenangan Yesus
Pelajaran terdahulu menunjukkan bagaimana Yesus memiliki kodrat manusia kita dan telah dicobai untuk berdosa seperti kita. Perbedaan antara Dia dan kita adalah Dia mengatasi dosa itu; sementara kodrat dasar akan dosa, Dia selalu ditampilkan sebagai karakter yang sempurna. Keajaiban ini seharuanya menginspirasukan kita sebagaimana kita menerapkannya. Terdapat pengulangan penekanan Perjanjian Baru pada kesempurnaan karakter Kristus.
Dia “dicobai dalam segala hal seperti kita namun tidak berdosa” (Ibr 4:15).
Dia “tidak mengenal dosa”. “di dalamNya tidak ada dosa” (2 Kor 5:21; 1 Yoh 3:5)
“yang tidak berdosa, dan dusta tidak ada di dalam mulutnya” (1 Ptr 2:22).
“kudus, tanpa salah, tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibr 7:26)
      Injil mencatat demonstrasi bagaimana para pengikutnya mengenali kesempurnaan karakterNya, terlihat dalam perkataan dan tindakanNya. Istri Pilatus mengenali bahwa Dia adalah “Orang benar” (Mat 27:19), di bawah hukuman, tentara Romawi yang memandang Yesus tergantung di kayu salib berkomentar, “sesungguhnya Dia adalah orang yang benar” (Luk 23:47). Permulaan hidupNya, Yesus menantang orang-orang Yahudi dengan pertanyaan: “dengan apakah kamu membuktikan Aku akan dosa?” (Yoh 8:46). Kepada semua yang di sana tidak bisa menjawab.
     Sebagai hasil dari kemenangan yang sempurna dalam segala hal, Yesus dari Nazaret menjadi lebih tinggi daripada para malaikat (Ibr 1:3-5). Dia diberikan nama yang tertinggi (Flp 2:8), yang termasuk semua julukan malaikat. “namaNya akan disebut ajaib [Yud 13:18 Avmg], penasihat [digunakan malaikat dalam 1 Raj 22:20 teks Ibrani]...” (Yes 9:6). Dibuktikan Yesus tidak menempati posisi tinggi ini sebelum kelahiran dan kematianNya; ide akan tempat tertinggiNya mengatur ini keluar.
     Menganai karakter sempurnaNya, Yesus adalah penyataan Allah dalam daging (1 Tim 3:16); Dia bertindak dan berbicara sebagai Allah memiliki tinadakan Dia menjadi manusia. Dia yang oleh karenanya cerminan sempurna dari Allah – “gambaran Allah yang tak terlihat” (Kol 1:15). Karena ini, tidaklah diperlukan bagi manusia fana secara fisik untuk melihat Allah. Seperti penjelasan Yesus, “Dia yang melihat Aku, melihat Bapa; bagaimana kamu dapat berkata, perlihatkanlah kepada kami (secara fisik) Bapa itu?” (Yoh 14:9). Penekanan pengulangan Alkitab adalah bahwa Allah Bapa telah dinyatakan dalam Yesus Kristus AnakNya (2 Kor 5:19; Yoh 14:10; Kis 2:22). Tritunggal mengajarkan bahwa Anak memanifestasikan atau ‘inkarnasi’ dalam Yesus; tetapi Alkitab mengajarkan bahwa Allah memanifestasikan [‘inkarnasi’ jika kita menggunakan kalimat] dalam Yesus. Firman menjadi daging (Yoh 1:14), lebih dari sekedar Firman memasuki ke dalam sebuah bentuk tubuh.
     Hidup dalam dunia yang penuh dosa, dan melekat pada dosa dalam kodrat kita, sangat sulit bagi kita untuk menghargai keseluruhan dan kebesaran keunggulan rohani Kristus; bahwa manusia dari kodrat kita memenuhi penyataan kebenaran Allah dalam karakterNya. Percaya ini sebuahiman yang benar dibanding sekedar menerima teologia bahwa Kristus adalah Allah itu sendiri.
     Karena Dia memiliki sifat dasar kita, Kristus harus mati. Dia adalah keturunan Adam melalui Maria, dan semua anak-anak Adam mati (1 Kor 15:22). Semua keturunan Adam mati karena Adam berdosa, mengenai situasi pribadinya. “demikian kematian... karena pelanggarannya (Adam) agar semua mati... penghakiman telah (diperhitungkan karena) dia (Adam ) mengalami (untuk mati)... oleh ketidak-taatan manusia semua menjadi berdosa”, dan oleh sebab itu haruslah mati (Rm 5:114-19; 6:23). Sebagai keturunan Adam, Yesus harus mati, Dia dimasukan kodrat yang fana dari Adam melalui Maria, ibuNya.
     Menjadi bagian Yesus, semua keturunan Adam layak akan hukuman ini, bagi kita yang memiliki dosa secara pribadi. Yesus harus mati karena Dia berasal dari kodrat kita, terkena kutuk yang datang bagi keturunan Adam. Sebelumnya, Dia secara pribadi tidak melakukan sesuatu yang layak untuk mati “Allah membangkitkan Dia dari kematian, membebaskan Dia dari kutuk kematian, karena tidak mungkin kematian bisa menahanNya” (Kis 2:24 NIV). Kristus telah “dideklarasikan menjadi Anak Allah dengan kuasa, sesuai dengan Roh Kudus, melalui kebangkitan dari kematian” (Rm 1:4). Karena kesempurnaan karakter Kristus, “Roh KudusNya”, yang membangkitkan Dia.
     Kristus tidak mati di kayu salib hanya karena kodrat manusiaNya. Dia berkeinginan memberikan hidup sempurnaNya sebagi hadiah bagi kita; Dia menunjukkan kasihNya bagi kita dengan mati “bagi dosa kita” (1 Kor 15:3), mengetahui bahwa melalui kematianNya Dia dapat memberikan untuk kita keselamatan dari dosa dan kematian (Ef 5:2,25; Why 1:5; Gal 2:20). Karena Yesus dalam karakter yang sempurna Dia mampu mengatasi dosa dengan menjadi pribadi pertama yang bangkit dari kematian dan memperoleh hidup kekal. Semua yang menyamakan dirinya dengan Kristus melalui baptisan dan hidup dalam jalan Kristus memiliki harapan yang sama dengan kebangkitan sebagi upahnya.
     Dalam garis ini kemuliaan tepat untuk kebangkitan Kristus. Inilah “jaminan” bahwa kita akan dibangkitkan dan dihakimi (Kis 17:31), dan jika kita benar-benar mengikuti Dia di dalam hidup ini, berbagi upahNya akan hidup kekal. “mengetahui (dengan yakin) bahwa Dia yang membangkitan Tuhan Yesus akan membangkitkan kita juga melalui Yesus” (2 Kor 4:14; 1 Kor 6:14; Rm 6:3-5). Sebagai orang berdosa kita pantas mati selamanya (Rm 6:23). Sebelumnya, seturut kehidupan sempurna Kristus, mentaati kematian dan kebangkitanNya, Allah memberikan kita hadiah hidup kekal, secara penuh sesuai dengan semua ketetapanNya.
     Untuk menghilangkan dampak dosa kita, Allah “menempatkan kebenaran” (Rm 4:6) bagi kita melalui iman kita dalam janjiNya akan keselamatan. Kita tahu bahwa dosa membawa kematian, oleh sebab itu jika kita sungguh percaya bahwa Allah akan menyelamatkan kita dari itu, kita harus percaya bahwa Allah akan memperhitungkan kita sebagaimana jika kita benar, meskipun kita tidak. Kristus adalah sempurna; jika kita sungguh di dalam Kristus, Allah akan menerima kita sebagaimana jika kita sempurna, walu secara pribadi kita tidak begitu. Kita menerima akan apa yang kita dalam tingkatan manusia akan disebut ‘pengampunan Raja’. Allah membuat Kristus “menjadi dosa bagi kita, yang tidak mengenal dosa; bahwa kita boleh dibenarkan Allah dalam Dia” (2 Kor 5:21), artinya dalam Kristus melalui baptisan dan hidup seperti Kristus. Mengenai “dalam Kristus Yesus”, Dia “membuat kepada kita... kebenaran, dan pengudusan, dan penebusan” (1 Kor 1:30,31); ayat berikut mendukung kita untuk memuji Kristus akan hal terbesar yang Ia lakukan. “di dalam injil dinyatakan kebenaran Allah, pembenaran oleh iman” (Rm 1:17, NIV). Memahami hal ini yang karenanya penting menjadi bagian akan pengenalan kebenaran injil.
     Semua ini menjadi mungkin melalui kebangkitan Kristus. Dia adalah “buah sulung” dari semua manusia yang akan menjadi kekeal melalui pekerjaanNya (1 Kor 15:20). “anak sulung” dari keluarga rohani yang baru yang akan diberikan sifat dasar Allah (Kol 1:18; Ef 3:15). Kebangkitan Kristus membuat menjadi mungkin bagi orang-orang percaya dalam Kristus untuk dinilai sebagaimana mereka benar, melihat bahwa mereka ditutupi oleh kebenaranNya. Kristus “telah diserahkan karena pelanggaran kita dan bangkit karena pembenaran kita (kata yang artinya ‘menjadi benar’)” (Rm 4:25). Inilah hal-hal roh. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa ‘pembenaran’ adalah kecurangan yang dilegalkan. Allah memberikan pertobatan yang benar dan penerimaan yang benar bahwa Kristus ‘deklarasi kebenaran Allah, bahwa Ia hanya membenarkan mereka yang percaya dalam Yesus’ (Rm 3:25,26). Bahkan Yesus sempurna dan tidak berdosa menerima kebenaran Allah bahwa Ia harus mati karena Ia merupakan keturunan Adam. Begitu banyak kalimat ini bagi kita. Seperti rasul Paulus, kita ‘orang celaka’ yang terus berdosa. Pembenaran diberikan bagi mereka yang sujud di hadapan Yang Maha  Mulia dan berkata dari hati mereka ‘Allah berbelas kasih kepadaku sebagai pendosa’.
     Sebuah kesadaran, merenungkan iman dalam hal ini sungguh menjadi keyakinan bahwa kita dapat dinilai Allah sebagaimana jika kita sempurna. Kristus dapat mempersembahkan kita pada kursi penghakiman “tidak bersalah di hadapan hadirat kemuliaanNya”, “kudus dan tidak bercacat dan tidak tersandung dalam pandanganNya” (Yud 24; Kol 1:22; Ef 5:27). Diberikan sifat dasar akan dosa dan kegagalan rohanai terus-menerus, mengambil dasar iman untuk percaya ini. hanya mengangkat tangan kita pada ‘penyaliban’ atau membuat pengajaran-pengajaran akademis tidaklah terhubung kepada iman ini. kesediaan memahami kebangkitan Kristus seharusnya mendorong iman kita: “Allah... membangkitkan Dia dari kematian... agar iman dan pengharapanmu (kesamaan kebangkitan) berada dalam Allah” (1 Ptr 1:21).
     Hanyalah dengan kesediaan baptisan dalam Kristus, diikuti dengan waktu pemuridan, bahwa kita dapat menjadi “dalam Kristus”dan dinaungi oleh kebenaranNya. Oleh baptisan kita menyatukan diri kita dengan kematian dan kebangkitanNya (Rm 6:3-5), yang berarti membebaskan kita dari dosa-dosa kita, melalui ‘pembenaran’, atau dinilai benar (Rm 4:25).
     Kesadaran hal-hal yang kita sadari dalam bagian ini mengeluarkan kita dari pegangan kecuali kita dibaptis. Pada baptisan menyatukan diri kita dengan darah Kristus yang tercurah di kayu salib; orang-orang percaya membasuh jubah mereka dan (membuat) nya putih dalam darah domba” (Why 7:14). Digambarkan mereka dalam jubah putih, mewakilkan kebenaran Kristus yang diperhitungkan (‘dimasukkan’) ke dalam mereka (Why 19:8). Sangat mungkin untuk membuat jubah putih ini kotor sebagai hasil dari dosa kita (Yud 23); ketika kita melakukannya setelah baptisan, kita harus meminta Allah untuk mengampuni melalui Kristus.
     Yang mengikuti setelah baptisan untuk tetap dalam posisi diberkati yang kemudian kita masuk di situ. Perlu secara rutin, harian, perenungan diri beberapa menit setiap hari, dengan berdoa selalu dan mencari pengampunan. Dengan melakukan ini kita akan selalu merendah meyakinkan itu, mengenai perlindungan kita dengan kebenaran Kristus, sesungguhnya kita akan di dalam kerajaan Allah. Kita harus menjadi ditemukan mentaati Kristus ketika hari kematian kita atau kembalinya Kristus, “bukan karena kebenaran (kita) sendiri... tetapi melalui iman (di dalam) Kristus, pembenaran dari Allah oleh iman” (Flp 3:9).
     Penekanan ulang pada iman yang menghasilkan di dalamnya kebenaran, menunjukkan bahwa tidak ada jalan keselamatan melalui perbuatan kita; keselamatan adalah karena anugerah: “karena anugerah kita diselamatkan oleh iman; dan bukan karena dirimu sendiri: ini adalah pemberian Allah: bukan pekerjaanmu” (Ef 2:8,9). Sebagaimana pembenaran dan kebenaran adal;ah ‘pemberian’ (Rm 5;17), begitu juga keselamatan. Motivasi kita dalam melakukan segala pekerjaan dalam pelayanan orang kristen seharusnya sebagaimana yang telah Allah lakukan bagi kita – menilai kita benar melalui Kristus dan memberikan kita jalan akan keselamatan. Sangat fatal untuk beralasan bahwa jika kita berbuat baik, maka perbuatan-perbuatan itu akan menyelamatkan kita. Kita tidak akan berhasil mencapai keselamatan jika kita berpikir seperti ini; inilah pemberianyang tidak dapat kita bayar, hanya sikap mengasihi yang terdalam yang akan tercermin di dalam perbuatan kita. Kebenaran iman menghasilkan perbuatan-perbuatan sebagaimana yang dihasilkan (Yak 2:17).
9.2 Darah Yesus
 sering dinyatakan dalam Perjanjian Baru bahawa pembenaran dan keselamatan kita adalah melalui darah Yesus (contohnya 1 Yoh 1:7; Why 5:9; 12:11; Rm 5:9). Untuk menghargai kebenaran darah Kristus, kita harus memahami bahwa ini sebuah prinsip Alkitabiah bahwa “karena itu nyawa dari segala makhluk adalah darah” (Im 17:14). Tanpa darah tubuh tidak dapat hidup; karena inilah lambang kehidupan. Ini menjelaskan perkataan Kristus, “jika kamu tidak makan daging Anak manusia, dan minum darahNya, kamu tidak akan memiliki hidup” (Yoh 6:53).
     Dosa menghasilkan maut (Rm 6:23), pencurahan darah memberi kehidupan. Untuk alasan inilah bangsa Israel mempersembahkan darah setiap kali mereka berdosa, untuk mengingatkan mereka bahwa dosa membawa maut. “hampir semua melalui hukum (Musa) menyangkut darah; tanpa pencurahan darah tidak ada penebusan” (dari dosa – Ibr 9:22). Karena ini, Adam dan Hawa menutup diri mereka dengan daun dan tidak bisa diterima; kecuali, Allah membunuh seekor domba untuk menyediakan kulitnya sebagai penutup dosa mereka (Kej 3:7,21), begitupun, Habel mengorbankan binatang diterima dibanding Kain yang mempersembahkan tumbuhan, karena dia menghargai prinsip ini bahwa tanpa pencurahan darah tidak ada pengampunan dan tidak diterima Allah (Kej 4:3-5).
     Inilah poin yang terpenting terhadap darah Kristus. Khususnya yang teringat dalam saat paskah, yang mana umat Allah menempatkan darah domba pada tiang pintu mereka untuk selamat dari kematian. Darah ini mengarahkan kepada Yesus, yang mana kita harus miliki agar dosa kita tertutup. Sebelum masa Kristus, sesuai dengan hukum Allah melalui Musa, orang Yahudi harus mempersembahkan korban binatang untuk dosa mereka. Bagaimanapun, mencurahkan darah binatang seharusnya dapat memberikan pelajaran yang besar. dosa dihukum dengan kematian (Rm 6:23); tidak mungkin bagi manusia yang membunuh seekor binatang dan melihat hal ini diterima Allah kecuali dari dia sendiri. Binatang yang ia persembahkan tidak memiliki penghargaan benar atau salah; ini tidak penuh mewakilkan Dia: “tidaklah mungkin darah lembu atau darah domba menghapuskan dosa” (Ibr 10:4).
     Maka timbul pertanyaan, mengapa orang Yahudi harus mempersembahkan binatang saat mereka berdosa? Paulus mengutarakan jawaban yang bervariasi untuk pertanyaan ini dalam Gal 3:24): “hukum taurat adalah penuntun kita sampai hari Kristus”. Binatang-binatang yang mana dibunuh sebagai persemnahan akan dosa haruslah – tanpa noda (Kel 12:5; Im 1:3,10, dll). Ini mengarah pada Kristus, “domba tanpa noda” (1 Ptr 1:19). Darah binatang-binatang itu diwakilkan Kristus. Diterima sebagai persembahan akan dosa sebagaimana mengarah pada korban Kristus yang sempurna, yang mana Allah mengetahui Dia akan melakukannya. Pada hal ini, Allah mengampuni dosa-dosa dari umatNya yang hidup sebelum masa Kristus. kematianNya telah menebus dan mengalihkan dari yang (dilakukan) pada perjanjian yang pertama” (Ibr 9:15), maksudnya hukum Musa (Ibr 8:5-9). Segala persembahan dipersembahkan di bawah hukum kepada Kristus, persembahan dosa yang sempurna, yang menghapus dosa dengan mengorbankan diriNya sendiri” (Ibr 9:26; 13:11,12; Rm 8:3 [NIV] 2 Kor 5:21).
     Kita dijelaskan dalam sesi 7.3 bagaimana keseluruhan Perjanjian Lama, terdiri dari hukum Musa, menilai kepada Kristus. Di bawah hukum akan jalan Allah melalui imam besar; dialah penghubung antara Allah dengan manusia di bawah perjanjian yang lama sebagaimana Kristus di bawah Perjanjian yang baru (Ibr 9:15). “hukum (menjadikan) manusia imam besar yang harus ditetapkan; tetapi kata sumpah... membuat Anak, yang ditujukan untuk selama-lamanya” (Ibr 7:28). Karena mereka sendiri adalah orang berdosa, orang ini tidak pada posisi yang menghasilkan pengampunan yang benar kepada manusia. Binatang yang dipersembahkan untuk dosa tidaklah sungguh-sungguh mewakili orng berdosa. Apa yang disebut sebagai manusia sempurna, satu yang dalam segala hal mewakili seluruh dosa manusia, yang sebelumnya sebagai sesuatu yang dapat diterima sebagai pengorbanan akan dosa. Manusia yang kemudian menyatuakan diri mereka dengan korban. Dalam hal yang sama, Imam besar yang sempurna turut merasakan seluruh dosa manusia bagi penyediaanNya, pernah dicobai seperti mereka (Ibr 2:14-18).
     Yesus menyempurnakan hal ini – “demikianlah sebagai imam besar bagi kita, yang kudus, tidak bersalah, tidak nernoda” (Ibr 7:26). Dia tidak memerlukan korban unruk diriNya sendiri secara terus-menerus, dan juga tidak dapat mati lagi (Ibr 7:23,27). Dalam penjelasan ini, Alkitab mengatakan Kristus sebagai imam kita: “di mana Dia dapat juga menyelamatkan mereka dan membawa kepada Allah melalui Dia, melihat Dia hidup untuk membuat perantaraan bagi mereka” (Ibr 7:25). Karena Dia memiliki kodart manusia, Kristus sebagai Imam Besar kita yang ideal, “memiliki belas kasihan kepada mereka yang bodoh dan tersesat; karena Dia sndiri penuh dengan kelemahan” (Ibr 5:2). Ini mengulang pernyataan mengenai Kristus, “Dia juga seperti diriNya sendiri” mengambil bagian sifat dasar manusia kita (Ibr 2:14).
     Sebagai imam besar Yahudi perantara hanya bagi umat Allah, Israel, begitupun Kristus imam hanya bagi Israel rohani – yang telah dibaptis ke dalam Kristus, memahami kebenaran injil. Dia adalah “imam besar atas rumah Allah” (Ibr 10:21), yang diperuntukan bagi mereka yang lahir baru melalui baptisan (1 Ptr 2:2-5), memiliki pengharapan yang benar akan injil (Ibr 3:6). Menghargai dan menyadari ke- imaman Kristus seharusnya membuat kita dibaptis di dalam Dia; tanpa ini, Dia tidak dapat menjadi perantara kita.
     Memiliki baptisan dalam Kristus, kita seharusnya mengejar manfaat penuh akan ke-imaman Kristus; sesungguhnya, kita memiliki tanggung-jawa di mana kita harus mengangkatnya. “Oleh Dia, biarlah kita mempersembahkan korban pujian kepada Allah terus-menerus” (Ibr 13:15). Rencana Allah akan penyediaan Kristus sebagai imam besar kita agar kita memuliakan Dia; oleh karenanya seharusnya kita terus-menerus menggunakan jalur kita kepada Allah melalui Kristus dengan maksud memujiNya. Ibr 10:21-25 mencatat sejumlah tanggung-jawab yang kita miliki yang diperhitungkan kepada Kristus sebagai imam besar kita: “memiliki imam besar atas rumah Allah:
1.       marilah kita mendekat kepada Allah denagn hati yang benar dalam jaminan iman yang penuh, hati yang terpecahkan dari keadaan yang jahat, dan tubuh kita dibasuh dengan air yang murni”. Memahami ke-imaman Kristus berarti kita harus dibaptis di dalamNya (“pembasuhan tubuh kita”), kita tidak seharusnya membiarkan yang jahat bertumbuh dalam pikiran kita. Jika kita percaya akan penyataan Kristus, kita menjadi satu dengan Allah (‘PADA-SATU-MANUSIA’) oleh pengorbananNya.
2.       “mari kita bertahan pada iman kita tanpa terguncang”. Kita tidak seharusnya terpisah dari ajaran-ajaran yang membawa kita akan memahami ke-imaman Kristus.
3.       mari kita menyadari satu dengan lainnya akan kasih... tidak menghina jemaat yang kita bersama”. Kita harus menjalin kasih bersama dengan lainnya yang memahami hasil ke-imaman Kristus; ini terdiri dari jemaat bersama pada pelayanan persekutuan, yang mana kita mengingat pengorbanan Kristus (lihat sesi 11.3,5).

     Menhargai hal ini seharusnya kita rasakan dengan keyakinan yang rendah hati bahwa kita sesungguhny6a akan mencapai keselamatan, jika kita dibaptis dan taat di dalam Kristus: “marilah kita dengan demikian datang secara jasmanimenghampiri tahta kasih karunia, bahwa kita menerima rahmat, dan menemukan anugerah untuk menolong kita pada waktunya” (Ibr 4:6).
9.3 Pemberian Untuk Kita Dan DiriNya
 adalah penting bahwa kita memahami bagaimana Yesus Kristus telah terlibat dalam persembahan kita. Bahwa pemberianNya kepada kita tidak dapat diragukan lagi. Dalam melihat pokok ini kita perlu meikirkan bahwa meskipun Yesus tidak berdosa, Dia lahir dalam keadaan sama yang umum dengan semua manusia. Dia merasakan yang mana Ia datang untuk menyelamatkan, bahwa ke-fanaan dan hukum dosa berlaku bagi kita semua. Sebagaimana ditekankan dalam pengajaran ini, Dia telah “dicobai dalam segala hal” seperti kita juga. Kita melihat bahwa Dia mengatasi dosa melalui ketaatan yang sempurna kepada Bapa, meskipun harus mati di kayu salib.bagaimanapun, Dia juga perlu “penebusan” atau “keselamatan” dari ke-fanaanNya. Ini menjelaskan nubuatan kematianNya.
“ke dalam tanganNya kuserahkan rohku: yang menbusku, O Tuhan Allah kebenaran” (Mzm 31:5). Kita mendengar bagian ini dibicarakan saat Yesus mati di kayu salib (Luk 23:46). Dia melihat BapaNya sebagai penebusNya yang akan “menebus jiwaku dari kuasa maut” (Mzm 49:15).
“Dia akan berseru kepadaKu: Kau Bapaku, Allahku, gunung batu keselamatanku. Juga Aku akan membuat dia menjadi anak sulung, lebih tinggi dari raja-raja di bumi” (Mzm 89:26-27). Kita melihat bahwa melalui doaNya kepada Bapa, Allah menyelamatkan Dia dari kematian dan menempatkan Dia menjadi “anak sulung”.
      Dari naskah demikian kita diingatkan, bahwa Yesus sendiri perlu pembebasan dari ke-fanaan yang datang kepada semua manusia dari dosa Adam. Dia tidak terpisah dari mereka yang datang untuk menyelamatkan dalam hal ini.
     Berbicara akan kematian dan kebangkitanNya, Petrus mengatakan: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kis 2:23,24). Tidaklah mungkin bagi kubur untuk menahanNya sebab “upah dosa adalah maut”, tetapi Yesus, walau dicobai, tidak pernah berdosa dan memberi kesempatan pada cobaan ini. untuk itulah manusia benar tidak diperuntukkan dalam kubur. Allah benar dalam segala jalanNya, itulah sebabnya dengan ketaatanNya yang sempurna, bahwa Yesus mematahkan ikatan dosa dan kematian, baik untuk diriNya sendiri dan semua yang dibaptis di dalamNya. Hanya melalui Dia segala dosa kita dapat diampuni dan kita berdiri dalam pengharapan yang mana kekekalan telah Dia berikan.
“mengetahui bahwa Kristus bangkit dari kematian dan tidak mati lagi, maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematianNya adalah kematian terhadap dosa, satu kali untuk selamanya, dan kehidupanNya kehidupan bagi Allah” (Rm 6:9,10). Dia mati di bawah hal-hal yang datang oleh dosa, yang Dia bangkita hidup karena tidak benar bahwa manusia tidak berdosa tetap mati.
“dalam hidupNya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya (Yunani=mengeluarkan) dari maut, dan karena kesalehanNya, Dia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang diterimaNya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua yang taat kepadaNya” (Ibr 5:7,8). Melalui doa dan kehidupan yang taat bahwa Bapa membebaskan Ia keluar dari maut.
“Tidak juga dari darah lembu dan domba, tetapi oleh darahNya sendiri Dia masuk ke dalam tempat maha kudus, memiliki penebusan kekal” (Ibr 9:12). Di sini Paulus membandingkan masuknya imam besar ke tempat kudus masuknya Kristus ke dalam surga itu sendiri (ay 24). Yang mana imam masuk dengan darah korban, korban ini mengarah pada satu korban besar dari Anak Allah – Dia sendiri. Di sini kita melihat bahwa melalui persembahan pengorbananNya Dia beroleh “penebusan kekal” – Dia telah dilepaskan dari belenggu maut. Maut ditetapkan bagi yang lemah dan penuh dosa yang terlihat sebagai perhambaan, tetapi melalui ketaatan Kristussampai mati di kayu salib, Dia telah mematahkan belenggu untuk diriNya sendiri dan semua yang di dalam Diamelalui kematianNya, Dia “menghancurkan kuasa maut, yaitu iblis” (Ibr 2:14). Dia beroleh “Penebusan kekal”dari beban yang menjemuhkan itu.
“maka sekarang Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian kekal telah mengembalikan dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus Tuhan kita, kiranya meperlengkapi kamu dalam segala kebaikan untuk melakukan kehendakNya, dan mengerjakan dalam kita apa yang berkenan kepadaNya, oleh Yesus Kristus bagia Dialah segala kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin” (Ibr 13:20-21). Paulus menyimpulkan surat ini dengan kenyataan bahwa Yesus telah diangkat dari kematian oleh Allah melalui darah perjanjian kekal. Bahwa darah dengan itu Dia utarakan kepada para murid di ruang atas, yang menagtakan: “inilah darahKu dari Perjanjian Baru, yang tercurah sebagi penebusan segala dosa” (Mat 26:28). Itulah darahNya, yang kita lihat sebelumnya mengarah pada hidupNya. Dia berkeinginan memberikan hidupNya (Mat 20:28) untuk menebus seluruh manusia dari belenggu dosa dan maut, jika di dalam iman mereka datang kepada Allah melalui Dia.
      Dalam penyalibanNya, Dioa secara umum terlihat bahwa apa yang Dia lakukan melalui kehidupanNya dalam menyangkal cobaan kedagingan, Dia sekarang berkeinginan mengumumkan penyaliban kedagingan semua nafsu dan hasrat, dan dan mengikuti kehendak Allah untuk memenuhi didikan. Paulus menulis: “dan dalam rupa sebagai manusia, Dia telah merendahkan diriNya, dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib”. keinginanNya melakukan kehendak Allah akan ini. “yang mana (karena ketaatan yang luar biasa akan segala hal) Allah juga meninggikan Dia, dan memberiNya nama di atas segala nama: bahwa di dalam nama Yesus semua lutut bertelut, yang di surga , dan yang di bumi, dan yang di bawah bumi; dan bahwa segala lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa (Flp 2:8-11). Lewt itu, akhirnya tindakan taat kepada Allah dimuliakan, dan Bapa memenuhi pernyataan Kristus : “permuliakan Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada” (Yoh 17:5). Dia telah naik dalam kekekalan, kodrat illahi, untuk duduk di sebelah kanan Bapa.
     Denngan setia melakukan kehendak BapaNya melalui hidupNya, bahkan mati di kayu salib, Dia membuka jalan kepada siapa saja yang dibaptis di dalamNya untuk berbagi hidup yang telah Dia berikan. Di sana Dia mengkahiri kematian kelemahan manusia dan semua yang bdiberikan keutamaan dan dominasi oleh pembawan dosa, dalam keajaiban dan iman bertahan kepadaNya “ yang dalam diriNya sendiri menimpahkan dosa-dosa kita dalam tubuhNya sendiri di salib, bahwa kita menjadi mati akan dosa, dan selayaknya hidup kepada kebenaran: yang olehNya kita disembuhkan” (1 Ptr 2:24). Kita bmerenungkan hal-hal ini, menyadari bahwa melalui tindakan akhir dari ketaatan, Dia “mematahkan kematian, dan mendatangkan hidup dan kekekalan kepada cahaya injil” (2 Tim 1:10).
9.4 Yesus Adalah Perwakilan Kita
 kita telah melihat bahwa korban binatang tidaklah memenuhi perwakilan dari manusia berdosa, Yesuslah perwakilan bagi kita, dalam segala hal “menjadi seperti pengikutNya” (Ibr 2:17). “Dia merasakan kematian untuk semua manusia” (Ibr 2:9). Ketika kita melakukan dosa, contohnya berdusta – Allah akan mengampuni kita “demi Kristus” (Ef 4:32). Ini karena Allah menyamakan kita dengan Kristus, manusia seperti kita yang dicobai untuk berdosa – misalkan berbohong – tetapi yang mengatasi segala cobaan. Oleh karena itu Allah mengampuni dosa kita – dari kebohongan – karena kita di dalam Kristus, terlindungi kebenaranNya. Ketika kita mengakui dosa kita kepada Allah, kita mengakui kesempurnaan contoh dari ketidak-berdosaan Tuhan Yesus Kristus dan mengatakan kepada Bapa bagaimana kita ingin seperti Dia. Kristus menjadi perwakilan kita yang oleh sebab itu berarti Allah dapat menunjukkan kepada kita kasih karuniaNya, sementara mempertahankan prinsip kebenaranNya.
     Jika yesus sebelumnya Allah lebih dari sekedar mabusia murni, Dia tidak bisa menjadi perwakilan kita. Ini contoh lain yang salah yang memimpin lainnya. Karena ini, banyak ahli teologi mengembangkan kerumitan dalam menjelaskan kematian Kristus. Pandangan umum dari umat kristen yang murtad adalah bahwa dosa-dosa manusia menempatkan manusia dalam dosa kepada Allah yang manusia tidak dapat membayarnya sendiri. Maka Yesus menghapus dosa setiap orang percaya dengan darahNya, tercurah di salib. Banyak penkotbah injil di lapangan meng-ekspresikan seperti ini: “sebagaimana kita memanjat tembok, sebagaimana iblis akan menembak, maka Yesus masuk ditengahnya; dan iblis menembakNya mengganti kita, dengan begitu kita sekarang bebas”.
     Teori elaborasi ini yang mana tanpa dukungan Alkitabiah, terdapat kejelasan keterbalikan seandainya Yesus mati menggantikan kita, artinya sebagai pengganti kita, maka kita tidak perlu mati. Sebagaimana kita masih memiliki kodrat manusia, kita masih harus mati; keselamatan dari dosa dan kematian akhirnya akan dinyatakan pada penghakiman (saat kita dijamin oleh kasih karunia Allah yang kekal). Kita tidak menerima ini pada waktu Kristus mati.
     Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan hanya mungkin melalui kematian DAN kebangkitan Kristus, bukan hanya oleh kematianNya. Kristus “mati bagi kita” hanya sekali. Teori penggantian akan berarti bahwa Dia harus mati untuk setiap kita secara pribadi.
     Jika Kristus melunaskan hutang dosa dengan darahNya, keselamatan kita menjadi sesuatu yang dapat kita terima dengan benar. Kenyataannya keselamatan adalah hadiah, membawa kasih karunia dan pengampunan Allah, merupakan sisi terhilang jika kita memahami pengorbanan Kristus sebagai pembayaran dosa. Itu juga mengusulkan bahwa sebuah kemarahan Allah menjadi tenang ketika Dia melihat darahYesus yang tercurah. Karena apa yang Allah lihat saat kita bertobat adalah AnakNya sebagai perwakilan kita, seseorang yang harus kita teladani. Banyak dalam penyembahan dan pujian orang-orang kristen berisikan pengajaran palsu pada daerah ini. banyak doktrin sesat membekas pada pikiran manusia melalui musik, melebihi rasionalitas petunjuk Alkitabiah. Kita harus memperhatikan ini sebagai pencucian otak.
     Sungguh tragis, kata sederhana “Kristus mati bagi kita” (Rm 5:8) menjadi salah pengertian diartikan bahwa Kristus mati menggantikan kita. Terdapat beberapa ayat berhubungan antara Rm 5 dan 1 Kor 15 (contoh Rm 5:12=1 Kor 15:21; Rm 5:7=1 Kor 15:22). “Kristus mati bagi kita” (Rm 5:8) adalah cocok dengan “Kristus mati bagi dosa kita” (1 Kor 15:3). kematianNya menyediakan jalan yang mana kita mendapat pengampunan akan dosa-dosa kita; dalam sentuhan ini bahwa “Kristus mati bagi kita”. Kata “bagi” tidak secara utama berarti ‘menggantikan’; Kristus mati “bagi dosa kita”, bukan ‘menggantikan’ nya. Oleh karena ini, Kristus dapat “membuat masukan” bagi kita (Ibr 7:25) – bukan ‘menggantikan’ kita. Tidak juga “bagi” berarti ‘menggantikan’ dalam Ibr 10:12 dan Gal 1:4. Jika Kristus mati  ‘menggantikan kita’ itu berarti tidak perlu memikul salibNya sebagaimana Dia teladan kita. Dan tidak terdapat sentuhan dlam baptisan dalam kematian dan kebangkitanNya, berkeinginan menyamakan diri kita denganNya sebagai perwakilan kemenangan kita. Ide dari penggatian memasukan potongan kecil untuk permuliaan bersama Dia yang secara sederhana tidak berlaku. Memahami Dia sebagai perwakilan kita, memberlakukan kita pada baptisan ke dalam kematian dan kebangkitanNyakehidupan salib terbawa sepanjang bersamaNya, dan secara nyata berbagi akan kebangkitanNya. kebangkitanNya adalah milik kita; kita telah diberikan harapan akan kebangkitan karena kita di dalam Kristus, yang telah bangkit (1 Ptr 1:3). Tuhan Yesus hidup dan mati dengan keadaan kita, dalam segala hal ini, dengan maksud agar dapat mendekati kita dan memapukan kita untuk menyamakan diri kita dengan Dia. Dengan menghargai pengajaran ini, kita dimampukan Dia untuk melihat hasil dari penderitaan akan jiwaNya dan dipuaskan.
9.5 Yesus Dan Hukum Musa
 Yesus adalah korban yang sempurna akan dosa dan imam besar tertinggi yang dapat memberikan pengampunan bagi kita. Oleh karena itu aturan lama akan korban binatang dan imam besar telah berlalu setelah kematianNya (Ibr 10:5-14). “ke-imaman digantikan (dari kaum lewi menjadi Kristus), dan juga mengganti hukum” (Ibr 7:12). Kristus “menjadi imam bukan berdasarkan rutinitas (karena hanya keturunan lewi yang menjadi imam), tetapi berdasarkan kuasa dan kehidupan yang tidak dapat binasa”, yang mana Dia telah memberikan korbanNya yang sempurna (Ibr 7:16 NIV). Oleh sebab itu, ini berbeda dengan bentuk yang rutinitas (artinya hukum Musa)karena semua itu sia-sia dan tidak berguna. Sebab hukum dibuat tidaklah sempurna, tetapi membawa kepada pengharapan yang lebih baik (melalui Kristus) yang melakukannya” (Ibr 7:18,19 AV dengan NIV).
     Inilah bukti bahwa hukum Musa telah digenapi dan digantikan dengan pengorbanan akan Kristus. Percaya kepada ke-imaman manusia dan mempersembahkan korban binatangberarti kita tidak menerima kemenangan Kristus secara penuh. Percaya demikian berarti kita tidak menerima korban Kristus sebagai keberhasilan yang memenuhi, dan kita merasakan bahwa perbuatan-perbuatan adalah perlu untuk pembenaran kita, melebihi iman di dalam Kristus itu sendiri. “tidak ada manusia yang dibenarkan oleh karena hukum di mata Allah...untuk, pem(benaran) akn tinggal oleh iman” (Gal 3:11; Hab 2:4). Pembuktian akan diri kita sendiri untuk ketaatan kepada surat hukum Allah, bagaimanapun akan gagal dan tidak membawa kita pada pembenaran; dipastiak setiap pembaca kata-kata ini telah mengetahui sebelumnya.
     Jika kita mengamati hukum Musa, kita harus memelihara semua itu. Ketidak-taatan kepada salah satu bagian berarti bahwa kita di bawah penghukuman. “ sebagaimana tindakan di bawah hukum adalah di bawah kutuk: sebab ada tertulis, terkutuklah setiap orang yang tidak setia melakukan segala yang tertulis dalam hukum taurat” (Gal 3:10). Kelemahan kodarat manusia berarti kita menemukan bahwa tidak mungkin memelihara hukum Musa secara penuh, tetapi mengenai ketaatan penuh Kristus melakukannya, kita dibebaskan dari segala hal untuk memelihara ini. keselamatan kita yang adalah pemberian Allah melalui Kristus, melebihi dari ketaatan kita. “sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan Allah dengan jlan mengutus AnakNya sendiri dalam daging yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhi hukuman atas dosa di dalam daging” (Rm 8:3). Demikian “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat, dengan menjadi kutuk karena kita” (Gal 3:13).
     Karena ini, kita tidak lagi memelihara segala yang terdapat pada hukum Musa. Kita melihat dalam Pelajaran 3.4 bahwa Perjanjian yang baru dalam Kristus ditempatkan Perjanjian yang lama oleh hukum Musa (Ibr 8:13). Oleh kematianNya, Christus menghapus “tulisan tangan dari apa yang menuntut kita dan tidak mungkin bagi kita (oleh ketidak mampuan kita untuk menjaga hukum secara penuh), dan membuangnya jauh, memakukan ini di salibNya... biarlah tidak ada orang menghakimi kamu dalam daging, atau dalam minum (persembahan), atau dalam menghormati festival agamawi, atau bulan baru, atau hari sabat: yang membayangi hal-hal ini untuk datang; tetapi kenyataannya adalah Kristus” (Kol 2:14-17 AV dengan  NIV). Ini cukup jelas – karena kematian Kristus di salib, hukum Musa telah diambil “keluar jauh” terlepas dari tekanan yang diletakan atas kita untuk menjaga bagian ini, contohnya hari raya dan sabat. Sebagaimana berhenti dari hukum, tujun dari hal ini untuk mengarah pada Kristus. Setelah kematianNya, ciri-ciri yang tepat telah terpenuhi, dan oleh sebab itu tidak ada sesuatu untuk mengamatinya.
     Gereja kristen mula-mula dari abad pertama telah ditekan terus-menerus oleh Yahudi ortodok untuk memelihara bagian dari hukum. Melampaui Perjanjian Baru terdapat peringatan yang diulangi untuk nasihat ini. dalam menghadapi semua ini, suatu hal luar biasa bahwa terdapat beberapa denominasi yang membela bagian ketaatan pada hukum. Kita telah lebih dahulu ditunjukkan bahwa segala perhatian untuk memperoleh keselamatan dari ketaatan hukum harus dijaga dalam hukum, dilain hal kita secara otomatis dihukum untuk ketidak-taatan akan hal ini (Gal 3:10).
     Terdapat bagian dalam kodrat manusia yang dimasukan pada ide dari pembenaran oleh perbuatan; kita senang merasakan bahwa kita melakukan sesuatu untuk keselamatan kita. Untuk alasan ini, kewajiban sepersepuluh, meikul salib, menemptkan doa-doa, mendoakan hal-hal tertentu, dll, adalah bagian yang dikenal dari banyak agama, kriten dan lainnya. Keselamatan karena iman dalam Kristus adalah doktrin yang unik untuk dasar Alkitab kekristenan yang benar.
     Peringatan menentang memlihara hukum Musa dengan maksud untuk memperoleh keselamatan, melampaui Perjanjian baru. Beberapa mengajarkan bahwa orang kristen seharusnya disunat sesuai hukum Musa, “dan menjaga hukum”. Yakobus secara sederhana diberlakukan ide ini pada halnya orang-orang percaya yang sesungguhnya: “kami tidak memberi perintah” (Kis 15:24). Petrus menggambarkan barangsiapa mengajar perlu taat pada hukum seperti meletakan kuk atas leher para murid yang mana nenek moyang kita dan kita tidak mampu menanggungnya. Tetapi kita percaya melalui kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (sebagai kebalikan dari perbuatan taat pada hukum) kita akan diselamatkan” (Kis 15:10,11). Dibawah inspirasi, Paulus dengan sama mengatakan untuk menekankan hal yang sama waktu demi waktu. “manusia tidak dibenarkan oleh perbuatan akan hukum, melainkan oleh iman kepada Yesus Kristus... bahwa kita beroleh pembenaran oleh iman akan Kristus, dan bukan karena perbuatan akan hukum: sebab oleh perbuatan akan hukum yang tidak kedagingan akan dibenarkan... tidak ada seorangpun yang dibenarkan karena hukum... oleh (Kristus) semua yang percaya akan dibenarkan dari segala hal, yang mana kamu tidak akan beroleh pembenaran dari hukum Musa” (Gal 2:16; 3:11; Kis 13:39).
     Sebuah kepastian menandakan ajaran umum darei banyak aliran kristen bahwa banyak dari praktek mereka yang didasari pada bagian dari hukum Musa – meskipun kejelasan penagjaran mengenai orang kristen seharusnya tidak mengamati hukum ini, melihat bahwa hal ini telah digenapi dalam Kristus (Mat 5:17). Sekarang kita akan lebih menyadari jalan yang nyata di dalam hukum Musa adalah dasar dari praktis kristen masa kini.
Para Imam
Gereja-gereja katolik dan anglikan menggunakan sistem ke-imaman manusia. Katolik Roma melihat Paus sebagai penyamaan mereka dari imam besar Yahudi. Adalah “satu media perantara antara Allah dan manusia, manusia Kristus Yesus” (1 Tim 2:5). Tidaklah mungkin yang oleh karenanya bahwa Paus atau imam-imam dapat menjadi perantara kita sebagai imam-imam seperti Perjanjian Lama. Kristus adalah Imam Besar kita di surga sekarang, mempersembahkan doa-doa kita kepada Allah.
     Adalah secara pasti bukti yang tidak Alkitabiah bahwa otoritas ditempatkan oleh pegaruniaan rohani penatua pada abad pertama – contohnya Petrus memberikan pda generasi berikut atau kepada Paus bagian ini. walau kemungkinan hal ini disetujui, tidak ada hal yang membuktikan bahwa Paus dan para imam secara pribadi kepada mereka yang berjubahkan kerohanian penatua pada abad pertama telah diikuti.
     Karunia rohani telah diambil, semua orang percaya memiliki kesamaan untuk masuk ke dalam Firman Roh di dalam Alkitab (kihat Pelajaran 2.2 dan 2.4). yang untuknya semua kawan sehaluan, tidak memiliki tempat kerohanian yang lebih tinggi dari yang lainnya. Sesungguhnya, seluruh orang percaya yang benar adalah bagian dari ke-imaman yang baru dengan alasan mereka dibaptiskan dalam Kristus, dalam hal ini mereka memperlihatkan terang Allah kepada dunia yang gelap ( 1Ptr 2:9). Oleh sebab itu mereka akan menjadi imamat rajani akan Kerajaan, saat ini ditetapkan di atas bumi pada kedatangan kristus (Why 5:10).
     Prakteis katolik akan julukan imam mereka ‘bapa’ (‘Paus’ berarti ‘bapa’ juga) dalam pertentangan akan kejelasan kata-kata Yesus, “janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu yang di surga” (Mat 23:9). Sesungguhnya, Yesus memberi peringatan yang menentang para pengikut yang rohaninya rendah menghormati mereka dengan sebutan imamat moderen: “janganlah kamu disebut Rabbi (guru): karena hanya satu Tuanmu, bahkan Kristus; dan kamu semua adalah saudara” (Mat 23:8).
     Hisan jubah dipakai para imam, uskup dan pastor lainnya memiliki dasar mereka dalam pakaiaan khusus dari kepingan batu yang dikenakan oleh para imam dan imam besar. pemakaian ini mengarhkan pada kesempurnaan karakter Kristus, dan sebagaimana semua hukum, bertujuan untuk digenapi sekarang. Sungguh menyedihkan hati, bahwa pakaian yang mana diarahkan untuk kemuliaan Kristus, sekarang digunakan untuk kemuliaan seseorang yang menggunakannya – beberapa dari mereka setuju bahwa mereka tidak menerima kebangkitan Kristus atau bahkan  keberadaan Allah.
     Ide katolik bahwa Maria adalah seorang imam adalah salah. Permintaan kita adalah dalam nama Kristus, bukan Maria (Yoh 14:13,14; 15:16; 16:23-26). Hanya Kristus imam besar kita,bukan Maria. Yesus menegur maria saat dia menyuruhNya melakukan sesuatu untuk orang lain (Yoh 2:2-4). Bukan Maria, namun Allah yang membawa seseorang kepada Kristus (Yoh 6:44).
Perpuluhan
Ini juga, adalah bagian dari hukum zaman Musa (Bil 18:21), sementara kaum Yahudi menyumbang sepersepuluh kepada iamam kaum lewi. Melihat bahwa tidak adanya ke-imaman manusia, tidaklah berlaku lagi hal untuk membayar perpuluhan kepada para penatua gereja. Dan lagi, satu ajaran palsu (dalam kasus ini mengenai para imam) harus menuntun yang lainnya (perpuluhan). Allah sendiri tidak memerlukan persembahan kita, melihat bahwa segalanya adalah kepunyaanNya (Mzm 50:8-13). Kita hanya mengembalikan kepada Allah apa yang Ia berikan kepada kita (1 Taw 29:14). Tidak mungkin bagi kita untuk memperoleh keselamatan sebagai hasil dari persembahan materi kita, contohnya keuangan. Dalam syukur kepada kebesaran karunia Allah bagi kita, kita seharusnya tidak hanya memberi sepersepuluh dari uang kita, tetapi seluruh hidup kita. Paulus mencontohkan dalam hal ini, sunggguh-sungguh melakukan apa yang ia kotbahkan: “persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus, berkenan kepada Allah, sebagi ibadahmu yang sejati” (Rm 12:1).
Daging
Hukum Yahudi mengkategorikan daging-daging yang tidak bersih – dipraktekan oleh beberapa denominasi saat ini, khususnya daging babi. Karena pengembalian hukum Kristus di kayu salib, “biarlah tidak ada orang yang menghakimi kamu dalam daging, atau minuman” (Kol 2:14-16). Mengenai perintah zaman Musa mengenai hal ini telah dibuang jauh, melihat bahwa Kristus telah datangDialah makanan ‘bersih’ yang dimaksudkan.
     Yesus dengan jelas menerangkan bahwa bukanlah sesuatu yang dimakan orang yang menajiskannya; melainkan apa yang keluar dari dalam hatinya yang menajiskannya (Mrk 7:15-23). “dengan kata lain seperti ini, Yesus mengumumkan segala makanan ‘bersih’ halal” (Mrk 7:19 NIV). Petrus diajarkan hal yang sama (Kis 10:14,15), seperti juga Paulus: “aku tahu, dan diyakinkan oleh Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bersih oleh karenanya” (Rm 14:14). Mulanya, Paulus beralasan untuk menolak daging yang menandakan kenajisan (Rm 14:2). Sikap kita terhadap daging “tidak mendekatkan kita kepada Allah” (1 Kor 8:8). Banyak masukan dari semua yang memperingati orang-orang kristen murtad akan mengajarkan seseorang “jangan makan daging, yang mana Allah ciptakan untuk diterima sebagai ucapan syukur bagi mereka yang percaya dan mengenal kebenaran” (1 Tim 4:3).
9.6 Hari Sabat
 satu penyebaran terbesar yang berkelanjutan antara kristen masa kini dengan praktis hukum zaman Musa terlihat dalam sebua ide bahwa kita harus tetap menguduskan hari sabat. Beberapa kelompok meng-klaim bahwa kita harus memelihara hari sabat Yahudi seruapa seperti yang didefinisikan dalam hukum; banyak yang lainnya merasakan bahwa orang kristen seharusnya memiliki hari yang dikhususkan setiap minggu yang mana untuk menyembah, yang sering mereka artikan hari minggu. Hal pertama yang meng-klarifikasikan adalah hariu sabat merupakan hari terakhir dari setiap minggu, setelah Allah beristirahat setelah enam hari penciptaan (Kel 20:10,11). Sebagaimana minggu adalah hari pertama dari setiap minggu, tidak akan tepat jika kita mengamati hari ini sebagai hari sabat. Hari sabat mengkhususkan “sebuah tanda Aku (Allah) dan mereka (Israel), bahwa mereka boleh tahu bahwa Aku adalah Tuhan yang menguduskan mereka” (Yeh 20:12). Dengan demikian, ini tidak berlaku mengiukat pada kaum umum (bukan Yahudi). “Tuhan telah memberikan kepadamu (tidak semua manusia) hari sabat (Kel 16:29); “Kau (Allah) membuat diketahui kepada mereka (Israel) hari sabatMu” (Neh 9:14).
     Yesus pernah sekali berkomentar pada masalah teologia: seorang bayi laki-laki harus disunat pada hari kedelapan hidupnya. Jika bertepatan pada hari sabat, maka pekerjaan harus dilakukan. Jadi hukum mana yang seharusnya dijaga, sunat atau hari sabat? Yesus menjawab bahwa sunat harus dihargai, karena datang dari Abraham, yang mana hukum hari sabat datang kemudian, dari Musa: “Musa memberikan kamu penyunatan [bukan karena ini dari Musa, tetapi dari nenek moyang – rtinya Abraham]...”. juka hukum sunat mengambil tempat melebihi hari sabat, bagaimana ini menjadi pendapat oleh beberapa orang bahwa hukum sabat mengikat dan hukum sunat tidak? Sunat telah diambil dari perjanjian dengan Abraham, di mana sabat diambil dari hukum Musa (Kel 31:17), dan Yesus menghakimi bahwa janji dengan Abraham adalah lebih penting. Hal yang sama diutarakan oleh Paulus, ketika alasannya bahwa perjanjian yang baru diberikan kepada Abraham [yang mana tidak melibatkan perintah akan hari sabat] adalah sesuatu yang tidak dapat dimasukan atau tidak dapat dibatalkan. Dia bertanya , untuk itu, mengapa hal itu bahwa “hukum... telah diadakan” (Gal 3:15,19)? Dia menjawab bahwa hukum telah dimasukan, penerapan sementara, melihat bahwa perjanjian yang baru tidak dapat sungguh-sungguh dimasukan, dengan maksud untuk mengajar manusia akan dosa dan menuntun mereka untuk memahami Kristus, janji dari benih Abraham. Yang sekarang Kristus telah datang, kita tidak lagi dibawah hukum.
     Dengan demikian melalui kematian Kristus di kayu salib, hukum Musa telah dilakukan menjauh, jadi tidak diperlukan lagi sekarang untuk menjalani hari sabat, atau sesungguhnya, segala festival, contohnya hari kematian Kristus (Kol 2:14-17). Kristen mula-mula yang kembali untuk memelihara hukum zaman Musa, contohnya hari sabat, telah digambarkan Paulus sebagai pengembalian “untuk yang lemah dan prinsip yang salah (NIV), yang menginginkan kamu untuk diperbudak kembali. Perhatiknlah hari-hari (contohnya sabat), dan bulan, dan waktu, dan tahun (festival Yahudi). Aku mengkhawatirkan  (akan) kamu, kalau upayaku ke kamu sia-sia” (Gal 4:9-11). Inilah keseriusan untuk memelihara sabat sebagai arti dari keselamatan. Jelas sekali bahwa menjalankan sabat tidak berhubungan dengan keselamatan: “oleh satu orang telah ditetapkan satu hari atas yang lainnya (dalam keserasian rohani): yang lain ditetapkan sebagaimana setiap hari. Hendaklah setiap orang yakin akan pikirannya. Siapa yang berpegang pada suatu hari, ia melakukannya untuk Tuhan; dan yang tidak berpegang hari itu, ia juga tidak melakukannya untuk Tuhan” (Rm 14:5,6).
     Karena ini, sulit memahami bahwa kita tidak membaca orang percaya mula-mula memelihara hari sabat. Sesungguhnya, ini tercatat bahwa mereka bertemu pada “hari pertama pada satu minggu”, artinya minggu: “pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecahkan roti...” (Kis 20:7). Bahwa ini adalah penjabaran praktis yang diindikasikan oleh Paulus menasihati orang-orang percaya di Korintus untuk berkumpul “pada hari pertama sebuah minggu” (1 Kor 16:2), artinya pertemuan rutinitas pada hari itu. Semua orang-orang percaya digambarkan sebagai imamat (1 Ptr 2:9) – yang meneladani pemeliharaan hari sabat (Mat 12:5).
     Jika kita memelihara hari sabat, kita harus melakukan persiapan; kita akan terlihat dahulu bahwa adalah fata untuk secara sebagian menjaga hukum zaman Musa, karena ini akan menghasilkan hukum bagi kita (Gal 3:10; Yak 2:10). Keselamatan melalui hukum Kristus melebihi Musa. Israel tidak diijinkan untuk bekerja pada hari sabat: “barang siapa melakukan pekerjaan harus dijatuhi kematian”. Mereka juga memerintahkan: “janganlah kamu menyalakan api sebagaimana biasanya pada hari sabat”, dan oleh sebab itu mereka harus mempersiapkan makanan  lebih dahulu pada hari itu, dengan maksud yang menyalakan api akan dihukum mati karena melakukannya (Bil 15:32-36).
     Denominasi yang mengajar bahwa pemeliharaan sabat adalah mengikat para anggotanya seharusnya dengan demikian menghukum para anggotanya dengan kematian tatkala mereka melanggar sabat. Seharusnya tidak boleh memasak makanan atau penggunaan api dalam segala bentuk – contohnya mengendarai motor, menggunakan sistem itu, dll. Yahudi ortodok menempatkan contoh dari sikap yang diterima pada hari sabat: mereka memaksudkan di dalam ruangan sepanjang hari diterima untuk alasan keagamaan, dan secara pribadi tidak terlibat dalam memasak, transportasi, dll. Banyak dari ‘kristen’ demikian menyatakan pemeliharaan hari sabat sejauh dapat dilakukan akan hal ini.
sering diperdebatkan bahwa adalah salah satu dari sepuluh perintah yang diberikan kepada Musa, dan bahwa, sementara pemberhentian dari hukum Musa telah berlalu, penjagaan untuk pemeliharaan terhadap sepuluh perintah. Hari ketujuh membuat perbedaan antara ‘hukum moral’ dari sepuluh perintah, “hukum Allah”, yang disebut ‘hukum ritual’, yang “hukum Musa”, sementara mereka percaya telah digenapi oleh Kristus. Perbedaan ini tidak diajarkan dalam Alkitab. Alkitab menggunakan kata “hukum Musa” dan “hukum Allah” menggantikannya (Bil 31:21; Yos 23:6; 2 Taw 31:3). Kita telah dipertunjukkan lebih dahulu bahwa Perjanjian Lama mengarah pada hukum Musa, yang mana digantikan di atas kayu salib dengan Perjanjian Baru.- Allah “mengumumkan kepadamu (Israel) perjanjianNya, yang dia perintahkan kepadamu (israel) untuk ditampilkan, bahkan kesepuluh perintah; dan Dia menuliskan pada dua loh batu” (Ul 4:13). Dan lagi seharusnya tercatat bahwa perjanjian ini, didasari atas sepuluh perintah, yang menjadi perantaraan Allah dan israel, bukan kaum lain pada masa kini.
Yesus ke gunung Horeb untuk menerima loh batu yang mana Allah menuliskan sepuluh perintah. Kemudian Musa berkomentar mengenai ini, “Tuhan Allah kita membuat perjanjian dengan kitadi Horeb” (Ul 5:2), melalui kesepuluh perintah.
Pada masa kini, Allah “menuliskan ke atas loh firman dari perjanjian, kesepuluh perintah” (Kel 34:28). Inilah perjanjian yang sama yang terlibat secara rinci  disebut ‘hukum ritual’ (Kel 34:27). Jika kita berpendapat bahwa menjaga perjanjian yang trerdapat pada kesepuluh perintah adalah perlu, kita harus juga menjalankan setiap detil dari hukum yang dimasukan, melihat bahwa ini merupakan semua bagian dari perjanjian yang sama. Inilah bukti ketidak-mungkinan melakukan hal ini.
Tidaklah sesuatu dalam barang arkeologi dari dua loha batu yang diamankan, yang Musa letakan di Horab... peninggalan, yang di dalamnya terdapat perjanjian dari Tuhan” (1 Raj 8:9,21). Menganai loh itu, yang mana kesepuluh perintah , adalah perjanjian.
Ibr 9:4 berbicara akan “tabut perjanjian”. Kesepuluh perintah ditulis pada loh batu, yang sesuai dengan “perjanjian (lama)”.
Paulus mengarah pada perjanjian ini sebagai “tertulis dan tertanam dalam batu”, artinya di atas loh batu. Dia menyebut ini “pelayanan kepada kemtian... pelayanan akan penghukuman... yangvtelah digenapi” (2 Kor 3:7-11). Perjanjian disatukan dengan sepuluh perintah dapat diyakinkan tidak memberi pengharapan akan keselamatan.
Kristus menghapus “tulisan tangan yang diberlakukan menentang kita” (Kol 2:14) di kayu salib. Ini mengikuti kepada tulisan tangan Allah akan kesepuluh perintah pada loh batu. Seperti halnya Paulus berbicara akan “hukum... menjadi mati.... dari surat yang lama’ (Rm 7:6), dimungkinkan mengarah pada surat sepuluh perintah yang mana ditulis pada loh batu.
Hanya satu dari sepuluh perintah yang ditetapkan “hukum” dalam Rm 7:8: “hukum... berkata, janganlah kamu mengingini”. Didahului ayat dalam Rm 7:1-7 menekankan bagaimana “hukum” telah digenapi oleh kematian Kristus; “hukum” yang di dalamnya adalah kesepuluh perintah.
      Semua ini membuat jelas bahwa perjanjian yang lama dan “hukum” termasuk sepuluh perintah. Sebagaimana hal itu digenapi oleh perjanjian yang baru, kesepuluh perintah oleh karenanya dihapus. Bagaimanapun, sembilan dari sepuluh perintah telah dijalankan, setidaknya di dalam roh, dalam Perjanjian Baru. Nomer 3,5,6,7,8 dan 9 dapat ditemukan hanya dalam 1 Tim 1, dan nomer 1,2 dan 10 dalam 1 Kor 5. tetapi tidak pernah dari perintah keempat tentang hari sabat diulangi dalam Perjanjian Baru sebagaimana harus diterapkan bagi kita.
     Berikut ini daftar dari bagian dokumen mengenai bagaimana kesembilan lainnya diberlakukan kembali dalam Perjanjian Baru. 
            Ke-1               Ef 4:6; 1 Yoh 5:21; Mat 4:10
            Ke-2               1 Kor 10:14; Rm 1:25
            Ke-3               Yak 5:12; Mat 5:34,35
            Ke-5               Ef 6:1,2; Kol 3:20
            Ke-6               1 Yoh 3:15; Mat 5:21,22
            Ke-7               Ibr 13:4; Mat 5:27,28
            Ke-8               Rm 2:21; Ef 4:28
            Ke-9               Kol 3:9; Ef 4:25; 2 Tim 3:3
            Ke-10             Ef 5:3; Kol 3:5
      Tuhan Yesus mengundang kepada siapa saja yang mengikuti Dia untuk menerima “kelegaan” yang Dia berikan (Mat 11:28). Dia menggunakan kata bahasa Yunani yang digunakan dalam septuaginta, bahasa Yunani yang menterjemahkan Perjanjian Lama, untuk perhentian sabat. Yesus memberikan hidup akan sabat. Peristirahatan dari mepercayai pekerjaan kita (Ibr 4:3,10). Dengan demikian, kita tidak seharusnya memelihara hari sabat satu hari setiap minggu, tetapi lebih hidup dalam seluruh hidup kita dalam roh akan hari sabat.
10.1 Pentingnya Baptisan
beberapa waktu dalam permulaan pembelajaran kita telah disebutkan pentingnya baptisan; ini adalah langkah pertama akan ketaatan kepada pesan Injil. Ibr 6:2 berbicara tentang baptisan sebagai salah satu dari banyak doktrin dasar. Kita meninggalkan kesadaran ini samapai tahap sejauh ini karena baptisan yang benar hanya dapat terjadi setelah memiliki pegangan yang benar akan kebenaran dasar yang terdiri dari Injil. Kita sekarang memiliki pelajaran yang lengkap akan hal ini. jika anda ingin dipersatukan dengan pengharapan yang besar yang seringkali Alkitab mengarahkan melalui Yesus Kristus, maka baptisan merupakan kebutuhan yang absolut.
     “keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yoh 4:22) dalam arti9an bahwa janji-janji mengenai keselamatan telah dibuat hanya kepada Abraham dan benihnya. Kita hanya dapat memiliki janji-janji yang dibuat untuk kita itu jika kita menjadi dalam benih, dengan dibaptis ke dalam Kristus (Gal 3:22-29). Maka, segala kebenaran Tuhan Yesus menjadi kebenaran kita. Zakharia menyebutkan nubuatan tentang benih Abraham dan Daud sebagai penerapan untuk semua orang percaya (Luk 1:73,74). Tanpa baptisan, kita berada di luar hubungan perjanjian dengan Allah. Inilah sebabnya Petrus berseru: “bertobatlah dan dibaptis” dengan maksud untuk menerima pengampunan. Hanya sebanyak yang telah dibaptis ke dalam Kristus yang di dalam Dia dan oleh karenanya memiliki janji-janji keselamatan yang dibuat untuk Abraham dibuat untuk mereka (Gal 3:27). Jika kita mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus melalui baptisan, maka – dan hanya akan – “kita menjadi sama dengan kebangkitanNya... kita akan hidup juga dengan Dia” (Rm 6:5,8).
     Yesus yang oleh karenanya memerintahkan para pengikutNya: “pergilah kalian ke seluruh dunia dan beritakanlah injil (yang berisikan janji-janji kepada Abraham – Gal 3:8) kepada segala ciptaan. Dia yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Mrk 16:16). Cerminan keatas kata “dan” menyatakan bahwa percaya kepada injil saja tidak dapat menyelamatkan kita; baptisan bukanlah merupakan pilihan tambahan di dalam kehidupan kristen, ini adalah bagian penting untuk keselamatan. Ini tidaklah mengatakan bahwa tindakan baptisan itu saja akan menyelamatkan kita; ini harus diikuti dengan waktu kehidupan yang terus-menerus akan ketaatan terhadap firman Allah. Yesus menekankan ini: “sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah (Yoh 3:5). Tatkala rintangan dosa itu ditarik, ketika kita ‘ditutupi’ oleh kebenaran Kristus, maka kita diundang untuk berhubungan pribadi dengan janji Allah.
     Ini adalah sebuah proses yang sedang berjalan: “menjadi lahir kembali... oleh firman Allah” (1 Ptr 1:23). Sehingga melalui kelanjutan tanggapan kita terhadap roh firman bahwa kita menjadi lahir oleh roh (lihat Pelajaran 2.2).
     Kita “dibaptiskan dalam Kristus” (Gal 3:27), di dalam namaNya dan yang dari Bapa (Kis 19:5; 8:16; Mat 28:19). Catatan bahwa kita dibaptis di dalam Kristus bukan di dalam Christadelphians atau organisasi manusia. Oelh baptisan di dalamNya kita menjadi manusia yang disebut oleh nama Kristus, hanya sebagai Israel yang menyukai penggambaran sebagai yang memiliki nama Allah (2 Taw 7:14). Secara sering Allah mempeingatkan bahwa kenyataan israel membawa namaNya memberikan mereka sebuah tanggung-jawab berat untuk bertindak dengan tepat, sebagai saksiNya kepada dunia. Kesamaan yang benar bagi kita yang dibaptis dalam nama itu. Tanpa dibaptis kita tidak berada “dalam Kristus”, dan oleh karenanya tidak terlindungi karya keselamatanNya (Kis 4:12). Petrus menyusun perumpamaan yang kuat mengelilingi kenyataan ini: dia mengumpamakan bahtera pada zaman Nuh kepada Kristus, menunjukkan bahwa bahtera menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari hukuman yang datang ke-atas orang berdosa, begitulah baptisan dalam Kristus akan menyelamatkan orang-orang percaya dari kematian kekal (1 Ptr 3:21). Nuh masuk ke-dalam bahtera seumpama kita masuk ke-dalam Kristus melalui baptisan. Semua yang berada di luar bahtera dilenyapkan oleh air bah; berdiri dekat bahtera atau menjadi teman dari Nuh sungguh tidak berkaitan. Cara untuk keselamatan hanyalah dengan berada di dalam Kristus/bahtera. Inilah bukti tentang kedatangan kedua, yang mencirikan air bah (Luk 17: 26,27), mendekati kita (lihat Tambahan 3). Masuk ke-dalam Kristus/bahtera oleh baptisan yang oleh karena itu menjadi sangat penting; secara Alkitab mencirikan akan masuk ke-dalam bahtera pada zaman Nuh adalah lebih kuat.
     Orang kristen mula-mula mematuhi printah Kristus untuk melakukan perjalanan untuk mengkotbahkan Injil dan membaptis; kitab Kisah para rasul mencatat akan hal ini. pembuktian dari pentingnya baptisan menjadi ditemukan bahwa catatan ini menekankan bagaimana dengan segera orang menjadi dibaptis setelah mengerti dan menerima Injil (contohnya Kis 8:12,36-39; 9:18; 10:47; 16:15). Penekanan ini dapat dimengerti dan diapresiasikan bahwa tanpa baptisan pembelajaran kita akan Injil adalah sia-sia; baptisan adalah tahap penting yang utama untuk berjalan melalui jalan menuju keselamatan. Dalam suatu kasus catatan yang diinspirasikan terlihat begitu menyoroti bagaimana, meskipun banyak manusia beralasan untuk menunda baptisan, dan banyak kesulitan dalam menampilkan tindakan ini, ini begitu penting bahwa orang membuat segala upaya untuk mendatangkan hal ini, dengan pertolongan Allah.
     Kepala penjara di Filipi secara tiba-tiba dijerumuskan dalam sebuah krisis akan hidupnya oleh sebuah gempa bumi yang besar yang secara lengkap mematahkan keamanan penjara yang tertinggi. Para tahanan mendapat kesempatan untuk melarikan diri – sesuatu yang mana akan mengorbankan kehidupan dirinya. Imannya di dalam injil kemudian menjadi nyata, sebanayk yang mana “dalam jam yang sama pada waktu malam (dia) memberi diri dibaptis... secara langsung” (Kis 16:33). Jika seseorang memiliki alasan untuk menunda baptisan itu adalah dia. Ancaman hukuman atas kelalaian tugas adalah digantung melampaui kepalanya, sebelum ia melihat dengan jelas tindakan apa yang paling penting ditampilkan ke dalam kehidupannya dan nasib kekekalan. Dan ia mendatangkan permasalahan dengan segera yang mengelilingi hidupnya (contohnya gempa bumi), tekanan-tekanan dari apa yang dia kerjakan sehari-hari dan trauma kepanikan membuat dia menemukan dirinya masuk untuk dibaptis. Banyak dari calon-calon yang akan dibaptis dapat mengambil inspirasi yang benar dari pria itu. Bahwa ia dapat membuat kesungguhan akan tindakan iman yang cukup dibuktikan bahwa ia telah siap untuk mengenal lebih dalam lagi akan injil, melihat bahwa kenyataan iman yang sesungguhnya hanya datang dari pendengaran akan Firman Allah (Rm 10:17; Kis 17:11).
     Dalam Kis 16:14,15 kita membaca bagaimana Lidia “memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Dan sesudah ia dibaptis...”. ini dianggap bahwa siapapun yang mendengar dan percaya kepada injil akan dibaptis – baptisan terlihat sebagai bagian penting yang meresponi pengajaran daripada injil. Pekerjaan baik tidaklah cukup – kita harus dibaptis secara benar. Kornelius adalah “seorang yang saleh, yang takut akan Allah... yang mana banyak berderma kepada orang, dan selalu berdoa kepada Allah”, tetapi hal ini tidaklah cukup; dia harus menunjukkan apa yang harus dia lakukan yang mana dia tidak melakukannya – untuk percaya kepada injil Kristus dan dibaptis (Kis 10:2,6).
     Kis 8:26-40 mencatat bagaimana seorang sida-sida Etiopia yang sedang mempelajari kitab sementara membaca dalam sebuah kereta kuda yang melalui padang gurun. Dia bertemu Filipus, yang mengajar dan menjelaskan injil kepadanya, termasuk syarat-syarat untuk baptisan. Secara manusiawi berbicara, pastilah tidak  mungkin untuk mentaati perintah untuk dibaptis di padang gurun yang kekurangan air itu. Sesungguhnya Allah tidak akan meberi perintah yang mana seseorang tidak dapat mematuhinya. “sejauh mereka pergi akan jalan mereka, mereka menghampiri temapat yang berair” sebuah oasis, di mana baptisan dimungkinkan (Kis 8:36). Kejadian ini menjawab dugaan yang tidak mendasar bahwa penyelaman hnaya diberlakukan untuk ditampilkan di daerah yang luas, gampang mendapat air. Allah akan selalu menyediakan jalan yang nyata yang mana untuk menmtaati perintah-perintahNya.
     Rasul Paulus menerima gambaran yang dramatis dari Kristus yang sangat menusuk hati nuraninya sedapat mungkin dia “dengan segera... bangun dan dibaptis” (Kis 9:18). Dan lagi haruslah menjadi cobaan baginya untuk menunda baptisan, memikirkan status sosialnya dan karirnya yang sedang menanjak yang direncanakan bagi dia di dalam keyahudian. Tetapi bintang dari dunia yahudi yang sedang terbit ini membuat pembenaran dan keputusan segera untuk dibaptis dan secara terbuka meninggalkan cara hidupnya yang terdahulu. Dia kemudian merefleksikan pilihannya dengan menjadi dibaptis: “dahulu yang kuanggap keuntungan, semuany kuanggap rugi karena Kristus... malahan semuanya kuanggap rugi (segala sesuatu yang dulu menguntungkan), dan menganggap semua itu sebagai sampah, supaya aku memperoleh Kristus... melupakan apa yang ada di belakang (segala sesuatu dari cara hidup keyahudiannya yang lama), dan mengarahkan apa yang ada di hadapanku, berlari pada tujuan untuk memperoleh hadiah” (Flp 3:7,8,13,14).
     Ini merupakan bahasa seorang atlet yang langsung mengarahkan pemutusan penyelesaian rangkaian. Demianlah konsentrasi dari mental dan kerja keras fisik yang seharusnya mengkarakterisasikan kehidupan kita setelah baptisan. Haruslah dimengerti bahwa baptisan merupakan permulaan dari sebuah perjalanan menuju Kerajaan Allah; ini bukan hanya sebuah tanda dari perubahan gereja-gereja dan percaya, atau tidak juga sesuatubyang pasif memasuki kehidupan yang santai akan kemudahan kesetiaan kepada agama terhadap beberapa kesamaran yang dinyatakan prinsip dasar orang kristen. Baptisan mengerjakan kita dalam sentuhan yang berjalan dengan salib dan kebangkitan Yesus (Rm 6:3-5) – kesempatan penuh akan kekuatan yang utama dalam segala hal.
     Sebagaimana melelahkan, sebelum kejayaan rohani seorang yang tua, Paulus dapat mengenang: “aku tidak pernah tidak taat terhadap penglihatan surga” (Kis 26:19). Sebagaimana kesungguhan bagi Paulus, begitu juga mereka yang dengan tepat dibaptis: baptisan adalah sebuah keputusan yang mana seseorang tidak akan pernah menyesal. Pertobatan adalah sesuatu yang tidak akan pernah berhenti bertobat, Paulus meringkaskan nilai-nilai (2 Kor 7:10). Seluruh kehidupan kita kita akan menyadari bahwa kita membuat pilihan yang tepat. Dari sedikit keputusan-keputusan manusia dapat membuat kita begitu yakin. Dan pertanyaan yang harus dijawab dengan serius: ‘mengapakah seharusnya aku tidak dibaptis?’.
10.2 Bagaimana Seharusnya Kita Dibaptis?
Terdapat pandangan secara luas yang melihat bahwa baptisan dapat ditampilkan, khususnya pada bayi, dengan percikan air ke atas kepalanya (‘mengkristenkan’). Ini sangat bertolak dengan prinsip alkitabiah tentang baptisan.
     Bahasa Yunani kata ‘baptizo’ yang diterjemahkan ‘baptise’ dalam Alkitab bahasa Inggris, bukanlah berarti memercik, ini mengartikan secara lengkap mencuci dan membenamkan ke dalam air (lihat definisi pada konkordansi dari Robert Young dan James Strong). Kata ini digunakan dalam bahasa Yunaniklasik mengenai kapal yang kandas dan menjadi ‘dibaptis’ (tenggelam) dalam air, atau ember yang dicelupkan ke dalam air. Ini juga digunakan dengan referensi untuk pakaian yang diganti warnanya dengan baptisan, atau menenggelamkan sampai tercelup. Untuk mengganti warna dari pakaian itu, ini bukti bahwa haruslah ditenggelamkan secara penuh ke dalam air, daripada sekedar percikan ke atasnya. Yoh 13:26 menggunakan bahasa Yunani bapto untuk menggambarkan bagaimana Tuhan mencelupkan roti ke dalam anggur. Penyelaman sesungguhnya bentuk yang tepat untuk baptisan yang terambil dari ayat-ayat berikut:
·        “Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab banyak air di situ, dan orang-orang datang untuk dibaptis” (Yoh 3:23). Ini menunjukkan bahwa “banyak air” yang dianjurkan untuk baptisan; jika ini dilakukan dengan pemercikan sedikit air, maka hanya sati ember saja yang harus disediakan untuk ratusan orang. Orang-orang datang tertuju pada tengah-tengah sungai Yordan untuk baptisan, daripada sekedar Ytohanes pergi berkeliling kepada mereka dengan membawa sebotol air.
·        Yesus juga, dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan – ke Yordan (Mrk 1:9). “Yesus setelah Ia dibaptis, keluar dari air” (Mat 3:13-16) baptisanNya secara jelas dengan selam – Dia “keluar dari air” setelah baptisan. Satu dari banyak alasan Yesus dibaptis adalah dengan maksud untuk menjadi contoh, dengan begitu tidak seorangpun dapat mengklaim mengikut Yesus secara serius tanpa meniru contoh Dia akan baptisan secara selam.
·        Dalam hal yang sama, Filipus dan sida-sida Etiopia “keduanya turun ke dalam air... dan dia membaptisnya, dan ketika mereka keluar dari dalam air...” (Kis 8:38,39). Ingatlah bahwa sida-sida itu meminta baptisan ketika ia melihat oasis: “lihat, di sisni ada air: apa yang menghalangiku untuk dibaptis?” (Kis 8:36). Hampir dipastikan bahwa orang itu tidak akan mau melakukan perjalanan di padang gurun tanpa setidaknya sedikit air padanya, misalnya dalam sebuah botol. Jika baptisan dengan percikan, hal itu dapat dilakukan tanpa memerlukan oasis.
·        Baptisan adalah penguburan (Kol 2:12), yang mau diimplikasikan tertutup total.
·        Baptisan disebut ‘penyucian’ akan dosa-dosa (Kis 22:16). Inti dari pengajaran yang benar adalah seperti halnya ‘menyucikan’ dalam Why 1:5; Tit 3:5; 2 Ptr 2:22; Ibr 10:22, dll. Bahasa menyucikan ini lebih tepat kepada baptisan selam daripada memercik.

Terdapa beberapa indikasi Perjanjian Lama bahwa dapat diterima mendekat kepada Allah melalui bentuk dari penyucian.
     Imam-imam harus mencuci secara penuh dalam sebuah kolam yang disebiut ‘Laver’ sebelum mereka datang mendekat Allah dalam pelayanan (Im 8:6; Kel 40:32). Umat Israel harus disucikan dengan maksud pembersihan diri mereka dari pastinya hal-hal yang tidak bersih (contoh Ul 23:11), yang mana mewakilkan dosa.
     Seorang yang disebut Naaman, seorang kusta dari kaum bukan Israel yang disembuhkan oleh Allah Israel, demikianlah dia mewakili orang yang berdosa, secara efektif pergi dengan kehidupan yang mati akan dosa. Dia diobati dengan menyelam di sungai Yordan. Secara inisial dia menemukan tindakan yang mudah tetapi sulit untuk diterima, berpikir bahwa Allah menginginkan ia melakukan tindakan yang dramatis, atau menenggelamkan dirinya dalam sebuah sebuah sungai yang besar dan terkenal, contohnya Abana. Kesamaannya, kita boleh melihat sangat sulit untuk percaya bahwa sesungguhnya suatu tindakan yang mudah dapat membawa keselamatan kita. Lebih menarik untuk berpikir bahwa pekerjaan kita sendiri dan kerjasama umum yang besar, yang diketahui gereja (sungai Abana) dapat menyelamatkan kita, lebih dari sekedar tindakan mudah ini akan kerjasama  dengan harapan yang benar akan Israel. Setelah menyelam dalam Yordan, tubuh Naaman “kembali seperti tubuh seorang bayi mungil, dan dia telah bersih” (2 Raj 5:9-14).
     Seharusnya terdapat sebuah ruangan kecil untuk ‘baptisan’ yang mengarah pada penyelaman penuh dalam air setelah pemahaman pertama akan pesan dasar dari Injil. Definisi dasar Alkitab akan baptisan ini bukanlah membuat referensi kepada status seseorang yang secara aktual melakukan baptisan secara fisik. Baptisan menjadi sebuah penyelaman di dalam air setelah percaya kepada Injil, secara teoritis dimungkinkan untuk membaptis sendiri. Bagaimanapun, karena baptisan hanyalah baptisan dengan alasan dari ajaran yang tepat yang mana berpegang pada waktu penyelaman, ini mengartikan sebaiknya dibaptis oleh orang percaya lainnya dengan ajaran yang benar, yang dapat memberikan semua pemahaman sebelum melakukan penyelaman terhadapnya.
     Inilah praktis di antara orang-orang Christadelphian untuk berpegang diskusi yang mendalam dengan calon baptisan sebelum melakukan penyelaman. Ini tindakan terbaik oleh orang-orang yang berbeda kepada siapa saja yang terlibat dalam pengajaran Injil kepada para calon. Daftar soal-soal pada setiap akhir Pelajaran dalam buku ini dapat membentuk dasar untuk sebuah diskusi demikian.
10.3 Pengertian Baptisan
 Salah satu alasan akan baptisan selam adalah bahwa ke bawah air adalah melambangkan kita masuk ke dalam kubur – menyatukan kita dengan kematian Kristus, dan mengindikasikan ‘kematian’ kita akan kehidupan kita sebelumnya terhadap dosa dan kebodohan. Keluar dari air menghubungkan kita dengan kebangkitan Kristus, menghubungkan kita pada harapan akan kebangkitan pada kehidupan kekal saat kedatanganNya, sebagaimana hidup dalam hidup baru saat ini, secara rohani berhasil mengatasi dosa pada kemenangan Kristus yang tercapai oleh kematian dan kebangkitanNya. 
“kita semua telah dibaptis di dalam Kristus dan dibaptis dalam kematianNya. Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian kita akan berjalan (kehidupan hari ini) dalam kehidupan yang baru. Sebab jika kita telah menjadisatu dengan apa yang sama dengan kematianNya (dengan baptisan), kita juga menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitanNya” (Rm 6:3-5).
      Karena keselamatan hanya dimungkinkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, adalah yang utama bahwa kita menyatukan diri kita dengan hal ini jika kita diselamatkan. Lambang kematian dan kebangkitan kembali dengan Kristus, yang melalui baptisan hanya inilah cara untuk melakukan hal ini. seharusnya tercata bahwa pemercikan tidak memenuhi lambang ini. Pada baptisan “manusia lama kita (cara hidup) disalibkan” sebagaimana dengan Kristus di atas kayu salib (Rm 6:6); Allah “menghidupkan kita bersama Kristus” pada baptisan (Ef 2:5). Bagaimanapun, kita tetap memilki kodrat manusia setelah baptisan, dan oleh karena itu cara-cara hidup kedagingan tetap akan muncul. ‘penyaliban’ akan kedagingan kita oleh karena sebuah proses berjalan yang hanya bermula saat baptisan, Yesus mengatakan kepada orang percaya untuk memikul salibnya setiap hari dan mengikut Dia, sebagaimana dalam perjalanan menuju Kalvari (Luk 9:23; 14:27). Sementara hidup yang benar tersalibkan bersama Kristus tidaklah mudah, di sana terdapat penghiburan dan kegirangan yang tak terkatakan melalui penyatuan dengan kebangkitanNya.
     Kristus membawa “damai melalui darahNya di kayub salib” (Kol1:20) – “damai sejahtera dari Allah, yang melampaui segala pikiran” (Flp 4:7). Akan hal ini Yesus berjanji: “damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahteraKu Kuberikan padamu: tidak seperti dunia memberikan damai, Aku memberikannya kepadamu” (Yoh 14:27). damai dan kegembiraan rohani yang benar ini melebihi sakit dan kesulitan yang secara terbuka menyatukan diri kita dengan penyaliban Kristus. “sebagaimana kesengsaraan Kristus melingkupi kami, demikian juga penghiburan yang berlimpah-limpah oleh Kristus” (2 Kor 1:5).
     Di sana juga ada kebebasan yang datang dari mengetahui bahwa sifat dasar kita sesungguhnya sudah mati, dan oleh karenanya Yesus secara aktif melalui setiap rintangan kita. Rasul besar Paulus berbicara dari pengalaman pribadinya akan hal ini. “namun aku hidup, tetapi bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku, dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang menagsihi dan menyerahkan diriNya untuk aku” (Gal 2:20).
     “kiasan baptisan juga menyelamatkan kita sekarang... oleh kebangkitan Yesus Kristus” (1 Ptr 3:21) karenba persekutuan kita dengan kebangkitan Kristus akan kehidupan kekal yang diberikan kepada kita yang sama pada saat kedatanganNya kembali. Dengan mengambil bagian dalam kebangkitanNya, maka akhirnya kita diselamatkan. Yesus menyatakan hal ini dalam kalimat yang sederhana: “Karena Aku hidup, maka kalian akan hidup juga” (Yoh 14:19). Pauluspun demikian: “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya... kita akan diselamatkan oleh hidupNya” (kebangkitan; Rm 5:10).
     Lebih lagi waktu yang ditekankan bahwa oleh persekutuan kita dengan kematian dan penderitaan Kristus dalam baptisan, dan juga cara hidup kita, kita akan dengan pasti berbagi di dalam kemuliaan kebangkitanNya:
     “jika kita mati dengan (kristus), kita juga akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita juga akan memerintah dengan Dia” (2 Tim 2:11,12).
     “senantiasa membawa dalam tubuh akan kematian Tuhan Yesus, sehingga kehidupan Yesus boleh dinyatakan dalam tubuh kita... mengetahui bahwa Ia yang membangkitkan Tuhan Yesus akan membangkitkan kita juga oleh Yesus” (2 Kor 4:10,11,14).
     Paulus berbagi dalam “persekutuan akan penderitaan (Kristus), terjadi (oleh pengalaman hidupnya yang keras) memenuhi sampai kematiannya; jika oleh karena segala sesuatu aku boleh bermegah kepada kebangkitan akan hidup yang kekal sebagaimana yang dialami oleh Kristus” (Flp 3:10,11; Gal 6:14).
10.4 Baptisan Dan Keselamatan
 Baptisan mempersatukan kita dengan kematian Kristus, dan hanya oleh baptisan kita beroleh pengampunan. Kita “dikuburkan dengan (Kristus) dalam baptisan, yang mana di dalamnya kita juga dibagkitkan bersama denngan Dia melalui... pekerjaan Allah, yang telah membenagkitkan Dia dari kematian. Dan kamu menjadi mati di dalam dosamu... telah dihidupkan olehNya bersama-sama denngan Dia sesudah Ia mengampuni segala pelanggaranmu” (Kol 2:12,13). Kita “disucikan... di dalam nama Tuhan Yesus” (1 Kor 6:11) – baptisan ke dalam nama  Yesus yang berarti olehnya dosa-dosa kita dihapuskan. Hal ini serupa kembali dalam Bil 19:13, di mana mereka yang tanpa air pemurnian haruslah mati. Kita dipertunjukkan dalam Pelajaran 10.2 bagaimana baptisan membasuh segala dosa (Kis 22:16). Penggambaran dari orang-orang percaya sebagaimana disucikannya dosa-dosa mereka di dalam darah Kristus yang oleh karenanya mengarahkan mereka melakukan baptisan (Why 1:5; 7:14; Tit 3:5 – [NIV] berbicara akan hal ini seperti “membasuh dari kelahiran kembali”, mengarahkan kita untuk menjadi “lahir oleh air” saat baptisan [Yoh 3:5] ).
     Dalam kejelasan akan hal ini, dapat dipahami bahwa tanggapan Petrus terhadap pertanyaan, “apa yang akan kami lakukan?” (untuk diselamatkan), “bertobat, dan berilah dirimu dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk penebusan dosamu” (Kis 2:37,38). Baptisan ke dalam nama Kristus adalah untuk pengampunan dosa, tanpa ini tidak akan ada pengampunan, dan yang tidak dibaptis haruslah menerima upah dosa – maut (Rm 6:23). Tidaklah ada keselamatan kecuali di dalam nama Yesus (Kis 4:12), dan kita hanya mendapat bagian di dalamnya dengan baptisan. Inilah fakta yang berarti bahwa agama-agama bukan kristen tidak dapat dipimpin ke jalan keselamatan. Tidak semua orang percaya Alkitab dapat menerima hal ini, kenyataannya katolik dan gerakan persekutuan yang besar seperti ini, ini cerminan yang menyedihkan atas sikap mereka terhadap Kitab Suci.
     Kebangkitan Kristus kepada kehidupan kekal merupakan tanda akan kemenangan pribadiNya atas dosa. Oleh baptisan kita mempersatukan diri kita sendiri dengan hal ini, dan oleh karenanya kita berbicara sebagaimana kita telah dibangkitkan bersama Kristus, dosa tidak berkuasa lagi atas kita, sebagaimana tidak terhadapNya. Melalui baptisan kita “dibuat bebas dari dosa... dosa tidak akan memiliki kuasa atas kamu” setelah baptisan (Rm 6:18,14). Bagaimanapun, setelah baptisan kita masih berdosa (1 Yoh 1:8,9); dosa masih bertahan untuk memperbudak kita kembali jika kita berpaling dari Kristus. Kita yang sekarang ini bebagi dalam kematian dan penderitaan Kristus, meskipun baptisan menunjukkan bagaimana kita juga dipersatukan dengan kebangkitan Kristus, yang mana kita memiliki harapan akan kedatanganNya kembali.
     Hanya di dalam harapan kita bebas dari dosa. “dia yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” Mrk 16:16) saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Ukuran keselamatan tidaklah akurat selalu setelah baptisan, tetapi saat tahta penghakiman (1 Kor 3:15). Sesungguhnya tidak diperlukan doktrin penghakiman jika kita menerima keselamatan pada saat baptisan, dan tidak seharusnya kita mati. “dia yang bertahan sampai kesudahannya akan diselamatkan” (Mat 10:22).
     Bahkan setelah baptisannya, Paulus (dan semua orang kristen) harus mengerjakan keselamatan (Flp 3:10-13; 1 Kor 9:27); dia berbicara akan pengharapan hidup kekal (Tit 1:2; 3:7; 1 Tes 5:8; Rm 8:24) dan tentang kita “mewarisi keselamatan” (Ibr 1:14). Pada tahta penghakiman, yang benar akan memasuki ke dalm kehidupan kekal (mat 25:46). Kekaguman Paulus dijelaskan secara akal diinspirasikan melalui Rm 13:11 – dia menjelaskan bahwa setelah baptisan kita dapat mengetahui bahwa setiap hari kita hidup dan bertahan seperti satu hari mendekati kedatangan Krsitus kedua kalinya, dengan begitu kita dapat menikmati bahwa “sekarang keselamatan kita mendekati dibanding waktu kita percaya”. Keselamatan kita sekarang tidaklah majenun. Keselamatan adalah bersifat kondisional; kita akan selamat jika kita tetap bertekun pada iman yang benar (Ibr 3:12-14), jika kita mengingat ajaran-ajaran dasar yang terdiri dari Injil (1 Tim 4:16; 1 Kor 15:1,2), dan jika kita melakukan hal-hal itu yang dalam memelihara kesungguhan akan pengharapan yang besar (2 Ptr 1: 10).
     Kata kerja bahasa yunani menterjemahkan “selamat” digunakan dalam waktu yang terus berkelanjutan, menunjukkan bahwa keselamatan merupakan proses yang berjalan yang terjadi di dalam kita dengan alasan agar kita terus menerus taat kepada Injil. Maka orang-orang percaya dapat berkata sebagaimana “menjadi selamat” oleh tanggapan mereka terhadap Injil (1 Kor 1:18 RSV; contoh lain dari kelanjutan tema ini dalam Kis 2:47 dan 2 Kor 2:15). Kata Yunani untuk “selamat” hanya dapat digunakan dalam kalimat lampau mengenai keselamatan terbesar yang Kristus perbuat di atas kayu salib, dan yang mana kita dapat menyatukan diri kita dengan melalui baptisan (2 Tim 1:9; Tit 3:5).
     Semua ini memberikan contoh oleh persetujuan Allah dengan sifat dasar Israel yang mana membentuk dasar hubunganNya dengan Israel rohani, yaitu orang-orang percaya. Israel meninggalkan Mesir, melambangkan dunia kedagingan dan agama sesat yang mana kita menyatu dengan itu sebelum baptisan. Mereka melewati laut merah dan kemudian melewati padang belantara Sinai ke dalam tanah perjanjian, di mana secara lengkap mereka menetap sebagai Kerajaan Allah. Mereka menyebrangi laut merah seperti halnya baptisan kita (1 Kor 10:1,2); perjalanan padang belantara akan kehidupan kita sekarang, dan Kanaan akan Kerajaan Allah. Yud 5 menggambarkan batapa banyak dari mereka yang dibinasakan sementara berjalan di padang belantara: Tuhan telah menyelamatkan umatNya keluar dari tanah Mesir, setelah itu membinasakan mereka yang tidak percaya”. Israel yang oleh karenanya “diselamatkan” dari Mesir, sebagaimana semua yang dibaptis “diselamatkan” dari dosa. Jika seseorang dari Israel dipertanyakan, “apakah kamu selamat?” tanggapan mereka pastilah, “iya”, tetapi ini bukanlah berarti bahwa mereka secara benar telah selamat.
     Hal yang sama sebagaimana Isarel kembali ke Mesir dalam hati mereka (Kis 7:39) dan memberi diri dalam kedagingan dan ajaran sesat, begitupun mereka yang diselamatkan dari dosa dengan baptisan dapat saja gagal dari posisi diberkati di mana mereka berdiri di dalamnya. Kemungkinan akan kita melakukan hal yang sama seperti sifat dasar Israel di padang belantara tertulis dalam 1 Kor 10:1-12, Ibr 4:1,2 dan Rm 11:17-21. terdapat beberapa contoh dalam Alkitab akan mereka yang pernah “diselamatkan” dari dosa melalui baptisan, kemudian gagal ke dalam sebuah posisi yang akan dihukum pada saat Kristus kembali (contohnya Ibr 3:12-14; 6:4-6; 10:20-29). Ajaran ‘sekali selamat tetap selamat’ dari pengkotbah-pengkotbah ‘injili’ yang bersemangat memaparkan akan bagian-bagian yang sedemikian mepersilahkan pemenuhan kedagingan yang menyesatkan pikiran.
     Seperti halnya semua hal, sentuhan yang tepat akan keseimbangan diperlukan untuk meyakinkan akan sejauh manakah kita “diselamatkan” oleh baptisan. Tindakan seharusnya tidak terlihat memperbolehkan kesempatan terhadap keselamatan – kemungkinan yang lebih baik dibanding hal ini tanpa baptisan. Dengan menjadi “dalam Kristus” oleh baptisan, kita diselamatkan dengan harapan; kita sungguh-sungguh memilki kepastian akan Kerajaan Allah jika kita berkesinambungan taat dalam Krsitus sebagaimana kita bangkita dari air baptisan. Di lain hal, waktu sesudah kita dibaptis kita seharusnya mampu memilki keyakinan yang rendah hati bahwa kita secara pasti dapat diterima masuk dalam Kerajaan saat kembalinya Kristus. Kita tidak dapat memastihkan secara keseluruhan, karena bisa saja kita gagal pada hari esok; kita tidak tahu masa depan kerohanian pribadi kita dalam hidup ini.
     Kita harus melakukan semua yang kita sebut kebaikan nurani yang kita miliki bersama Allah saat baptisan. Baptisan adalah “janji akan nurani yang baik” (1 Ptr 3:21, bahas Yunani); calon baptisan berikrar (berjanji) untuk menjaga hati nurani yang bersih bersama Allah.
     Sementara baptisan merupakan hal yang utama dipentingkan dalam memperbolehkan kita untuk masuk dalam keselamatan yang besar yang mana tersedia dalam Kristus, kita harus berhati-hati untuk tidak memberi kesan bahwa dengan satu tindakan atau ‘kerjaan’ akan baptisan saja kita akan diselamatkan. Kita telah diperlihatkan lebih dulu bagaimana hidup yang bersekutu terus menerus dengan penyaliban Kristus adalah penting: “jika seserang tidak dilahirkan dari air dan roh, dia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3:5). Perbandingan dengan 1 Ptr 1:23 menunjukkan bahwa kelahiran yang sesuai dengan baptisan haruslah diikuti dengan buah-buah roh. Keselamatan tidak hanya tertuju pada baptisan: hal itu adalah hasil dari kasih anugerah (Ef 2:8), iman (Rm 1:5) dan pengharapan (Rm 8:24), mengatasi segala hal. Terkadang terdengar bahwa keselamatan hanyalah oleh iman, dan oleh sebab itu pekerjaan seperti baptisan sepertinya tidak relevan. Bagaimanapun, Yak 2:17-24 membuat secara jelas bahwa alasan sedemikian membuat pemikiran yang sesat anatar iman dan tindakan; iman yang benar, contohnya dalam injil ditunjukkan perbuatan-perbuatan iman yang mana di dalamnya menhasilkan, seperti baptisan. “manusia dibenarkan oleh karenaperbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman” (Yak 2:24). Dalam beberapa kasus baptisan, orang percaya bertanya akan apa yang harus dia “perbuat” untuk diselamatkan; jawabannya selalu melibatkan baptisan (Kis 2:37; 9:6; 10:6; 16:30). ‘Melakukan’ suatu ‘tindakan’ baptisan yang merupakan indikasi penting akan kepercayaan kita terhadap injil keselamatan. Pekerjaan menyelamatkan kita secara keseluruhan telah dilakukan oleh Allah dan Kristus, tetapi kita perlu melakukan “tindakan pertobatan” dan percaya akan hal ini (Kis 26:20; Mrk 16:15,16).
     Kita telah lebih dulu ditunjukkan bahwa bahasa dari membasuh segala dosa mengarah kepada pengampunan Allah terhadap kita yang terhitung akan baptisan kita di dalam Krsitus. Dalam beberapa bagian dibicarakan kepada kita sebagimana membasuh segala dosa oleh iman dan pertobatan kita (Kis 22:16; Why 7:14; Yer 4:14; Yes 1:16); di lain hal Allah terlihat sebgai yang menghapus dosa kita (Yeh 16:9; Mzm 51:2,7; 1 Kor 6:11). Secara baik ini menunjukkan bagaimana jika melakukan bagian kita dengan dibaptiskan, Allah akan membasuh segala dosa kita. Mengenai ‘perbuatan’ atau tindakan baptisan adalah langkah utama dalam bertekun akan injil kasih anugerah Allah (kemuarahan kebaikan), yang telah dipersembahkan kepada kita di dalam firmanNya.
11.1 Pendahuluan
Baptisan memberikan kita suatu harapan akan kehidupan kekal di dalam kerajaan Allah. Lebih lagi kita percaya dan menghargai akan pengharapan ini. bukti yang lebih lagi adalah bahwa hal ini membawa tanggung-jawab khusus kepada kita. Hal ini berputar mengelilingi jalannya sebuah kehidupan yang cocok bagi seseorang yang memiliki harapan akan diberikannya sifat dasar Allah (2 Ptr 1: 4), akan kebenaran pembagian namaNya (Why 3: 12) melalui penyempurnaan di segala cara.
     Kita telah dijelaskan dalam Pelajaran 10.3 bahwa setelah baptisan diberlakukan kepada kita sebuah kehidupan yang secara terus-menerus menyalibkan keinginan buruk di dalam sifat dasar kita (Rm 6: 6). Kecuali kita menginginkannya dan mencoba melakukan hal ini, maka baptisan tidaklah berarti. Hal ini seharusnya hanya mengambil tempat sekali saja seseorang dipersiapkan untuk menerima tanggung-jawab akan hidup baru yang seharusnya diikuti.
     Dalam baptisan kita mati akan dasar cara hidup yang lama ini, sebagaimana dibangkitkan bersama Kristus. “kalau kamu dibangkitkan bersama Kristus, carilah perkara yang di atas , di mana Krisrus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati... tersembunyi  yaitu... percabulan, kenajisan... keserakahan” (Kol 3: 1-5). Setelah baptisan kita menyerahkan diri kita pada sebuah kehidupan yang melihat banyak hal dari cara pandang Allah, memikirkan perkara-perkara yang surgawi (rohani), menukarkan ambisi keduniawian kita dengan sebuah ambisi yang menguasai kecenderungan kedagingan kita dan demikianlah untuk memasuki kerajaan Allah.
     Kecenderungan akan sifat dasar manusia adalah menunjukan semangat akan ketaatan kepada Allah dengan tidak teratur. Allah memberi peringatan untuk ini. mengenai perintah-perintah Allah, Dia berkata “sedang manusia yang melakukannya, dia akan hidup dalam hal-hal itu” (Yeh 20: 21). Jika kita peka terhadap perintah-perintah Allah, dan mulai taat akan hal itu di dalam baptisan, kita seharusnya tetap sepanjang hidup taat akan hal-hal itu.
11.2 Kekudusan
“kudus, kudus, kuduslah TUHAN” (Yes 6: 3). Penekanan tiga kali dari ayat ini adalah salah satu dari banyak bagian yang menekankan kekudusan Allah. ‘kekudusan’ pada dasarnya berarti ‘pemisahan’ – baik pamisahan dari hal-hal yang tidak kudus, dan pemisahan ke arah hal-hal yang rohani. Kita diminta untuk menjadi “penurut-penurut Allah” seperti anak-anak yang kecil (Ef 5: 1). Untuk itu “seperti Dia yang kudus yang telah memanggil kamu, biarlah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu (penerapan cara hidup); sebab ada tertulis, kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1: 15,16; Im 11: 44).
     Pada dasarnya Israel dipanggil keluar dari Mesir melalui baptisan laut merah untuk menjadi “bangsa yang kudus” (Kel 19: 6). Setelah baptisan kita, anggota-anggota dari Israel rohani sebagimana menerima “panggilan kudus” (2 Tim 1: 9). Setelah baptisan kita “menjadi hamba-hamba untuk.... kekudusan” (Rm 6: 19,22 dan konteks).
     Sebagaimana kekudusan merupakan bagian yang utama dari kepribadian Allah, jadi ini haruslah menjadi sebuah landasan dasar mengenai dari semua yang mencoba menjadi “penurut-penurut Allah”. Jika kita melakukan ini, kita akan “menjadi pewaris dalam kekudusanNya” ketika kita dijamin sifat dasarNya (Ibr 12: 10; 2 Ptr 1: 4). Untuk itu tanpa kekudusan dalam hidup ini, orang percaya tidak dapat “melihat Tuhan” (Ibr 12: 14) – dia tidak akan mampu melihat Allah dan berhubungan denganNya pada tingkat pribadi di dalam Kerajaan jika dia tidak pernah menunjukan kekudusan dalam hidup ini.
     Untuk memiliki pemberian harapan besar yang benar itu berarti bahwa kita seharusnya dipisahkan dari dunia yang mengelilingi kita yang mana tidak memiliki harapan ini, menjadi dipisahkan kepada kekekalan akan pembagian sifat dasar Allah. ‘pemisahan’ kita tidak seharusnya untuk itu menjadi sesuatu yang dijalankan atas kita; karena pemisahan kita kepada panggilan mulia dan harapan, ini seharusnya hanya menjadi sifat dasar bahwa kita merasa dipisahkan dari hal-hal dunia yang didominasi oleh sifat-sifat kedagingan.
     Kita sekarang akan menyadari beberapa hal yang kita seharusnya merasakan dipisahkan dari, dan kemudian dalam Pelajaran 11.3 kita akan belajar apakah kita dipisahkan ke dalam ketentuan praktis.
 Kegunaan kekuatan
Kita hidup dalam dunia yang didominasi oleh dosa. Kita telah melihat dalam Pelajaran 6.1 bahwa pemerintahan manusia dapat disebut “iblis” karena mereka diorganisasikan mengelilingi keinginan daging, alkitabiahnya ‘iblis’.
     Pengulangan pesan dari Alkitab adalah bahwa, di dalam ketentuan singkat, dosa dan benih dari ular akan terlihat kepada kemenangan sementara, setelah penderitaan sementara dalam banyak cara, benih dari wanita pada akhirnya akan membenarkan. Untuk alasan inilah orang percaya secara berkelanjutan diperintahkan untuk “tidak membalas kejahatan dengan kejahatan” (Mat 5:39; Rm 12:17; 1 Tes 5:15; 1 Ptr 3:9).
     Kita telah melihat bahwa kadangkala Allah mengijinkan kejahatan itu terjadi (Yes 45:7; Am 3:6, seperti di Pelajaran 6.1). secara aktif untuk melawan kejahatan dengan kekuatan yang untuk itu boleh berarti bahwa kita menentang Allah. Untuk alasan inilah Yesus memerintahkan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan secara fisik: “tetapi barangsiapa menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu, dan kepada orang yang menginginkan bajumu, berilah juga jubahmu” (Mat 5:39,40). Kristus memberikan contoh seperti ini: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku.....” (Yes 50:6).
Kata-kata Kristus menghubungkan rangkaian hukum dengan aktifitas dunia yang menentang orang percaya. Melakukan ini adalah contoh utama dari menentang kejahatan, dan tidak akan dilakukan oleh seseorang yang memiliki dasar iman dalam janji Allah bahwa “pembalasan adalah hakKu, Akulah yang akan menuntut, firman Tuhan” (Rm 12: 19). “janganlah kamu berkata, aku akan membalas kejahatan; tetapi nantikanlah TUHAN, dan Ia akan menyelamatkan kamu” (Ams 20:22; Ul 32: 35). Untuk alasan inilah Paulus marah sekali kepada jemaat Korintus yang mencari keadilan pada orang lain (1 Kor 6: 1-7).
     Dalam pandangan akan pengharapan terbesar kita, kita seharusnya tidak terlalu memperhatikan akan ketidakadilan akan kehidupan masa kini: “apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada... atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia” (1 Kor 6:1,2). Mencari keadilan orang lain, walau itu menyelesaikan perselisihan tanah atau proses perceraian, seharusnya hal itu tidak perlu dirisaukan oleh orang percaya yang sungguh-sungguh.
     Di lain hal untuk menekan kekuatan kejahatan, sebagaimana (dalam satu kasus) untuk menjaga orang jahat berkuasa,  kekuatan militer dan polisi dimanfaatkan oleh pemerintahan manusia. Ini adalah bentuk yang disahkan untuk menentang kejahatan, dan untuk itu seharusnya orang percaya sesungguhnya tidak mengambil bagian dalam hal-hal itu. “barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang” (Mat 26:52). Ini merupakan pengulangan prinsip utama yang awal: “siapa menumpahkan darah manusia (dengan maksud penuh), darahnya akan tertumpah oleh manusia: sebab Allah membuat manusia itu dengan gambarNya sendiri” (Kej 9:6). Segala kekerasan yang disengaja menentang sesama kita manusia itu juga merupakan kekerasan melawan Allah, kecuali Dia telah menyetujuinya.
     Di bawah Perjanjian Baru, dikatakan kepada kita: “kasihilah musuhmu, berkati mereka yang mengutuki engkau, berbuatlah baik kepada mereka yang membencimu, dan berdoalah bagi mereka yang memanfaatkan dan menganiaya kamu” (Mat 5:44; Luk 6:27). Pasukan tentara dan pasukan polisi bekerja dalam kontradiksi langsung terhadap prinsip-prinsip ini, dan untuk itu orang percaya yang benar tidak akan melibatkan diri dengan segala perkumpulan mereka. Walaupun jika secara tidak langsung terlibat dalam melakukan kekerasan, bekerja dalam oragnisasi ini atau terlibat dalam pekerjaan yang berhubungan dengan mereka, merupakan bukti yang tidak bijaksana; sesungguhnya pekerjaan yang terlibat akan tunduknya pada suatu otoritas, merampas kebebasan kita untuk mentaati perintah-perintah Allah. Orang percaya yang benar akan selalu waspada terhadap layanan militer maupun polisi dalam bentuk apapun, meskipun selalu menginginkan mengambil pekerjaan alternatif dalam masa krisis nasional yang mana akan menguntungkan secara materi para anggotanya.
Politik
Pemahaman yang jelas dan dasar iman dalam kedatangan kerajaan Allah berarti bahwa kita akan mengetahui bahwa pemerintahan manusia tidaklah mampu untuk membawa kesempurnaan. Segala ketelibatan di dalam politik manusia yang oleh karenanya tidak cocok dengan harapan akan Kerajaan. Yesus menubuatkan akan terjadinya kemerosotan dari jelek menjadi buruk dalam “hari-hari terakhir” mendahului kedatanganNya (Luk 21:9-11, 25-27). Tidaklah mungkin untuk percaya perkataan-perkataanNya dan dalam waktu yang bersamaan mencoba untuk membuktikan posisi keduniaan melalui politik manusia atau lembaga pembangunan internasional. Cerita tentang orang Samaria yang baik hati menunjukan bagaimana orang kristen seharusnya membagikan ke dunia sekitar – melakukan kebaikan kepada semua manusia sebagi kesempatan yang boleh diberikan (Gal 6:10).
     Catatan orang percaya mula-mula menunjukan kepada mereka untuk memiliki dan melakukan kehidupan akan hidup rohani dalam menyambut Kristus kembali, mengepalai penyataan mereka memperhatikan seluruh dunia melalui pengajaran kepada mereka. Tidaklah tercatat akan peng-alamatan mereka akan masalah sosial, ekonomi, politik dunia yang mengelilingi mereka.
     “orang yang berjalan tidak berkuasa menentukan jalannya” (Yer 10:23); menyadari dasar kejahatan dan kesalahan dari sifat dasar manusia berarti bahwa kita mengetahui bahwa kepemimpinan manusia tidak cocok dengan umat Allah. Pemungutan suara yang oleh karenanya tidak konsisten dengan pemahaman yang benar akan hal ini. “Yang Maha Tinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya” (Dan 4:32). Dialah kekuatan yang mengatasi pemerintahan-pemerintahan tertinggi saat ini (Pkh 5:8). Peraturan-peraturan manusia dibrikan kuasa oleh Allah (Rm 13:1); untuk mengumpulkan suara dalam suatu sistem demokrasi bisa dapat yang oleh karenanya terlibat pengumpulan suara yang melawan orang yang Allah telah pilih untuk berkuasa. Ada tertulis bahwa Allah memberikan bangsa-bangsa ke dalam kendali daripada Nebukadnezar, raja Babilonia (Yer 27:5,6).
     Karena kita tahu bahwa Allah memberikan bangsa-bangsa ke tangan para penguasanya, kita harus sangat berhati-hati berperan sebagai warga negara, mematuhi hukum-hukum dari negara di aman kita tinggal, kecuali hal-hal itu bertentangan dengan hukum Kristus.
          “tiap-tiap orang harus takluk terhadap pemerintah yang di atasnya... kuasa
          yang telah ditetapkan oleh Allah... inilah sebabnya kamu membayar pajak...
          juga bayarlah kepada semua orang yang harus kamu bayar: pajak kepada
          meraka yang berhak menerima pajak, dan hormat kepada mereka yang ber-
          hak menerima hormat (Rm 13:1-7).
Keterlibatan dari yang disebut organisasi kristen dalam bentuk protes politik dan pemboikotan pajak yang oleh karenanya menunjukan akan pengajaran mereka yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Alkitabiah. Bagaimanapun, Petrus mencontohkan dengan melanjutkan pengajaran Kristus ketika ditentang oleh pemerintah, ini menunjukan akan bagaimana kita hanya dapat mentaati perintah-perintah manusia selagi hal-hal itu tidak bertentangan dengan hukum Kristus: “manakah yang benar di hadapan Allah, taat kepadamu atau taat kepada Allah, kamu yang menilai” (Kis 4:17-20; 5:28,29).
     Sikap Christadelphian dalam mengahdapi layanan militer dalam tahun-tahun terakhir merupakan contoh lain akan hal ini.
     Kenikmatan Duniawi
Kurangnya hubungan yang benar bersama Allah dan sebuah harapan nyata akan masa depan, dunia menemukan banyak dan bermacam-macam kenikmatan. Yang mana mencari kenikmatan untuk kedagingan seharusnya dihindari bagi mereka yang mencoba untuk menumbuhkan kerohaniannya. “keinginan daging bertentangan dengan kehendak Roh dan kehendak Roh bertentangan dengan kehendak daging” (Gal 5:17). Karena ini merupakan dasar yang berlawanan, tidaklah mungkin beralasan bahwa kita dapat mensahkan dalam memberi jalan kepada kehendak daging dan juga menyatakan untuk mengikuti kehendak Roh. Dunia tersusun dikelilingi “keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup” (1 Yoh 2:16). “barangsiapa melakukan persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah” (Yak 4:4). Memiliki teman-teman duniawi, menonton film-film duniawi, dan lain sebagainya, merupakan “persahabatan dengan dunia”. Keinginan daripada dunia akan segera lenyap, dan barangsiapa berada di dalamnya akan lenyap bersamanya (1 Yoh 2:15-17). “dunia (masyarakat) orang fasik” akan dihancurkan pada kedatangan kedua (2 Ptr 2:5), melihat bahwa “seluruh dunia terlena dalam kejahatan” (1 Yoh 5:19). Jika kita ingin menghindari penghancuran itu, kita haruslah “tidak berasal dari dunia” (Yoh 17:16; Why 18:4).
     Banyak cara-cara dunia yang memberi kepuasan daging termasuk harga untuk kesehatan tubuh: merokok, obat terlarang dan minum-minum berlebihan adalah contoh-contoh untuk ini. kesehatan fisik kita, uang kita, sesungguhnya semua yang kita miliki kepunyaan Allah. Untuk itu kita tidak sesenaknya menggunakannya semau kita, melainkan haruslah bertindak melayani dari apa yang Allah berikan kepada kita. Kita akan dimintai pertanggung-jawaban akan pengaturan semua itu pada kursi penghakiman (Luk 19:12-26). Kebiasaan merokok dan minum minuman berakohol berlebihan merupakan penyalahgunaan keuangan dan kesehatan kita. “tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Allah, dan Roh Allah diam di dalam kamu? Jika seseorang mengotori bait Allah, Allah akan menghancurkannya... tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu... kamu bukanlah milikmu sendiri... kamu telah dibayar dengan lunas: oleh sebab itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (1 Kor 3:16,17; 6:19,20). Penyalahgunaan tubuh melalui kebiasaan-kebiasaan seperti merokok merupakan masalah serius.
     Bagaimanapun dapat diketahui bahwa kebiasaan seperti ini terbentuk sebelum perubahan, tidaklah mungkin untuk memutuskannya dalam waktu singkat. Apa yang diharapkan dari mengetahui keburukan-keburukan dari kebiasaan, dan kenyataan yang mendukung untuk memberhentikan ini. tekanan-tekanan hidup seharusnya menumbuhkan jalan lain kepada firman Allah dan doa, lebih lagi kepada bentuk manusia yang suka bersantai-santai.
     Pokok mendasar dari segala contoh ini adalah dasar pertanyaan ketika kita menuruti pikiran kita untuk diubahkan oleh pekerjaan Kristus melalui firman Allah. Jika demikian, kita akan melihat bahwa semua hal ini bersama dengan ketidakjujuran akan segala hal tidaklah sesuai dengan kehidupan seperti Kristus.
          Tetapi kamu bukan demikian karena kamu telah belajar mengenal Kristus,
          karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di-
          dalam Dia menurut kebenaran yang nyata di dalam Yesus, yaitu bahwa
          kamu berhubung dengan kehidupan kamu yang dulu harus menanggalkan
          manusia lama, yang menemui kebinasaan oleh nafsu yang menyesatkan,
          supaya kamu dibaharui dalam roh dan pikiranmu dan memakai manusia
          baru yang diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan
          kekudusan yang benar, buanglah dusta dan berkata benar kepada yang lain
          karena kita sesama anggota. Apabila kamu menjadi marah janganlah ber-
          buat dosa dan jangan matahari terbenam sebelum padam amarahmu, jangan
          beri kesempatan kepada iblis. Orang yang mencuri janganlah ia mencuri
          lagi tetapi baiklah ia bekerja yang baik dengan tangannya sendiri, supaya
          ia dapat membagikan sesuatu kepada yang berkekurangan.
          (Efesus 4:20-28)
11.3 Praktek Kehidupan Kristen
Belajar Alkitab
Setelah baptisan, kita seharusnya membawa seterusnya “buah kepada pengudusan”, hidup dalam kehidupan yang dipimpin oleh Roh daripada oleh daging (Rm 6:22; 8:1; Gal 5:16,25). Melalui firman Allah yang menetap dalam kita bahwa kita membawa seterusnya buah-buah roh (Yoh 15:7,8). Kita telah melihat bahwa kita dipimpin oleh roh yang mana Roh Allah di dalam firmanNya. Melebihi kehidupan kita, kita harus menjaga kedekatan kepada pembacaan dan belajar Alkitab secara rutin.
     Sebuah pengajaran total akan firman  menghasilkan dalam diri seseorang kesadaran akan perlunya baptisan, dan untuk itu ditunjukan melalui tindakan. Proses firman mempengaruhi tindakan-tindakan kita dan secara langsung seharusnya hidup kita berlanjut; baptisan merupakan langkah pertama dalam kehidupan yang taat kepada firman Allah. Terdapat hal yang sangat berbahaya  akan kebiasaan terhadap Alkitab dan doktin-doktrin dasar dari injil, menuntun kita kepada posisi yang mana firman tidak lagi mempengaruhi kita: kita dapat membaca kata-kata dan mereka tidak mempunyai dampak praktis kepada kita (lihat Tambahan 2).  Untuk alasan inilah sangat bijak jika bedoa singkat lebih dahulu sebelum membaca Alkitab: “bukakan mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban tauratMu” (Mzm 119:18).
     Firman Allah seharusnya menjadi makanan harian kita – sesungguhnya, ketergantungan kita akan hal ini, dan keinginan dasar akan hal ini, seharusnya menjadi lebih besar dari naluri nafsu makan kita: “perkataan-perkataan dari mulutNya kumuliakan melebihi makanan utamaku” yang Ayub rasakan (Ayb 23:12). Seperti halnya Yeremia: “jika aku bertemu dengan perkataanMu, aku menikmatinya; firmanMu menjadi kegirangan dan kesukaan hatiku” (Yer 15:16). Menyediakan waktu setiap hari untuk rutin membaca Alkitab yang merupakan sebuah hal penting untuk membangun pola hidup kita sehari-hari. Kesendirian selam 30 menit untuk belajar Alkitab di pagi hari merupakan dasar untuk memulai setiap hari kehidupan kita dalam pertumbuhan rohani yang benar. Demikianlah kebiasaan-kebiasaan pembentukan iman yang berharga seperti emas pada hari penghakiman.
     Untuk menghindari kecenderungan untuk membaca hanya beberapa bagian dari Alkitab yang mana pada dasarnya menarik bagi kita, Christadelphian telah menemukan progran membaca yang disebut “Rekan Alkitab” (disediakan oleh penerbit akan buku ini). ini memberikan bilangan pasal-pasal untuk dibaca setiap hari, hasil dari Perjanjian Baru dibaca dua kali dan perjanjian Lama sekali dalam kursus selama setahun. Sebagaimana kita membaca pasal-pasal hari demi hari, kita mendapat keteguhan hati akan pengajaran yang juga ribuan dari orang percaya lainnya membaca pasal yang sama. Ketika kita bertemu, kita memiliki keterikatan; pasal-pasal yang baru saja kita baca seharusnya menjadi dasar pembicaraan kita. Tetapi biarlah kita menjadi peka akan tingkat luar dari pembacaan Alkitab. Kita harus membiarkan firman sungguh-sungguh menjadi bagian dalam hidup kita. Yeremia berkomentar: “mengenai nabi-nabi, hatiku hancur dalam dadaku, segala tulangku goyah... seperti laki-laki yang kebanyakan minum anggur, oleh karena TUHAN, dan oleh karena firmanNya yang kudus” (Yer 23:9). Dia menyamakan Allah dengan firmanNya, dan oleh karena itu dia merasakan hadirat dan kemutlakan Allah sendiri sebagaimana dia membaca dan mendengar firmanNya. 
Doa
Latihan penting lainnya untuk menumbuhkan doa. Mengingatkan kita bahwa terdapat “satu penghubung antara Allah dan manusia, yang adalah manusia Kristus Yesus; yang telah memberikan dirinya sebagai tebusan untuk semua”, perjalanan Paulus akan hasil dari latihan dan pemahaman akan pekerjaan Kristus: “aku ingin supaya di mana-mana orang berdoa.... tanpa marah dan perselisihan” (1 Tim 2:5-8). “sebab imam besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai hanya saja Dia tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kitadengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibr 4:15,16).
     Menghargai sungguh-sungguh bahwa Kristus adalah imam besar pribadi kita yang berkuasa penuh untuk membawa doa-doa kita kepada Allah, seharusnya menginspirasikan kita untuk berdoa secara rutin di dalam iman. Bagaimanapun, doa seharusnya bukan hanya menjadi sebuah ‘rangkaian permohonan’ yang dipersembahkan kepada Allah; ucapan syukur atas makanan sebelum kita memakannya, untuk keselamatan perlindungan dalam perjalanan, dll, seharusnya membentuk sebuah bagian penting dalam doa-doa kita.
     Hanya menempatkan masalah-masalah kita di hadapan Tuhan dalam doa seharusnya itu sendiri memberikan sebuah sentuhan besar akan kedamaian: “dalam segala hal (tidak ada yang terlalu kecil untuk didoakan) nyatakan dalam doa... dengan ucapan syukur biarlah permintaanmu sampai kepada Allah, damai sejahtera yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiranmu” (Flp 4:6,7).
     Jika doa-doa kita sesuai dengan kehendak Allah, semuanya itu pasti akan dikabulkan (1 Yoh 5:14). Kita dapat mengetahui kehendak Allah melalui pembelajaran kita akan firmanNya, yang telah dinyatakan oleh Roh Kudus/pikiranNya kepada kita. Oleh sebab itu pelajaran Alkitab kita seharusnya mengajarkan kita tentang bagaimana berdoa dan apa saja yang harus didoakan, itulah yang akan membuat doa kita berkuasa. Oleh sebab itu “Jika... firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, maka kamu akan menerimanya”| (Yoh 15:7).
     Begitu banyak contoh akan doa-doa rutin di dalam Alkitab (Mzm 119:164; Dan 6:10). Pagi dan sore, dengan sedikit doa pendek akan syukur sepanjang hari seharusnya terlihat sebagai yang paling sederhana. 
Berkotbah
Satu dari pencobaan-pencobaan terbesar yang mana bangkit dari pengenalan akan Allah yang sesungguhnya adalah menjadi egois rohani. Kita dapat begitu puas dengan hubungan diri kita sendiri dengan Allah, sangat terserap dalam kerohanian dan belajar Alkitab kita secara pribadi, bahwa kita dapat mengabaikan untuk membagikan hal-hal ini dengan yang lainnya – baik sesama orang percaya maupun dunia di sekeliling kita. Firman Allah dan injil yang benar yang mana ditemukan di dalamnya, adalah seperti pelita atau lampu yang bersinar dalam kegelapan (Mzm 119:105; Ams 4:18). Yesus menekankan bahwa tidak ada orang yang menaruh pelita di bawah gantang, melainkan untuk menerangi semuanya (Mat 5:15). “kamu adalah terang dunia” karena telah dibaptis di dalam Kristus, “terang dunia” (Mat 5:14; Yoh 8:12). “kota yang terletak di atas bukit tidak dapat tersembunyi”, lanjut Kristus (Mat 5:14).
     Jika kita sungguh-sungguh hidup sesuai dengan injil yang benar yang mana kita pahami, ‘kekudusan’ kita akan terbukti kepada semua dengan siapa kita hidup. Kita tidak akan mapu untuk bersembunyi dari kenyataan bahwa kita “dipisahkan kepada” harapan akan Kerajaan, dan juga “dipisahkan dari” cara-cara keduniawian.
     Dalam jalan yang bijaksana kita seharusnya mencari untuk membagikan pengetahuan kita akan Kebenaran dengan semua yang kita datangi dalam hubungan, kembali membicarakan seputar hal-hal rohani; diskusi pengajaran dengan anggota gereja lain; mendistribusikan traktat, dan bahkan menempatkan iklan kecil di media lokal kita, merupakan semua cara-cara yang mana membuat terang kita bercahaya. Kita tidak seharusnya berpikir untuk meninggalkan pekerjaan akan bersaksi kepada orang percaya lainnya; setiap kita mempunyai tanggung-jawab pribadi. Christadelphian memiliki kecenderungan sedikit yang diorganisasikan, kotbah skala besar disetarakan dengan kelompok-kelompok lain. Setiap kita secara pribadi, melakukan apa yang dapat kita lakukan, secara besar terletak pada pembiayaan diri kita sendiri.
     Salah satu dari banyak cara kesuksesan berkotbah adalah melalui penjelasan keyakinan kita kepada keluarga kita dan kepada semua yang dapat dengan segera kita melakukan hubungan. Mereka yang memiliki pasangan yang tidak seiman seharusnya diterangkan secara jelas keyakinan-keyakinannya kepada mereka, meskipun sekali hal ini telah dilakukan tidaklah bijak untuk tetap mengemukakan persoalan-persoalan atau mendesak segala tekanan kepada mereka. Ditekankan orang-orang murtad merupakan apa yang tidak Allah inginkan. Tugas kita adalah untuk menyaksikan kebenaran tanpa keterlambatan mengenai tentang berapa banyak tanggapan yang kita terima. Kita memiliki tanggung-jawab besar untuk membuat kesaksian ini (Yeh 3:17-21); jika Kristus datang dalam waktu kehidupan kita “kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Luk 17:36). Hal ini akan menjadi kuat sesungguhnya jika kita tidak berbicara kepada keluarga kita dan rekan kerja tentang kedatangan Tuhan kita yang kedua kali tatkala hal ini terjadi.    
Kehidupan gereja
Sepanjang pelajaran ini kita telah berbicara tentang tanggung-jawab kerohanian pribadi kita. Bagaimanapun, kita mempunyai sebuah tugas untuk bertemu bersama yang lainnya yang berbagi harapan kita. Juga, hal ini seharus menjadi sesuatu yang mendasari keinginan kita untuk melakukannya. Kita telah diperlihatkan bahwa setelah baptisan kita memasuki padang belantara sebuah perjalanan menuju Kerajaan. Ini hanyalah dasar bahwa kita seharusnya berkeinginan untuk menjalin hubungan dengan sesama anggota yang melakukan perjalanan. Kita hidup di dalam hari-hari terakhir sebelum kedatangan Kristus; untuk mengatasi godaan-godaan yang rumit yang menyerang kita saat-saat ini, kita perlu berhubungan dengan semua yang berada dalam posisi yang sama: “janganlah kita menjauhi dari pertemuan-pertemuan ibadah kita... tetapi saling menasihati: dan semakin giat menjelang hariNya  (kedatangan kedua) yang semakin dekat” (Ibr 10:25; Mal 3:16). Orang-orang percaya seharusnya membuat segala upaya untuk membuat hubungan dengan yang lainnya melalui surat dan perjalanan menemui yang lainnya untuk berbagi pelajaran Alkitab, pelayanan persekutuan, dan kegiatan berkotbah.
     Setiap pribadi kita telah ‘dipanggil keluar’ dari dunia menuju kepada harapan besar akan Kerajaan. Kata ‘orang kudus’ berarti ‘orang yang dipanggil keluar’, dan dapat menunjukan kepada semua orang percaya yang sesungguhnya lebih dari sekedar sedikit orang-orang percaya terkemuka yang telah lalu. Bahasa Yunani yang mana menterjemahkan ‘church’ ke dalam Alkitab bahasa Inggris adalah ‘ecclesia’, yang berarti ‘sebuah sidang jemaat yang terpanggil keluar’ atau orang-orang percaya. ‘gereja’ yang olehnya menunjukan kelompok daripada orang-orang percaya, lebih dari sekedar bangunan fisik yang mana mereka bertemu. Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penggunaan kata ini, Christadelphian cenderung untuk menunjuk ‘churches’ sebagai ‘ecclesias’.
     Di manapun terdapat jumlah orang-orang percaya di sebuah daerah di kota, sangat logis bahwa mereka mencari sebuah tempat pertemuan yang mana bisa bertemu secara rutin. Bisa jadi di dalam rumah orang percaya atau sebuah ruangan besar yang disewa. Gereja-gereja Christadelphian bertemu dari seluruh dunia di dalam sebuah tempat seperti tempat pertemuan, ruang konfrensi hotel, gedung sendiri atau rumah-rumah pribadi. Tujuan daripada gereja adalah untuk menolong sesama menuju jalan kepada Kerajaan. Ini dilakukan dengan bermacam-macam variasi sedemikian bersama belajar Alkitab atau kesaksian kepada dunia melalui kotbah. Tipe jadwal untuk gereja Christadelphian dapat berbentuk seperti ini. 
     Minggu          jam 11 pagi          - Perjamuan kudus
                           Jam  6 sore           - Kebaktian umum
     Rabu              jam  8 malam       - Pemahaman Alkitab 
     Gereja merupakan bagian dari keluarga Allah. Dalam sebuah komunitas tertutup, setip anggotanya perlu merasakan dan merendah dengan sesamanya. Kristus sendiri telah menjadi contoh tertinggi akan hal ini. meskipun bukti Dia berkerohanian tinggi, Dia bertindak sebagai “pelayan dri semua”, membasuh kaki para murid sementar meraka berargumentasi di antara mereka sendiri akan siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus meminta kita untuk mengikuti teladanNya akan hal ini (Yoh 13:14,15; Mat 20:25-28).
     Christadelphian mengarahkan satu dengan yang lainnya seperti ‘saudara laki-laki’ atau ‘saudara perempuan’, menjadi nama depan yang membedakan posisi mereka dalam kehidupan sekuler. Ini mengatakan, yang membuktikan di sana seharusnya menjadi penghormatan bagi orang-orang percaya yang telah mengenal Allah dengan benar dalam beberapa tahun, atau yang memiliki kedewasaan dalam hal rohani melalui komitmen mereka terhadap firman Allah. Nasihat dari orang-orang percaya seperti ini akan sangat dihargai oleh mereka yang mencoba mengikuti firman Allah. Bagaimanapun, mereka akan hanya mengambil nasihat dari orang percaya lainnya sejauh hal itu akurat dengan cerminan daripada firman Allah.
     Pengajaran yang mana diberikan di dalam gereja seharusnya dengan jelas didasari atas firman Allah. Mereka yang berbicara di depan umum yang oleh karenanya mencerminkan Allah, berbicara atas namaNya. perintahNya adalah bahwa hanya kawan sehaluan yang seharusnya melakukan pekerjaan memberi instruksi di depan umum dari firman Allah. 1 Kor 14:34 tidak dapat menjelaskan: “hendaknya perempuan-perempuan berdiam diri di dalam pertemuan-pertemuan jemaat, sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara”. 1 Tim 2:11-15 menemukan alasan yang melatar-belakangi peristiwa di dalam taman Eden. Kenyataannya bahwa Allah membentuk Adam sebelum Hawa yang menandakan bahwa “kepala dari wanita adalah pria” (1 Kor 11:3), dan oleh sebab itu pria seharusnya memimpin secara rohani dan wanita lebih baik mewakilinya.
     “seharusnya perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengijinkan perempuan untuk mengajar dan memerintah laki-laki, hendaklah ia berdiam diri, karena Adam yang pertama dijadikan kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh di dalam dosa. Tetapi perempuan akan diselamatkan dalam (bahasa Yunani ‘melalui’) melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan” (1 Tim 2:11-15).
     Dari sini jelas sekali bahwa Alkitab mendefinisikan mengenai rangkaian pemisahan untuk orang percaya laki-laki dan perempuan. Ini sangat beretentangan dengan teori humanistik tentang derajat kelamin, di mana wanita yang menjalankan karir dapat mengklaim persamaan derajatnya dengan suaminya dalam segala hal. Orang percaya sesungguhnya akan menghindari roh daripada zaman ini, meskipun sebagaimana keseimbangan diperlukan selalu. Suami bukanlah tuan atas istrinya , melainkan mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi kita (Ef 5:25).
     “hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu (perlakukan istri dengan lembut sesuai dengan pengenalanmu akan firman Allah). Hormatilah istrimu sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan supaya doamu jangan terhalang” (1 Ptr 3:7).
     Dalam hal rohani, baptisan di dalam Kristus membuat laki-laki dan perempuan sederajat (gal 3:27,28; 1 Kor 11:11). Bagaimanapun ini bukanlah dampak yang menjelaskan bahwa ‘pria adalah kepala dari wanita’ (1 Kor 11:3) secara praktis dan hal-hal rohani, keduanya termasuk dalam keluarga dan gereja. 
     Dalam perintah untuk mendemonstrasikan pengenalan akan prinsip ini, orang percaya wanita seharusnya memakai penutup kepala ketika ketika seorang pria mengajar firman Allah. Ini berarti dalam praktisnya bahwa penutup kepala seharusnya dipakai dalam segala pertemuan jemaat. Perbedaan aturan antara pria dam wanita seharusnya ditekankan dengan cara pria dan wanita mengenakan kepala mereka (1 Kor 11:14,15). “setiap wanita yang berdoa... dengan kepala yang tidak tertutup tidak meghormati kepalanya (suaminya ay.3): untuk itu adalah sama semua satu seperti jika dia gundul. Maka jika wanita tidak ditutupi, biarlah ia juga mencukur: tetapi menjadi sutau kemaluan untuk wanita jika ia mencukur atau gundul, biarlah ia ditutupi... oleh sebab ini sebaiknya perempuan mempunyai penudung, dengan tanda bahwa ia di bawah kuasa suaminya” (1 Kor 11:5,6,10).
     Memiliki kepla yang “tidak tertutup” adalah “seperti seandainya dia gundul”, menunjukan bahwa sebuah kepala yang tidak tertutup bukanlah kepala tanpa rambut. Oleh karena itu sebuah “penutup” kepala bukanlah sesuatu dengan rambut di atasnya, melainkan sengaja tersedia kepala penutup dari rambut; untuk melakukan ini sebagaimana diajarkan bahwa ia tidak memiliki rambut dalam pandangan Allah. Ini merupakan kesalahan jika seorang pria memiliki penuttup rambut (1 Kor 11:7); ini bukan berarti untuk memiliki rambut, tetapi tetapi memilki rambut yang khusus.
     Dalam kebudayaan seputar zaman Perjanjian Baru, hanya ketika seorang wanita dicukur kepalanya jika ia dinyatakan sebagai pelacur atau orang yang berzinah, atau berkabung akan kehilangan suaminya. Untuk wanita yang digundul seharusnya menunjukan dia telah kehilangan atau menolak suaminya – dalam tipe Kristus.
     Wanita mewakilkan gereja, sementara pria mewakilkan Kristus. Seperti kita memutuskan dengan sengaja agar dosa kita tertutup oleh Kristus, begitu halnya wanita sengaja memutuskan untuk menutup kepalanya percaya dalam kodratnya penutupan kepala dapat disamakan dengan mempercayai kebaikan kita sendiri untuk menyelamatkan kita sebagaimana ditentang akan hal itu oleh Kristus.
     Melihat bahwa wanita berambut panjang merupakan sebuah (pemberian Allah) kemuliaan untuk dirinya: yang mana rambutnya diberikan kepadanya sebagai penudung (‘pakaian dasar’ implikasi bahsa Yunani [1 Kor 11:15]), seorang wanita seharusnya menumbuhkan rambutnya dengan maksud yang membedakannya dengan pria. Perbedaan gaya rambut antara pria dan wanita seharusnya dapat digunakan oleh wanita sebagai kesempatan untuk menyoroti perbedaan perannya yang terpisah.
     Dalam hal ini akan wanita yang berambut panjang dan mengenakan sebuah penutup kepala, kita perlu hati-hati untuk tidak membuat hal ini penandaan belaka. Jika saudara perempuan memiliki kesungguhan rohani dan bersikap menunduk (1 Ptr 3:5), dia akan menjadi kawan sehaluan sebagai orang-orang percaya di dalam Kritus, dan akan menunjukan penundukan itu dalam segala hal, termasuk mengenakan penutup kepala. Jika alasan akan perintah ini dapat dimengerti, seperti halnya dengan semua perintah Allah, maka di sana tidak akan terjadi keberatan hati utnuk menuruti hal-hal itu.
     Akan selalu terdapat pekerjaan terhadap para saudara perempuan di dalam jemaat – mengajar sekolah minggu, dan segala tugas lain yang mana tidak melibatkan pengajaran umum atau bebicara, misalnya mengurus pembukuan akuntansi. Kedewasaan rohani wanita dapat mendukung untuk mempercepat sesi pengajaran terhadap saudari-saudari yang lebih muda (Tit 2:3,4. Maryam memimpin wanita Israel, Kel 15:20). 
Pemecahan roti
Sepanjang doa dan pembacaan Alkitab, ketaatan secra rutin terhadap perintah Kristus untuk memecahkan roti dan minum anggur dalam mengingat pengorbananNya yang utama. “lakukanlah ini sebagai peringatan akan Aku”, perintah Yesus (Luk 22:19). kehendakNya bahwa para pengikutNya seharusnya melakukan hal ini secara rutin sampai kedatanganNya yang kedua kali., tatkala Yesus ingin membagi roti dan anggur bersama mereka lagi (1 Kor 11:26; Luk 22:16-18). Tuhan Yesus memeberikan pewahyuan khusus kepada Paulus mengenai pemecahan roti sebagaimana yang Dia lakukan memperhatikan kebangkitan (1 Kor 11:23; 15:3); pemecahan roti adalah penting.
     Roti mewakili tubuh Kristus yang telah diberikan di atas kayu salib, dan anggur merupakan darahNya (1 Kor 11:23-27). Ini bukanlah secara betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Yesus. Ketika Yesus mengatakan “inilah tubuhKu” (Mat 26:26) kita memahami bahawa ‘ini mewakili, ini adalah [lambang dari] tubuhKu’. “ini adalah” secara jelas mengartikan ‘ini mewakili’ dalam Zak 5:3,8; Mat 13:19-23,38; 1 Kor 11:25; 12:27. dalam beberapa versi Alkitab, ketika kita membaca kata ‘sesungguhnya’, secara mudah ini berarti diterjemahkan dari kata kerja ‘menjadi’ (Mat 9:13; 12:7; Luk 15:26; Kis 2:12). ‘ini adalah’ seharusnya dapat dibaca ‘ini berarti / ini mewakili’. Orang percaya mula-mula terlihat melakukan layanan pemecahan roti secara bergiliran (Kis 2:42,46), sepertinya seminggu sekali (Kis 20:7). Jika kita sungguh mengasihi Kristus, kita akan mematuhi perintahNya (Yoh 15:11-14). Jika kita memiliki hubungan pribadi yang benar dengan Dia, kita akan berkeinginan untuk mengingat pengorbananNya sebagaimana yang Ia minta, dan oleh karenanya mendukung kita pada peringatan akan keselamatan terbesar yang dicapaiNya. Sebuah masa perenungan akan penderitaanNya di atas kayu salib akan membuat pencobaan-pencobaan kita tidak berarti ketika dibandingakan dengan semua yang Tuhan kita perbuat.
     Pemecahan roti mendasari layanan akan peringatan; tidak ada suatu yang magis terjadi sebagai hasil melakukan hal ini. penghormatan ini disamakan dengan hari raya paskah di bawah hukum Musa (Luk 22:15; 1 Kor 5:7,8). Ini berarti peringatan akan pembebasan terbesar dari Mesir yang mana Allah perbuat melalui Musa di laut merah. Layanan pemecahan roti membawa kita kembali kepada keselamatan kita dari dosa melalui Kristus, yang mana menjadi mungkin di atas kayu salib dn yang mana menjadi terhubung oleh baptisan. Memelihara perintah ini seharusnya berguna menjadi sesuatu yang mendasari apa yang ingin kita lakukan.
     Secara fisik mengambil roti dan anggur membuat kasih Kristus bagi kita, dan sesungguhnya semua hal mengenai keselamatan kita, sekali lagi menjadi sangat nyata. Memecahkan roti seminggu sekali yang oleh karenanya menjadi tanda kesehatan keadaan rohani. Jika tidak bisa dilakukan dengan anggota orang-orang percaya akan kebenaran, ini seharusnya dilakukan sendiri. Seharusnya tidak ada pemakluman yang boleh memberhentikan kita dalam memelihara perintah ini. kita seharusnya menjaga segala upaya dukungan akan roti dan anggur dengan kita untuk pelayanan, meskipun dalam keadaan yang ekstrim bahkan kurangnya hal ini seharusnya tidak menghambat kita untuk memperingati Kristus dalam ketetapan terbaik yang kita bisa. Yesus menggunakan “buah anggur” (Luk 22:18), dan kita seharusnya oleh karena menggunakan anggur merah.
     Untuk mengambil lambang dari penderitaan dan pengorbanan Kristus merupakan penghormatan tertinggi yang mana pria atau wanita bisa miliki. Untuk mengambil bagian akan hal-hal itu dengan perhatian yang tidak layak terhadap apa yang mereka wakilkan di amalam penghujatan, melihat bahwa “setiap kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memperingati kematian Tuhan... jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan (1 Kor 11:26,27). Layanan pemecahan roti seharusnya tidak terganggu atau terinterupsi akan satu aliran pemikiran. Ini boleh meliputi melakukan pada subuh pagi atau larut malam, dalam kamar tidur atau tempat yang pantas lainnya. Kita lebih lanjut dinasihatkan, “hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri, dan jadi (dalam kerendahan hati akan pengujian diri) biarlah dia makan roti dan minum dari cawan itu” (1 Kor 11:28). Kita seharusnya yang oleh karenanya diperbaharui pikiran kita atas pengorbanan Kristus, kemungkinan oleh sasaran yang luput melalui catatan injil dari penyalibanNya, sebelum kita mengambil lambang. Dengan melakukan secara layak, kita akan tak terelakan teruji oleh kata hati kita kepada kristus juga.
Perintah yang layak dari layanan pemecahan roti sebagai berikut.
berdoa – meminta Allah untuk memberkati pertemuan; Dia membuka mata kita terhadap firmanNya; mengingat kebutuhan akan orang percaya lainnya; memuji Dia akan kasihNya, terutama sebagai perwujudan dalam Kristus, dan berdoa mengenai hal-hal khusus lainnya.
melakukan pembacaan Alkitab untuk hari yang telah dikhususkan dalam “perekanan Alkitab”.
merenungkan pelajaran-pelajaran dipelajari akan mereka, atau membaca sebuah ‘nasihat’ – sebuah pelajaran Alkitab terhadap ayat-ayat tersebut yang memimpin kita kepada tujuan pelayanan kita – peringatan akan Kristus.
baca 1 Kor 11: 23-29.
waktu untuk bediam menguji diri sendiri.
berdoa untuk roti.
memecahkan roti dan memakan bagian kecil darinya.
berdoa untuk anggur.
meminum anggur.
doa penutup
seluruh layanan seharusnya mengambil hanya sekitar satu jam.
11.4 Pernikahan
kita akan mulai sesi ini dengan menyadari posisi dari mereka yang sendiri pada nilai pembaptisan. Kita telah mendiskusikan pada Pelajaran 5.3 akan perlunya pernikahan pada orang-orang percaya yang telah dibaptis. Di sana terdapat sedikit bagian yang mendukung kesendirian seseorang yang setidaknya menyadari akan pilihan kesendirian sebagai komitmen total kepada pekerjaan Tuhan (1 Kor 7:7-9; 32-38; 2 Tim 2:4; Mat 19:11,12,29; Pkh 9:9). “tetapi kalau dengan kawin, engkau tidak berdosa” (1 Kor 7:28). Hampir, jika tidak semua, para rasul menikah (1 Kor 9:5), dan pernikahan sebagaimana Allah maksudkan dan rancangkan untuk membawa kepada banyak keuntungan jasmani maupun rohani. “hendaklah menghormati pernikahan, dan (kegunaan dari) tempat tidur janganlah dicemari” (Ibr 13:4). “tidaklah baik bahwa... pria seorang diri”, kecuali dia dapat mengatur komitmen tingkat tinggi kepada hal-hal rohani, dan untuk itu Allah mendelegasikan pernikahan (Kej 2:18-24). Oleh sebab itu, “siapa mendapat istri mendapat sesuatu yang baik, dan dikenan TUHAN... istri yang berakal budi adalah karunia TUHAN” (Ams 18:22; 19:4).
     Kita diberikan keseimbangan penyimpulan dari posisi dalam 1 Kor 7:1,2: “adalah baik bagi laki-laki jika ia tidak menyentuh wanita. Mengingat, untuk menghindari percabulan, biarlah setiap laki-laki memiliki istrinya sendiri, dan setiap wanita memiliki suaminya sendiri” (ay 9).
     Implikasi dari ayat ini adalah bahwa kegemaran akan hasrat seks di luar pernikahan adalah percabulan. Peringatan-peringatan menentang percabulan (seks antara orang yang tidak menikah), perzinahan (seks antara orang yang menikah dengan pasangan orang lain) dan segala bentuk tidak bermoral sering disebut dalam Perjanjian Baru; hampir semua surat berisikan itu. Beberapanya adalah sebagai berikut ini: Kis 15:20; Rm 1:29; 1 Kor 6:9-18; 10:8; 2 Kor 12:21; Gal 5:19; Ef 5:3; Kol 3:5; 1 Tes 4:3; Yud 7; 1 Ptr 4:3; Why 2:21.
     Dalam penerangan akan semua penekanan pengulangan ini, untuk melayangkan dalam wajah Allah secara jelas diekspresikan akan kesungguhan yang serius. Sementara Allah ingin mengampuni dosa dari kelemahan sesaat jika mereka bertobat dari (contohnya perzinahan Daud dengan Batsyeba), secara rutin untuk melakukan hal-hal ini hanya akan menghasilkan penghukuman. Paulus seringkali mengemukakan hal ini: “perzinahan, percabulan... dan sebagainya: terhadap semua itu sudah kuperingatkan kepadamu (kursi pengadilan), sebagaimana yang kubuat di masa lalu, bahwa mereka yang melakukan (terus-menerus) akan hal itu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (Gal 5:19,21), untuk itu “jauhilah percabulan (2 Tim 2:22). Segala dosa yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya, tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (1 Kor 6:18).
     Menjadi begitu diterima hampir seluruh dunia bahwa pasangan muda hidup bersama sebelum pernikahan, menikmati hubungan seks secara penuh. Penggunaan kata ‘hukum perkawinan umum’ ini menggambarkan istilah yang tidak cocok secara keseluruhan. Pernikahan bagi orang percaya harus menjadi pernikahan sesuai dengan pemahaman Allah akan hal ini; kita tidak dapat membiarkan pemahaman akan pernikahan dikreasikan oleh dunia kedagingan sekeliling kita memiliki keutamaan melebihi pernyataan Allah mengenai pernikahan – dan sesudahnya, pernikahan diinstitusikan oleh Allah lebih daripada manusia. Secara Alkitabiah, pernikahan setidaknya terdiri dari tiga bagian. 
1.        beberapa bentuk dari upacara pernikahan, walau kecil. Catatan dari Boas menikahi Rut dalam Rut 3:9-4:13 menunjukan bahwa pernikahan bukanlah sekedar yang mana mengalir begitu saja; haruslah merupakan saat khusus ketika seseorang mamasuki pernikahan penuh. Kristus diumpamakan pada ruang mempelai dan orang-orang percaya pada mempelainya, yang Dia akan ‘menikahi’ pada kedatanganNya yang kedua. Di sana akan terjadi “perjamuan nikah Anak Domba” untuk merayakan ini (Why 19:7-9). Hubungan antara suami dan istri melambangkan antara Kristus dan orang-orang percaya (Ef 5:25-30); sebagaimana di sana terdapat nilai pemahaman pernikahan di antara kita, begitu juga di sana seharusnya menjadi sebuah pernikahan antara orang-orang percaya yang mana memulai pernikahan mereka, melambangkan kesatuan kristus dan diri kita pada kursi penghakiman.
2.        pernikahan Allah kepada Israel melibatkan masuknya sebuah mutu janji rohani akan kesetiaan satu dengan yang lainnya (Yeh 16:8), dan ini juga seharusnya menjadi ciri khas dalam pernikahan orang-orang percaya.
3.        hubungan seks adalah penting untuk menyempurnakan pernikahan (Ul 21:13; Kej 24:6,7; 29:21; 1 Raj 11:2). Karena ini, 1 Kor 6:15,16 menjelaskan mengapa hubungan di luar pernikahan adalah salah. Hubungan dilayakan dalam halnya fisik, sebagaimana Allah menyatukan bersama pasangan yang menikah (Kej 2:24). Untuk disatukan menjadi “satu daging” dalam hubungan yang sementara yang untuk itu adalah penyalahgunaan dari tubuh yang Allah telah berikan kepada kita. Dia telah merancangkan itu dengan maksud memampukan penyempurnaan dalam tubuh apa yang Dia telah satukan bersama dalam pernikahan. 
     Dari sini dapat diikuti bahwa pasangan ‘hidup bersama’ sebelum pernikahan adalah benar-benar hidup dalam dosa. Kecuali mereka membentuk hubungan mereka dengan pernikahan yang tepat – atau terpisah – tidak terdapat nilai pada mereka untuk dibaptis.
     Sebuah kesulitan timbul dalam beberapa kebudayaan dalam pertumbuhan dunia yang mana tidak adanya konsep akan sebuah upacara pernikahan atau perjanjian untuk orang biasa. Sebuah pasangan boleh hidup bersama untuk beberapa tahun tanpa hal-hal ini, mengenai mereka sendiri sebagai pernikahan. Ini merupakan berita dari penulis masa kini bahwa dalam sedemikian kasus yang menampilkan pembaptisan seharusnya menjelaskan posisi akan calon untuk baptisan, dan mendapatkan mereka dan pasangannya untuk menandatangani sebuah formulir akan persetujuan pernikahan. Hubungan seharusnya menjadi terdaftar dengan otoritas sipil yang relevan sedapatnya secepat mungkin.
     Mereka yang telah dibaptis, sementara pasangannya tidak, seharusnya tidak meninggalkan mereka (1 Kor 7:13-15), tetapi lebih membuat segala upaya untuk mencintai mereka, dan menunjukan pengertian mereka akan hidup bahwa mereka memiliki kepercayaan sejati di dalam Allah yang benar, melebihi sekedar perubahan agama. 1 Ptr 3:1-6 mendukung hal-hal posisi ini bahwa hal ini dapat dilakukan, dalam ini sendiri, bisa berarti mengubahkan agama dari pasangan yang tidak percaya.
     Prinsip-prinsip yang memerintahkan pernikahan merupakan perlambangan dalam pernyataan Allah mengenai hal: “pria (akan) meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan akan bersatu dengan istrinya, sehingga mereka menjadi satu daging” (Kej 2:24). Kerja keras ini yang menyatukan antara manusia dan istrinya di dalam banyak cara sebagaimana memungkinkan merupakan analogi untuk kita melanjutkan upaya untuk penyatuan dengan Kristus, melalui penguasaan dosa yang mendasar dan keegoisan akan sifat dasar kita. Kerja keras ini menentang diri kita sendiri melebihi menentang Kristus atau pasangan kita. Semakin kita menggantikan hal ini, kebahagiaan dan hubungan yang lebih terpenuhi akan terjadi.
     Bagaimanapun kita hidup dalam dunia nyata akan dosa dan kegagalan, akan ketidak-mampuan untuk bangkit penuh menuju standar tertinggi akan kekudusan yang mengatur kita di dalam Alkitab, dan dalam contoh akan kasih dari Allah dan Kristus. Standar yang ideal teratur dalam Kej 2:24 adalah dari satu laki-laki dan satu perempuan, hidup bersama di dalam kesatuan total untuk kehidupan.
     Orang-orang percaya harus dipersiapkan bahwa sewaktu-waktu standar ini akan tidak bisa dicapai baik dalam kehidupan mereka maupun dalam orang-orang percaya lainnya. Suami-suami dan istri-istri boleh berdebat dan kehilangan kesatuan pemikiran mereka yang seharusnya mereka miliki; ini boleh jadi ketidak-mungkinan secara fisik untuk menyempurnakan pernikahan; laki-laki boleh memiliki beberapa istri, mengambilnya sebelum dia dibaptis, jika hidup dalam masyarakat yang mana poligami diijinkan. Dalam kasus ini dia seharusnya sungguh-sungguh dengan istri-istrinya dan menyayangi mereka, namun tidak menambah lagi. Rasul Paulus, dalam sebuah perpaduan yang bagus sekali akan simpati manusia dan kesetiaan agama akan prinsip-prinsip yang bersifat ke-Tuhanan, menasihatkan bahwa perpisahan adalah mungkin dalam kasus ekstrem akan ketidak-cocokan: “supaya seorang istri tidak boleh menceraikan suaminya, tetapi jika ia bercerai, biarlah ia tidak menikah” (1 Kor 7:10,11).
     Status ini adalah standar ideal, namun kemauan untuk menerima standar yang lebih rendah sepanjang hal ini tidak mencemoohkan prinsip ke-Tuhanan (mis. Perzinahan adalah salah), adalah kesungguhan dari ciri-ciri umum Alkitab. Paulus menasihatkan dalam 1 Kor 7:10-11 berhubungan kepada 1 Kor 7:27,28: “... adakah engkau terlepas dari seorang istri? Janganlah mencari seorang istri (tetap sendiri). Tetapi jika kamu menikah, kamu tidak berdosa”. Bagaimanapun, keinginan bercerai merupakan pencemoohan yang diinstitusikan pada kehendak Allah bahwa pria dan wanita seharusnya mengetahui bahwa Dia telah menyatukan mereka sebagai satu tubuh, walu jika pada masalah praktisnya mereka menemukan kesulitan ini untuk meletakannnya ke dalam penerapan praktis. Perkataan Kristus yang jelas menegur:
     “sejak permulaan penciptaan Allah membuat pria dan wanita. Oleh karenanya pria meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, dan mereka berdua menjadi satu tubuh, maka (Yesus menekankan) mereka tidaklah dua tetapi satu tubuh. Apa yang dipersatukan Allah, tidak dapat dipisahkan (oleh perceraian)... barangsiapa menceraikan istrinya dan kawin dengan wanita lain, ia hidup dalam perzinahan dengan istrinya itu. Dan jika istri menceraikan suaminya dan menikah dengan pria lain, ia berbuat zinah” (Mrk 10:6-12).
     Dalam keseluruhan area dari hubungan seksual, tubuh mahir dalam membuat alasan yang masuk akal untuk mebenarkan kegemaran dari nafsu yang mendasar. Mereka yang mencari dirinya dalam bagian-bagian keadaan yang mencobai hanya akan menemukan kekuatan dan stamina rohani yang mereka perlukan dari perenungan kembali akan ayat-ayat yang disebutkan dalam sesi ini. beberapa telah mencari pembenaran akan homoseksualitas dan lesbianisme sebagai legitimasi, hasrat yang mendasar. Bagaimanapun, tidak dapat disangsikan bahwa perlakuan-perlakuan demikian merupakan kebencian menyeluruh dalam pandangan Allah.
     Prinsip dasar dari Kej 2:24 memaparkan dosa homoseksualitas; adalah perhatian Allah bahwa pria dan wanita seharusnya menikah dan saling bersatu. Allah menciptakan wanita untuk menjadi penolong buat Adam lebih dari pria lain. Hubungan seks antara pria merupakan pengulangan penghukuman di dalam Alkitab. Ini adalah salah satu dari dosa yang mana Sodom dihancurkan (Kej 18-19); rasul Paulus membuat ini sangat jelas bahwa pembinasaan dalam pratek-praktek demikian akan mendatangkan murka Allah, dan dikeluarkan dari KerajaanNya (Rm 1:18-32; 1 Kor 6:9,10).
     Kenyataan dari memiliki satu dari keterlibatan hal-hal ini seharusnya tidak membuat kita merasa jauh dari pertolongan Allah. Terdapat pengampunan dengan Allah, bahwa Dia seharusnya diberikan kasih penghormatan oleh mereka yang mengalami pengampunanNya (Mzm 130:4). Jemaat di Korintus memiliki pembagian yang adil terhadap lelaki-lelaki hidung belang yang bertobat. “demikianlah kamu dahulu, tetapi kamu telah disucikan (dalam baptisan), kamu dikhususkan, kamu dibenarkan (dengan dibaptis) di dalam nama Tuhan Yesus” (1 Kor 6:9-11).
     Pemrotesan bahwa satu yang tidak memiliki ketertarikan dasar terhadap lawan jenis secara efektif merupakan sebuah tuduhan bahwa Allah tidak adil dalam melarang kita melakukan homoseksualitas, tetapi menjadikan kita dengan cobaan yang melebihi kekuatan. Allah tidak akan mebiarkan kita dicobai melmpaui kemampuan kita tanpa membuat jalan keluar (1 Kor 10:13). Melalui melakukan kegemaran akan segala aspek kedagingan, dapat diambil poin di mana ini merupakan  salah satu sifat dasar akan apa yang disukai. Lalu, seorang pemabuk atau pecandu obat tidak dapat hidup tanpa masukan rutin akan bahan kimia tersebut; tetapi dia membutuhkan perubahan akan pandangan mentalnya, dan dengan pertolongan akan perawatan kembali untuk diseimbangkan, cara hidup yang normal.
     Homoseksualitas mesti hilang dengan proses yang sama. Allah akan meyakinkan upaya kelakiannya dalm hal ini; jika mereka secara total memberi diri mereka melebihi kegemaran akan nafsu dasar mereka, Allah akan merawat mereka sebagaimana Dia perlkukan Israel yang dulu.
     “karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab istri-istri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tidak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan istri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, pria dengan pria, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka dalam tubuh mereka) balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka” (Rm 1:26,27).
11.5 Persahabatan
Bahasa Yunani menterjemahkan kata ‘persahabatan’ dan ‘persekutuan’ secara dasar menggambarkan kesatuan akan memiliki sesuatu dalam kebersamaan: kesatuan umum. ‘persekutuan dihubungkan dengan kata ‘komunikasi’. Dengan alasan akan pengenalan dan penerapan jalan-jalan Allah, kita memiliki persahabatan dengan Dia dan dengan orang lain yang melakukan hal yang sama dengan menjadi “dalam Kristus”. Sangatlah mudah untuk mengabaikan tanggung-jawab yang kita miliki untuk bersahabat dengan orang lain: “jangan lupa untuk melakukan kebaikan dan berkomunikasi (bersahabat)” (Ibr 13:16). Flp 1:5 berbicara akan “persahabatan kita di dalam injil”; dasar dari persahabatan yang oleh karenanya merupakan pengajaran dan cara hidup yang terdiri dari injil yang benar. Untuk alasan inilah persahabatan dinikmati oleh orang-orang percaya sesungguhnya lebih besar daripada segala organisasi lain atau gereja. Oleh karena persahabatan ini mereka melakukan perjalanan jauh untuk bisa bersama-sama dengan yang lainnya dan mengunjungi orang-orang percaya yang terisolasi, dan seharusnya membuat baik penggunaan pos dan telepon sedapat mungkin. Paulus berbicara tentang “persahabatan roh” (Flp 2:1), persahabatan yang didasari pada pengikut umum dari Roh/pikiran Allah, seperti dinyatakan di dalam RohNya-firman.
     Satu dari ekspresi kita yang terbesar adalah melalui menjaga layanan pemecahan roti bersama-sama. Orang-orang percaya mula-mula tetap tabah di dlam pengajaran para rasul dan bershabat (dalam) memecahkan roti, dan dalam doa... memecahkan roti... dengan gembira dan kesehatian” (Kis 2:42,46). Tanda-tanda yang melambangkan tumpuan akan harapan kita dan berbagi bersama mereka seharusnya mengikat kita bersama dalam “kesehatian”. “bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan (berbagi) dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dari roti yang satu itu”, yang adalah Kristus (1 Kor 10:16,17). Kita yang oleh karenanya memilki kewajiban untuk berbagi tanda-tanda dari pengorbanan Kristus dengan semua yang  menerima manfaat pekerjaanNya, yang “mengambil bagian dari satu roti itu”. Hanya mereka yang sudah lebih dahulu dibaptis di dalam Kristus, setelah mengetahui kebenaran akan penempatan ini, seharusnya kita tidak berbagi dengan mereka yang lain.
     Yohanes mengulang panggilan akan bagaimana ia berbagi injil kehidupan kekal dengan yang lainnya “bahwa kamu juga beroleh persekutuan dengan kami: dan sesungguhnya persekutuan kami adalah dengan Bapa dan dengan AnakNya Yesus Kristus” (1 Yoh 1:2,3). Ini menunjukan bahwa persahabatan didasari pemahaman umum sekitar akan injil yang benar, dan bahwa hal ini membawa kita ke dlam persahabatan baik dengan orang-orang percaya yang benar lainnya, dan juga dengan Allah dan Yesus pada tingkat pribadi. Lebih lagi kita meminta injil untuk hidup kita, mencari untuk mengatasi kecenderungan dosa-dosa kita, dan lebih dalam kita maju dalam pemahaman kita akan firman Allah, lebih dalam persahabatan akan bersama Allah dan Kristus.
     Persahabatan kita dengan Allah dan Kristus dan orang-orang percaya lainnya tidak hanya bergantung pada persetujuan kita akan kebenaran pengajaran yang mana terdiri dari “satu iman”. Jalan hidup kita haruslah sesuai dengan prinsip-prinsip yang diekspresikan dalam hal-hal itu. “Allah adalah terang, dan di dalamNya tidak ada kegelapan sama sekali. Jika kita mengatakan bahwa kita memiliki persahabatan dengan Dia, dan berjalan dalam kegelapan, kita berbohong, dan tidak melakukan kebenaran: tetapi jika kita berjalan dalam terang, sebagaimana Dia adalah terang, kita memilki persahabatan satu dengan yang lainnya, dan darah yesus Kristus AnakNya menyucikan kita dari segala dosa” (1 Yoh 1:5-7).
     ‘Berjalan dalam kegelapan’ pastilah mengarah pada jalan hidup yang mana secara terus-menerus dan meluas pada perbedaan dengan terang firman Allah (Mzm 119:105; Ams 4:18); ini tidaklah mengarah pada dosa-dosa akan kelemahan kita yang sesekali saja, pada ayat selanjutnya diteruskan, “jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita mendustai diri kita sendiri, dan kebenaran (firman Allah – Yoh 17:17; 3:21; Ef 5:13) tidak terdapat di dalam kita” (1 Yoh 1:8).
     Dari sini seharusnya menjadi bukti bahwa persahabatan terhenti ketika seorang percaya memulai mempertahankan pengajaran-pengajaran, atau tinggal dalam cara hidup, yang secara terbuka berlawanan dengan kejelasan pengajaran Alkitab: janganlah turut dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuah, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef 5:11). Segala upaya seharusnya memenangkan mereka kembali setelah pola dari gembala yang baik mencari domba yang hilang (Luk 15:1-7). Jika saudara dan saudari tetap dalam pengajaran sesat atau nyata sekali bersikap salah, sangatlah penting untuk membentuk penghentian persahabatan yang telah terjadi (Mat 18:15-17). Dalam prakteknya hal ini dilakukan melalui sebuah wawancara anggota dari jemaat yang bertanggung-jawab. Bagaimanapun, ini tidak menjadi penekanan yang kuat bahwa proses ini seharusnya diletakan ke dalam usaha dalam penyelesaian kasus akan memepertahankan pengajaran sesat atau tetap berjalan dalam kehidupan yang tidak rohani. Satu yang pasti bahwa terdapat bagian kecil dalam keumuman di antara kita, hak kepada orang yang menyimpang dari pengajaran dasar Alkitab, yang mematahkan bentuk formal persahabatan adalah perlu.
     Satu dari bagian yang dijelskan mengenai persahabatan ditemukan dalam 2 Kor 6:14-18: “janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya: sebab persamaan apakah antara kebenaran dan kedurhakaan? Dan bagaimana dapat terang bersatu dengan kegelapan... sebab itu keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu, firman Tuhan... dan Aku akan menerima kamu, dan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anakKu laki-laki dan perempuan, demikianlah firman Tuhan Yang Mahakuasa”.
     Kita telah ditunjukkan bagaimana firman Allah adalah terang. Ayat-ayat ini menjelaskan mengapa kita seharusnya tidak berhubungan dengan gereja-gereja yang mana mengajarkan doktrin sesat; mengapa kita seharusnya tidak menikahi mereka yang tidak mengetahui kebenaran, dan seharusnya menghindari cara-cara dunia. Jika kita mengkotbahkan kebenaran Allah sebagaimana seharusnya, tidaklah terelakkan bahwa komunitas yang percaya bidat seperti ‘tritunggal’ atau pribadi setan akan mereka sendiri meniadakan kita. Doktrin adalah penting karena ini mengontrol bagaimana kita hidup dan berprilaku; oleh karenanya kita harus “murni dalam pengajaran” jika kita ingin hidup dalam kehidupan yang murni. Jalan hidup kita “menjadi” atau merupakan sebuah tanggapan terhadap injil dasar yang kita mengerti dan percaya (Flp 1:27). Semua doktrin sesat menghina karakter Allah – ide dari penghukuman kekal dalam ‘neraka’, atau toleransiNya akan ortodoksi ‘setan’ sebagi contoh akan hal ini. dalam perhitungan dari pemisahan kita dari dunia kita memiliki penghargaan mempesona akan menjadi anak laki-laki dan anak perempuan Allah, bagian dari sebuah keluarga dunia yang luas atau yang lainnya yang memilki hubungan yang sama ini – saudara kita laki-laki dan perempuan. Hanyalah ada “satu tubuh”, satu gereja benar (Ef 1:23), yang mana mendasari ke atas mereka yang bertahan pada satu pengharapan – satu Allah, satu baptisan dan “satu iman”, satu rangkaian dari pengajaran-pengajaran yang terdiri dari satu iman (Ef 4:4-6). Tidaklah mungkin untuk menjadi bagian dari “satu tubuh” ini dan juga bersahabat dengan organisasi agama lain yang tidak berada pada iman yang benar. Melihat bahwa terang tidak bisa bersahabat dengan gelap, kita menyatakan diri kita dalam kegelapan jika kita bersahabat dengan kegelapan.
     Jika anda sudah mengikuti pelajaran-pelajaran ini dengan seksama, akan menjadi bukti mulai sekarang bahwa tidak akan terdapat posisi separuh jalan dalam hubungan kita dengan Allah. Kita juga salah seorang di dalam Kristus oleh baptisan di dalam Dia, atau di luar Dia. Kita juga salah seorang di dalam terang dengan alasan akan pegangan kita terhadap doktrin yang benar dan praktek mentaatinya, atau dalam kegelapan. Satu yang tidak dimiliki dalam berbagai perkemahan.
     Pengetahuan kita akan hal-hal ini memberikan kita kepastian tingkat tanggung-jawab kepada Allah. Kita sekarang tidaklah berjalan pada jalan-jalan atau pergi menjalani kehidupan sehari-hari seperti kebanyakan orang dunia. Allah sangat memperhatikan tanggapan kita. Baik Dia, Tuhan Yesus dan semua orang-orang percaya yang sesungguhnya hampir dapat membuat anda untuk mengambil keputusan yang benar. Tetapi sebagaimana Allah, Kristus dan diri kita sendiri akan melakukan semua yang dapat kita lakukan untuk menolong anda – bahkan dalam kasus Allah terhadap pemberian AnakNya yang tunggal untuk mati bagi kita – pada akhirnya keselamatan anda tergantung pada keputusan kehendak bebas anda sendiri untuk memegang teguh akan pengharapan terbesar yang mana sekarang telah diserahkan kepada anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar